Chapter 80
"Aku tidak ingin kamu mati dengan cepat," kata Kuda Anjampiani sambil berjalan menjauhi Gajah Mada dan Supo Mandagri, diiringi suara tawanya—suara tawa seseorang yang berhati bengis dan penuh kelicikan.
Manakala Kuda Anjampiani telah jauh meninggalkan mereka berdua yang terikat berlawanan arah di sebatang pohon randu, Gajah Mada mendengar suara lirih Supo Mandagri yang ditujukan kepadanya.
"Ternyata kamu tidak sepenuh hati mengangkat aku sebagai saudaramu," ucap Supo Mandagri lirih.
Mendengar perkataan tersebut, Gajah Mada mengernyitkan kening, pertanda tidak mengerti ke mana arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Apa maksudmu berkata demikian?" tanya Gajah Mada.
"Hampir seluruh rahasiaku sudah kuceritakan kepadamu, sementara kamu sendiri masih menyimpan banyak rahasia dariku," sahut Supo Mandagri dari balik batang pohon.
"Rahasia apa yang kusembunyikan darimu?" tanya Gajah Mada kembali.
"Tadi kudengar sendiri dari anak muda itu bahwa ternyata kamu punya seorang kekasih. Layakkah diriku kamu anggap sebagai saudara bila masih ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" ujar Supo Mandagri.
Mendengar perkataan itu, Gajah Mada tersenyum sendirian. "Pada saatnya nanti aku akan bercerita kepadamu," jawab Gajah Mada. Ia berpikir bahwa luka pada diri sahabatnya itu tidak membahayakan nyawanya, buktinya ia masih dapat berbicara dan berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Kuda Anjampiani.
"Kapan saatnya? Sebentar lagi aku akan mati," kata Supo Mandagri seperti tengah mengancam.
"Kamu tidak akan mati hari ini," kata Gajah Mada sambil tersenyum.
"Mengapa kamu dapat memastikan aku tidak akan mati hari ini?" tanya Supo Mandagri.
"Bukankah kamu pernah berkata kepadaku bahwa kamu tidak ingin mati sebelum dapat berkarya membuat sebuah keris pusaka senilai keris Nagasasra?" ujar Gajah Mada.
"Kamu benar, masih banyak yang ingin kupelajari dari Empu Nambi, cucunda Empu Bharada itu," kata Supo Mandagri.
Nampaknya setelah berkata demikian, Supo Mandagri asyik dengan lamunan dan bayangan pikirannya sendiri. Suasana di pojok halaman rumah Ki Randu Alam seketika menjadi hening. Tidak ada perkataan apa pun lagi dari Supo Mandagri. Gajah Mada mengernyitkan kening, merasa khawatir terjadi sesuatu pada diri Supo Mandagri yang lama terdiam.
"Supo Mandagri, katakan bagaimana dengan lukamu?" tanya Gajah Mada.
"Luka di beberapa bagian tubuhku sudah mulai mengering, tapi aku belum merasa yakin apakah aku masih dapat berjalan sendiri," jawab Supo Mandagri.
Sementara itu, cakrawala langit senja semakin redup, menatap sang surya yang bersembunyi di ujung barat bumi. Malam semakin membisu, sepi, dan hening. Di pojok halaman rumah Ki Randu Alam, dua orang tawanan masih terikat di sebatang pohon randu. Tanpa penerangan apa pun, mereka diperlakukan layaknya binatang buruan.
"Supo Mandagri, bagaimana keadaanmu saat ini?" bisik Gajah Mada.
"Sekujur tubuhku masih terasa ngilu dan perih," jawab Supo Mandagri dengan suara berbisik pula.
"Saat kentongan nada dara muluk terdengar, kita akan melarikan diri," bisik Gajah Mada lagi.
Supo Mandagri tidak berkata apa pun. Sebagai seseorang yang mengenal siapa Gajah Mada, ia sangat percaya bahwa sahabatnya itu pasti dapat dengan mudah melepaskan diri dari tali ikatan apa pun. Sebagaimana yang diyakini oleh Supo Mandagri, memang tidak ada kesulitan bagi Gajah Mada untuk melepaskan diri. Namun, nampaknya anak muda itu tengah mencari waktu yang tepat, yaitu saat tengah malam ketika tidak seorang pun akan menyadari bahwa tawanan mereka telah pergi.
Demikianlah, manakala terdengar sayup-sayup suara kentongan nada dara muluk dari beberapa padukuhan terdekat, Gajah Mada kembali berbisik kepada Supo Mandagri untuk bersiap diri. Tali pengikat mereka memang sangat kuat karena berasal dari bahan kulit rotan yang dirangkap. Namun, bagi seorang seperti Gajah Mada yang memiliki kesaktian ilmu sangat tinggi, hal itu bukanlah sesuatu yang sulit. Bahkan rantai baja sekalipun pasti dapat dilepaskannya, mengingat anak muda itu memiliki tenaga dua puluh kali lipat kekuatan seekor banteng jantan yang besar.
Baru saja Gajah Mada bermaksud menghentakkan tali yang mengikat tangannya, tiba-tiba pendengarannya yang peka dan terlatih mendengar suara langkah kaki yang mendekati dinding pagar halaman Ki Randu Alam.
"Ada orang datang mendekat," bisik Gajah Mada kepada Supo Mandagri yang kemudian mengurungkan niatnya.
Mendengar perkataan Gajah Mada, Supo Mandagri berdebar-debar. Pikirannya berusaha meraba siapa gerangan orang di balik dinding itu. "Yang pasti bukan orangnya Ki Randu Alam," batin Supo Mandagri.
Pikiran Gajah Mada sejalan dengan Supo Mandagri; ia yakin orang yang mendekati dinding itu bukan pengikut Ki Randu Alam. Gajah Mada menarik napas dalam-dalam saat matanya melihat seseorang dalam kegelapan malam telah hinggap di atas dinding pagar halaman. Tatapan mata Gajah Mada terus melekat kepada orang yang mengendap di atas dinding tersebut. Sementara itu, seluruh kekuatan tenaga sakti telah disalurkan ke kedua tangannya agar setiap saat dapat dihentakkan untuk memutuskan tali temali.
Namun, Gajah Mada tidak melakukan apa pun manakala orang itu melompat dan berdiri dengan tatapan mata penuh persahabatan.
"Kita bertemu lagi, wahai orang muda," kata orang itu dengan suara perlahan.
Gajah Mada terbelalak, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Aku bukan Ki Randu Alam yang kamu temui tadi siang," ujar orang itu seolah dapat membaca arah pikiran Gajah Mada.
Memang, Gajah Mada melihat wajah orang itu sangat mirip dengan Ki Randu Alam, namun sikap dan perlakuannya sangat berbeda. Orang yang ditemui Gajah Mada saat ini terlihat sangat bersahabat. Belum lepas rasa heran dalam diri Gajah Mada, orang itu sudah mengeluarkan sangkur pendeknya.
"Aku tahu kamu dapat melepaskan diri sendiri, tapi biarlah sangkur pendek tuaku yang memotong tali temali ini," katanya sambil memutus tali yang mengikat tubuh dan tangan Gajah Mada serta Supo Mandagri.
"Apakah aku berhadapan dengan Ki Arya Wiraraja?" tanya Gajah Mada.
"Nampaknya kawanmu ini harus dibantu berjalan. Mari kita keluar dari tempat ini," ujar orang itu tanpa menghiraukan pertanyaan Gajah Mada. Ia langsung melompat dan mengendap di atas dinding pagar sambil memberi tanda kepada Gajah Mada untuk mengikutinya.
"Lukamu sangat parah," kata Gajah Mada kepada Supo Mandagri yang dilihatnya tidak mampu berdiri, sehingga ia langsung memanggulnya.
Melihat Gajah Mada memanggul sahabatnya, orang itu pun bergerak turun tanpa suara dan merapat di dinding pagar bagian luar seperti menyatu dengan kegelapan malam. Gajah Mada, yang memahami keinginan orang itu, segera mengikutinya sambil memanggul Supo Mandagri. Sama seperti orang itu, Gajah Mada merapat di dinding luar halaman, tersamar dalam kegelapan.
Manakala yakin tidak seorang pun melihat keberadaan mereka, orang itu melesat berlari menembus kegelapan malam. Mereka terus berlari keluar dari Kademangan Randu Agung. Entah mengapa, Gajah Mada begitu percaya dengan orang itu dan terus mengiringinya di belakang. Arah langkah kaki orang itu menuju Hutan Randu Agung. Sambil memanggul Supo Mandagri, Gajah Mada memasuki hutan tersebut.
Hari masih di ujung malam, mereka seolah tenggelam dan hilang di kelebatan Hutan Randu Agung yang lebat. Gajah Mada memuji penglihatan orang itu yang nampaknya sudah terbiasa keluar masuk hutan di waktu malam. Mereka terus masuk lebih dalam lagi hingga akhirnya orang itu berhenti di sebuah tempat.
"Di sinilah tempat tinggalku selama ini," katanya sambil menunjuk ke arah atas sebuah pepohonan yang sangat besar dan lebat.
Tanpa berkata apa pun, orang itu dengan ringan melompat tinggi, hinggap di sebuah cabang pohon, lalu terus melompat dari satu cabang ke cabang lainnya. Sambil memanggul Supo Mandagri, Gajah Mada mengikuti orang itu.
"Letakkan tubuh kawanmu di sini," ujar orang itu kepada Gajah Mada di sebuah batang pohon yang cukup besar, di mana telah disusun beberapa batang kayu menjadi lantai panggung yang kokoh.
Rumah pohon, itulah yang dipikirkan Gajah Mada sebagai tempat tinggal orang itu, berada di ketinggian yang tidak terlihat oleh siapa pun yang lewat di bawah sana.
"Jagalah kawanmu, aku akan mencarikannya beberapa tanaman obat pengering luka di sekitar hutan ini," kata orang itu kepada Gajah Mada, kemudian bergerak cepat seperti melayang turun ke bawah. Dalam keremangan malam, orang itu menghilang ditelan bumi.
"Hari yang sangat aneh, kita melihat dua orang yang sama," kata Gajah Mada kepada Supo Mandagri yang terlihat mencoba duduk di atas lantai kayu rumah pohon itu.
"Yang pasti, kita tidak tengah bermimpi," jawab Supo Mandagri sambil melihat berkeliling di antara cabang dan ranting pohon.