Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 121

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 121

Itulah enam ribu pasukan Majapahit yang dicurigai oleh Tumenggung Mahesa Semu sebagai pasukan yang digalang oleh Mahapatih dan Ra Kuti sebagai kekuatan bayangan untuk menandingi kekuatan pasukan Majapahit yang ada.

"Gila, gila, gila! Bahtera perahu besar yang membawa persediaan pangan kita tidak diketahui rimbanya?" seru seorang lelaki yang tampaknya merupakan pimpinan tertinggi pasukan besar yang telah membangun barak di pantai Gadingrejo.

Tampaknya lelaki pimpinan pasukan besar itu tengah berbicara dengan dua orang kepercayaannya.

"Lembu Peteng, lekas kamu cari tahu apa yang terjadi dengan bahtera itu, juga bahtera yang membawa seribu prajurit Majapahit di pantai Pasuruan ini," perintah pimpinan pasukan itu kepada bawahannya yang dipanggil Rangga Lembu Peteng.

"Baik, Ki Jabung Terewes, aku akan segera mencari tahu," jawab Lembu Peteng sambil berpamit diri kepada pimpinannya itu—seorang yang berwajah keras dengan rahang menonjol dan alis tebal yang hampir menyatu.

Cambang, janggut, dan kumis orang itu terlihat lebat, hitam, dan tumbuh tak terawat.

"Ikal-ikalan Bang, berapa sisa ransum untuk pasukan kita sampai hari ini?" tanya Ki Jabung Terewes kepada bawahannya yang lain.

"Hanya tersisa untuk tiga hari perjalanan," jawab Ikal-ikalan Bang.

"Hanya tinggal tiga hari perjalanan?" Ki Jabung Terewes bertanya dengan wajah sangat gusar.

"Perhitunganku, dua atau tiga hari ini sawah di Tanah Lamajang sudah tua dan siap dipanen. Bila kita dapat menguasai istana Kadipaten Lamajang, maka kita tidak akan kekurangan ransum untuk pasukan kita," ujar Ikal-ikalan Bang.

"Otakmu sangat encer, namun kita masih harus menunggu Lembu Peteng yang tengah mencari tahu apa yang terjadi atas dua bahtera milik Kerajaan Majapahit yang ditugaskan sebagai pendukung pasukan kita ini," sahut Ki Jabung Terewes.

Sementara itu, Lembu Peteng sudah berkuda meninggalkan barak darurat mereka untuk mencari tahu nasib dua bahtera yang memang sengaja diberangkatkan ke pantai Pasuruan guna mendukung enam ribu pasukan yang akan menyerang Tanah Lamajang. Lembu Peteng memasuki sebuah perkampungan nelayan di sekitar pantai Gadingrejo.

"Aku tidak pernah melihat bahtera besar merapat di pantai Gadingrejo. Hanya ada selentingan kabar dari beberapa kawan yang semalam mencari ikan dekat pantai Bugulkidul, bahwa mereka melihat dua bahtera besar karam dan hangus terbakar di pinggir pantai," ujar seorang lelaki tua yang ditanya oleh Lembu Peteng.

"Terima kasih, Pak Tua," ucap Lembu Peteng kepada lelaki tua itu, yang kemudian melanjutkan pekerjaannya memperbaiki jaring.

Lembu Peteng segera memacu kudanya menuju pantai Bugulkidul. Betapa terkejutnya ia saat tiba di sana; ternyata perkataan orang tua itu benar. Dua bahtera besar tampak karam dalam kondisi hangus terbakar.

"Aku akan melaporkan semua ini kepada Ki Jabung Terewes," batin Lembu Peteng.

Setibanya kembali di barak, Ki Jabung Terewes murka mendengar laporan Lembu Peteng. "Gila, gila, gila!"

"Nampaknya mereka telah mengetahui rencana besar penyerangan kita," tanggap Ikal-ikalan Bang.

"Senja ini juga kita harus memberangkatkan pasukan untuk menggempur istana Lamajang," tegas Ki Jabung Terewes.

