Chapter 11
Ki Seketi masih terpaku berdiri di tempatnya manakala salah satu dari kesepuluh wujud Gajah Mada itu telah melepaskan sebuah lidah api berwarna kuning emas dan meluncur menghantam sebuah batu sebesar kepala kerbau di dekat tubuh Ki Seketi.
Darah Ki Seketi seperti berhenti seketika manakala menyaksikan dengan mata terbuka sebuah batu sebesar kepala kerbau itu hancur berdebu terbang berhamburan.
Wajah Ki Seketi terlihat pucat, seolah tidak ada darah di tubuhnya, setelah membayangkan seandainya pukulan itu diarahkan ke tubuhnya sendiri dari arah yang tidak mungkin dapat dihindari.
"Ampunilah diriku yang tidak mengenal tingginya puncak gunung yang berdiri di hadapanku sendiri," kata Ki Seketi dengan suara yang masih bergetar, memohon belas kasih dari Gajah Mada.
"Aku bukan dewa pencabut nyawa, tidak punya kekuasaan apa pun untuk memendekkan atau memanjangkan hidup seorang manusia.
Bersyukurlah bahwa kamu masih menikmati udara di sekelilingmu," kata Gajah Mada kepada Ki Seketi yang masih gemetar itu.
"Bolehkah aku yang tua ini mengenal siapa kamu, orang muda?"
"Agar kepada keluarga dan keturunanku dapat kuceritakan bahwa di tempat air terjun ini ada orang yang baik hati telah memberiku kesempatan untuk hidup lebih lama lagi," kata Ki Seketi kepada Gajah Mada.
"Namaku Gajah Mada," kata Gajah Mada.
"Terima kasih, aku akan selalu mengingatnya," kata Ki Seketi sambil memberi hormat, lalu berbalik badan dan melangkah pergi.
Terlihat Gajah Mada menghampiri dua orang wanita yang masih berdiri.
"Gusti Kanjeng Ratu Gayatri, ampuni hamba yang punya sedikit kepandaian ini telah mengambil alih semua ini, karena hamba tidak ingin tangan Gusti Kanjeng kotor karenanya," kata Gajah Mada penuh hormat kepada wanita yang biasa dipanggil Nyi Ajeng Nglirip itu.
"Jangan hambakan dirimu karena aku sudah jauh keluar dari kehidupan istana. Orang-orang di sini telah memanggilku dengan nama Nyi Ajeng Nglirip, panggillah aku sebagaimana mereka memanggilku, wahai Mahesa Muksa," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada Gajah Mada dengan wajah penuh senyum, merasa gembira telah bertemu dengan Gajah Mada yang dikenalnya sejak kecil dengan nama panggilan Mahesa Muksa.
Terlihat arah pandang mata Gajah Mada telah beralih kepada wanita yang lain, seorang wanita bermata indah yang juga tengah memandangnya.
"Andini, aku tidak menyangka bahwa kita dapat bertemu kembali di tempat ini," kata Gajah Mada menyapa wanita itu yang ternyata adalah Andini, putri Bango Samparan, sang penguasa Rawa Rontek dari tanah Pasundan.
"Ceritanya sangat panjang, aku takut Kakang Mahesa Muksa menjadi bosan mendengarnya," kata Andini dan menutup kata-katanya dengan sebuah senyum yang amat-amat manis dalam pandangan Gajah Mada.
"Ternyata kalian berdua memang telah saling mengenal," kata Nyi Ajeng Nglirip sambil memandang keduanya secara bergantian.
Sementara itu, dari beberapa semak belukar terlihat bermunculan beberapa lelaki dan perempuan.
Ternyata mereka adalah para pengikut setia Nyi Ajeng Nglirip.
Terlihat Nyi Ajeng Nglirip telah memberikan perintah kepada orang-orangnya itu untuk membawa dan merawat beberapa orang yang masih pingsan ke padepokannya yang tidak begitu jauh dari air terjun Nglirip itu.
