Chapter 202
Namun, Patih Gajah Mada bukan anak muda biasa. Pewaris tunggal sang pertapa dari Gunung Wilis itu diam-diam telah melambari dirinya dengan ajian sakti pemunah bala. Hawa murni di tubuhnya seketika telah bekerja dengan sendirinya untuk melindungi dirinya.
Hawa panas serangan keris Ki Sadeng seakan meredam, tidak berarti apa-apa di hadapan Patih Gajah Mada.
Terlihat anak muda itu masih saja membalas serangan Ki Sadeng.
Pertempuran keduanya telah menimbulkan semak belukar rata terbakar. Batu dan pepohonan kadang terbongkar terkena angin sasaran serangan mereka yang lepas.
Benar-benar sebuah pertempuran yang sungguh amat mengerikan.
"Anak muda ini mampu meredam amuk serangan kerisku. Ajian gunung berapi milikku tidak berarti apa pun," kata Ki Sadeng yang menyadari bahwa lawannya ternyata mampu mengimbangi serangan puncaknya.
Ternyata Patih Gajah Mada benar-benar anak muda yang telah mampu mengendapkan perasaannya sendiri, serta mampu mengendalikan diri agar tidak terbawa oleh amuk amarahnya.
"Aku harus mencari cara untuk tidak membunuh orang tua ini," kata Patih Gajah Mada dalam hati sambil terus berpikir untuk menundukkan lawannya yang sangat sakti itu.
Sementara itu, Rangga Mahesa Dharma bersama empat puluh orang pilihan terlihat telah menguasai arena pertempuran. Hanya tersisa beberapa orang yang dapat dihitung dengan jari yang masih bertahan dan belum menyerah.
Di tengah amuk serangan Ki Sadeng yang sangat dahsyat itu, Patih Gajah Mada masih sempat melihat suasana kemenangan yang tinggal sebentar lagi dipetik oleh para kawannya.
Maka seketika itu juga Patih Gajah Mada langsung menerapkan ajian andalannya, sebuah ilmu ajian langka yang jarang sekali dimiliki oleh orang sezamannya saat itu, yaitu ajian Pangeran Muncang yang didapatkan langsung dari Prabu Guru Dharmasiksa, seorang raja sakti dari Tanah Pasundan yang telah mengasingkan diri di lereng Gunung Galunggung.
Namun, Ajian Sakti Pangeran Muncang itu diterapkan dengan cara terbalik oleh Patih Gajah Mada. Alhasil, bukan sebuah ajian sakti yang memancarkan serangan cahaya api yang mahadahsyat, melainkan sebuah ajian sakti yang dapat menyerap kekuatan lawan.
Tenaga sakti inti sejati yang dimiliki Patih Gajah Mada sudah berada di atas kesempurnaan, sehingga tidak membutuhkan sentuhan apa pun. Hanya lewat angin lecutan cambuknya, kekuatan Ki Sadeng sudah dapat terserap dengan sendirinya.
Terlihat Ki Sadeng masih saja melakukan perlawanan, tanpa menyadari bahwa tenaga saktinya mulai terkuras.
Hingga dalam sebuah gebrakan, gerakan Ki Sadeng menjadi sedikit terlambat karena tenaga saktinya telah semakin berkurang, yang berakibat ujung cambuk Patih Gajah Mada berhasil menyentuh kakinya.
Rasa sakit yang amat sangat telah memaksa Ki Sadeng melemparkan dirinya hingga jatuh berguling di tanah.
Wajah penuh penasaran memenuhi seluruh pikirannya, merasa aneh pada dirinya sendiri yang tidak lagi dapat bergerak dengan cepat.
Terlihat Patih Gajah Mada berdiri tegak dengan senyum di bibirnya.
"Orang ini masih juga belum menyadari bahwa kekuatannya telah terserap," kata Patih Gajah Mada dalam hati sambil menatap wajah Ki Sadeng yang tengah berusaha bangkit berdiri.
"Kamu belum memenangkan pertempuran ini, wahai anak muda!" kata Ki Sadeng sambil kembali melakukan serangannya.
Ki Sadeng masih juga belum menyadari bahwa kekuatannya telah menyusut. Akibatnya, daya serangannya dirasakan oleh Patih Gajah Mada tidak sedahsyat sebelumnya.
Sementara itu, angin serangan cambuk Patih Gajah Mada masih saja terus bergerak, menyerap tenaga sakti Ki Sadeng meski tanpa menyentuhnya.
"Ajian sihir apa yang kamu gunakan, wahai anak muda?" kata Ki Sadeng sambil meloncat mundur ke belakang karena merasakan dirinya sudah tidak dapat lagi menghentakkan tenaga saktinya. Ia melihat dengan mata terbelalak ke arah keris besarnya yang tidak lagi merah membara.
"Menyerahlah, wahai Ki Sadeng, sebelum ujung cambukku tidak dapat dikendalikan lagi," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Sadeng.
"Katakan kepadaku, apa yang telah kamu lakukan kepada diriku?" tanya Ki Sadeng kembali dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Aku tidak akan membuat dirimu mati penasaran. Kekuatanmu telah terserap oleh ajian ilmuku," kata Patih Gajah Mada sambil menatap tajam ke arah Ki Sadeng.
"Ajian ilmu penyerap sukma?" tanya Ki Sadeng dengan wajah penuh rasa takut yang amat sangat.
"Lihatlah sekelilingmu, semua anak buahmu telah kami tundukkan," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Sadeng.
Terlihat Ki Sadeng memandang berkeliling, melihat semua anak buahnya memang telah benar-benar tidak berdaya di bawah kekuasaan pihak lawan, sementara sebagian besarnya terlihat telah bergelimpangan tak bernyawa lagi.
"Terima kasih telah bermurah hati memberi kesempatan selembar nyawaku ini. Ternyata mataku buta, tidak menyadari bahwa aku sedang berhadapan dengan sebuah gunung yang mahatinggi," kata Ki Sadeng dengan perasaan merinding membayangkan seluruh kekuatannya terserap habis oleh anak muda perkasa itu.
"Kita buat perkemahan di lembah ini," kata Tumenggung Adityawarman kepada seorang prajurit penghubungnya.
Terdengar sebuah aba-aba perintah melengking tinggi dari prajurit penghubung itu sebagai pertanda bagi pasukan untuk berhenti.
"Pasukan Kuda Jenar pastinya akan menghindari Kadipaten Lamajang dan memasuki wilayah tanah tak bertuan dari jalur lembah ini," kata Tumenggung Adityawarman kepada beberapa perwiranya.
Demikianlah, tidak lama kemudian terlihat beberapa prajurit tengah membangun perkemahan di Lembah Dayang Muksa itu, sementara beberapa prajurit lainnya tengah menyiapkan makanan di dapur umum.
Seekor burung rajawali terlihat melayang di langit senja dan terbang menghilang ke arah Gunung Argapuro.
Perlahan sang malam datang menghapus seluruh pandangan di Lembah Dayang Muksa itu. Gelap dan angin dingin semilir telah membuat para prajurit merasakan kantuk yang amat sangat setelah seharian berjalan.
"Belum ada kabar dari prajurit pemantau?" tanya Tumenggung Adityawarman kepada salah seorang perwiranya.
"Hingga saat ini belum ada kabar mereka datang kembali," jawab perwira itu.
"Itu artinya mereka belum melihat pasukan Kuda Jenar mendekati daerah ini. Sebuah berita bagus untuk kalian agar dapat beristirahat dengan cukup malam ini," kata Tumenggung Adityawarman sambil mempersilakan perwiranya itu beristirahat.
Dan malam terlihat menjadi begitu sunyi. Hanya suara angin yang turun ke lembah itu terdengar berderu-deru, membuat pikiran siapa pun akan membayangkan suasana yang menyeramkan—suasana kisah yang aneh di Lembah Dayang Muksa itu, kisah tentang enam orang dayang bersama seorang putri yang menghilang lenyap tanpa jejak.
Konon menurut dugaan orang, para penunggu lembah itu jatuh cinta kepada kecantikan sang putri dan membawanya ke alam mereka bersama keenam dayangnya. Itulah sebabnya lembah itu dinamakan Lembah Dayang Muksa.
Namun tampaknya, cerita tentang para penunggu lembah itu serta hilangnya seorang putri bersama keenam dayangnya tidak menghalangi para prajurit untuk tertidur pulas. Tampaknya rasa lelah setelah berjalan seharian penuh telah mengusir perasaan takut apa pun.
Ternyata rasa kantuk yang amat sangat menjadi sebuah kemewahan bagi sebagian prajurit di mana pun.
Dan perlahan, langit malam sunyi di Lembah Dayang Muksa dicederai oleh cahaya kemerahan yang berasal dari fajar pagi sang surya yang menggeliat di ujung ufuk timur bumi.
"Ada kabar dari para pemantau. Pasukan Kuda Jenar telah datang di pertengahan malam dan bermukim di sebuah hutan tidak jauh dari perkemahan kita," kata perwira itu menyampaikan laporannya.
"Melihat kedatangan mereka, tampaknya pasukan itu akan bergerak kembali keesokan harinya. Perintahkan para pemantau untuk terus mengamati gerakan mereka," kata Tumenggung Adityawarman kepada perwiranya.
Demikianlah, hari itu tidak ada kejadian apa pun di Lembah Dayang Muksa.
Namun, kesiagaan tetap mereka lakukan untuk menjaga berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi di luar dugaan dan perhitungan siapa pun.
Sebagaimana perhitungan Tumenggung Adityawarman, hari itu memang tidak terjadi apa pun.
Sementara itu, ternyata bukan hanya pasukan Tumenggung Adityawarman saja yang melepas para prajurit pemantaunya. Pasukan Kuda Jenar diam-diam telah menugaskan beberapa prajuritnya untuk memantau daerah di sekitar mereka.
"Apa tugas pasukan Majapahit itu berada di Lembah Dayang Muksa?" tanya Kuda Jenar kepada seorang prajurit pemantaunya yang melaporkan ada sepasukan besar berada di Lembah Dayang Muksa.
"Hamba tidak berani terlalu dekat dengan mereka," kata petugas pemantau itu kepada Kuda Jenar.
"Kembalilah ke tempat tugasmu, awasi terus kegiatan mereka," kata Kuda Jenar kepada prajurit pemantau itu.
Hingga akhirnya pada pagi hari keesokan harinya, seorang prajurit pemantau datang kembali menghadap Kuda Jenar.
"Tadi malam kami berhasil mendekati mereka. Ternyata mereka adalah pasukan Majapahit yang dipimpin langsung oleh Tumenggung Adityawarman. Dan pagi ini kami melihat mereka telah menyusun barisannya di sebuah padang. Tampaknya mereka memang sengaja menunggu kedatangan kita," kata prajurit pemantau itu kepada Kuda Jenar.
"Perintahkan seluruh prajurit bersiap diri untuk bergerak. Kita ingin tahu apa yang mereka inginkan dengan menghadang pasukan kita," kata Kuda Jenar kepada seorang perwiranya.
Demikianlah, tidak lama berselang, terlihat seribu pasukan yang berada di bawah kekuasaan Kuda Jenar telah bergerak keluar dari hutan menuju arah Lembah Dayang Muksa.