Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 209

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 209

Terlihat kedua anak muda itu bergerak dengan amat cepatnya, dan entah dengan cara apa tiba-tiba saja beberapa tombak telah berpindah tempat ke tangan mereka.

Sontak beberapa prajurit yang merasa kehilangan tombaknya itu seperti orang tersihir, terpaku dengan mata kosong.

"Tangkap mereka, hidup atau mati!" teriak pimpinan prajurit memberi semangat kepada para prajuritnya.

Mendengar teriakan pimpinan mereka, beberapa orang yang masih memegang tombak langsung menerjang ke arah Majalangu dan Arya Damar.

Namun, kedua anak muda itu tidak bergeming sedikit pun. Keduanya terlihat dengan lincah berkelit ke sana kemari menghindari tombak yang datang silih berganti.

"Jangan biarkan mereka lari!" seru pimpinan prajurit memberi semangat dari belakang.

Mendengar perintah pimpinannya, para prajurit menjadi semakin membabi buta dan terus melakukan serangan kepada kedua anak muda itu.

Namun, tidak satu pun serangan tombak dan pedang prajurit yang menyentuh kulit kedua anak muda tersebut.

Bahkan, beberapa prajurit terlihat terlempar terkena terjangan keduanya.

Malam yang dingin dan senyap di halaman rumah Ki Wayan telah berubah menjadi begitu ramai oleh suara para prajurit yang menjerit tertahan karena merasakan pukulan dan tendangan Majalangu serta Arya Damar yang sangat sukar ditundukkan.

"Saatnya kita pergi dari tempat ini," bisik Majalangu kepada Arya Damar yang berada di dekatnya.

Setelah berbicara, terlihat Majalangu melesat seperti terbang di atas kepala para prajurit.

Ternyata, Majalangu tengah mencari pimpinan para prajurit tersebut.

Terkejutlah pimpinan prajurit itu manakala berhadapan langsung dengan Majalangu yang tersenyum menatapnya.

"Matilah kamu!" teriak pimpinan prajurit itu sambil mengibaskan pedangnya ke arah tubuh Majalangu.

Di mata pimpinan prajurit itu, terlihat bahwa Majalangu tidak bergerak sedikit pun menghindari kibasan pedangnya.

Namun, entah dengan cara apa, tiba-tiba saja pedang di tangan pimpinan prajurit itu telah berpindah tempat ke tangan Majalangu.

Darah di tubuh pimpinan prajurit itu seolah berhenti mengalir manakala merasakan sebilah besi dingin menempel di kulit lehernya.

"Perintahkan pasukanmu untuk melemparkan senjatanya, atau kamu yang akan mati pertama dengan leher putus!" ancam Majalangu kepada pimpinan prajurit itu.

Seketika itu juga, terdengar perintah dari pimpinan prajurit tersebut untuk melemparkan semua senjata.

"Lemparkan semua senjata kalian!" seru pimpinan itu kepada para prajuritnya.

Mendengar perintah pimpinannya, tanpa berpikir panjang lagi, semua prajurit melemparkan senjata masing-masing.

"Kuampuni selembar jiwamu," kata Majalangu sambil mendorong pimpinan prajurit yang sudah basah oleh keringat di sekujur tubuhnya.

Pimpinan prajurit itu pun terlihat tersungkur di tanah.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang sangat singkat itu, Majalangu dan Arya Damar melesat terbang meninggalkan para prajurit yang masih terlongo-longo tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Dua orang prajurit terlihat datang membantu pimpinan mereka untuk berdiri.

"Kita laporkan kepada Raden Makambika bahwa kita tidak menemukan mereka," kata pimpinan prajurit itu kepada dua orang prajurit di dekatnya.

Tidak lama berselang, para prajurit itu terlihat telah keluar dari halaman rumah Ki Wayan.

"Benar-benar anak muda yang sangat berani," kata Ki Wayan kepada Manik Danda yang sejak tadi mengintip di balik pintu pringgitan, menyaksikan semua yang terjadi di halaman rumahnya.

"Kemampuan ilmu mereka sangat tinggi. Apakah Ki Wayan mengetahui dari mana mereka berdua berasal?" tanya Manik Danda.

"Menurut cerita mereka sendiri, keduanya berasal dari Majapahit," kata Ki Wayan kepada Manik Danda.

"Majapahit?" tanya Manik Danda dengan wajah terkejut.

"Mengapa Nimas Ayu terkejut?" tanya Ki Wayan.

"Jadi benar dugaan Raden Makambika bahwa mereka berdua adalah petugas telik sandi Majapahit," kata Manik Danda.

"Bila memang demikian, keberadaanmu di sini sungguh sangat membahayakan dirimu sendiri. Tidak seorang pun boleh tahu bahwa kamu pernah datang ke rumah ini," kata Ki Wayan sambil menyarankan agar Manik Danda malam itu juga kembali ke rumahnya.

Keesokan harinya, Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten begitu murka mendengar kabar bahwa kedua anak muda petugas telik sandi dari Majapahit itu berhasil meloloskan diri.

Maka, dipanggillah Mahapatih Ki Pasunggrigis untuk datang menghadap.

"Ki Pasunggrigis, kedua petugas Majapahit itu telah meloloskan diri. Tampaknya ada orang kita sendiri yang ikut membantu mereka," kata Raja Bali itu kepada Ki Pasunggrigis yang telah datang menghadap.

Sejenak Ki Pasunggrigis tidak langsung menjawab. Ia merasa khawatir jangan-jangan Raja Bali itu telah menemukan orang dalam yang dicurigainya, yang tidak lain adalah dirinya sendiri.

"Menurut hamba, mencari siapa yang membantu mereka bukanlah hal yang sangat penting saat ini, karena ada hal yang jauh lebih penting dari itu semua," kata Ki Pasunggrigis mencoba mengalihkan perhatian Raja Bali tersebut.

"Apa menurutmu hal yang lebih penting itu?" tanya Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten kepada Ki Pasunggrigis.

Ki Pasunggrigis menarik napas lega karena telah berhasil mengalihkan arah pikiran Raja Bali tersebut.

"Hal amat penting yang harus kita pikirkan adalah kesiapan kita menghadapi serangan Majapahit. Keberadaan dua petugas telik sandi mereka merupakan pertanda bahwa mereka telah menyiapkan penyerangan ke Balidwipa ini," kata Ki Pasunggrigis kepada Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

"Apa yang ada di kepalamu seandainya Majapahit benar-benar melakukan serangan ke Balidwipa ini?" tanya Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten kepada Ki Pasunggrigis.

"Menurut pemikiran hamba, kita perkuat penjagaan Balidwipa di sembilan titik. Delapan titik kekuatan di delapan penjuru mata angin, dan satu titik di dalam Kotaraja Bali sebagaimana ajaran sembilan dewa Nawasanga," kata Ki Pasunggrigis menyampaikan pikirannya.

"Mengapa kita harus memecah kekuatan menjadi sembilan?" tanya Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten kepada Ki Pasunggrigis.

"Karena kita tidak tahu dari arah mana pihak Majapahit akan menyerang kita," kata Ki Pasunggrigis.

"Sebuah pemikiran yang bagus, dan aku akan menempatkan dirimu sebagai Senapati yang menjaga Kotaraja Bali ini," kata Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

Ternyata, Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten bukanlah orang bodoh. Diam-diam ia masih kurang memercayai Ki Pasunggrigis karena adanya perbedaan pendapat di antara mereka tentang keputusan untuk merdeka dan keluar dari kekuasaan Majapahit.

"Dengan kehadiranmu di dalam Kotaraja Bali, aku masih dapat mengendalikan dirimu agar tidak bersekongkol dengan pihak Majapahit," gumam Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten dalam hati.

Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Ki Pasunggrigis banyak merenung, terutama membayangkan jika peperangan benar-benar terjadi.

Perbedaan pendapat antara Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten dan Mahapatihnya memang telah berlangsung sangat lama, berawal dari keinginan sang Raja untuk merdeka dan lepas dari kekuasaan Majapahit.

"Ratusan tahun Balidwipa tunduk patuh kepada para penguasa Jawadwipa. Sekaranglah saatnya kita bebaskan Balidwipa sebagai wilayah yang merdeka," kata Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten pada suatu hari kepada Ki Pasunggrigis.

"Para leluhur Tuanku Baginda saya yakini juga memiliki keinginan yang sama seperti yang Tuanku pikirkan hari ini. Namun, mereka mengalahkan semua pikiran itu dengan kearifan bahwa peperangan hanya akan membawa kesengsaraan bagi umat manusia. Para petani kehilangan sawah dan ladangnya, para pedagang tidak lagi berani keluar rumah karena tidak ada lagi jalan dan tempat yang aman bagi mereka. Kematian dan kesengsaraan tumbuh di mana-mana," kata Ki Pasunggrigis menasihati Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

Namun, keinginan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten sudah terlanjur mengeras. Nasihat Ki Pasunggrigis tidak mempan baginya.

"Kemerdekaan Balidwipa memang memerlukan pengorbanan, itulah harga yang harus kita bayar," kata Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten tetap berpegang teguh pada pendiriannya.

"Ampun Tuanku, begitu besar harga yang harus kita bayar dengan darah, penderitaan, dan kesengsaraan rakyat Balidwipa. Sementara itu, Kerajaan Bali bukanlah satu-satunya yang bernaung di bawah panji-panji kekuasaan Majapahit. Tengoklah Blambangan, Lamajang, Tuban, dan banyak lagi wilayah yang berada dalam persemakmuran bumi Majapahit. Ingatlah, meski kita terpisah oleh lautan, kita adalah saudara yang satu dengan cita-cita yang satu, sebagaimana yang dibangun oleh leluhur kita, Raja Airlangga, yang mempersatukan kita semua untuk kemakmuran bersama, sebagai obor di muka bumi ini laksana Dewa Siwa menjaga perdamaian dan keadilan," kata Ki Pasunggrigis, masih mencoba menasihati Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

"Itulah kekolotan ayahandaku, kekolotan buyutku, dan kekolotanmu, wahai Mahapatih Ki Pasunggrigis. Persaudaraan orang Balidwipa dan orang Jawadwipa adalah cerita pembodohan yang menjerumuskan kaum kita untuk selalu menjadi orang kelas dua. Hari ini, aku ingin canangkan di hati semua orang Balidwipa bahwa akulah sang putra para dewa di bumi sebagai raja tunggal titisan suci Dewa Siwa," kata Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

Mendengar perkataan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang sejak kecil diasuh sebagai muridnya itu, membuat sang Mahapatih tua terdiam membisu.

Sejak saat itulah, Ki Pasunggrigis lebih banyak berdiam diri.

Hati Mahapatih tua itu terasa terluka, merasa tidak berguna sebagai seorang guru yang baik.

Sementara itu, di sebuah hutan yang tak terjamah, terlihat dua orang muda tengah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan kembali.

Ternyata, kedua orang muda itu adalah Patih Gajah Mada dan Arya Damar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment