Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 206

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 206

"Bersedia atau tidak, akan kupaksa dirinya perang tanding denganku," kata pemuda itu dengan suara penuh kemarahan.

Entah mengapa, di hati kecilnya, Arya Damar tidak begitu menyukai sikap pemuda itu dan merasa kasihan kepada gadis jelita di atas pendapa yang ternyata bernama Manik Danda.

"Aku bersedia menantang perang tanding," kata Arya Damar tiba-tiba dengan suara yang terdengar penuh ketenangan hati.

Bukan main terkejutnya pemuda itu mendengar perkataan Arya Damar.

Terlihat pemuda itu mulai memperhatikan sosok Arya Damar dengan lebih saksama lagi.

"Bagus, ternyata kamu seorang yang jantan. Aku Makambika, putra Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten, menunggumu besok di alun-alun depan istana," kata pemuda itu, yang ternyata adalah putra Raja Bali bernama Raden Makambika.

Terlihat Arya Damar tidak berkata apa pun, hanya bergeser sedikit membiarkan Raden Makambika melewati dirinya ketika menuruni anak tangga pendapa.

"Manik Danda, apakah kamu membuat masalah lagi dengan Raden Danda?" tanya seseorang yang baru saja keluar dari pintu pringgitan, yang ternyata adalah Ki Pasunggrigis.

Manik Danda langsung menceritakan apa yang baru saja terjadi.

"Anak muda, siapa gerangan dirimu?" tanya Ki Pasunggrigis kepada Arya Damar setelah mempersilakan anak muda itu duduk bersama di pendapa.

"Namaku Arya Damar. Aku datang untuk menyerahkan barang pesanan Nimas Ayu Manik Danda," kata Arya Damar menyampaikan maksud kedatangannya.

"Ilmu Raden Makambika sangat tinggi, kuharap kamu mengurungkan perang tanding itu," kata Ki Pasunggrigis dengan perasaan penuh kekhawatiran kepada Arya Damar.

"Terima kasih atas kekhawatiran Tuan Mahapatih. Hamba tidak dapat menarik ucapan yang sudah terlepas. Besok hamba akan menghadapi tantangan perang tanding itu," kata Arya Damar kepada Ki Pasunggrigis.

"Sungguh, kamu seorang anak muda yang sangat pemberani," kata Ki Pasunggrigis dengan penuh rasa kagum melihat sikap Arya Damar yang tidak memiliki rasa gentar sedikit pun.

"Arya Damar, pergilah jauh-jauh dari Balidwipa ini. Urungkan niatmu untuk datang ke perang tanding itu. Raden Kumbara akan mencelakai dirimu, bahkan tanpa belas kasihan akan membunuhmu," kata Manik Danda kepada Arya Damar.

"Nasib manusia berada di tangan Gusti Yang Maha Agung, sementara kita hanyalah manusia ciptaan-Nya yang tidak akan pernah dapat menghindar dari takdir-Nya," kata Arya Damar dengan wajah penuh ketenangan di hadapan Manik Danda dan Ki Pasunggrigis.

"Kami akan merasa bersalah bila terjadi sesuatu atas dirimu," kata Ki Pasunggrigis kepada Arya Damar.

"Berdoalah, semoga hamba diberikan kekuatan dan keselamatan menghadapi perang tanding itu," kata Arya Damar sambil berdiri perlahan dan memohon pamit.

Terlihat Ki Pasunggrigis dan Manik Danda menatap ke arah Arya Damar yang tengah berjalan membelah halaman rumah mereka menuju regol pintu gerbang.

"Aku melihat rasa percaya diri yang amat tinggi di mata anak muda itu," kata Ki Pasunggrigis kepada putrinya.

"Anak muda yang sederhana, mungkinkah ia memiliki kemampuan tersembunyi dan mampu mengalahkan Raden Makambika?" tanya Manik Danda penuh rasa khawatir.

"Besok kita akan berada di tempat perang tanding itu, dan aku akan berusaha menjaga agar Raden Makambika tidak berlaku kejam terhadap anak muda itu," kata Ki Pasunggrigis mencoba mengalihkan rasa khawatir putrinya.

Mendengar perkataan ayahnya itu, terlihat Manik Danda sedikit terhibur.

"Aku akan merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada diri anak muda itu di perang tandingnya," kata Manik Danda kembali, sambil memandang ke arah regol pintu gerbang tempat ia terakhir kali melihat Arya Damar.

"Sebagaimana yang dikatakan oleh anak muda itu, kita sebagai manusia tidak akan pernah lepas dari takdir-Nya," kata Ki Pasunggrigis merasa iba melihat perasaan putrinya.

"Aku berharap anak muda itu memenangkan perang tandingnya, meruntuhkan kesombongan Raden Makambika selama ini," kata Manik Danda dengan suara perlahan, seperti bicara kepada dirinya sendiri.

"Apakah kamu menyukai anak muda itu?" tanya Ki Pasunggrigis dengan wajah menggoda di hadapan Manik Danda.

Terlihat Manik Danda tidak menjawab pertanyaan ayahnya, hanya senyum tipis yang mengukir indah di ujung bibirnya. Dan senyum itu, bagi Ki Pasunggrigis, adalah sebuah jawaban.

Orang tua itu terlihat menarik napas panjang.

"Cinta dan perjodohan memang tidak dapat dipaksakan," gumam Ki Pasunggrigis dalam hati.

"Apakah Ayah menyukai anak muda itu?" tanya Manik Danda kepada ayahnya.

Pertanyaan Manik Danda datang begitu tiba-tiba, di luar perkiraan Ki Pasunggrigis. Namun, orang tua bijaksana itu tidak memperlihatkan keterkejutannya, melainkan menutupinya dengan senyum lembut di wajahnya.

"Tutur kata serta kesederhanaannya telah membuat hati ayahmu menyukainya," kata Ki Pasunggrigis masih dengan senyum di hadapan putri tercintanya itu.

Mendengar tutur kata ayahnya, gadis itu merasa hatinya berbunga-bunga. Kembali pandangannya tertuju ke arah regol pintu gerbang, tempat terakhir kali sosok Arya Damar tampak di matanya, berharap dan berkhayal anak muda itu akan muncul secara tiba-tiba.

"Aku ingin menyaksikan perang tanding mereka," kata Manik Danda dengan wajah berbinar-binar di hadapan ayahnya, Ki Pasunggrigis.

Keesokan harinya, alun-alun yang berada di depan istana itu terlihat sudah mulai didatangi beberapa orang. Mereka berdiri di luar sebuah tali yang diikat membentuk empat persegi panjang. Tampaknya hari itu memang akan ada sebuah perang tanding, namun tidak satu pun yang mengetahui siapa gerangan yang akan turun melaksanakan perang tanding tersebut.

Di zaman itu, khususnya di Balidwipa, ada sebuah tradisi perang tanding yang biasanya dilakukan untuk menyelesaikan suatu perselisihan. Dalam tradisi perang tanding itu, tidak ada tuntutan apa pun di kemudian hari bilamana salah seorang petanding gugur.

Manakala matahari pagi terlihat sudah semakin tinggi, barulah orang-orang yang berada di alun-alun itu mengetahui bahwa salah satu petanding ternyata adalah Raden Makambika, putra raja yang sangat disegani karena diketahui memiliki kemampuan yang cukup tinggi.

"Siapa gerangan yang berani menantang Raden Makambika untuk perang tanding?" tanya beberapa orang dengan penuh rasa penasaran.

"Yang pasti, orang itu merasa memiliki kemampuan yang sepadan dengan Raden Makambika," kata beberapa orang mengira-ira lawan tanding Raden Makambika tersebut.

