Chapter 181
"Semoga saja aku dapat memenuhi harapan Paman Mahapatih," kata Patih Gajah Mada.
Sementara itu, Ra Tanca di rumahnya menjadi begitu gelisah. Hingga larut malam, Kuda Jenar yang telah berjanji untuk membawa ramuan obat belum juga datang.
"Apakah Kuda Jenar sengaja ingin mencoreng nama baikku di hadapan Mahapatih Arya Tadah?" kata Ra Tanca dalam hati penuh kegelisahan.
"Atau Kuda Jenar merasa iri dengan nama besarku sebagai seorang tabib?" Ra Tanca membatin, merasa kesal dan berpikiran yang bukan-bukan terhadap Kuda Jenar. "Bukankah dia sendiri yang meminta agar aku merahasiakan namanya?"
Namun, pikiran lain mengingatkan Ra Tanca bahwa Kuda Jenar telah berjasa amat besar terhadap dirinya.
"Tidak kupungkiri, Kuda Jenar telah berjasa amat besar dalam menyembuhkan penyakit istriku," ucapnya dalam hati.
"Apakah aku harus mendatangi rumahnya?" Ia berpikir sambil matanya terus memandang jauh, berharap Kuda Jenar muncul di pintu pagar rumahnya.
Baru saja ada keinginan untuk mendatangi rumah Kuda Jenar, tiba-tiba pemuda itu muncul berjalan di halaman rumahnya. Hari telah larut malam. Pucat pasi wajah Ra Tanca melihat Kuda Jenar berjalan lenggang tanpa membawa apa pun.
"Maafkan aku, masih ada satu bahan lagi yang belum aku dapatkan. Jadi, aku berjanji besok pagi-pagi sekali aku sudah datang menemuimu dengan membawa ramuan obat," kata Kuda Jenar kepada Ra Tanca.
Mendengar alasan itu, rasa kesal di hati Ra Tanca berkurang. Setidaknya masih ada waktu besok pagi.
"Besok pagi, jangan membuat aku lama menunggu," kata Ra Tanca.
Tidak lama berselang, Kuda Jenar pamit untuk kembali ke rumahnya.
"Aku sudah berburuk sangka kepada Kuda Jenar," gumam Ra Tanca dalam hati saat melihat pemuda itu keluar dari pintu pagar.
Malam itu, Ra Tanca tidak merasa khawatir lagi dan bisa tidur nyenyak. Benarkah ramuan obat itu belum selesai dibuat oleh Kuda Jenar? Anak muda itu terlalu cerdas; ia tidak ingin ramuan obatnya bermalam di rumah Ra Tanca dan memberi kesempatan Ra Tanca mengetahui apa yang terkandung di dalamnya.
Malam itu, langit di atas Kotaraja Majapahit dipenuhi awan hitam, tanpa bulan, tanpa bintang. Sayup terdengar suara anjing liar melengking panjang hingga separuh malam. Tercatat masa Tilem Kartika tahun Saka 1250, candranya intan jatuh dari wadahnya.
Mahapatih Arya Tadah dan Patih Gajah Mada pada pagi itu sudah berada di pendapa agung puri pasanggrahan Raja Jayanagara.
"Apakah Paman Mahapatih yakin Ra Tanca dapat menyembuhkan Baginda Raja?" tanya Patih Gajah Mada kepada Mahapatih Arya Tadah.
"Nyi Sarijah begitu yakin bahwa penyakit Baginda Raja tidak berbeda dengan yang pernah diderita oleh Nyi Ra Tanca beberapa waktu yang lalu," jawab Mahapatih Arya Tadah.
"Apakah Mahapatih Arya Tadah merasa begitu yakin?" tanya Gajah Mada kembali.
Mendengar dua kali pertanyaan yang sama, Mahapatih Arya Tadah mengerutkan keningnya. "Apa yang kamu rasakan, wahai putra angkat Patih Mahesa Amping?"
"Entahlah, sejak semalam aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi," kata Patih Gajah Mada.
Sebagai seseorang yang juga memiliki panggraita yang sangat peka, ternyata Mahapatih Arya Tadah juga merasakan hal yang sama. Namun, baru saja ia ingin menyampaikannya, Ra Tanca terlihat tengah berjalan menuju pendapa agung.
"Ra Tanca sudah datang," ujar Mahapatih Arya Tadah kepada Patih Gajah Mada, melupakan pembicaraan mengenai firasat mereka.
"Ampunkan hamba telah membuat Tuan-tuan menunggu," kata Ra Tanca.
"Kamu tidak datang terlambat, hanya kami berdua yang datang terlalu pagi," jawab Mahapatih Arya Tadah penuh senyum ramah.
Karena tidak ada yang ditunggu lagi, mereka sepakat untuk segera memasuki kamar Baginda Raja.
"Patih Gajah Mada yang akan mengantar Ra Tanca ke dalam, jadi Bibi tidak perlu khawatir Baginda Raja akan menjadi murka," kata Mahapatih Arya Tadah kepada Nyi Sarijah yang sedang duduk bersimpuh di muka pintu kamar.
Patih Gajah Mada membuka sendiri pintu kamar Baginda Raja Jayanagara dan langsung masuk diikuti oleh Ra Tanca. Hati Patih Gajah Mada sangat terharu melihat Baginda Raja Jayanagara berbaring dengan wajah dan seluruh tubuh yang dipenuhi bisul bernanah.
"Ampunilah hamba, semoga Paduka tidak murka melihat kelancangan hamba yang masuk ke peraduan Paduka," kata Patih Gajah Mada sambil bersimpuh, diikuti oleh Ra Tanca.
"Bangun dan berdirilah, wahai saudaraku. Mengapa aku harus murka melihat kedatangan saudaraku?" kata Raja Jayanagara dengan senyum kegembiraan.
"Bagaimana keadaanmu, wahai saudaraku?" tanya Patih Gajah Mada dengan perasaan haru.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Raja Jayanagara tersenyum.
Ra Tanca yang masih bersimpuh menarik napas lega melihat sambutan ramah Baginda Raja. Ia diam-diam mengagumi keakraban Patih Gajah Mada dan Baginda Raja yang ternyata telah mengangkat diri masing-masing sebagai saudara.
"Hamba datang bersama Ra Tanca, semoga obat yang dibawa olehnya dapat menyembuhkan Paduka," kata Patih Gajah Mada.
"Terima kasih," jawab Raja Jayanagara dengan senyum pasrah.
"Ra Tanca, Baginda Raja telah berkenan menerima obat darimu," kata Patih Gajah Mada.
Ra Tanca bangkit berdiri membawa mangkuk yang telah disiapkan. Sebagai seseorang yang mengenal banyak jenis tanaman obat, Patih Gajah Mada dapat mencium aroma daun muda yang dilembutkan di dalam ramuan itu.
"Daun muda dari pohon Rengas?" batin Patih Gajah Mada. Penciumannya yang peka mengenali jenis tanaman tersebut. "Raja Jayanagara terkena getah kayu Rengas?" Ia teringat kembali pengetahuannya tentang racun berbahaya yang diajarkan oleh ayah angkatnya, Patih Mahesa Amping, yang dijuluki sebagai Dewa Obat.
Patih Gajah Mada melihat Ra Tanca membaluri seluruh tubuh Raja Jayanagara dengan daun muda yang dilembutkan itu.
"Bagaimana keadaanmu, wahai saudaraku?" tanya Patih Gajah Mada.
"Rasa gatal yang menyiksaku terasa mulai berkurang," kata Raja Jayanagara gembira.
Patih Gajah Mada menarik napas panjang, pikirannya menerawang mencari sebab penyakit tersebut. "Pohon Rengas biasanya tumbuh di tebing sungai. Siapa gerangan yang membawa getah kayu Rengas ke tubuh Raja Jayanagara?"
Kegembiraan Baginda Raja membuat Patih Gajah Mada sempat mengabaikan firasatnya. Ia tidak curiga ketika Ra Tanca memberikan mangkuk lain untuk diminum oleh Baginda Raja. Ia menduga Ra Tanca telah meramu daun muda tersebut ke dalam air minum itu.
Namun, tiba-tiba wajah Patih Gajah Mada menegang. Anak muda berilmu tinggi itu bergerak cepat meremas bahu kanan Ra Tanca. Dengan satu hentakan, Ra Tanca terlempar dan terbanting ke lantai. Patih Gajah Mada segera memeriksa denyut nadi Baginda Raja.
Ra Tanca terbelalak menatap wajah Patih Gajah Mada yang tampak menyeramkan. Patih Gajah Mada merampas mangkuk dari tangan Ra Tanca dan mencium isinya.
"Apa yang engkau berikan kepada saudaraku ini?" tanya Patih Gajah Mada dengan sorot mata yang mengguncang perasaan Ra Tanca.
Mulut Ra Tanca terkunci; ia tidak tahu ramuan apa yang diberikan oleh Kuda Jenar, karena ia hanya tahu ramuan itu berhasil menyembuhkan istrinya.
"Kamu telah meracuni saudaraku dengan racun ular merah!" seru Patih Gajah Mada dengan kemarahan yang meluap.
Mendengar itu, Ra Tanca berusaha bangkit berdiri. Namun, sebelum sempat berdiri tegak, tangan Patih Gajah Mada yang telah dirasuki amarah murka bergerak menyambarnya.