Chapter 143
Rasa gentar sudah menghantui hati para prajurit Majapahit saat itu. Ditambah lagi pertanda yang dikenakan oleh seluruh pasukan Empu Nambi, yakni setangkai daun jarak di atas kepala mereka, benar-benar membuat mereka tampak seperti pasukan hantu yang berkeliaran mencari mangsa di tengah hari bolong.
"Jangan biarkan siapa pun keluar hidup-hidup dari bumi Lamajang ini," demikian pesan Empu Nambi yang terus berdengung di telinga seluruh pasukannya. Hal itu membuat gerak para prajurit tersebut seperti pasukan dewa kematian. Pedang di tangan mereka terlihat sudah berwarna merah darah; sudah banyak nyawa hilang dan terluka oleh mata pedang itu.
"Kakang Adipati Menak Koncar, berapa nyawa yang terbunuh oleh cakramu itu?" teriak Kuda Anjampiani kepada Adipati Menak Koncar yang tidak jauh darinya.
"Seratus satu," jawab Adipati Menak Koncar sambil menghantam dada seorang prajurit Majapahit yang langsung terlempar ke tanah tanpa bergerak lagi.
"Terlalu jauh untuk menyusulmu," balas Kuda Anjampiani sambil menyabetkan pedangnya membentuk setengah lingkaran, membuat perut lawannya robek penuh darah.
Semangat tempur yang tinggi serta arahan dari para pemimpin pasukan yang berpengalaman membuat pasukan Empu Nambi berada di atas angin dan menguasai hampir seluruh pertempuran di Kademangan Pronojiwo itu.
"Ikal-Ikalan Bang, bawa pasukanmu keluar dari kademangan ini. Biarkan pasukan Jala Pati terkubur di sini," perintah Mahapatih Dyah Halayuda kepada Ikal-Ikalan Bang.
Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, Ikal-Ikalan Bang langsung menggerakkan pasukannya keluar dari Kademangan Pronojiwo, tampak Mahapatih Dyah Halayuda menyertai pasukan tersebut.
"Gila, mereka meninggalkan pasukanku bertahan di sini," umpat Tumenggung Jala Pati ketika menyadari hanya pasukannya yang tertinggal menghadapi pasukan Empu Nambi yang tangguh dan penuh semangat membara.
"Wahai saudaraku, seluruh pasukanku di kesatuan Jala Rananggana, bergabunglah kalian bersamaku!" teriak Tumenggung Jala Rananggana mengguntur kepada setengah pasukannya yang masih berada di pihak Majapahit.
Teriakan itu bagaikan besi sembrani. Ribuan pasukan yang tergabung dalam kesatuan Jala Rananggana, yang tidak ikut berperang di hutan Pronojiwo kemarin, saat itu juga bergerak ke arah suara Tumenggung Jala Rananggana. Berpindahnya separuh kesatuan Jala Rananggana untuk bergabung dengan induk semangnya membuat pasukan Majapahit semakin kerdil dan menciut keberaniannya.
Ternyata, kesatuan Jala Pati dan kesatuan Jala Rananggana ketika masih di Kotaraja Majapahit adalah dua kelompok pasukan yang diam-diam menyimpan permusuhan. Hal itu bermula dari kecemburuan kesatuan Jala Pati yang melihat perhatian Empu Nambi—saat masih menjadi Amangkubumi di istana Majapahit—lebih dekat dengan kesatuan Jala Rananggana. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh Ra Kuti untuk menghasut pimpinan mereka, Tumenggung Jala Pati, hingga akhirnya berada dalam kendali Ra Kuti.
Ketika Empu Nambi keluar dari lingkungan istana Majapahit, kesatuan Jala Rananggana benar-benar dikucilkan. Sebaliknya, mereka merasa cemburu melihat perhatian berlebih Ra Kuti terhadap kesatuan pasukan Jala Pati yang dianggap sebagai anak emas.
Perseteruan lama itu nampaknya berkobar menjadi kebencian yang amat sangat di hati para prajurit Jala Rananggana di Kademangan Pronojiwo. Bersama pasukan yang bertanda setangkai daun jarak di kepalanya, mereka membantai pasukan yang ditinggalkan oleh senapatinya sendiri. Perlahan tapi pasti, prajurit Majapahit terus menyusut tajam layaknya domba betina yang dikepung sekumpulan serigala jantan yang kelaparan.
"Kakang Adipati Menak Koncar, berapa korban cakramu?" teriak Kuda Anjampiani.
"Dua ratus dua," jawab Adipati Menak Koncar sambil melayangkan cakranya ke arah dua orang prajurit Majapahit. Cakra di tangan Adipati Menak Koncar bergerak begitu cepat dan keras, membuat kedua prajurit itu tidak sempat mengelak. Keduanya jatuh terjengkang ke tanah; nyawa mereka melayang seketika akibat cakra bergigi tajam yang menghantam kepala mereka.
Pada akhirnya, para prajurit Majapahit sudah seperti anak domba dalam kejaran serigala buas. Tidak satu pun prajurit dibiarkan lolos di Kademangan Pronojiwo. Ketika matahari telah condong ke barat, prajurit Majapahit hanya tersisa sekitar dua puluh orang.
"Tumenggung Jala Pati, perintahkan sisa pasukanmu menyerah sebelum habis tanpa tersisa," seru Tumenggung Jala Rananggana sambil mengepung Tumenggung Jala Pati dan sisa pasukannya.
"Aku akan mati bersamamu!" balas Tumenggung Jala Pati yang langsung menghentakkan seluruh tenaganya menerjang ke arah Tumenggung Jala Rananggana.
Tumenggung Jala Rananggana terkesiap mendapatkan serangan tiba-tiba yang ia kenali sebagai jurus untuk mati bersama. Begitu beraninya langkah Tumenggung Jala Pati, menerjang dan membiarkan pedang lawannya mendekati perutnya, sementara pedangnya sendiri terangkat mengarah ke leher lawan. Melihat gerakan cepat itu, Tumenggung Jala Rananggana tidak memiliki pilihan selain melakukan tindakan yang sama.
*Trang!*
Tiba-tiba sebuah cakra membentur kedua pedang mereka yang hampir saja saling membunuh. Pedang keduanya langsung terlempar lepas dari tangan. Telapak tangan mereka merasakan perih dan panas seperti terbakar, membuat keduanya mundur beberapa langkah. Benturan cakra itu berasal dari tangan Adipati Menak Koncar yang bergerak begitu cepat.
"Orang ini tidak boleh mati, dia harus memberitahukan di mana ayahandaku berada," ucap Adipati Menak Koncar sambil menunjuk ke arah Tumenggung Jala Pati yang tampak pasrah setelah melihat tingkat kemampuan Adipati Menak Koncar yang jauh di atasnya.
"Ayahandamu telah terbunuh sebelum pasukan kalian datang di Kademangan Pronojiwo ini," ujar Tumenggung Jala Pati.
"Katakan siapa yang membunuh ayahandaku!" suara Adipati Menak Koncar menggelegar.
"Mahapatih Dyah Halayuda yang telah membunuhnya," jawab Tumenggung Jala Pati dengan perasaan gentar.
"Ikat orang ini dan bunuh siapa pun yang masih menunjukkan perlawanan," perintah Adipati Menak Koncar.
Kemarahan Adipati Menak Koncar membuat sisa pasukan Majapahit ciut nyali; mereka memilih menyerah tanpa perlawanan. Adipati Menak Koncar segera menyisir mayat-mayat yang bergelimpangan di kademangan, berharap dapat menemukan jenazah Empu Nambi. Namun, hingga matahari semakin condong ke barat, jenazah itu tidak juga ditemukan.
Adipati Menak Koncar terus mencari tanpa mengenal lelah, bahkan memanggil Tumenggung Jala Pati untuk menunjukkan lokasi terakhir Empu Nambi. "Aku melihat sendiri Empu Nambi jatuh tertelungkup di tanah ini," ujar Tumenggung Jala Pati sambil menunjuk tempat kejadian, tak jauh dari gerbang gapura Kademangan Pronojiwo.
Adipati Menak Koncar tidak menyangsikan kesaksian tersebut dan meminta prajuritnya membawa kembali Tumenggung Jala Pati ke tempat tahanan.
"Saudaraku, Adipati Menak Koncar, hari sudah gelap. Besok kita dapat mencarinya kembali," bujuk Rangga Pamandana agar ia beristirahat.
Di manakah gerangan mayat Empu Nambi? Mungkinkah mayat guru suci itu hilang seperti tertelan bumi? Ternyata, ada seseorang yang mengetahui apa yang terjadi. Ia melihat ketika trisula kembar Mahapatih Dyah Halayuda menghunjam tubuh guru suci yang lemah lembut itu, bahkan melihat siapa yang membawa pergi mayat Empu Nambi. Sayangnya, orang itu tidak berada di Kademangan Pronojiwo saat semua orang mencari jenazah tersebut.
Orang yang menjadi saksi mata itu berada di Kademangan Tempuro, tempat para pengungsi warga Lamajang berada. Dialah orang tua yang diinstruksikan oleh Empu Nambi untuk memastikan tidak ada sandera yang tertinggal di Kademangan Pronojiwo. Dialah Ki Sanepo.
Ki Sanepo tidak mengindahkan larangan Empu Nambi agar segera pergi tanpa menengok ke belakang. Karena rasa cintanya yang begitu besar kepada sang empu, ia diam-diam menyelinap dan bersembunyi di balik semak belukar yang terlepas dari pengamatan prajurit Majapahit.