Akhirnya, yang ditunggu oleh orang banyak di alun-alun itu datang juga. Terlihat seorang anak muda berpakaian sederhana memasuki arena perang tanding dan langsung berdiri di hadapan Raden Makambika.

"Ternyata kamu cukup jantan datang ke arena ini," kata Raden Makambika menyapa anak muda yang baru datang itu, yang tidak lain adalah Arya Damar.

"Maaf, aku telah membuatmu lama menunggu," kata Arya Damar dengan suara datar dan penuh rasa percaya diri.

"Bersiaplah, aku sudah tidak sabar menghajarmu," kata Raden Makambika dengan penuh keangkuhan.

Mendengar perkataan Raden Makambika, terlihat Arya Damar bersiap diri dengan sikap kuda-kuda yang kokoh, seolah tertancap di bumi.

"Keluarkan senjatamu agar kamu tidak menyesal," kata Raden Makambika sambil menerjang dengan keris di tangannya.

Sebuah serangan pembukaan yang amat keras dan cepat. Terlihat hampir semua orang menarik napas panjang, menduga bahwa anak muda itu akan mengalami nasib yang sangat mengenaskan, terkoyak oleh keris Raden Makambika yang berilmu tinggi itu.

Namun, dugaan hampir semua orang itu ternyata keliru. Dengan lincahnya, Arya Damar mengelak cepat, bahkan di luar dugaan telah melancarkan serangan balasan yang tidak kalah hebat.

Semua orang seperti bernapas lega. Mata mereka mulai terbuka bahwa Arya Damar ternyata bukan orang biasa yang mudah dijadikan mangsa. Terbuka pula mata Raden Makambika, yang sebelumnya hanya memandang lawan dengan sebelah mata.

Saling serang dan balas menyerang pun terjadi dengan sengit di arena perang tanding tersebut. Arya Damar terlihat bergerak dengan begitu lincah, laksana anak ikan gabus yang melesat bersembunyi dari kejaran pemangsa. Sementara itu, Raden Makambika bergerak bagaikan seekor banteng yang mengamuk.

Rasa penasaran sudah meledak-ledak di dada Raden Makambika karena setelah sekian banyak gerak langkah serangan dilancarkan, belum juga membuahkan hasil. Arya Damar tampak sangat tangguh untuk dikalahkan dengan cepat.

Merasa Arya Damar tidak mudah ditundukkan, seketika Raden Makambika meningkatkan tingkatan kemampuannya. Terlihat serangan Raden Makambika semakin cepat dan keras. Keris di tangan Raden Makambika berputar-putar dan berdesing mengejar ke mana pun Arya Damar bergerak.

Tidak ada jalan lain bagi Arya Damar selain meningkatkan tataran ilmu kemampuannya guna mengimbangi serangan Raden Makambika yang amat cepat dan keras itu. Kembali terjadi keseimbangan pertempuran di antara keduanya. Saling serang dan balas menyerang silih berganti membuat semua orang berkali-kali menahan napas menyaksikan pertarungan kedua pemuda itu.

Menyaksikan Arya Damar kembali dapat mengimbangi serangannya, dada putra Raja Bali itu meledak-ledak penuh kekecewaan. Baru kali ini ia mendapat lawan tanding yang sangat tangguh. Tidak ada jalan lain baginya selain mengeluarkan puncak kemampuannya.

Terlihat Raden Makambika bergerak secepat bayangan terbang. Namun, Arya Damar bukanlah anak kemarin sore yang baru turun dari gunung. Arya Damar adalah putra tunggal Patih Mahesa Amping yang terkenal, sosok yang pernah menggetarkan bumi Melayu dengan gelar Manusia Dewa. Maka dari itu, tidak sulit bagi Arya Damar untuk menghindar dari setiap terjangan Raden Makambika yang telah mengerahkan puncak kemampuannya.

Bukan main kecewanya Raden Makambika mendapati serangannya meleset begitu saja.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment