Chapter 44
"Ampunkan hamba, bukan hamba menyangsikan keputusan Paduka, namun beri kesempatan diri hamba menguji seorang pemimpin baru kami, apakah layak berdiri dan berada di antara kami?" berkata Ki Prakala yang sudah berada di depan dengan penuh hormat menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Bagus, ini sebuah pertanda bahwa prajurit Bhayangkara adalah para ksatria yang menjunjung tinggi nilai kejujurannya.
Berilah tempat untuk mereka menguji kemampuan masing-masing," berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
Para prajurit Bhayangkara tanpa perintah dua kali terlihat telah bergeser dari tempatnya membentuk sebuah lingkaran besar di halaman Pura Kartika itu.
"Kamu bukan hanya menunjukkan keunggulanmu di hadapan Ki Prakala, tapi kamu juga harus menunjukkan keunggulanmu di hadapan seluruh prajurit Bhayangkara yang akan menjadi tangan dan kakimu, mendengarkan semua perintahmu dengan penuh kesetiaan dan penghormatan," berbisik Ki Putut Prastawa kepada Gajahmada yang terlihat akan melangkah ke tengah arena yang telah disiapkan itu, di mana Ki Prakala telah berdiri menunggunya.
"Semoga aku tidak mempermalukanmu," berkata Gajahmada sambil tersenyum dengan suara perlahan, hanya didengar oleh Ki Putut Prastawa sendiri.
Semua mata di atas halaman muka Pura Kartika tertuju kepada langkah kaki Gajahmada yang dengan penuh ketenangan berjalan mendekati Ki Prakala yang sudah lebih dahulu berada di tengah arena.
"Aku orang muda siap menghadapimu, wahai Ki Prakala," berkata Gajahmada dengan wajah penuh senyum kepada Ki Prakala.
"Bagus, aku berdiri di sini bukan menantangmu, tapi hanya sekadar menguji sejauh mana kemampuan seorang pemimpin baru di hadapan para prajurit," berkata Ki Prakala dengan sikap ramah tanpa permusuhan sedikit pun di warna wajahnya.
"Terima kasih Ki Prakala, izinkan aku memperkenalkan diri bergabung di pasukan ini," berkata Gajahmada dengan sikap penuh percaya diri yang tinggi.
"Dari masa ke masa, beginilah cara para prajurit Bhayangkara memperkenalkan dirinya, melalui sebuah pukulan," berkata Ki Putut Prastawa sambil langsung menerjang dengan cepat ke arah Gajahmada yang dilihatnya sudah bersiap diri dengan kuda-kudanya.
Dahsyat memang serangan tangan kosong dari Ki Prakala meluncur tertuju ke arah dada Gajahmada.
Namun semua mata terbelalak melihat Gajahmada tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri.
Brakk!!!
Sebuah kepalan tangan menghajar dada Gajahmada.
Ki Prakala berhasil. Semua orang telah membayangkan bahwa tubuh Gajahmada akan roboh terguncang oleh pukulan yang amat keras itu.
Namun semua orang di halaman Pura Kartika seperti melihat sebuah keajaiban; bukan Gajahmada yang roboh, melainkan melihat tubuh Ki Prakala yang seperti terlempar ke belakang beberapa langkah.
Ternyata Ki Prakala seperti menghantam sebuah bukit batu cadas, bahkan merasakan ada sebuah tenaga yang amat sangat kuat telah mendorong dirinya.
"Pilih bagian yang paling lunak dari tubuhku ini," berkata Gajahmada kepada Ki Prakala yang telah berdiri dengan mata terbelalak seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan.
"Sebuah permainan yang sangat hebat," berkata Ki Prakala merasa sangat penasaran dan terlihat telah bersiap kembali untuk melancarkan sebuah serangan dengan seluruh kekuatan dan puncak tataran ilmunya.
Semua mata kembali menahan napas lama manakala melihat sebuah tendangan yang kuat telah meluncur begitu deras ke arah dada Gajahmada yang masih tetap tegak tidak bergeming dan bergeser sedikit pun menghindari serangan tendangan Ki Prakala yang terlihat begitu dahsyat seperti sebuah gerakan menghancurkan gundukan batu cadas yang amat kuat di hadapannya itu.
Brakk!!!
Sebuah tendangan kaki menghantam dada Gajahmada.
Ki Prakala berhasil. Kembali sebuah keajaiban seperti telah terjadi dilihat oleh semua mata di atas halaman Pura Kartika itu.
Semua orang seperti sontak terperanjat melihat Gajahmada tetap berdiri tidak bergeming sedikit pun, sementara semua mata telah melihat bahwa sebaliknya tubuh Ki Prakala seperti terlempar ke belakang dan berguling panjang sekitar dua belas langkah dari tempat Gajahmada berdiri.
"Anak muda ini telah mewarisi tenaga sakti sejati yang sangat tinggi," berkata Baginda Raja Sanggrama dalam hati menyaksikan sendiri apa yang dilakukan Gajahmada menghadapi Ki Prakala itu.
Sebagai seorang yang memahami ilmu tenaga sakti sejati itu, tentunya dapat menilai di tingkat mana gerangan tataran ilmu yang dimiliki oleh Gajahmada saat itu.
"Aku masih siap berdiri, wahai Ki Prakala," berkata Gajahmada penuh senyum kepada Ki Prakala yang tengah mencoba bangkit berdiri.
"Terima kasih telah membuka mata hatiku, maafkan aku yang tidak melihat gunung tinggi di hadapanku," berkata Ki Prakala dengan penuh rasa hormat dan mundur diri dari tengah arena.
"Kalian telah melihat sendiri siapa sesungguhnya penggantiku ini, semoga kalian dapat menghormatinya sebagaimana kalian menghormatiku," berkata Ki Putut Prastawa yang telah berdiri di tengah arena.
"Mulai hari ini, kepemimpinan dalam pasukan ini berada di pundak Gajahmada yang telah direstui oleh Baginda Paduka Raja.
Aku ingin mendengar sumpah setia kalian untuk terakhir kalinya, sumpah setia keluarga besar pasukan Bhayangkara yang sangat kucintai ini," berkata Ki Putut Prastawa di hadapan para prajurit Bhayangkara.
"Kami para ksatria Majapahit pasukan Bhayangkara, satu untuk semua, semua untuk satu!" berteriak para prajurit Bhayangkara mengucapkan sebuah sumpah setia yang diminta oleh Ki Putut Prastawa.
"Terima kasih, kembalilah ke tempat tugas kalian.
Semoga Gusti yang Maha Agung selalu melindungi diri kita, melindungi Baginda Raja dan keluarganya," berkata kembali Ki Putut Prastawa.
Terlihat para prajurit Bhayangkara telah membubarkan diri kembali ke tempat tugasnya masing-masing.
Sementara itu, Gajahmada dan Ki Putut Prastawa berjalan ke arah pendapa Pura Kartika, menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya untuk mendengar beberapa pengarahan dan petuahnya.
"Pasukan Bhayangkara ini merupakan benteng terakhir dari seluruh kekuatan yang ada di Majapahit ini.
Sejak saat ini dan di hari mendatang, kuserahkan keselamatan keluarga istana kepadamu," berkata Baginda Sanggrama Wijaya kepada Gajahmada yang duduk didampingi oleh Ki Putut Prastawa.
"Semoga hamba dapat mengemban tugas mulia ini," berkata Gajahmada penuh penghormatan.
"Tugas seorang prajurit Bhayangkara pada saat keadaan darurat dan genting diberikan kekuasaan penuh melindungi dan menjaga keselamatan keluarga istana.
Di saat seperti itu, maka kamu adalah seorang panglima perang tertinggi," berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Semoga hamba dapat mengemban kepercayaan Paduka," berkata Gajahmada.
Demikianlah, sejak saat itu Gajahmada telah resmi menjadi seorang pemimpin pasukan Bhayangkara, mengatur dan mengendalikan tugas-tugas para prajurit Bhayangkara untuk menjaga dan melindungi keselamatan Baginda Raja dan keluarganya.
Dan sejak itu pula, Gajahmada diberikan mandat untuk tinggal di dalam istana, di salah satu pura yang selama ini didiami oleh Ki Putut Prastawa.
Gajahmada adalah seorang pemuda yang sangat cerdas dan sangat mudah membawa diri.
Maka dalam waktu yang sangat singkat, sudah dapat menarik simpati para prajurit bawahannya, para prajurit pasukan Bhayangkara.
Daya tarik Gajahmada juga telah memikat hati Baginda Raja Sanggrama Wijaya, terutama setelah mengetahui bahwa anak muda itu mempunyai pemahaman yang sangat tinggi dalam hal ilmu kebatinan.
Di saat-saat senggang di malam hari, Baginda Raja sering memanggil Gajahmada menemaninya membicarakan mengenai banyak hal.
Hari ke hari, pergaulan Gajahmada dan Baginda Raja sudah begitu dekat seperti seorang ayah kepada putranya.
Ke mana pun Baginda Raja pergi, pasti ada Gajahmada menemaninya.
Malam itu, gerimis panjang telah membasahi istana Majapahit.
Musim penghujan di tahun itu masih berada di pertengahan waktu.
Dan malam itu, Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah ditemani Ki Patih Mangkubumi dan Gajahmada berbincang-bincang di serambi kediamannya, Pura Kartika.
"Aku ingin membangun kembali sebagaimana leluhurku Raja Erlangga membangun kerajaannya.
Yaitu menghidupkan kembali istana Kahuripan di Jawadwipa ini," berkata Raja Sanggrama Wijaya kepada Ki Patih Mangkubumi dan Gajahmada.
"Hamba setuju sekali, Kerajaan Majapahit sebagai pusat bumi akan semakin terlindungi," berkata Ki Patih Mangkubumi menyetujui usulan Raja Sanggrama Wijaya.
"Akan lebih sempurna lagi apabila Paduka menempatkan seorang Raja Muda di istana Singasari," berkata Gajahmada mencoba mengingatkan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Terima kasih telah mengingatkanku, Tuban, Kediri, Kahuripan, dan Singasari akan menjadikan Majapahit ini semakin kuat dan kokoh, seperti pohon beringin yang tumbuh akarnya mencengkeram bumi," berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Di Tuban ada Adipati Siralawe bersama Empu Pranata.
Di Kediri ada Raja Muda Jayanagara bersama Patih Mahesa Amping.
Siapa gerangan yang dapat dipercaya membangun Kahuripan dan Singasari?" berkata Ki Patih Mangkubumi.
"Wahai putra Patih Mahesa Amping, siapakah menurutmu yang pantas menduduki istana Kahuripan dan istana Singasari?" berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Gajahmada.
"Hamba merasa tersanjung dan terhormat untuk mengungkapkan isi buah pikiran hamba sendiri.
Dalam pikiran hamba, perlu sebuah kesetiaan dan kepercayaan siapa pun yang akan Paduka tempatkan di Kahuripan dan di Singasari," berkata Gajahmada. "Siapakah menurutmu yang pantas, yang punya kesetiaan dan kepercayaan itu?" bertanya kembali Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Menurut pikiran hamba adalah keluarga istana ini sendiri, Dyah Gayatri dan Kertawardana," berkata Gajahmada.
"Apa alasanmu memilih mereka?" bertanya Baginda Raja Sanggrama Wijaya merasa yakin bahwa pasti ada alasan tersembunyi dari anak muda itu.
"Sebagaimana di Tuban, kita percayakan Adipati Siralawe karena ada dalam bimbingan Empu Pranata.