Chapter 54
Perubahan wajah Ki Ajar Pelandongan tertolong oleh keremangan warna penghujung malam itu sehingga tidak terlihat oleh keempat orang yang berjalan bersamanya. Namun, akhirnya Ki Ajar Pelandongan dapat menguasai perasaannya, terutama ketika menyadari bahwa dirinya saat itu ditemani oleh tiga orang yang memiliki ilmu cukup tinggi, bahkan melebihi tataran dirinya sendiri.
"Nasibmu malam ini tampaknya kurang beruntung, wahai anak muda," ujar Ki Ajar Pelandongan yang mulai dapat mengurangi kegentaran hatinya. Ia bermaksud melakukan perhitungan baru dengan anak muda di hadapannya yang pernah mempermalukannya di depan murid tunggalnya.
"Perkataan Ki Ajar Pelandongan seperti mendahului Gusti Yang Maha Agung, tidak pantas diucapkan oleh seorang guru suci," sahut Gajahmada dengan penuh ketenangan dan rasa percaya diri yang tinggi.
Melihat sikap Gajahmada yang tenang itu membuat Ki Ajar Pelandongan menjadi gusar dan geram. "Mari kita bungkam mulut anak muda ini," perintah Ki Ajar Pelandongan kepada ketiga orang temannya.
"Ki Ajar Pelandongan, biarkan kami berdua memberi pelajaran kepada anak muda yang sombong ini," ujar salah seorang di antara ketiga kawan seperjalanan Ki Ajar Pelandongan sambil melangkah maju, diikuti oleh seorang kawannya lagi.
Sebenarnya Ki Ajar Pelandongan ingin memberitahukan bahwa anak muda yang mereka hadapi bukanlah orang sembarangan, namun kedua kawannya itu sudah telanjur berhadapan dengan Gajahmada. Sementara itu, seorang lelaki seusia Ki Ajar Pelandongan yang tampak cukup cerdas telah dapat membaca kecemasan di wajah sang Ajar.
"Kita akan membantu kedua kawan kita jika ternyata mereka bukan tandingan anak muda itu," bisik lelaki tersebut kepada Ki Ajar Pelandongan. Tampaknya, lelaki yang berbisik itu sangat mengenal watak kedua orang yang tengah bersiap menghadapi Gajahmada, yang ternyata merupakan dua orang yang sangat tinggi hati.
Langit pagi mulai memerah. Dalam kesuraman itu, Gajahmada semakin dapat mengenali wajah orang-orang di hadapannya, termasuk dua orang yang berwajah beringas dengan bola mata terbuka seolah hendak menelannya bulat-bulat.
"Berani sekali kamu, seorang diri menghadang perjalanan kami," bentak salah seorang dari dua orang berwajah menyeramkan itu.
"Aku tidak menghadang kalian, hanya menaruh rasa belas kasihan kepada seorang di antara kalian yang kulihat sangat terpaksa berjalan bersama kalian," jawab Gajahmada dengan suara datar tanpa rasa takut sedikit pun.
"Tampaknya kamu, anak muda, memang hanya mencari penyakit dengan mencampuri urusan kami," sahut seorang lainnya.
"Telinga kalian tampaknya tersumbat. Kukatakan bahwa aku kasihan dengan tawanan kalian, bukan mencari penyakit," balas Gajahmada lagi.
"Ki Badra, mari kita hajar anak sombong ini," ujar salah seorang yang sudah tidak sabaran.
"Benar, Ki Badru. Anak sombong ini memang perlu belajar sopan santun," timpal orang yang dipanggil Ki Badra itu sambil melangkah mendekati Gajahmada.
Ternyata, Ki Badra tidak sekadar melangkah. Tangannya dengan sangat cepat melayang hendak menampar wajah Gajahmada. Bukan main kagetnya Ki Badra melihat tangannya tidak berhasil menyentuh kepala Gajahmada yang telah bergeser dengan lebih cepat. Hanya angin serangannya saja yang dirasakan oleh Gajahmada.
"Aku harus berhati-hati," kata Gajahmada dalam hati saat merasakan angin sambaran serangan itu sangat panas menyengat kulit. Untungnya, Gajahmada telah melambari dirinya dengan hawa sakti sejatinya. Ia tidak membalas menyerang, melainkan hanya berjaga-jaga.
Ternyata orang itu menyerang kembali, kali ini dibantu oleh kawannya dari arah lain. Dua serangan tangan kosong meluncur dengan cepat ke arah Gajahmada. Namun, kedua orang itu kembali terkejut saat melihat Gajahmada melenting dengan tangkas seperti seekor burung sikatan yang melepaskan diri dari sergapan dua ekor elang ganas.
"Mereka dari perguruan yang sama," batin Gajahmada merasakan tenaga sakti hawa panas yang serupa dari serangan kedua orang itu. Bagi orang biasa, serangan tersebut pasti akan berakibat buruk.
Kedua orang itu kembali melancarkan serangan dengan lebih cepat dan kuat, namun tetap saja merasa kecewa karena Gajahmada dapat dengan mudah menghindar. Gajahmada bukan orang bodoh yang hanya menghindar; dengan sebuah gerakan yang sulit diperhitungkan, ia melancarkan serangan balasan langsung ke arah kedua lawannya.
"Gila!" teriak salah seorang dari mereka yang langsung meloncat jauh menghindari serangan Gajahmada yang telah dilambari kekuatan hawa panas yang sama.
"Edan!" seru Ki Badru yang dengan penasaran ikut meloncat ke belakang.
Keduanya mulai menyadari bahwa lawan mereka bukanlah orang sembarangan. Mereka baru memahami alasan Ki Ajar Pelandongan meminta mereka untuk mengeroyok anak muda itu. Tanpa isyarat lagi, keduanya sepakat meningkatkan tataran ilmu mereka jauh melampaui serangan awal.
Gajahmada telah mempersiapkan diri agar tidak menjadi bulan-bulanan. Kedua lawannya kembali melakukan serangan ganda yang lebih cepat dan ganas dengan hawa panas yang lebih menyengat. Lagi-lagi Gajahmada lolos dari kepungan dan menyusul dengan serangan balasan yang dahsyat. Pertempuran sengit antara Gajahmada dengan Ki Badra dan Ki Badru pun pecah di muka Hutan Kemiri di bawah langit pagi yang masih remang.
Hawa dingin pagi hari tidak terasa di arena pertempuran tersebut. Rumput-rumput di sekitar mereka menjadi kering kehitaman, tergilas hawa panas dari tenaga sakti sejati yang terlontar dari serangan mereka.
"Serangan jurus Tapak Brajageni," bisik seorang lelaki tua kepada Ki Pelandongan. Matanya tidak lepas dari arena pertempuran, menyebut nama jurus maut yang menjadi andalan kedua lawan Gajahmada itu.
"Anak muda itu masih dapat mengimbanginya," ujar Ki Pelandongan. Ia menahan napas panjang, merasa penasaran bahwa kedua kawannya itu telah mengeluarkan ajian sakti dari perguruan besar di daerah Ngrangkah Pawon, namun Gajahmada masih dapat mengimbanginya dengan mudah.
Kedua sesepuh Padepokan Ngrangkah Pawon itu terus melancarkan serangan ganda dengan kekuatan berlipat-lipat, ingin segera menuntaskan pertempuran melawan bocah yang mereka anggap kemarin sore itu. Namun, harapan mereka sirna. Semangat mereka surut saat melihat Gajahmada mampu berkelit dan membalas dengan serangan yang melampaui kemampuan mereka.
Pengenalan Ki Pelandongan terhadap Gajahmada memang tidak salah; anak muda itu bukanlah lawan sembarangan. Pertempurannya di Pantai Tuban telah berbekas kuat di ingatannya, bagaimana ia dan Kuda Anjampiani tidak mampu mengalahkan anak muda perkasa itu.
Debu bertebaran di arena pertempuran, semak belukar menghitam terkena hawa panas. Saat hari mulai terang, pertempuran kian sengit. Kedua orang dari Ngrangkah Pawon itu tampak seperti dua ekor banteng gila yang mengamuk penuh kekecewaan, sementara Gajahmada tampak seperti elang jantan perkasa yang menukik menyambar mangsanya.
Sekali dua kali, serangan Gajahmada berhasil menyentuh tubuh kedua lawan yang berwajah angker itu. Namun, mereka seolah tidak menghiraukan rasa perih karena Gajahmada masih bermain-main dan belum mengerahkan kemampuan sebenarnya. Nafsu amarah yang menggunung telah menguras tenaga mereka, membuat serangan keduanya kian surut.
Plak! Plak!
Dua kali tangan Gajahmada berhasil menghantam samping dada kedua orang itu hingga mereka limbung. Meski begitu, mereka tetap bertindak seperti kerasukan dedemit, tidak memedulikan rasa nyeri. Lelaki tua di sebelah Ki Pelandongan menarik napas dalam-dalam; ia sudah dapat membaca akhir dari pertempuran itu. Pikiran lelaki tua itu sejalan dengan apa yang dirasakan oleh Ki Ajar Pelandongan. Keduanya pun saling berpandangan.