Demikianlah, Gajah Mada telah diajak oleh Nyi Ajeng Nglirip ke padepokannya.
Di padepokannya, Nyi Ajeng Nglirip, yang sebenarnya adalah Kanjeng Ratu Gayatri, telah menerima Gajah Mada seperti sanak keluarga sendiri yang sudah lama tidak berjumpa.
Di atas pendapa padepokan, Nyi Ajeng Nglirip banyak bercerita tentang suka duka sebagai keluarga istana Singasari yang harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam suasana pengasingan.
"Mahesa Muksa masih sangat kecil pada saat itu.
Yang kuingat, dia adalah anak yang sangat nakal di Tanah Wangi-wangi.
Patih Mahesa Amping yang ditugaskan melindungi keluarga istana sangat menyayanginya," kata Nyi Ajeng Nglirip tentang Gajah Mada sewaktu kecil yang didengar oleh Andini dan Gajah Mada sendiri.
Gajah Mada kemudian bercerita tentang pengembaraannya di Tanah Pasundan kepada Nyi Ajeng Nglirip.
"Gajah Mada, sebuah nama yang bagus," kata Nyi Ajeng Nglirip manakala Gajah Mada bercerita tentang sebuah upacara penggantian namanya di istana Rakata.
"Kakang Gajah Mada, aku akan mulai mengubah panggilanku kepadamu," kata Andini dengan wajah tersenyum.
Sementara itu, matahari di atas padepokan yang tidak jauh dari air terjun Nglirip itu terlihat sudah di awal senja. Wajah udara bumi terlihat bening, dan daun-daun seperti terdiam beku tanpa angin sedikit pun.
"Kamu belum bercerita tentang dirimu, perjalananmu yang jauh dari tanah Pasundan," kata Gajah Mada kepada Andini manakala Nyi Ajeng Nglirip pamit sebentar untuk melihat keadaan orang-orang yang tadi siang telah pingsan di sekitar air terjun.
"Semula aku datang di tanah timur Jawa Dwipa ini hanya untuk membenarkan perasaan hati ini, seberapa besar cinta dan kerinduan yang ada di dalam hati ini kepada seorang lelaki yang aku tidak tahu apakah dirinya mempunyai perasaan yang sama sebagaimana diriku ini." Andini berhenti sebentar sambil menatap wajah Gajah Mada.
"Siapakah lelaki yang beruntung itu, wahai Andini?" kata Gajah Mada dengan perasaan penuh berdebar-debar keras.
"Kamulah, wahai Kakang Gajah Mada, kamulah lelaki itu," kata Andini sambil menatap wajah Gajah Mada. Terlihat mata indahnya sudah mulai berkaca-kaca.
"Salahkan aku ini, salahkan aku sebagai lelaki yang tidak punya keberanian mengungkapkan kebenaran hati, seorang lelaki yang selalu dipenuhi rasa takut, rasa bersalah.
Aku telah memilih persahabatan, memilih Pangeran Jayanagara yang akan terluka seandainya kuperjuangkan perasaan cintaku kepadamu.
Siang dan malam aku sering bertanya-tanya, apakah langkahku ini sebuah kebenaran.
Siang dan malam belum juga kudapatkan jawaban kepastian atas keraguan hati ini.
Akhirnya kututup perasaan hati dan kerinduan ini, hanya dengan sebuah kata bahwa cinta adalah penjara hati," kata Gajah Mada kepada Andini yang dilihatnya sudah meneteskan air matanya.
"Kakang Gajah Mada, aku sudah puas mendengar semua pengakuanmu, aku sudah merasa bahagia dengan semua perkataanmu itu," kata Andini menatap Gajah Mada penuh kebahagiaan. Namun, mata indahnya telah berlinang air mata.
"Mengapa kamu menangis, wahai Andiniku?" kata Gajah Mada merasa bersalah.
"Kakang tidak bersalah, suratan takdir juga tidak akan salah menggariskan semua perjalanan manusia.
Kita telah digariskan untuk saling mencintai, namun kita telah digariskan juga untuk tidak dapat bersatu.
Karena aku telah memilih jalanku sendiri, jalan yang telah membebaskan diriku dari penjara hati, penjara keinginan, hasrat, dan semua nafsu duniawi, aku telah menjadi seorang Bhiksuni."
Perkataan Andini didengar oleh Gajah Mada seperti sebuah petir membelah-belah udara bumi, melemparkan perasaan Gajah Mada seperti terjatuh di titian panjang dan terjungkal melayang ke ujung jurang tak berdasar.
"Relakanlah aku, wahai Kakang Gajah Madaku.
Pintu Nirwana telah terbuka untuk hatiku, relakanlah aku untuk memasukinya.
Hanya itu permintaan dariku, seorang wanita yang kamu cintai dan juga mencintaimu," kata Andini kepada Gajah Mada masih dengan air mata memenuhi wajahnya.
Daun perdu di ujung halaman padepokan seperti membeku. Hanya suara anak sungai dan deru air terjun Nglirip yang masih terus terdengar memenuhi suasana hati kedua anak manusia yang menatap mega-mega yang juga tidak bergerak, membeku.
Akhirnya kebekuan itu pun mencair ketika Nyi Ajeng Nglirip telah datang kembali bersama mereka.
Dan tanpa ada yang ditutupi, Gajah Mada telah bercerita tentang suasana yang semakin meruncing antara Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan Adipati Ranggalawe.
"Tugasku di daerah Tuban ini hanya untuk memastikan bahwa Adipati Ranggalawe benar-benar mempunyai keinginan untuk memisahkan diri dari Majapahit Raya," kata Gajah Mada kepada Nyi Ajeng Nglirip dan Andini.
"Persahabatan akan menjadi cedera ketika dua hati saling bercuriga, dan kebijaksanaan seorang raja besar tampaknya tengah diuji.
Kerajaan Majapahit tengah berada di persimpangan jalan, berhenti atau maju terus dengan memerangi para sahabat dekat yang akan menjadi tumbal-tumbal kebesaran hari depan dalam kejayaan dan kegemilangan," kata Nyi Ajeng Nglirip sambil menatap rumput-rumput liar di halaman padepokan yang merunduk di wajah udara bumi yang sudah berada di ujung senja itu.
Dan senja memang telah pergi. Perlahan, semak dan daun perdu di ujung halaman muka padepokan Nyi Ajeng Nglirip itu mulai kabur remang dalam pandangan.
"Beristirahatlah, bilik untukmu telah dipersiapkan," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada Gajah Mada.
Ketika telah memasuki biliknya, Gajah Mada hanya berbaring, tidak dapat memejamkan matanya.
Sementara itu, di bilik yang lain, seorang gadis jelita tengah memandang sebuah kecapi kayu di atas meja kecil di ujung peraduan.
Gadis jelita itu adalah Andini, yang lama duduk di atas peraduannya seperti tidak ingin melepaskan matanya dari kecapi miliknya itu yang telah memberinya begitu banyak kenangan yang indah.
Sementara itu, suara air terjun Nglirip seperti tidak pernah berhenti bergemuruh mengisi sepi malam, di bawah sinar rembulan yang terpotong awan hitam, di antara kepak-kepak kelelawar yang datang dan pergi mengarungi malam dan kegelapan.
Akhirnya suara ayam jantan telah datang membuka tirai cakrawala langit bersama gerimis hujan pagi, membasahi rerumputan di halaman muka padepokan kecil itu.
"Padepokanku ini adalah rumahmu juga, wahai ksatria Majapahit.
Dalam perang, dalam damai, padepokan ini akan selalu terbuka untukmu.
Kutitipkan kepadamu kedua putriku, Gajatri dan Wiyat.
Bawalah mereka mengunjungi ibundanya sekali waktu; itu adalah seteguk air kerinduan yang membasuh dahaga sepi hari-hariku," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada Gajah Mada yang akan melanjutkan perjalanannya mengamati daerah sekitar Tuban.