Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 62

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 62

Seperti tengah merenungi, "Apakah kamu mengira seorang petani tidak pernah punya musuh dan ancaman?" tikus-tikus di sawah, burung-burung kecil pencuri padi, dan musim kemarau yang sangat panjang.

"Jalani dan nikmatilah hidup serta takdirmu sebagai anugerah dari Yang Maha Agung, baik dalam senang maupun dalam susah. Di situlah ada sebuah ketenteraman hati," kata Patih Mahesa Amping kembali, seolah mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh putranya itu.

Sementara itu, lengkung langit malam telah bertaburan bintang-gemintang memayungi Hutan Kemiri. Malam itu, di muka Hutan Kemiri yang sepi, terlihat empat orang prajurit Daha masih berjaga-jaga, mendapatkan giliran ronda pertamanya. Malam pun berlalu dengan begitu tenangnya, seolah telah memberi kesempatan kepada rombongan Patih Daha itu untuk tidur beristirahat setelah setengah hari mereka berjalan cukup melelahkan. Tidak terjadi apa pun di malam itu, kecuali gerimis yang datang di ujung malam.

Hingga manakala langit pagi terlihat masih memerah dan gerimis sudah lama berlalu menyisakan rumput-rumput yang basah di sekitar perkemahan, beberapa prajurit sudah terbangun, langsung membuat perapian dan sarapan pagi untuk mereka semua.

"Mari kita melanjutkan perjalanan," kata Patih Mahesa Amping kepada seorang pemimpin prajurit Daha ketika warna pagi sudah terlihat mulai terang tanah.

Terlihat iring-iringan prajurit Daha itu telah bergerak menyusuri jalan menuju arah Hutan Kemiri hingga akhirnya seperti hilang satu per satu ditelan kelebatan dan kegelapan hutan. Sang matahari pagi perlahan beranjak naik dan mulai menembuskan cahayanya di antara celah-celah dedaunan. Sementara itu, iring-iringan prajurit Daha tersebut telah semakin masuk lebih dalam lagi ke Hutan Kemiri yang panjang dan lebat, dipenuhi pohon-pohon kayu yang besar dan tinggi menjulang.

Terlihat alis dan kening Patih Mahesa Amping berkerut tajam manakala mendengar suara burung yang seperti tengah terusik. Sebagai seorang yang mempunyai banyak pengalaman di berbagai tempat pertempuran, nampaknya Patih Mahesa Amping telah mulai dapat merasakan beberapa keganjilan yang perlu dicurigai dan diwaspadai.

"Berhati-hatilah," kata Patih Mahesa Amping kepada pemimpin prajurit yang berkuda di dekatnya.

Baru saja Patih Mahesa Amping berbicara kepada pemimpin prajuritnya, di kejauhan terdengar suara wanita tengah meminta pertolongan. Hampir seluruh prajurit Daha, tanpa perintah apa pun, sudah bersiap diri siaga meraba gagang pedang panjangnya masing-masing. Suara teriakan wanita meminta pertolongan menjadi semakin jelas, hingga akhirnya semua orang melihat seorang wanita tengah berlari ke arah mereka sambil melolong meminta pertolongan.

"Jangan takut, kami akan menolongmu," kata Adityawarman kepada wanita yang tengah berlari semakin dekat ke arahnya.

"Tolonglah hamba, Tuan," teriak wanita itu sambil menggamit lengan Adityawarman.

Ternyata di belakang wanita itu terlihat sekitar sepuluh orang tengah berlari; nampaknya mereka memang tengah mengejar wanita itu.

"Serahkan wanita jalang itu kepada kami!" kata seorang yang berkening lebar dan berambut sedikit hanya di bagian belakang kepalanya itu dengan suara sangat garang dan kasar sekali.

"Kami prajurit Daha, tidak akan menyerahkan wanita itu kepada orang-orang kasar seperti kalian!" balas seorang pemimpin prajurit Daha, tidak kalah kerasnya dengan orang berkening lebar itu.

"Prajurit Daha?" kata orang itu sambil tertawa panjang, diikuti oleh hampir semua kawannya.

Namun, ternyata mata Patih Mahesa Amping yang sangat tajam tidak dapat tertipu. Tiba-tiba saja ia telah melompat dari kudanya, terbang begitu cepat, dan entah dengan cara apa telah mencengkeram kuat-kuat pundak wanita yang masih menggamit tangan Adityawarman. Terperanjat, wanita itu tidak mampu berbuat apa pun, bahkan manakala Patih Mahesa Amping telah melemparnya jauh hingga terpelanting berguling-guling di tanah. Hampir semua orang terkejut melihat kecepatan Patih Mahesa Amping bergerak.

Ternyata Patih Mahesa Amping yang mempunyai ketajaman penglihatan itu telah melihat wanita itu diam-diam telah menorehkan kukunya, sedikit melukai lengan Adityawarman yang sama sekali tidak menyadari perlakuan wanita yang ingin ditolongnya itu. Namun, secepat apa pun Patih Mahesa Amping bergerak, ia tetap saja terlambat.

Wajah putranya menjadi pucat dan langsung rebah. Ayah mana yang tidak gusar melihat putra tunggalnya pingsan tak berdaya? Terlihat gerakan Patih Mahesa Amping yang tidak memedulikan orang-orang di sekitarnya, ia langsung memeriksa keadaan putranya dan melihat sebuah goresan kecil di lengannya. Melihat junjungannya tengah memeriksa putranya, dua puluh orang prajurit Daha telah membentuk barisan yang melingkar, melindungi Patih Mahesa Amping.

"Putramu telah terkena bisa kelabang hijau yang dilarutkan dengan getah kayu upas," kata orang berkening lebar itu sambil tertawa panjang, diikuti oleh kawan-kawannya yang lain.

Mendengar perkataan orang itu, seluruh tubuh Patih Mahesa Amping tampak bergetar menahan amarah yang begitu luar biasa. Sebagai seorang yang sangat ahli dalam bidang pengobatan, Patih Mahesa Amping sangat memahami bagaimana cara kerja racun itu di dalam darah orang yang dilukai oleh dua jenis racun tersebut. Patih Mahesa Amping mengetahui bahwa kedua racun itu akan merusak syaraf di kepala yang mengakibatkan kelumpuhan seluruh anggota badan.

Terlihat Patih Mahesa Amping sudah duduk bersila sambil merapatkan tangannya di atas luka putranya. Nampaknya, Patih Mahesa Amping tidak memedulikan siapa pun di sekitarnya; ia telah mengendapkan seluruh akal budinya dan menutup seluruh panca inderanya guna dapat mengungkapkan daya kekuatan sejati dirinya.

Sementara itu, para prajurit Daha telah semakin merapat melingkari junjungannya, siap menghadapi siapa pun yang mencoba berani mengganggu apa yang tengah dilakukan oleh Patih Mahesa Amping. Pedang di tangan para prajurit berkilat terkena sinar cahaya matahari yang menembus lewat ranting dan dedaunan di Hutan Kemiri itu. Melihat sikap para prajurit Daha yang telah begitu siap menghadapi segala ancaman, kesepuluh orang itu menjadi gentar dan tidak berani mendekat.

Nampaknya Patih Mahesa Amping tengah mengerahkan segenap kekuatan sejatinya hingga peluh mulai terlihat mengalir di wajahnya. Ternyata Patih Mahesa Amping yang konon mampu menghancurkan sebuah gunung karang lewat sorot matanya itu telah mengerahkan kesaktiannya untuk menghisap seluruh racun yang telah masuk ke tubuh putranya lewat goresan kuku jari wanita yang berpura-pura meminta pertolongan itu. Peluh terlihat semakin deras mengucur di wajah Patih Mahesa Amping yang perkasa itu.

"Anjing-anjing Daha, kami akan membunuh kalian semua!" kata orang berjidat lebar itu kepada para prajurit yang masih terus rapat dan siap mengancam siapa pun yang datang mendekat.

Mendengar perkataan orang berjidat lebar itu seperti sebuah perintah untuk kawan-kawannya, kesepuluh orang kawannya telah menyebar dan mengepung.

"Hancurkan siapa pun yang datang mendekat, jumlah kita lebih banyak dari mereka!" teriak pemimpin prajurit pengawal itu kepada kawan-kawannya untuk memberikan semangat.

Namun, tiba-tiba saja orang berjidat lebar itu terlihat bersuit panjang seperti tengah memberikan isyarat. Mendengar suitan panjang itu membuat para prajurit Daha menjadi lebih berhati-hati; mereka berpikir bahwa suitan panjang itu seperti tengah memanggil orang-orang mereka untuk datang membantu. Ternyata pikiran para prajurit itu tidak jauh melesat. Tidak lama setelah terdengar suitan panjang itu, terlihat beberapa bayangan bergerak keluar dari semak belukar dan kerapatan pohon-pohon di Hutan Kemiri.

Ternyata bayangan yang bergerak keluar itu adalah orang-orang yang memang sudah lama menunggu panggilan lewat suitan panjang tersebut. Sepuluh orang, dua puluh orang, dan akhirnya jumlah orang-orang yang datang itu mencapai sekitar seratus orang yang langsung memadati dan mengepung para prajurit Daha.

Para prajurit Daha bukan orang yang tidak pandai berhitung; mereka menyadari bahwa kekuatan lawan berlipat-lipat ganda dari kekuatan mereka sendiri. Namun, para prajurit Daha itu tidak bergeming sedikit pun. Jiwa dan perasaan mereka nampaknya telah ditempa untuk tidak gentar menghadapi ancaman apa pun, sekalipun ancaman bagi jiwa mereka sendiri.

"Wahai para prajurit Daha, kami memberi waktu kepada kalian untuk segera menyingkir dan melepaskan Patih Mahesa Amping kepada kami," kata salah seorang di antara mereka yang nampaknya menjadi pemimpin—seorang lelaki yang terlihat sudah sangat tua namun masih dapat berdiri kokoh—yang ternyata tidak lain adalah Ki Ajar Pelandongan.

"Kawan-kawan, kita tidak akan menyerahkan siapa pun!" kata pemimpin prajurit Daha dengan suara tidak kalah lantang dari suara Ki Ajar Pelandongan.

"Hancurkan mereka semua!" perintah Ki Ajar Pelandongan dengan suara mengguntur.

Mendengar perintah itu, orang-orangnya yang telah mengepung para prajurit Daha langsung bergerak seperti air bah ke arah mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment