Chapter 14
"Apa kata orang bila seorang putra Adipati harus berhadapan dengan seorang gelandangan seperti orang ini?" berkata Ki Ajar Pelandongan yang merasa serba salah melihat Kuda Anjampiani telah masuk dalam pancingan Gajahmada.
"Orang tua, sekali lagi kukatakan jangan berputar-putar dalam berkata."
"Katakan saja bahwa kamu takut ada orang yang melihat bahwa putra Adipati yang terhormat ini dapat dikalahkan olehku," berkata kembali Gajahmada seperti tahu kekhawatiran orang tua itu.
"Guru, orang ini jelas-jelas telah menantangku," berkata Kuda Anjampiani dengan wajah sudah merah padam.
"Angger, orang ini bukan hanya menantangmu, tetapi juga telah membuat tanganku gatal untuk merobek mulut besarnya itu," berkata Ki Ajar Pelandongan seperti sudah buntu. Di satu sisi ia tidak dapat mencegah muridnya, namun di sisi lain tidak yakin bahwa muridnya itu dapat melumpuhkan Gajahmada seorang diri.
"Orang tua, perkataanmu terlalu berputar-putar. Katakan saja kamu tidak yakin bahwa muridmu ini tidak akan mampu mengalahkan aku seorang diri," berkata Gajahmada sambil tertawa.
"Mari kita ringkus manusia sombong ini," berkata Ki Ajar Pelandongan sambil bergeser melangkah mencari tempat siap menghadapi Gajahmada bersama muridnya.
"Bagus, seharusnya sejak tadi saja kamu katakan hal itu, tidak berputar-putar membuat pening kepalaku," berkata Gajahmada penuh senyum telah dapat memancing kemarahan orang tua itu.
"Aku ingin menangkap orang ini hidup-hidup, mengikatnya di perempatan jalan agar semua orang se-Kadipaten Tuban satu per satu menampar mulut besarnya," berkata Kuda Anjampiani dengan wajah merah menahan rasa amarah yang sudah meluap-luap mendidih di kepala.
"Aku yang akan menampar pertama mulut besar orang ini," berkata Ki Ajar Pelandongan sambil langsung bergerak dengan sangat cepat melayangkan tangannya ke arah kepala Gajahmada.
Angin sambaran serangan pertama itu terasa kuat menyambar wajah Gajahmada, sebagai pertanda bahwa tenaga orang tua itu tentu sangat luar biasa.
Terlihat Gajahmada telah bergeser beberapa langkah, tidak balas menyerang, karena tahu Kuda Anjampiani sudah bergerak menyerangnya dengan sebuah lompatan panjang, menghantam perutnya dengan sebuah tendangan.
Kembali Gajahmada bergeser dengan cepat menghindari serangan putra Adipati Tuban yang mudah terpancing amarahnya itu.
Ternyata Ki Ajar Pelandongan sudah menyusulnya, menyerang Gajahmada dengan pukulan ke arah kepalanya.
Namun serangan itu hanya menembus tempat kosong, karena Gajahmada dengan ringannya bergerak menghindar.
Demikianlah, dalam waktu singkat pertempuran di atas pasir pantai Tuban itu terlihat semakin seru. Susul-menyusul, dua orang guru dan murid itu seperti berlomba mencoba menghajar Gajahmada dengan serangan yang kuat dan dahsyat. Namun, Gajahmada selalu dapat meloloskan diri dari serangan mereka berdua, selalu keluar dari kepungan mereka.
Gajahmada seperti seekor burung sikatan belang, terbang ke sana kemari menghindari serangan dua ekor ular besar yang terus memburunya.
Bukan main geramnya kedua guru dan murid itu mendapati tidak satu pun serangan mereka mengenai sasaran.
Di mata mereka, Gajahmada begitu licin dan gesit, selalu keluar dari kepungan serangan mereka.
Terlihat Gajahmada tersenyum telah dapat memancing kedua lawannya bergerak hingga sampai di atas puncak tataran mereka dalam kecepatan ilmu meringankan tubuh mereka.
