Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 28

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 28

"Mengapa kamu belum juga dapat tertidur, anak manis?" Gajahmada berkata kepada Dyah Wiyat yang terlihat belum dapat memejamkan matanya, sementara di sebelahnya Dyah Gajatri sudah pulas tertidur.

"Aku takut orang-orang liar itu datang kembali," kata Dyah Wiyat.

"Mereka sama seperti kita, punya kepala untuk berpikir, juga rasa takut," kata Gajahmada sambil tersenyum mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh Dyah Wiyat. "Hamba yakin bila tuan putri punya sedikit ketenangan, sepuluh orang seperti mereka tidak mudah untuk menangkap tuan putri," kata Gajahmada lagi.

"Benarkah?" tanya Dyah Wiyat, seperti tidak percaya.

"Hamba berkata yang sebenarnya, bukan untuk sekadar membesarkan hati tuan putri," kata Gajahmada.

Setelah itu, gadis itu terlihat baru bisa memejamkan matanya.

Gajahmada tersenyum melihat kedua gadis itu telah tertidur pulas. Sambil bersandar, ia melemaskan otot-ototnya untuk beristirahat. Meskipun matanya terpejam, ia tetap siaga dengan pendengarannya yang sangat luar biasa.

Keesokan harinya, kedua gadis itu terbangun dan mencium harum daging bakar. Ternyata Gajahmada telah membuat perapian dan memanggang tiga ekor burung yang gemuk.

"Pagi-pagi sekali kulihat beberapa burung masih bersembunyi di celah-celah batu," kata Gajahmada.

"Burung apa?" tanya Dyah Gajatri ingin tahu.

"Aku tidak tahu nama jenis burung itu, yang kutahu pasti bahwa burung itu pasti nikmat untuk sarapan pagi kita," kata Gajahmada sambil tertawa.

"Aku namakan burung batu," kata Dyah Wiyat.

"Mengapa dinamakan burung batu?" tanya Dyah Gajatri.

"Karena tidur di batu," jawab Dyah Wiyat, ditanggapi tawa Gajahmada dan kakaknya.

Demikianlah, mereka terlihat tengah menikmati daging panggang burung itu tanpa mempersoalkan lagi nama burung itu.

Namun, belum selesai mereka menikmati sarapan pagi itu, terlihat kembali lima orang liar mendatangi mereka. Wajah mereka masih belum bersahabat, terlihat sangat menakutkan dengan wajah kotor serta rambut yang tebal terurai.

"Semalam kakang Gajahmada mengatakan bahwa aku sanggup menghadapi sepuluh orang seperti mereka itu?" tanya Dyah Wiyat, meminta pertimbangan dari Gajahmada.

"Mereka hanya berlima," kata Gajahmada sambil menganggukkan kepala sebagai jawaban kepada Dyah Wiyat.

Maka, tanpa bertanya dua kali kepada Gajahmada, gadis itu terlihat sudah langsung berdiri dan melompat ke hadapan kelima orang liar itu.

"Ayo, tangkaplah aku," kata Dyah Wiyat sambil bertolak pinggang menantang kelima orang liar itu.

Nampaknya kelima orang liar itu tidak mengerti perkataan Dyah Wiyat, tetapi tahu apa yang harus mereka berlima lakukan. Terlihat kelima orang itu sudah bergerak mengepung Dyah Wiyat.

Melihat adiknya dikepung oleh kelima orang liar itu, Dyah Gajatri menjadi begitu khawatir.

"Jangan khawatir, aku akan tetap mengawasinya," kata Gajahmada, mengerti apa yang dipikirkan Dyah Gajatri, sambil matanya tetap mengawasi keadaan Dyah Wiyat yang telah dikepung oleh lima orang liar itu.

Entah mengapa, kepada anak muda itu Dyah Gajatri begitu percaya dan merasa terjaga. Dirinya tidak merasa khawatir lagi. Seperti Gajahmada, matanya tidak berkedip melihat perkembangan selanjutnya.

Terlihat Dyah Gajatri menarik napas lega manakala melihat adiknya dapat lepas dari terkaman salah seorang penyerangnya, bahkan dengan sebuah tendangan telah dapat menjatuhkan lawannya. Terlihat Dyah Gajatri menahan napasnya manakala dua orang berbarengan ingin menangkap adiknya. Namun, Dyah Wiyat dengan tangkas dan gesit dapat keluar dari kepungan itu, bahkan telah balas menyerang dengan sebuah tendangan dan pukulan yang sangat jitu mengenai lawannya yang langsung tersungkur.

Terlihat Dyah Gajatri sudah dapat tersenyum manakala melihat adiknya yang nakal itu telah membuat kelima orang liar itu jatuh bangun beberapa kali terkena tendangan dan pukulan Dyah Wiyat.

"Orang-orang itu punya tenaga seperti banteng, coba kamu cari sasaran kelemahan tubuh mereka," kata Gajahmada di luar arena, memberikan arahan kepada Dyah Wiyat.

Nampaknya Dyah Wiyat adalah seorang gadis yang cerdas, langsung mencerna perkataan Gajahmada. Terlihat beberapa kali Dyah Wiyat telah berhasil memukul bagian tubuh mereka di bagian yang sangat lemah. Akibatnya, sudah ada tiga orang liar terlihat jatuh dan tidak kuat berdiri kembali.

Melihat tiga orang kawannya sudah terjatuh dan tidak kuat berdiri kembali, dua orang sisa lawannya itu terlihat mulai gentar dan mundur beberapa langkah.

"Mengapa mundur?" tanya Dyah Wiyat sambil bertolak pinggang, merasa bangga sekali.

Terlihat Gajahmada maju mendekati tiga orang liar yang tidak mampu berdiri itu. Hanya dengan beberapa tepukan, ketiga orang itu seperti merasakan bagian tubuhnya yang nyeri langsung hilang. Terlihat ketiga orang liar itu telah berdiri dan mundur beberapa langkah mendekati dua orang kawannya. Dan tanpa berkata apa pun, kelima orang itu langsung berbalik badan, lari menghilang di kerimbunan semak dan bebatuan.

"Hari ini tuan putri sudah dapat pengalaman menggunakan jurus-jurus kanuragan dengan semestinya," kata Gajahmada sambil tersenyum.

"Tubuh mereka seperti kulit badak, sangat keras sekali," kata Dyah Wiyat sambil memegang jari jemarinya yang masih terasa nyeri.

"Tuan putri beruntung, mereka tidak punya kemampuan dasar olah kanuragan," kata Gajahmada kepada Dyah Wiyat.

Mendengar perkataan Gajahmada, terlihat Dyah Wiyat langsung merenung.

"Pada suatu saat, kalian akan berhadapan dengan orang yang mengerti olah kanuragan dalam jenis yang berbeda dari garis perguruan kita," kata Gajahmada lagi.

Banyak pertanyaan dari Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat menyangkut hal yang dikatakan oleh Gajahmada.

"Yang terpenting adalah bahwa kalian dapat menjaga nalar, jangan terpancing kemarahan yang akan membuat kalian kehilangan nalar dan budi," kata Gajahmada, memberikan pengarahan kepada kedua putri bimbingannya itu.

Akhirnya terlihat mereka sudah berkemas-kemas kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju Tanah Tuban. Kedua putri Majapahit itu nampaknya menikmati perjalanan mereka.

Ketika matahari sudah mulai meninggi, mereka bertiga terlihat sudah mendekati sebuah padukuhan yang tengah melaksanakan panen raya. Kehadiran mereka bertiga di padukuhan itu dianggap dan dikira sebagai para penderep, para pendatang dari padukuhan lain yang ikut bekerja membantu memotong padi dengan imbalan upah beberapa ikat padi. Biasanya para pendatang itu membawa keluarga mereka sambil menunggu panen padi di padukuhan mereka sendiri, atau juga di padukuhan mereka masih dalam musim paceklik, atau gagal panen di musim sebelumnya. Namun, seperti biasa, saat panen raya itu ada saja para penjahat kambuhan dari tempat jauh ikut mendulang kesempatan di atas kesusahan dan keringat orang lain.

Gajahmada, Dyah Wiyat, dan Dyah Gajatri tidak sengaja mendengar percakapan di sebuah tanah bulakan yang sepi.

"Di musim yang lalu kami gagal panen, jadi hanya padi ini yang kami miliki untuk makan sekeluarga menunggu panen padi kami yang masih lama," kata seorang tua kepada seseorang yang berwajah garang.

"Jangan pelit, masih ada banyak keluarga yang memerlukan tenaga kalian," kata orang berwajah garang itu sambil menendang orang tua itu hingga tersungkur di tanah. Terlihat dua anak lelaki yang berusia masih remaja membantu orang tuanya bangkit berdiri. Sementara orang yang berwajah garang tanpa rasa belas kasihan telah mengambil sepikul padi milik orang tua itu dan langsung melangkah pergi diiringi dua orang anak buahnya.

Baru saja orang yang berwajah garang bersama kedua anak buahnya berjalan beberapa langkah, terlihat seorang gadis muda jelita telah menghadang mereka. Ternyata gadis muda itu adalah Dyah Gajatri yang tersentuh hatinya melihat milik orang tua itu dirampas dengan cara paksa.

"Serahkan milik orang tua itu," kata Dyah Gajatri dengan wajah penuh kebencian.

"Ada gadis cantik datang ingin menjadi pahlawan," kata orang berwajah garang itu sambil tertawa panjang, diikuti oleh kedua kawannya.

"Serahkan kembali milik orang tua itu, atau kubuat gigi depanmu rontok," kata Dyah Gajatri, merasa muak melihat orang berwajah garang itu masih saja tertawa.

"Jangan galak-galak, anak manis," kata orang berwajah garang itu sambil tangannya menjulur ingin menyentuh dagu Dyah Gajatri. Sial rupanya orang yang berwajah garang itu, belum sampai tangannya menyentuh dagu Dyah Gajatri, tiba-tiba saja gadis itu telah melepaskan tamparan yang cukup keras ke arah wajah orang itu. Plok!!!! Orang berwajah garang itu telah merasakan sebuah giginya tanggal, darah segar terlihat di bibirnya.

"Aku sangat senang dengan perempuan galak, bantu aku menangkap perempuan ini," kata orang berwajah garang itu kepada kedua kawannya. Maka seketika itu juga Dyah Gajatri sudah terkepung oleh ketiga orang lelaki dengan sinar mata menjijikkan dalam pandangan mata Dyah Gajatri.

Untung saja Dyah Gajatri teringat pesan Gajahmada untuk menjaga perasaan amarahnya agar tidak terlepas daya nalarnya. Dan dengan nalar yang masih tetap terjaga serta pengendalian diri yang tinggi, Dyah Gajatri telah siap menghadapi kepungan ketiga orang itu.

"Sial!!" kata orang berwajah garang itu ketika tangannya tidak dapat menangkap Dyah Gajatri, bahkan sebuah tendangan keras telah menghantam pinggangnya. Terlihat orang berwajah garang itu tersungkur beberapa langkah ke samping.

Melihat orang yang berwajah garang itu tersungkur, bergantian kedua kawannya bersamaan mencoba menangkap Dyah Gajatri. Dengan cepatnya Dyah Gajatri berkelit sambil sebuah tangannya bergerak cepat menghantam leher salah seorang lawannya itu. Orang yang terkena pukulan tangan Dyah Gajatri langsung terbanting, rupanya Dyah Gajatri memukulnya dengan sangat keras sekali. Tinggal satu orang lagi yang merasa penasaran menganggap kedua kawannya itu hanya lengah sedikit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment