Chapter 109
Demikianlah, ribuan orang berjalan kaki mengiringi kereta jenazah Patih Mahesa Amping hingga sampai di gerbang gapura Majapahit.
Kereta jenazah itu melaju lebih cepat dan tidak lagi merayap setelah keluar dari gapura batas kotaraja sebelah barat, diiringi oleh sepuluh orang berkuda.
Ribuan manusia tampak belum beranjak dari tempatnya berdiri. Mereka melambaikan tangan ke arah kereta jenazah yang semakin menjauh meninggalkan gapura batas kotaraja Majapahit.
Sepekan setelah peristiwa Patih Mahesa Amping, rombongan Baginda Raja Sanggrama Wijaya kembali dari Tanah Pasundan. Bukan main terkejutnya Baginda Raja saat mengetahui peristiwa kematian Patih Mahesa Amping. Patih Amangkubumi sengaja tidak menceritakan yang sebenarnya karena khawatir rahasia besar tersebut akan diketahui pihak yang berniat buruk.
Pada malam harinya, Patih Amangkubumi datang menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya di serambi puri pasanggrahan. Kepada Baginda Raja, ia menceritakan keadaan yang sebenarnya mengenai Patih Mahesa Amping.
"Patih Mahesa Amping belum mati, tetapi telah pergi atas kesadarannya sendiri ke sebuah tempat yang dirahasiakan," ujar Patih Amangkubumi. Ia menjelaskan bahwa Patih Mahesa Amping menempuh jalan itu untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar.
Lama Baginda Raja Sanggrama terdiam termenung. "Aku selalu kalah satu langkah dengannya," ucap Baginda Raja setelah lama terdiam. "Ketika kami masih menjadi cantrik di Padepokan Bajra Seta, aku tidak pernah dapat mengalahkannya, baik dalam olah kanuragan maupun dalam kesempurnaannya membuat sebilah pedang. Sekarang, aku kembali dikalahkannya." Baginda Raja terlihat ceria, tidak lagi berduka.
"Apa yang dikalahkan dari diri Baginda Raja?" tanya Patih Amangkubumi.
"Patih Mahesa Amping telah mendahuluiku. Ia berani dan mampu melepas gemerlap kehidupan duniawinya serta menemukan raja hakiki di dalam dirinya sendiri. Itulah kekalahanku. Sementara aku masih belum berani melepas pakaian kebesaranku ini," jawab Baginda Raja.
Suasana di serambi puri menjadi hening. "Ki Sandikala," panggil Baginda Raja memecah kesunyian. "Kepergian Patih Mahesa Amping mengisyaratkan kepadaku untuk mengikuti jejaknya."
Patih Amangkubumi tersentak mendengar keinginan Baginda Raja untuk mengasingkan diri. Baginda Raja mengangguk perlahan membenarkan.
"Tidak seorang pun tahu di mana Patih Mahesa Amping mengasingkan diri. Bagaimana Baginda Raja dapat menemukannya?" tanya Patih Amangkubumi dengan penuh kekhawatiran.
Baginda Raja tersenyum. "Aku pernah mengembara bersamanya ke sebuah tempat yang kami anggap dilindungi oleh para dewa, tempat di mana lumpur Gunung Kelud tidak mampu menjamahnya. Sebuah tempat sunyi yang menenteramkan hati. Di sanalah kami berjanji untuk mengisi hari-hari terakhir kami, sebagaimana Prabu Guru Dharmasiksa menyisakan hidupnya di lereng Gunung Galunggung."
"Sebuah tempat di lereng Gunung Kelud?" tanya Patih Amangkubumi.
"Benar, di lereng Gunung Kelud yang menghadap pantai selatan Jawadwipa, di sebuah perbukitan subur yang disebut Patih Mahesa Amping sebagai Bukit Gedang."
"Siapa yang dapat mengendalikan Kerajaan Majapahit ini jika Baginda Raja pergi?" tanya Patih Amangkubumi lagi.
"Inilah saatnya memberi kesempatan kepada orang-orang muda untuk mengambil alih tali sejarah dan membawa bahtera Majapahit ke lautan yang lebih luas. Aku ingin Ki Sandikala mendidik putraku, Jayanagara, menjadikannya raja di bumi Majapahit ini," tutur Baginda Raja.
"Hamba orang tua tidak dapat menghalangi hasrat Baginda Raja. Mudah-mudahan hamba dapat mendidik putra Baginda Raja untuk mengendalikan kerajaan ini," jawab Patih Amangkubumi.
"Belajar menjadi raja yang bijaksana memang tidak mudah, namun lebih sulit lagi belajar menjadi raja bagi diri sendiri," ucap Baginda Raja lirih.
"Hamba iri dengan kalian berdua. Usia Patih Mahesa Amping dan Baginda masih jauh dari usia hamba, namun pandangan hidup kalian lebih dekat dalam melihat tabir rahasia kehidupan," ujar Patih Amangkubumi.
Baginda Raja memicingkan mata sambil tersenyum. "Ki Sandikala, aku melihat ada yang masih mengganjal di pikiranmu."
"Hamba tahu betul, bilamana Baginda Raja telah melepas senjata, selalu ada dua tempat bekas luka dalam satu kali tebasan. Hamba hanya ingin tahu, apakah Baginda Raja bukan sekadar menggenapi janji kepada Patih Mahesa Amping untuk hidup mengasingkan diri?"
Baginda Raja tersenyum lebar, mengakui dugaan Patih Amangkubumi. "Pikiranmu tajam. Aku tidak memungkiri bahwa di balik rencanaku, aku ingin melihat kebusukan-kebusukan yang bermunculan seiring kepergianku. Ini adalah caraku menguji putraku agar mengenal hitam dan putihnya orang-orang di sekelilingnya. Ini caraku membersihkan kerajaan agar tumbuh kuat dan berkembang dikelilingi oleh pejabat yang bersih, ksatria muda, dan pelindung Majapahit yang mewarisi cita-cita awal kita."
"Semoga hamba diberi umur panjang untuk membimbing putra Baginda," kata Patih Amangkubumi.
"Tanpa kehadiran Ki Sandikala, apalah arti kami yang hanya tahu bagaimana menghadapi musuh di medan perang. Pemahamanmu tentang *Dewata Nawa Sanga* adalah sumbangsih mahakarya yang terus hidup. Aku berharap Ki Sandikala selalu ada untuk menjaganya," tutur Baginda Raja.
"Titah Paduka adalah sabda para dewata. Semoga hamba dapat menjaga kerajaan ini hingga di penghujung usia," jawab Patih Amangkubumi penuh kesungguhan.
"Kutitipkan putraku kepadamu, dan aku rela bila pedangmu berlumuran darah putraku sendiri bila tidak ada jalan lain untuk meluruskannya." Patih Amangkubumi terdiam, berharap perkataan itu tidak perlu terjadi.
Malam itu, bulan tua di atas langit terlihat redup terhalang awan kelabu. Keesokan harinya, Kotaraja Majapahit dikejutkan oleh berita pelengseran para pejabat anggota *Dharmayaksa*, sekelompok pendeta dari berbagai aliran agama yang bertugas sebagai hakim agung.
"Nampaknya berkaitan dengan peristiwa Patih Mahesa Amping," ujar orang-orang di kedai pasar.
Sementara itu, Ra Kuti merasa khawatir bahwa Baginda Raja akan melengserkannya pula sebagai anggota *Dharmaputra*. "Baginda Raja pasti harus berpikir ulang untuk melengserkanku, aku memiliki pengikut yang cukup besar," batin Ra Kuti.
Namun, ternyata Baginda Raja Sanggrama Wijaya tidak hanya bermaksud melengserkannya, melainkan bertekad menghancurkan Ra Kuti beserta para pengikutnya.