Chapter 174
Suara berdesing dari cambuk yang berputar di tangan lelaki tua itu membuat Patih Gajah Mada bersikap penuh kehati-hatian. Desing suara cambuk tersebut pertanda pemiliknya memiliki tenaga sakti inti sejati yang sangat kuat dan sangat terlatih.
Ujung cambuk lelaki tua itu melesat begitu cepat, layaknya seekor ular terbang memburu mangsanya.
Namun, Patih Gajah Mada bukan anak kemarin sore yang baru melek ilmu olah kanuragan, melainkan seseorang yang sudah memiliki segunung pengalaman bertempur.
Dengan mudahnya, Patih Gajah Mada hanya perlu bergeser sedikit ke samping untuk keluar dari sasaran ujung cambuk lawan. Ia langsung melakukan serangan balasan yang tidak kalah cepat, tertuju ke arah saraf kelumpuhan di paha kaki lelaki tua itu.
Sontak lelaki tua itu mundur selangkah. Tampaknya, orang ini sangat paham tentang titik-titik saraf berbahaya.
Namun, lelaki tua itu segera membuat imbangan dengan melakukan serangan balik yang tidak kalah berbahaya lewat ujung cambuknya yang berujung sebuah pisau taji tajam dan beracun.
Demikianlah, kedua orang yang sama-sama menggunakan senjata cambuk itu saling menyerang dan membalas. Daya serangan mereka begitu dahsyat, saling susul-menyusul seolah berlomba untuk segera melumpuhkan lawan.
Beberapa orang terpaksa menyingkir menjauhi arena pertempuran. Mereka takut terkena imbas salah sasaran dari ujung cambuk yang kadang berputar, meluncur lurus, bahkan meliuk-liuk bagai ular mengejar korbannya.
Sementara itu di sisi lainnya, sepasang suami istri, Dyah Wiyat dan Raden Kudamerta, telah meloloskan pedang mereka menghadapi para penyerang yang seolah tidak pernah habis.
"Dua puluh satu!" teriak Raden Kudamerta saat pedangnya merobohkan seorang penyerang.
"Dua puluh tujuh!" teriak Dyah Wiyat lebih keras di antara suara hingar-bingar pertempuran.
Di sisi lain, bila Dyah Wiyat dan Raden Kudamerta berlomba dengan pedang mereka, maka Ibunda Ratu Gayatri dan murid tunggalnya berlomba dengan tongkat mereka yang selalu memakan korban ke mana pun tongkat itu bergerak.
Dyah Wiyat, Raden Kudamerta, Ibunda Ratu Gayatri, dan Biksuni Andini bekerja keras mengurangi jumlah penyerang. Sementara itu, Patih Gajah Mada telah mampu mengunci salah seorang lawan yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Hal ini membuat para prajurit istana Kahuripan dapat mengimbangi lawan, meski jumlah musuh jauh lebih banyak.
Korban mulai berjatuhan dari kedua belah pihak di perkemahan keluarga istana yang terletak di tanah perbukitan itu. Suara hingar-bingar pertempuran, cercaan, dan makian bercampur baur dengan gemerincing senjata yang kadang diselingi jerit perih mereka yang terluka.
Di tengah kecamuk peperangan itu, tiba-tiba terdengar suara ratusan langkah kaki kuda mendekati arah pertempuran. Perasaan Patih Gajah Mada berdebar; ia khawatir orang-orang yang mendekat itu adalah bala bantuan pihak lawan.
Patih Gajah Mada tidak pernah lepas mengamati suasana pertempuran. Wajar jika ia merasa cemas membayangkan munculnya kelompok baru dari pihak musuh yang lebih besar.
Derap langkah kaki kuda semakin dekat, sementara jumlah penyerang belum berkurang drastis.
"Para prajurit Kediri," batin Patih Gajah Mada penuh harap saat melihat beberapa penunggang kuda muncul dari kegelapan malam.
Namun, harapan itu pupus saat mengetahui bahwa para prajurit Kediri tersebut ternyata berpihak kepada musuh.
"Habisi orang-orang Jenggala!" teriak salah seorang pemimpin pasukan berkuda yang baru datang.
Melihat kenyataan pahit itu, Patih Gajah Mada tanpa sadar menghentakkan cambuk pendeknya, memecah udara malam yang dingin untuk melampiaskan kegundahan hatinya.
*Gelegar!*
Suara cambuk Patih Gajah Mada seperti suara guntur membelah langit, memekakkan telinga semua orang di sekitarnya. Lelaki tua bercambuk yang terdekat dengannya berdebar-debar; ia tidak menyangka lawan mudanya mampu menggetarkan udara dengan cambuk.
Lelaki tua itu masih mematung saat Patih Gajah Mada melesat meninggalkannya menuju Biksuni Andini.
"Turuni perbukitan ini ke arah timur, bawa keluarga istana ke Hutan Tameng. Aku akan menahan mereka di sini," perintah Patih Gajah Mada.
Tanpa bertanya lagi, Biksuni Andini menyampaikan pesan tersebut kepada Ibunda Ratu Gayatri, Dyah Wiyat, dan Raden Kudamerta.
"Aku sependapat dengan Patih Gajah Mada. Kita memang tak mudah dikalahkan, tapi berapa banyak orang yang akan menjadi korban jika kita bertahan di sini?" ujar Ibunda Ratu Gayatri kepada Dyah Wiyat dan Raden Kudamerta dengan wajah penuh welas asih.
Di kegelapan malam, Biksuni Andini mengawal keluarga istana meninggalkan pertempuran menuruni perbukitan ke arah timur. Karena mereka adalah empat orang berilmu tinggi, dengan beberapa lompatan saja mereka telah jauh meninggalkan arena.
Melihat Biksuni Andini telah membawa keluarga istana pergi, Patih Gajah Mada mendekati seorang pemimpin prajurit pengawal.
"Bawalah sisa pasukanmu ke arah timur perbukitan ini, aku akan menutup penglihatan mereka," titah Patih Gajah Mada.
Setelah memberi perintah, Patih Gajah Mada menerjang dua orang lawan dengan dua tendangan, membuat mereka terlempar dan tidak berdaya. Sementara itu, cambuk pendeknya berkelebat setengah lingkaran, menyambar tiga orang musuh yang langsung roboh dengan dada serasa terbentur batu cadas.
Pemimpin prajurit keluarga istana Kahuripan masih sempat melihat Patih Gajah Mada memutar cambuk pendeknya dengan sangat kencang. Tiba-tiba, kabut pekat turun menutupi kegelapan malam.
"Ternyata cerita tentang kesaktian anak muda itu bukan omong kosong," ujar pemimpin prajurit itu sambil menuruni perbukitan bersama sisa pasukannya.
Patih Gajah Mada telah menghentakkan puncak ilmunya melalui putaran cambuk hingga menciptakan awan berkabut. Kabut yang sangat pekat membuat semua orang tidak berani bergerak, takut senjata mereka mengenai kawan sendiri atau malah mencelakai diri sendiri.
Mereka semua menahan diri, menunggu kabut menghilang. Perlahan kabut itu menipis, lalu lenyap tanpa bekas. Semua orang seolah baru terbangun dari kegelapan dan dapat melihat sekitar dengan jelas.
Mereka mengerutkan kening karena lawan yang tadi mereka hadapi seolah hilang tertelan bumi. Yang terlihat hanyalah seorang anak muda dengan rambut terurai tanpa ikat kepala, berdiri tegak penuh rasa percaya diri.
"Buka mata kalian lebar-lebar! Aku adalah Patih Gajah Mada yang akan menjadi patih di Daha. Aku tidak akan gentar menghadapi kalian!" seru Patih Gajah Mada dengan suara menggelegar, karena diam-diam ia telah melepaskan ajian Gelap Ngampar.
Semua orang masih berdebar meski suara itu telah berlalu, menyisakan rasa gentar terhadap anak muda yang berdiri seorang diri itu.
"Bunuh anak muda sombong ini! Pantang orang Panjalu dipimpin oleh orang Jenggala!" teriak seorang lelaki dengan lencana prajurit Kediri yang tampaknya cukup disegani.
Perkataan pemimpin itu membangkitkan kembali nyali orang-orang yang mengira bahwa jumlah mereka yang banyak mustahil gagal menaklukkan satu orang. Ratusan orang bergerak maju secara bersamaan.
Patih Gajah Mada, yang memiliki rasa percaya diri tinggi, tidak gentar sedikit pun. Sebelum musuh mendekat, ia kembali menghentakkan cambuk pendeknya membelah udara.
*Gelegar!*
Suara guntur membahana memecah malam, disusul pekikan ratusan orang secara bersamaan. Ratusan orang yang terdekat dari Patih Gajah Mada roboh pingsan setelah merasakan dada mereka terguncang hebat. Ratusan lainnya tertegun di tempat, tidak berani melangkah lebih dekat.
"Aku masih bermurah hati dengan hanya membuat pingsan kawan-kawan kalian. Kuingatkan, aku bisa berbuat lebih dari ini, bahkan sampai memecahkan gendang telinga kalian hingga keluar darah," ancam Patih Gajah Mada dengan suara lantang yang menggetarkan dada.
Semua orang terdiam, nyali mereka benar-benar hilang terampas oleh kesaktian luar biasa anak muda itu.
"Perkenalkan kepadaku, siapa yang menjadi pimpinan kalian di sini?" tanya Patih Gajah Mada kembali dengan suara yang tegas dan keras.