"Aku akan menyiapkan pasukanku," sahut Lembu Peteng dan Ikal-ikalan Bang.

Demikianlah, keduanya menemui pasukan masing-masing untuk memberitahukan keberangkatan menjelang senja. Beberapa prajurit menampakkan wajah keberatan, namun mereka tidak berdaya menolak perintah.

"Perintah gila, baru beristirahat sudah diperintahkan berangkat segera," gerutu seorang prajurit sambil menyiapkan perlengkapan.

"Salah garis tanganmu, mengapa ditakdirkan menjadi bawahan," sahut rekannya.

Mendengar itu, prajurit tersebut membuka telapak tangannya. "Ki Juru Nujum pernah mengatakan bahwa aku akan menjadi orang kaya raya setelah usiaku menjelang enam puluh tahun."

Kawannya tertawa terbahak-bahak. "Ternyata mudah sekali orang sepertimu ditipu. Mana ada juru nujum menyampaikan berita buruk? Mereka pasti menyampaikan berita gembira agar diberi hadiah."

Menjelang senja, pasukan segelar sepapan berjumlah enam ribu prajurit Majapahit itu bergerak menuju Tanah Lamajang. Saat malam tiba, pasukan besar itu tetap berjalan. Langkah kaki para prajurit mulai melambat digayuti rasa kantuk yang amat sangat, namun mereka terus memaksakan diri karena tidak ada perintah berhenti.

Ki Jabung Terewes menyadari kondisi prajuritnya, namun karena persediaan pangan yang menipis, ia memaksakan kehendaknya. Hingga langit mulai memerah, ia memerintahkan prajuritnya beristirahat di perbatasan kota Kadipaten Lamajang. Keberadaan pasukan itu di tempat terbuka segera terpantau oleh prajurit Lamajang yang telah bersiaga.

"Kabarkan bahwa pasukan Majapahit telah datang, sementara aku tetap di sini mengamati mereka," ujar seorang prajurit Lamajang kepada kawannya yang kemudian menyelinap di antara gerumbul ilalang menuju kota.

"Tidak perlu mendatangi mereka di luar perbatasan kota. Kita tunggu dan sambut mereka dari balik dinding istana dengan hujan anak panah," perintah Empu Nambi.

Tak lama kemudian, para prajurit Lamajang bersiap di sepanjang dinding dengan busur dan anak panah. Wajah mereka tampak segar dan bugar karena telah mengisi perut dengan ransum yang cukup.

Di perbatasan, Ikal-ikalan Bang dan Lembu Peteng melaporkan kesiapan pasukan kepada Ki Jabung Terewes.

"Mereka tidak datang menghadang kita, apakah mereka takut?" tanya Ki Jabung Terewes.

"Menurutku memang begitu, mereka takut melihat jumlah kita seperti anjing kurap yang menyembunyikan ekornya," sahut Lembu Peteng.

"Menurutku, mereka tidak takut. Mereka sengaja membiarkan kita kehabisan ransum dan kedinginan di tempat terbuka. Bukankah mereka telah mencuri ransum kita?" ujar Ikal-ikalan Bang yang teliti.

"Bila demikian, hari ini juga kita hantam jantung kota mereka!" perintah Ki Jabung Terewes.

Pasukan Majapahit pun bergerak memasuki gapura batas kota Lamajang.

"Gila, gila, gila! Mereka memang ingin membuat kita mati kelaparan," umpat Ki Jabung Terewes saat melihat persawahan di kiri-kanan jalan hangus terbakar.

"Mereka sudah mengetahui rencana penyerangan ini. Pasti ada yang membocorkannya," kata Ikal-ikalan Bang.

"Kita hancurkan istana mereka, kita jarah apa pun yang ada di dalamnya!" seru Lembu Peteng yang sudah geram.

"Mungkinkah mereka telah mengosongkan istana sendiri?" gumam Ki Jabung Terewes saat melihat gerbang istana Kadipaten Lamajang tertutup rapat dan terkesan sepi, tanpa terlihat seorang pun prajurit dari luar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment