Chapter 191
Keduanya terdiam. Tampaknya, mereka tengah berpikir untuk mencari jalan keluar.
"Aku akan mencoba mendekati Adipati Menak Koncar di Lamajang. Mudah-mudahan ia dapat membantu kita," ujar Patih Gajah Mada.
"Tuan Patih benar. Banyak pedagang berasal dari Lamajang, mudah-mudahan Adipati Menak Koncar dapat membantu kita," tambah Ki Rangga Gajah Biru.
"Adipati Menak Koncar masih punya pengaruh yang cukup besar dalam persekutuan perguruan Teratai Putih di Jawadwipa dan Balidwipa yang pernah dipimpin oleh Empu Nambi. Aku berharap mendapat dukungan darinya," tutur Patih Gajah Mada.
"Kapan Tuan Patih Gajah Mada akan berangkat ke Lamajang?" tanya Ki Rangga Gajah Biru.
"Bila Rajadewi mengizinkan, besok aku akan segera berangkat ke Lamajang," jawab Patih Gajah Mada.
Sementara itu, hari telah larut malam. Ki Rangga Gajah Biru pun pamit untuk kembali ke rumahnya.
"Aku selalu berdoa untuk keselamatan dirimu dan keluargamu," kata Patih Gajah Mada melepas kepergian Ki Rangga Gajah Biru.
Setelah Ki Gajah Biru pergi, Patih Gajah Mada masih tetap berada di serambi pasanggrahannya.
"Aku belum mengenal siapa gerangan Ki Sadeng itu," ucap Patih Gajah Mada sambil mengingat kembali saat-saat berada di hutan Sastrawulan.
"Ki Sadeng dapat mengikutiku hingga di Pasanggrahan Tanah Ujung Galuh; ia pasti bukan orang sembarangan," batin Patih Gajah Mada.
"Hidup dan mati tidak bisa diundur atau dimajukan. Begitu juga kalah dan menang dalam sebuah pertempuran; semuanya telah ditentukan oleh Gusti Yang Maha Agung, pemilik alam jagad raya ini," gumamnya dalam hati sambil memasrahkan segalanya.
"Sesuatu yang tidak mungkin dapat terjadi dengan kehendak-Nya."
Dalam kepasrahan itulah, Patih Gajah Mada masuk ke peraduannya untuk beristirahat. Sementara itu, rembulan di langit malam di atas istana Kediri terlihat pucat, tanpa awan, tanpa angin. Malam yang sepi pun akhirnya berlalu hingga ujung pagi.
Pagi itu, Patih Gajah Mada menghadap Rajadewi Maharajasah, seorang gadis yang dulu begitu manja kepadanya dan telah dipercayakan oleh Raja Sanggrama Wijaya sebagai penuntun olah kanuragan. Dengan penuh hati-hati, Patih Gajah Mada bercerita tentang permintaan Mahapatih Arya Tadah untuk menghancurkan gerombolan Ki Sadeng, tanpa menyinggung rahasia besar tentang pembunuhan Raja Jayanagara.
"Mahapatih Arya Tadah pasti punya perhitungan sendiri mengapa meminta Kakang Gajah Mada menghancurkan gerombolan Ki Sadeng. Masalah Kerajaan Majapahit adalah masalah kita juga, karena kerajaan kita berada di dalamnya sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kurestui dan kuizinkan kepergianmu, wahai Kakang Gajah Mada," ucap Rajadewi Maharajasah.
Wajah Patih Gajah Mada berbinar mendengar perkataan Rajadewi Maharajasah yang tidak disangka-sangkanya itu. Semula, ia khawatir Rajadewi tidak peduli dengan masalah di luar kerajaan Kediri. Ternyata, Patih Gajah Mada salah menilai; cara berpikir Rajadewi Maharajasah tidak sekecil yang ia kira.
"Hari ini hamba begitu bangga, seolah sedang berhadapan dengan Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Cara berpikir Gusti Rajadewi sungguh luas dan jauh," ujar Patih Gajah Mada penuh kegembiraan.
"Bukankah semua itu Kakang Gajah Mada yang mengajarkan kepadaku? Bahwa semakin tinggi kita berdiri, semakin luas jarak pandang kita melihat masalah di depan mata," tutur Rajadewi Maharajasah sambil tersenyum.
"Hamba mohon pamit. Restu dan izin Gusti Rajadewi adalah anugerah bagi hamba," ucap Patih Gajah Mada penuh hormat.
Rajadewi Maharajasah terus memandang langkah Patih Gajah Mada yang kian menjauh hingga ke ujung gerbang gapura puri.
"Kakang Gajah Mada, bila ada seseorang yang paling kukagumi di dunia ini, engkaulah orangnya," bisik Rajadewi Maharajasah dalam hati. "Menghancurkan kelompok kecil perusuh, siapa pun pasti bisa. Tampaknya Mahapatih Arya Tadah telah memilihmu sebagai penggantinya. Perangmu adalah perang pencitraan, jalanmu menuju bintang para pahlawan di Kerajaan Majapahit ini. Semoga kemenangan selalu bersama pasukanmu, wahai pahlawanku."
Sementara itu, Patih Gajah Mada yang telah mendapatkan restu terlihat berjalan dengan perasaan lapang dan langsung menemui Ki Rangga Gajah Biru.
"Izin dan restu telah kuterima dari Rajadewi Maharajasah," ujar Patih Gajah Mada.
"Syukurlah, aku ikut gembira mendengarnya."
"Selama aku pergi, kupercayakan tugas-tugas di kepatihan kepada Ki Rangga Gajah Biru."
"Terima kasih atas kepercayaan Tuan Patih kepada diriku," jawab Ki Rangga Gajah Biru dengan penuh hormat.
Setelah memberikan arahan, Patih Gajah Mada berpamit diri. Kedua sahabat itu berpelukan, merasakan bahwa perpisahan mereka mungkin akan berlangsung lama.
Di belakang istana Kediri, pohon randu yang tinggi menjulang bergoyang ditiup angin kencang. Bunga randu beterbangan tak menentu, seolah menggambarkan hati dan perasaan Patih Gajah Mada saat meninggalkan Kotaraja Kediri; terbang melayang tanpa tahu apa yang akan dihadapi.
"Wahai Zat pemilik hati ini, kupasrahkan diriku kepada-Mu," ujar Patih Gajah Mada sambil menghentakkan kakinya ke perut kuda.
Kuda itu pun berlari kencang di atas jalan tanah yang sepi. Perjalanan dari Kotaraja Kediri ke Lamajang memang cukup jauh. Arah yang paling singkat adalah melewati Kotaraja Singasari, namun harus menempuh hutan dan lembah yang sangat sulit.
Di persimpangan jalan, Patih Gajah Mada mengambil arah ke Gunung Kelud, memilih jalan pintas menuju Kerajaan Singasari melewati hutan dan lembah pegunungan yang terjal. Setibanya di sebuah padukuhan di lembah Gunung Kelud, ia menitipkan kudanya kepada salah seorang penduduk dengan upah yang cukup besar.
"Bila aku kembali, aku akan menambahkannya," kata Patih Gajah Mada.
"Hamba akan menjaga kuda Tuan dengan baik," jawab orang itu. Ia memandang punggung Patih Gajah Mada yang kian menjauh sambil membatin, "Anak muda itu pasti seorang putra bangsawan, atau jangan-jangan seorang pangeran?"
Perjalanan menuju Kotaraja Singasari lebih cocok ditempuh dengan berjalan kaki karena medan hutan yang lebat serta jalanan terjal. Namun, Patih Gajah Mada bukanlah orang biasa. Berbekal ilmu meringankan tubuh yang nyaris sempurna, ia melesat dari satu dahan ke dahan lain.
Sebelum senja, Patih Gajah Mada telah mendekati gapura batas Kotaraja Singasari, sebuah daerah perbukitan yang sejuk.
"Leluhur Raja Singasari nampaknya telah menemukan tempat yang hebat untuk istananya, sangat terlindung dari serangan musuh," gumamnya memandang istana Singasari di puncak bukit.
Saat ia memasuki jalanan Kotaraja Singasari, tubuhnya yang tegap dengan rambut tergulung rapi mencuri perhatian banyak orang. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, terutama karena tubuhnya yang jauh lebih tinggi daripada orang kebanyakan di Jawadwipa.