Chapter 53
Ternyata Gajahmada memang punya maksud tersendiri memperlambat laju kudanya agar tiba di Hutan Kemiri saat hari telah gelap.
Perlahan tapi pasti, malam mulai menyelimuti wajah bumi. Gajahmada bersama kudanya mulai mendekati muka Hutan Kemiri yang sudah terlihat gelap pekat. Tanpa menambah atau mengurangi laju kudanya, Gajahmada memasuki Hutan Kemiri yang saat itu diketahui telah mulai dipenuhi oleh orang-orang dari Lamajang.
Sedikit sekali orang yang berani memasuki hutan belantara pada malam hari.
Di samping para perampok yang sangat ditakuti, bahaya lain yang bahkan lebih menakutkan adalah keberadaan binatang buas yang biasanya berkeliaran saat malam, seperti harimau dan gerombolan serigala.
Namun, rasa percaya diri anak muda itu benar-benar tinggi. Tampaknya, Gajahmada telah meyakini kesaktian yang dimilikinya sebagai anugerah dari Yang Maha Agung untuk melindungi dirinya.
Gajahmada masih berada di atas punggung kudanya, seperti perlahan membelah dua sisi Hutan Kemiri. Sambil berjalan, tangannya meraba pangkal keris yang selalu berada di pinggangnya. Hanya orang-orang yang memahami keris yang tahu dari bahan kayu apa gerangan pangkal keris itu terbuat. Konon, pangkal kayu itu berasal dari pokok akar kayu hitam yang telah berumur ratusan tahun. Sedikit orang yang mengetahui bahwa harum wangi kayu itu mampu tercium oleh binatang buas dari jarak yang cukup jauh. Tidak satu pun binatang buas yang berani mendekati kayu hitam itu; mereka pasti langsung pergi menghindar.
Akan tetapi, rasa percaya diri anak muda ini ternyata bukan karena memiliki kemampuan tinggi atau keris Nagasasra yang bertuah, melainkan bersumber dari pemahaman dan pengenalannya atas pemilik kekuasaan hakiki, Gusti Yang Maha Agung, pemilik alam semesta.
"Tiada seorang pun lepas dari takdir-Mu," kata Gajahmada dalam hati sambil menghentakkan kakinya ke perut kuda agar berjalan lebih cepat.
Gajahmada di atas kudanya terus melangkah memasuki Hutan Kemiri lebih dalam lagi. Suasana di kedalaman Hutan Kemiri pada malam hari itu begitu gelap dan sunyi, namun penglihatannya yang terlatih dan tajam dapat menembus keremangan di depan matanya. Sebagai seseorang yang memiliki kesaktian tinggi, *panggraita* Gajahmada sudah begitu halus dalam merasakan setiap kemungkinan bahaya di dekat dirinya. Kali ini, Gajahmada menangkap bayangan-bayangan mencurigakan di sekitarnya yang seolah tengah mengintai dan mengawasi.
Namun, Gajahmada sengaja tidak memperhatikannya. Ia bersikap seolah tidak melihat apa pun dan terus berjalan menembus Hutan Kemiri. Hari telah jauh malam, suasana hutan sungguh gelap dan sunyi.
"Nampaknya aku sudah terlepas dari pengintaian mereka," ujar Gajahmada dalam hati ketika merasa sudah mendekati jalan keluar dari Hutan Kemiri dan merasa jauh dari pengawasan para penghuninya.
Hingga akhirnya, ketika Gajahmada telah keluar dari Hutan Kemiri, ia membawa kudanya ke arah bebatuan besar yang dipenuhi semak belukar. Ternyata, Gajahmada menyembunyikan kudanya di sela-sela bebatuan besar yang terhalang rimbunnya ilalang dan semak. Di bawah kegelapan langit malam, Gajahmada yang memiliki kecepatan gerak tinggi itu melesat seperti anak panah yang dilepaskan dengan tenaga penuh, kembali ke dalam kegelapan Hutan Kemiri.
Dengan kemampuan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, tidak sukar bagi Gajahmada berpindah dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya tanpa terdengar sedikit pun jejak langkahnya. Akhirnya, Gajahmada menemukan apa yang dicarinya.
"Nampaknya mereka memang tengah membangun sebuah kekuatan di Hutan Kemiri ini," kata Gajahmada dalam hati dari balik kerimbunan pohon tinggi.
Dari atas ketinggian pohon, Gajahmada melihat beberapa barak berdiri di kedalaman hutan. Ia tidak langsung meninggalkan tempatnya, melainkan duduk bersandar di sebuah batang pohon besar yang rimbun dan tidak mudah terlihat dari bawah. Gajahmada memang ingin menunggu pagi untuk melihat lebih jauh tentang penghuni barak-barak tersebut.
Malam pun berlalu. Suasana pagi di Hutan Kemiri ditandai dengan kicau burung-burung kecil yang terbang dari satu batang pohon ke pohon lainnya. Kehidupan di barak-barak itu ditandai dengan munculnya asap tebal dari salah satu barak yang mungkin digunakan sebagai dapur umum. Mata Gajahmada menjelajah ke berbagai arah, melihat lalu lalang penghuni barak. Ketika bias cahaya pagi lebih jelas menyinari, Gajahmada melihat ladang terbuka yang ditanami jagung.
Lewat pendengarannya yang terlatih, Gajahmada mendengar beberapa percakapan para penghuni barak.
"Aku teringat kepada Ki Sandikala dan Ki Putut Prastawa, bahasa yang mereka gunakan nampaknya memang dari Lamajang," ujar Gajahmada dalam hati, mengenali bahasa ibu yang digunakan orang-orang tersebut.
"Banyak tempat yang lebih subur untuk berladang jagung, tapi mereka lebih memilih tempat tersembunyi di kedalaman Hutan Kemiri," pikir Gajahmada, meyakini bahwa kelompok di bawah pohon tempatnya bersembunyi memiliki kepentingan buruk terhadap tatanan kehidupan di bumi Jawadwipa. "Langkah kaki mereka seperti orang-orang yang terlatih dalam olah kanuragan."
Setelah merasa cukup mengamati suasana, Gajahmada beranjak dari tempat persembunyiannya. Dengan ilmu meringankan tubuh yang nyaris sempurna, ia melesat cepat dari batang pohon ke batang pohon lainnya. Lebih cepat dari anak panah, Gajahmada meninggalkan kedalaman Hutan Kemiri.
Hari masih gelap di pinggir hutan saat Gajahmada menuju tempat persembunyian kudanya. Namun, pendengarannya yang tajam tiba-tiba menangkap langkah kaki beberapa orang. Segera, anak muda itu berlindung di balik batu besar untuk mengamati. Dari persembunyiannya, di keremangan malam, Gajahmada melihat lima orang berjalan menuju Hutan Kemiri.
"Siapakah mereka?" tanya Gajahmada dalam hati sambil mempertajam indra penglihatannya.
Gajahmada melihat lima orang melangkah menuju hutan. Saat memperhatikan wajah mereka satu per satu, ia terkejut.
"Ki Ajar Pelandongan?" gumam Gajahmada mengenali salah seorang dari mereka.
Ternyata, salah satu dari kelima orang itu adalah Ki Ajar Pelandongan, guru dari para putra Adipati Ranggalawe.
"Kehadiran Ki Ajar Pelandongan di sekitar Hutan Kemiri ini menguatkan dugaanku bahwa Ki Arya Wiraraja memang ada di balik mereka," kata Gajahmada dalam hati.
Mata Gajahmada beralih ke pemuda yang berjalan di dekat Ki Ajar Pelandongan. Ia melihat tangan pemuda itu terikat di belakang.
"Kasihan anak muda itu, nampaknya terpaksa berjalan mengikuti Ki Ajar Pelandongan," ujar Gajahmada dalam hati, melihat wajah anak muda itu penuh duka. Timbul keinginan dari Gajahmada untuk membantunya melepaskan diri.
Di penghujung malam yang masih gelap, Ki Ajar Pelandongan dan empat orang pengawalnya terus berjalan.
"Berhenti, ada orang di depan kita!" seru Ki Ajar Pelandongan setelah melihat bayangan hitam berdiri tak jauh dari mereka.
Namun, saat Ki Ajar Pelandongan mendekati bayangan hitam tersebut, warna wajahnya langsung berubah pucat.
"Pendekar Seruling Sakti!" tanpa sadar bibirnya menyebut nama itu.
Ki Ajar Pelandongan masih mengenali anak muda di hadapannya, yaitu Gajahmada yang pernah mengalahkannya dalam pertempuran di pantai Tuban bersama muridnya, Kuda Anjampiani, putra Adipati Ranggalawe.
"Kita berjumpa kembali, Ki Ajar Pelandongan," sapa Gajahmada sambil tersenyum.