Dari penjajakan itu, nampaknya Gajahmada sudah dapat menilai batas kemampuan kedua lawannya dalam bergerak.
"Aku akan mengukur tingkat kekuatan mereka," berkata dalam hati Gajahmada sambil masih terus berkelit ke sana kemari dan telah melambari dirinya sendiri dengan tenaga sakti sejatinya.
Terlihat dalam beberapa serangan, Gajahmada mencoba membenturkan pukulan dan tendangan mereka hanya dengan seperdelapan dari kekuatan yang dimiliki.
Nampaknya Gajahmada sangat berhati-hati dalam menjajaki kekuatan lawannya. Ia tidak langsung meningkatkannya ke tataran puncaknya, tetapi semua dilakukan dengan penuh pengendalian diri yang tinggi, melakukannya dengan cara bertahap dan berjenjang.
Ketika di awal benturan kekuatan, terlihat Kuda Anjampiani merasakan tangannya bergetar pedih manakala tangan Gajahmada sengaja membenturkannya.
Sementara dalam benturan dengan Ki Ajar Pelandongan, justru Gajahmada yang merasa bergetar pedih.
Dari penjajakan pertama itu, Gajahmada merasa harus meningkatkan tataran kekuatan tenaga saktinya setingkat lebih tinggi lagi.
Yang terjadi adalah bahwa dalam beberapa benturan saja, terlihat Kuda Anjampiani merasa tulang-tulangnya terasa remuk dan langsung meningkatkan tataran ilmunya lebih tinggi lagi.
Sementara Ki Ajar Pelandongan sudah mulai merasakan bergetar pedih manakala beradu tangan dan kaki Gajahmada yang sengaja membenturkannya.
Maka sebagaimana muridnya, Ki Ajar Pelandongan sudah langsung meningkatkan kekuatan tenaga inti sejatinya.
"Aku tidak ingin mereka terluka parah," berkata Gajahmada sambil meningkatkan tataran kekuatan tenaga saktinya terus menjajaki puncak tataran kekuatan kedua lawannya itu.
Demikianlah, setingkat demi setingkat Gajahmada mencoba membangun kekuatan tenaga sakti sejatinya, dan hal itu telah dapat memancing kedua lawannya meningkatkan tataran ilmunya.
Hingga dalam sebuah putaran waktu, Gajahmada telah dapat menilai batas puncak kekuatan lawannya.
Maka tiba-tiba saja Gajahmada menghentakkan seperlima kekuatan tenaga inti sejati dirinya.
Bukan main terkejutnya kedua guru dan murid itu melihat Gajahmada melesat begitu cepat seperti seekor burung garuda meluncur menyambar mangsanya.
Dess...!!!
Dua tangan Gajahmada menghantam dada guru dan murid itu secara bersamaan.
Seketika terlihat tubuh Kuda Anjampiani terlempar berguling-guling di pasir pantai.
Sementara Ki Ajar Pelandongan terlihat tubuhnya terdorong empat atau lima langkah ke belakang, merasakan dadanya seperti remuk terbentur gundukan batu cadas yang amat keras.
Gajahmada terlihat berdiri, tidak mengejar Ki Ajar Pelandongan yang tengah duduk bersila memejamkan matanya mengatur pernapasan yang seperti memburu tak terkendali.
Tulang-tulang iganya terasa remuk redam.
Sementara itu Kuda Anjampiani terlihat rebah di pasir pantai dengan pakaiannya menjadi kotor penuh pasir basah.
"Syukurlah, dirinya hanya pingsan," berkata Gajahmada dalam hati setelah memeriksa denyut nadi anak muda putra Adipati Ranggalawe itu.
Perlahan Gajahmada melangkahkan kakinya menjauhi guru dan murid itu di pasir pantai, yang tidak berjauhan dari Bandar pelabuhan Tuban yang telah sepi di ujung sepertiga malam.
Gajahmada telah jauh menghilang di kegelapan malam, jejaknya seperti sebuah bayangan yang lenyap ditelan bumi.
Ketika fajar mulai datang menyingkap kegelapan malam, terlihat beberapa perahu nelayan tengah menepi di pantai.
Bukan main terkejutnya para nelayan itu menemukan dua orang di pantai berpasir itu.
Seorang masih tergeletak tak bergerak, seorang lagi masih bersila seakan tidak berdaya untuk bangkit berdiri.
Hati mereka bertambah terkejut manakala mengetahui bahwa mereka adalah putra Adipati Ranggalawe dan gurunya.
Maka gegerlah seisi istana Kadipaten di pagi itu manakala melihat dua orang guru dan murid itu dibawa dengan dua buah tandu oleh para nelayan.
"Hamba telah memeriksa, tidak ada luka dalam di keduanya," berkata seorang tabib istana kepada Adipati Ranggalawe. Tidak lama berselang, Kuda Anjampiani sudah terlihat siuman.
Sementara gurunya, Ki Ajar Pelandongan, sudah tidak merasakan sesak di dadanya, hanya sedikit ngilu di bagian tulang dadanya.
"Seorang anak muda dari Majapahit?" berkata Adipati Ranggalawe manakala telah mendengar penuturan dari Ki Ajar Pelandongan tentang apa yang terjadi dengan mereka berdua di pantai Tuban semalam.
Terlihat pandangan Adipati Ranggalawe jauh ke depan, menembus batas alam pikiran dan waktu, mencoba menduga-duga siapa gerangan anak muda itu.
Sebagai seorang yang telah mengenal tokoh-tokoh berilmu tinggi di lingkungan Majapahit, Adipati Ranggalawe mencoba mengingat mereka satu per satu.
"Hanya ada seorang pemuda yang telah mewarisi ilmu kepandaian Patih Mahesa Amping," berkata Adipati Ranggalawe, langsung mengingat seorang pemuda murid kesayangan Patih Mahesa Amping yang dibawanya dari Balidwipa.
"Putu Risang?" berkata Adipati Ranggalawe dalam hati, mengingat nama pemuda yang telah mewarisi hampir seluruh kesaktian gurunya, Patih Mahesa Amping.
Terlihat Adipati Ranggalawe menarik napas panjang manakala Ki Ajar Pelandongan menggelengkan kepalanya ketika ditanyakan mengenai ciri-ciri anak muda itu.
"Usia anak muda itu seumuran dengan Kuda Anjampiani, dan kulitnya tidak legam, sangat bersih sebagaimana kulit para putri bangsawan tanah Pasundan pada umumnya," berkata Ki Ajar Pelandongan kepada Adipati Ranggalawe.
Kembali pandangan Adipati Ranggalawe menerawang jauh, menembus batas waktu, menembus batas ingatannya ketika dalam masa-masa awal perjuangan dirinya bersama Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
Teringat dirinya bahwa ada tiga anak kecil yang datang bersama keluarga istana, yang datang dari tempat pengasingan, dari tanah Wangi-wangi.
"Putra angkat Patih Mahesa Amping?" berkata Adipati Ranggalawe dalam hati, mengingat salah seorang dari anak kecil yang usianya dapat dikatakan mendekati Kuda Anjampiani, putranya itu.
Namun Adipati Ranggalawe tidak bertanya apa pun untuk memastikan dugaannya itu kepada Ki Ajar Pelandongan.
Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah rasa iri bahwa Majapahit telah berhasil menciptakan para angkatan baru sebagai para ksatria muda yang akan menggantikan para pendahulunya, para ksatria penjaga bumi Majapahit Raya.
Tiba-tiba saja pandangan Adipati Ranggalawe seperti bersinar terang, wajah dan pandangan matanya tertuju kepada dua orang putranya yang lain, saudara Kuda Anjampiani dari seorang ibu yang lain.
"Siralawe dan Buntarlawe, kalian baru saja kembali dari sebuah penempaan yang panjang di Padepokan Ki Ajar Sasmita."