Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 91

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 91

Baru kali ini ada orang yang mampu bertahan dari serangan ilmu kabut kilatan trisula yang sangat dahsyat itu. Yang membuat tidak habis pikir adalah bahwa orang itu masih sangat muda. Memang sukar dipercaya oleh siapa pun bahwa semuda Gajahmada sudah memiliki tenaga hawa murni inti sejati yang sangat tinggi, yang biasanya hanya dimiliki oleh para pertapa tua. Kilatan kabut yang amat tajam itu tidak dapat melukai kulit tubuhnya.

Gajahmada masih tegak berdiri dengan tangan menggenggam cambuk yang ujungnya terjulur menyentuh tanah.

"Anak muda ini dapat bertahan dari ajian ilmu andalanku, tapi akan kucoba untuk membunuh semua orang di halaman ini," ujar Ki Banyak Ara sambil mengerahkan ilmu kesaktiannya untuk memperlebar dan memperluas jarak jangkauan kabut kilatnya.

Perasaan Gajahmada berdebar karena mulai dapat membaca pikiran jahat Ki Banyak Ara untuk membunuh semua orang yang berada di halaman rumah itu. Gajahmada telah membayangkan tubuh para prajurit yang tidak sempat menjauh akan terkena ajian ilmu sakti Ki Banyak Ara yang tengah dicekam keputusasaan itu. Perlahan, kabut kilatan itu terlihat semakin meluas, hampir menjelajah sebagian halaman rumah tersebut.

"Menyingkir dari kabut itu!" teriak Putu Risang kepada para prajurit agar berlari secepatnya menghindari sergapan kabut ciptaan Ki Banyak Ara.

Para prajurit berserabutan berlari menjauhi kabut kilatan yang sangat berbahaya itu. Malang sungguh nasib tujuh orang tawanan yang tidak sempat lari menghindar karena masih dalam keadaan terluka parah. Perasaan Gajahmada tercekam melihat ketujuh orang itu langsung hancur tercabik-cabik karena terperangkap dalam kabut kilatan yang diciptakan oleh ilmu sakti Ki Banyak Ara. Darah Gajahmada seperti berdesir menahan amarah yang meluap-luap; ia tidak menyangka begitu kejamnya Ki Banyak Ara saat melepaskan ilmunya.

Hilanglah kesabaran dan kesadaran Gajahmada yang tadinya bermaksud menawan orang tua itu hidup-hidup. Tubuh Gajahmada berdiri tegak menegang, tiba-tiba tangannya bergerak mengangkat cambuk tinggi-tinggi.

"Deg!"

Sebuah lecutan sendal pancing telah dilepaskan oleh Gajahmada. Suara lecutan cambuk yang tidak menggelegar itu ternyata mempunyai kekuatan yang sungguh sangat hebat dan luar biasa. Meski ujung cambuknya tidak mengenai tubuh Ki Banyak Ara, getaran tenaganya menghimpit detak jantung musuhnya hingga langsung pecah dan tak bergerak lagi. Tubuh Ki Banyak Ara pun jatuh ke bumi.

Bersamaan dengan robohnya Ki Banyak Ara, seketika itu pula lingkaran kabut kilatan ilmu saktinya lenyap seperti tertelan bumi.

"Orang tua itu telah mencari kematiannya sendiri, sementara ujung cambukmu adalah tali takdir yang tiada seorang pun mampu menghentikannya," kata Putu Risang kepada Gajahmada yang masih berdiri mematung memandang tubuh Ki Banyak Ara yang rebah di tanah tanpa nyawa.

Sementara itu, sang mentari pagi di atas kediaman Ki Randu Alam sudah terlihat semakin naik. Beberapa orang prajurit terlihat tengah menyiapkan pemakaman bagi para korban pertempuran. Tidak lama berselang, Ki Banyak Wedi muncul bersama para warga Kademangan.

"Terima kasih, akhirnya aku dapat kembali ke rumahku sendiri," kata Ki Banyak Wedi kepada Adipati Menak Koncar di atas panggung pendapa rumahnya.

"Aku berharap semoga Ki Banyak Wedi mendapatkan kedamaian di rumah ini, dikelilingi kesetiaan dan cinta para warga Kademangan Randu Agung yang memerlukan pengayoman seseorang seperti Ki Banyak Wedi," sahut Adipati Menak Koncar kepada Ki Banyak Wedi yang ditemani oleh cucunya, Kuda Anjampiani.

"Kesetiaan dan cinta itulah yang membuat hidupku merasa punya arti," ujar Ki Banyak Wedi dengan wajah penuh kebahagiaan sambil memandang jauh ke ujung dinding pagar rumahnya, terus menerawang menjelajahi pematang sawah yang luas hingga menyentuh kaki biru perbukitan Semeru, Bromo, dan Tengger yang seperti raksasa bisu menjaga bumi Lamajang sepanjang masa.

Pagi itu, suasana di Kademangan Randu Agung terlihat begitu cerah. Para petani bekerja di sawah ladang, dan para gembala asyik bersenandung di bawah pohon rindang sambil mengawasi kerbau yang tengah berkubang. Di saat itulah, pasukan Adipati Menak Koncar bergerak meninggalkan Kademangan Randu Agung untuk kembali ke Kadipaten Lamajang.

Gerak pasukan itu terlihat lambat karena mereka harus membawa para tawanan dan orang-orang yang terluka. Tak ada hambatan apa pun dalam perjalanan mereka hingga manakala matahari mulai tergelincir di ufuk barat, mereka telah memasuki batas Kadipaten Lamajang dari sebelah selatan. Warga Kadipaten Lamajang menyambut mereka dengan penuh sukacita dalam sebuah upacara selamatan yang cukup meriah hingga jauh malam.

Keesokan harinya, Mahesa Semu yang ditugaskan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya memimpin pasukan Majapahit di timur Jawadwipa memanggil Ki Gagakpati yang menjadi tawanan mereka.

"Aku sudah menjadi tawanan Tuan, kemerdekaan jiwaku sepenuhnya berada di tangan Tuan," kata Ki Gagakpati kepada Mahesa Semu yang memanggilnya di pendapa agung istana Kadipaten Lamajang.

"Aku hanya ingin mendengar sedikit penuturan Ki Gagakpati mengenai sebuah gerakan yang saat ini berpusat di hutan Gunung Raung. Bukankah Ki Gagakpati sendiri berasal dari Padepokan Gunung Raung?" tanya Mahesa Semu dengan bahasa yang sangat santun, tanpa berusaha melakukan tekanan.

Adipati Menak Koncar, Putu Risang, dan Gajahmada yang berada di pendapa sebagai pendengar terlihat menahan napas, ikut menunggu penuturan Ki Gagakpati tentang gerakan yang dipusatkan di sekitar hutan Gunung Raung itu. Setelah berdiam sejenak, Ki Gagakpati menarik napas panjang, merasa tidak ada alasan baginya untuk menutup rapat tentang pergerakan tersebut.

"Aku mengenal Ki Banyak Ara ketika kami sama-sama menuntut ilmu dengan seorang Brahmana yang bernama Ki Secang di padepokannya yang berada di kaki Gunung Raung," ujar Ki Gagakpati memulai penuturannya. "Sudah begitu lama Ki Banyak Ara menghilang dari padepokan kami, hingga akhirnya dua tahun lalu ia muncul kembali membawa banyak mimpi untuk membangun sebuah kerajaan di timur Jawadwipa ini. Guruku, Ki Secang, telah mendukungnya dengan membantu membangun sebuah pusat kekuatan di sekitar hutan Gunung Raung itu."

"Ada berapa orang yang bergabung di sana?" tanya Putu Risang.

"Saat ini yang sudah bergabung bersama kami ada sekitar enam ratus orang," jawab Ki Gagakpati.

"Berita tentang kematian Ki Banyak Ara pasti akan sampai juga ke telinga Ki Secang. Menurut Ki Gagakpati, apakah Ki Secang akan tetap melanjutkan impian Ki Banyak Ara itu?" tanya Putu Risang lagi.

Mendapatkan pertanyaan itu, Ki Gagakpati sempat mengangkat wajah memandang ke arah Putu Risang, namun tidak lama kemudian orang tua itu kembali menunduk. Semua orang di pendapa itu dengan sabar menantikan jawaban Ki Gagakpati yang masih menatap lantai kayu. Perlahan, Ki Gagakpati menarik napas panjang dan menegakkan kepalanya kembali.

"Ki Banyak Ara telah berjanji untuk berbagi kekuasaan kepada guruku. Kematian Ki Banyak Ara tidak akan menghentikan gerak kekuatan yang sudah tergalang cukup lama. Kematiannya hanyalah sebuah peralihan kendali. Tanpa kehadiran Ki Banyak Ara, pekan depan enam ratus orang yang telah ditempa oleh guruku sendiri akan bergerak menggempur Kadipaten Blambangan. Kabar kematian Ki Banyak Ara akan menjadi kabar gembira bagi guruku, karena ia tidak perlu lagi berbagi kekuasaan dengan siapa pun selain dirinya sendiri," kata Ki Gagakpati mengakhiri dengan tarikan napas panjang.

"Maaf, bukan maksudku untuk menyangsikan semua perkataan Ki Gagakpati," ujar Putu Risang dengan suara perlahan namun jelas didengar oleh semua orang di pendapa itu. "Yang ingin kutanyakan, mengapa Ki Gagakpati mengatakan semua ini kepada kami?"

Ki Gagakpati menarik napas panjang sambil memicingkan mata ke arah Putu Risang.

"Hati kecilku selama ini memang tidak sejalan dengan pikiran guruku, namun aku tidak kuasa menentangnya karena rasa hormatku kepadanya. Selama ini aku berharap ada sebuah kekuatan yang dapat menghentikannya, membuka akal budinya untuk kembali menemukan jalan kebenaran sebagaimana saat awal membangun padepokannya di kaki Gunung Raung itu, memberikan cahaya penerang hati kepada semua orang yang datang untuk berguru dan menuntut ilmu, bukan mengejar dahaga takhta kekuasaan duniawi yang tak akan terpuaskan itu."

Sejenak, semua orang di atas pendapa terdiam. Perkataan Ki Gagakpati tampak sebagai kejujuran hatinya.

"Terima kasih telah menjawab semua pertanyaan kami," kata Mahesa Semu mencoba memecahkan suasana.

Demikianlah, setelah tidak ada lagi yang dapat dipertanyakan, orang tua itu dipersilakan kembali ke tempatnya semula. Setelah Ki Gagakpati meninggalkan pendapa, pembicaraan tertuju pada rencana penyerangan pasukan Ki Secang ke Kadipaten Blambangan.

"Pekan depan mereka akan menyerang Kadipaten Blambangan," kata Adipati Menak Koncar dengan sikap penuh kekhawatiran.

"Berapa jumlah prajurit pengawal Kadipaten Blambangan yang dapat menahan serangan pasukan Ki Secang?" tanya Putu Risang kepada Adipati Menak Koncar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment