Chapter 25
Melihat lawan menyerang balik, Adipati Ranggalawe segera berkelit dan melancarkan serangan balasan. Pertarungan serang dan balas menyerang mereka berlangsung semakin cepat, bagai rangkaian gerak yang saling susul-menyusul, membuat pertempuran mereka tampak seperti bayangan yang berkelebat ke sana kemari.
Sementara itu, pertempuran antara prajurit Tuban dan prajurit Majapahit terus berlangsung. Dering senjata yang beradu terdengar bersahutan dengan gemuruh air Sungai Tambak Beras yang deras menghantam bebatuan, menciptakan suasana pertempuran yang bergelora, riuh, dan ramai. Korban kembali berjatuhan di kedua belah pihak.
Keandalan prajurit Majapahit dalam bertempur melawan jumlah prajurit Tuban yang lebih banyak membuat pertempuran bertahan cukup lama dan seimbang. Belum dapat dipastikan siapa yang akan memenangkan pertarungan di atas Sungai Tambak Beras itu. Air sungai tersebut kini telah berubah warna menjadi merah darah.
Pertarungan antara kedua pemimpin semakin sengit. Adipati Ranggalawe ternyata mampu menandingi Rakyan Kebo Arema. Mereka bertarung layaknya dua raksasa kanuragan, masing-masing mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan yang dimiliki. Batu-batu sungai sesekali terburai terkena terjangan kaki mereka, sementara air sungai seolah mendidih oleh embusan hawa panas dari senjata masing-masing. Adipati Ranggalawe berkelebat bagai elang jantan yang mengejar mangsa, sedangkan Rakyan Kebo Arema kokoh dan sigap laksana singa jantan yang bertarung. Wajah dan tubuh mereka basah kuyup karena terkadang bertarung di bawah aliran air sungai yang deras.
Akhirnya, Adipati Ranggalawe tidak mampu lagi meningkatkan ilmunya, tidak mampu menandingi kecepatan dan kekuatan Rakyan Kebo Arema, saudara seperguruan Raja Kertanegara dan murid Empu Dangka. Berkali-kali Adipati Ranggalawe terlempar tercebur ke sungai akibat tendangan dan pukulan Rakyan Kebo Arema yang tidak dapat lagi ia hindari. Namun, semangat tempur Adipati Ranggalawe sangat tinggi, hatinya membatu dan menolak menyerah.
Dalam sebuah serangan, Adipati Ranggalawe terpojok, tidak mampu lagi bergerak menghindari tusukan badik Rakyan Kebo Arema yang telah meluncur mendekati jantungnya. Namun, dengan hati yang keras, Adipati Ranggalawe pada saat kritis itu mengambil keputusan nekat untuk mati bersama, melemparkan kerisnya ke arah lambung lawan. Terkejut, Rakyan Kebo Arema mengira lawannya berniat mati bersama dan tidak sempat memutar tubuhnya untuk menghindari keris yang meluncur cepat ke arah lambungnya. Ia hanya berpikir untuk menyelamatkan diri dari serangan bunuh diri Adipati Ranggalawe.
Namun, sebelum ia sempat memutar lambungnya, sebuah serangan gelap menghantam pergelangan tangannya, membuatnya terkejut dan tangannya bergetar. Serangan itu menggeser sedikit arah tusukan, sehingga keris tidak menembus jantung, melainkan bahu lawan.
Rakyan Kebo Arema terkejut merasakan benda tajam menembus lambungnya. "Patih Mahesa Amping," hanya itu yang terucap di bibirnya saat matanya yang tajam melihat seseorang berdiri mematung di tepian Sungai Tambak Beras. Ternyata, sosok itu benar Patih Mahesa Amping, yang baru saja tiba dan melihat keadaan kritis serangan Rakyan Kebo Arema yang tidak mungkin dihindari oleh Adipati Ranggalawe.
Tidak ada jalan lain bagi Patih Mahesa Amping selain melontarkan tenaga sakti intinya melalui tatapan matanya, yang jarang dipergunakan kecuali dalam keadaan darurat. Patih Mahesa Amping hanya menggunakan seperlima kekuatannya, bermaksud untuk membelokkan sasaran senjata Rakyan Kebo Arema. Ia berdiri seperti patung, tidak menyangka bahwa di saat yang sama Adipati Ranggalawe melakukan tindakan nekat untuk mati bersama. Akibatnya, Rakyan Kebo Arema terkejut tangannya terkena pukulan gelap, membuatnya tidak sempat menggerakkan tubuhnya menghindari keris Adipati Ranggalawe yang meluncur dari jarak sangat dekat dan cepat.
Patih Mahesa Amping masih berdiri diam membisu. Sementara itu, Rakyan Kebo Arema perlahan roboh jatuh di atas batu besar pijakan kakinya. Adipati Ranggalawe masih berdiri dengan badik tertancap di bahu kirinya, namun tidak lama. Tubuhnya limbung dan jatuh rebah di sebelah Rakyan Kebo Arema. Ternyata, badik milik Rakyan Kebo Arema adalah senjata yang mengandung racun ikan pari yang sangat keras. Hanya dengan goresan kecil saja, seseorang akan mati dalam hitungan kedipan mata dengan darah membiru kehitaman.
Patih Mahesa Amping masih berdiri diam membisu, matanya berkaca-kaca. Beberapa prajurit yang melihat pemimpin mereka roboh dan tidak bergerak lagi, segera mundur dan menghentikan pertempuran. Prajurit lainnya pun ikut menghentikan pertempuran, memisahkan diri dalam dua kelompok, namun tetap dalam kewaspadaan tinggi dan menjaga jarak. Hingga akhirnya, tidak ada lagi yang bertempur di atas Sungai Tambak Beras itu.
Semua mata memandang ke arah Patih Mahesa Amping yang perlahan melangkah mendekati tubuh Rakyan Kebo Arema dan Adipati Ranggalawe yang rebah bersebelahan. Semua mata masih memandang ke arah Patih Mahesa Amping yang mengangkat kedua tubuh sahabatnya di pundaknya secara bersamaan, lalu meletakkannya di tepian sungai. Ia berdiri tegak mematung. Sorot matanya berkilat memandang berkeliling ke semua prajurit yang baru saja bertempur. Para prajurit itu tampak seperti tidak berani melawan tatapan mata Patih Mahesa Amping, diliputi rasa seram dan gentar.
"Perang telah berakhir. Bawalah oleh kalian mayat para pemimpin kalian ini ke istana Kadipaten Tuban. Mulai hari ini, kalian dipersatukan kembali sebagaimana jiwa pemimpin kalian yang telah dipersatukan kembali di akhir kehidupannya," kata Patih Mahesa Amping, seolah memudarkan sihir kebekuan yang mencekam hati para prajurit.
Saat senja menjelang malam, terlihat dua buah tandu keranda diangkat perlahan meninggalkan tepian Sungai Tambak Beras. Mengiringi tandu keranda itu, langkah kuda para prajurit Majapahit dan prajurit Tuban membaur, tidak ada jarak. Hati dan perasaan mereka memang telah dipersatukan kembali.
Hingga akhirnya, pada suatu pagi yang dipenuhi gemilang cahaya fajar, iring-iringan pembawa tandu jenazah kedua pahlawan itu tiba di gerbang kota Tuban. Iring-iringan itu semakin panjang mengantar kedua tandu keranda hingga sampai di istana Kadipaten Tuban. Ribuan warga Tuban berdatangan ikut berbela sungkawa. Ribuan warga Tuban menundukkan kepala manakala kedua jenazah pahlawan mereka dikebumikan dengan upacara kebesaran, upacara melepas dua orang pahlawan Majapahit, dua pahlawan di hati bagi semua orang yang pernah mengenal mereka. Ribuan warga Tuban berduka. Ribuan warga Tuban mengenang peristiwa itu sebagai hari bersatunya kembali Kadipaten Tuban dalam pangkuan kedaulatan Majapahit Raya, berbagi keagungan, berbagi keadilan, dan berbagi cita-cita bersama.
Seribu hari setelah peristiwa itu, kendali pemerintahan di Tuban masih berada di tangan Patih Mahesa Amping. Perlahan, suasana dan keadaan Tanah Tuban berangsur-angsur kembali sebagaimana sebelumnya ketika dipimpin oleh Adipati Ranggalawe. Atas saran Patih Mahesa Amping, Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah mengangkat Siralawe, putra Ranggalawe, menjadi Adipati Tuban menggantikan ayahnya. Semua warga Tuban menerima pengangkatan itu, menerima Adipati Siralawe menjadi pimpinan mereka di Tuban. Perlahan, peristiwa di tepian Sungai Tambak Beras seperti terlupakan.
Panorama di sekitar Air Terjun Nglirip sungguh indah. Tumpahan air terjun jatuh deras tanpa henti menghantam batuan besar di bawahnya, memercikkan butiran-butiran kabut tipis bagai kapas terbang. Mata tidak jemu memandang tebing yang menjulang tinggi dan hutan hijau di sekitarnya, membuat hati menjadi sejuk dan damai. Ketika mata berpaling ke bawah, terlihat aliran air sungai meliuk bagai ular besar menuruni perbukitan hijau. Turun mengikuti aliran sungai, suara deru air terjun masih terdengar jelas. Terlihat sebuah padepokan kecil dan asri seperti menempel di keindahan alam tersebut. Padepokan kecil dan asri itu dihuni oleh seorang biksuni bernama Nyi Ajeng Nglirip. Banyak yang tidak mengenal bahwa wanita itu adalah Gusti Kanjeng Ratu Gayatri, sang permaisuri Raja Majapahit yang mengasingkan diri menjadi seorang biksuni.
"Genap sudah kehadiranmu, wahai Gajahmada. Menggenapi kekhawatiran keluarga di Tanah Ujung Galuh. Kabarkan kepada keluarga di sana, kedamaian masih selalu menyertai kami," berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada Gajahmada pada suatu pagi, ketika pemuda itu bermaksud berpamit diri untuk kembali ke Tanah Ujung Galuh.