Chapter 52
"Masih banyak kemungkinan lain yang dapat terjadi. Baginda Raja Sanggrama Wijaya harus segera diberitahukan mengenai gerakan di Hutan Kemiri ini. Mungkin sebagai seorang raja, beliau dapat melihat kemungkinan yang lebih banyak dibandingkan dengan pemikiranku yang hanya sebatas Tanah Perdikan Bajra Seta ini," ucap Ki Gede Bajra Seta penuh kerendahan hati.
"Manakala kembali, aku akan menyampaikan hal ini kepada Baginda Raja," sahut Gajah Mada.
"Bila ada hal baru mengenai gerombolan di Hutan Kemiri, akan segera kami sampaikan ke Kotaraja Majapahit," ujar Ki Gede Bajra Seta.
"Memukul seekor ular memang harus di kepalanya, namun kita harus mengetahui dan memastikan seberapa bahaya ekornya," kata Mahesa Darma.
"Memukul seekor ular memang harus di arah kepalanya, namun tidak di saat malam gelap seperti ini," timpal Ki Gede Bajra Seta dengan wajah penuh senyum ke arah Mahesa Darma dan Gajah Mada.
"Ayah mulai berteka-teki. Apa hubungannya ular dengan malam yang gelap?" tanya Mahesa Darma yang mengetahui sifat asli ayahnya yang penuh canda.
"Jangan terlalu berpikir jauh, maksudku hari sudah larut malam, saatnya kalian beristirahat," kata Ki Gede Bajra Seta dengan tawa dan senyum perlahan.
Mendengar perkataan Ki Gede Bajra Seta, Gajah Mada dan Mahesa Darma tampak ikut tersenyum. Saat itu hari memang sudah larut, halaman Padepokan Bajra Seta terlihat gelap. Sementara di atas panggungan, terlihat beberapa cantrik tengah bersenda gurau mengisi dinginnya malam.
Pagi yang cerah menyapa suasana di sekitar Padepokan Bajra Seta. Dari atas pendapa, Gajah Mada melihat kesibukan para cantrik di awal pagi itu. Beberapa cantrik keluar membawa perlengkapan pertanian, sementara yang lain terlihat tengah menyapu halaman muka padepokan.
"Mumpung masih hangat," ujar Ki Gede Bajra Seta sambil menawarkan wedang jahe kepada Gajah Mada. Selain Ki Gede Bajra Seta dan Mahesa Darma, Gajah Mada juga ditemani oleh para sesepuh padepokan, antara lain Ki Muntilan dan Paman Mahesa Semu.
Diam-diam, Gajah Mada menilai sikap para penghuni Padepokan Bajra Seta sebagai orang-orang yang sangat sederhana namun memiliki rasa persaudaraan yang tinggi. Dirinya juga mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang dengan tataran ilmu yang cukup mumpuni.
"Kita belum dapat memastikan apa yang diinginkan oleh gerombolan di Hutan Kemiri. Kita harus lebih teliti agar bisa menggebuk kepala ular yang sebenarnya," kata Ki Bajra Seta ketika pembicaraan beralih ke masalah gerombolan tersebut.
"Perampokan yang terjadi adalah sikap segelintir dari mereka yang kurang disiplin," ujar Paman Mahesa Semu yang pernah melakukan penyelidikan di sekitar Hutan Kemiri.
"Mengenai penanaman jagung di beberapa tempat terbuka di Hutan Kemiri, itu pertanda bahwa mereka punya rencana tertentu dalam waktu tertentu pula," sahut Ki Muntilan memberikan pandangannya.
"Rencana itulah yang harus kita pastikan agar dapat membawa kita ke arah siapa dalang di balik mereka," kata Ki Bajra Seta.
"Baginda Raja Sanggrama Wijaya akan merasa gembira bahwa jauh dari istana Majapahit, masih ada orang-orang yang berdiri di belakangnya untuk menjaga bumi Majapahit ini," ucap Gajah Mada.
"Kami hanya melakukan apa yang dapat kami lakukan untuk bumi ini. Melihat para petani bergembira menikmati hasil panennya, melihat para pedagang tanpa kegelisahan di setiap perjalanannya," tutur Ki Bajra Seta dengan wajah penuh keceriaan.
"Sayangnya, ada sebagian orang yang tidak suka melihat kedamaian dan ketentraman tumbuh di bumi Majapahit ini," kata Mahesa Darma.
"Banyak hal yang melatari, antara lain masalah dendam dan sakit hati, juga ketamakan dari orang-orang yang haus kekuasaan dan merasa ingin memiliki kuasa lebih besar dari apa yang dimiliki saat ini," jawab Ki Bajra Seta.
Diam-diam, pikiran Gajah Mada melayang jauh ke Lamajang, teringat kepada seorang mantan penguasa besar dari Sunginep yang bersembunyi di sana. Namun, Gajah Mada tidak menyampaikan pikirannya mengenai orang yang tengah diawasi oleh pihak istana Majapahit itu. Ia kembali menyimak pembicaraan Ki Bajra Seta.
"Dengan pemahaman batiniah, seseorang akan mengenal jati dirinya, memahami arah dari mana dan akan ke mana akhir hidup ini. Manusia yang paling sakti adalah manusia yang dapat mengenal nafsunya sendiri," ujar Ki Gede Bajra Seta.
Mendengar perkataan itu, semua yang berada di pendapa seolah tengah merenungi diri sendiri. Sejenak suasana menjadi hening.
"Aku berharap para cantrik dari padepokan ini yang telah menjadi prajurit di istana Tumapel akan menjadi prajurit yang andal lahir dan batin," lanjut Ki Gede Bajra Seta mencoba memecahkan keheningan.
"Dalam pengamatanku, sampai saat ini mereka adalah para prajurit yang sangat diandalkan di kesatuannya masing-masing," kata Mahesa Darma kepada ayahnya.
"Aku bahagia mendengarnya," sahut Ki Gede Bajra Seta penuh kegembiraan.
Mendengar pembicaraan mereka, pikiran Gajah Mada membayangkan sebuah pasukan yang sangat kuat dan mapan. "Tempaan di padepokan ini akan melahirkan para prajurit yang andal lahir dan batin," pikir Gajah Mada dalam hati.
Bayangan Gajah Mada beralih ke suasana kegembiraan para penghuni tanah perdikan saat menghadapi panen raya ketika Ki Muntilan mengalihkan pembicaraan tentang keadaan sawah mereka.
"Tanaman padi kita sudah bunting tua, tiga hari lagi dapat dipastikan siap panen," kata Ki Muntilan penuh kegembiraan.
"Gusti yang Maha Agung telah melimpahkan rezeki yang besar kepada kita," kata Ki Gede Bajra Seta.
Pembicaraan mereka terhenti saat beberapa cantrik terlihat memasuki pintu regol padepokan.
"Tidak terasa hari sudah menjelang siang," ujar Paman Mahesa Semu sambil memandang para cantrik yang baru saja pulang bekerja di sawah.
Sementara itu, dari pintu pringgitan, seorang wanita datang menghampiri mereka di pendapa. Ia adalah Nyi Gede Bajra Seta yang masih terlihat cantik terawat meski usianya tidak terpaut jauh dari suaminya.
"Makanan di dapur sudah siap disajikan," kata Nyi Gede Bajra Seta sambil memandang ke arah putranya, Mahesa Darma, dan Gajah Mada.
"Sengaja ibumu memasak gurame pepes, kesukaanmu," kata Ki Gede Bajra Seta kepada Mahesa Darma.
"Pantas, sedari tadi aku mencium aroma kemangi yang terbakar," sahut Ki Muntilan dengan senyum malu-malu.
Mendengar itu, lamunan Gajah Mada terbang ke Kotaraja Majapahit, terbayang wajah ibundanya yang juga sangat menyayanginya sebagaimana Nyi Gede Bajra Seta menyayangi Mahesa Darma. Sementara itu, angin semilir masuk ke pendapa, terasa begitu menyejukkan di antara kerindangan dan keteduhan halaman muka padepokan yang dinaungi tiga pohon beringin putih yang tinggi dan menyatu di tengah halaman.
Tidak terasa, matahari telah bergeser perlahan ke barat.
"Berat rasanya hati ini berpamit, setelah diberkati perjamuan dan kehangatan suasana di padepokan ini. Namun, apa boleh buat, aku harus kembali ke Kotaraja Majapahit," ucap Gajah Mada berpamitan kepada Ki Gede Bajra Seta, Mahesa Darma, Ki Muntilan, dan Paman Mahesa Semu.
"Pintu Padepokan Bajra Seta selalu terbuka untukmu, wahai anak muda," ujar Ki Gede Bajra Seta penuh keramahan.
"Sayang sekali aku masih dua tiga hari di sini, bila tidak, kita dapat berjalan bersama, setidaknya hingga Kademangan Simpang," kata Mahesa Darma yang merasa pertemuan dengan sahabat barunya itu terasa sangat singkat.
"Semoga saja aku diizinkan menemani Ki Gede untuk datang ke Kotaraja Majapahit saat perayaan besar itu," kata Paman Mahesa Semu sambil melirik ke arah Ki Gede Bajra Seta yang membalasnya dengan senyum kecil.
"Tunggulah di sini, biar aku yang membawakan kudamu," kata Ki Muntilan yang langsung menuruni anak tangga pendapa. Tidak lama berselang, Ki Muntilan kembali sambil membawa kuda milik Gajah Mada.
"Aku akan merindukan kalian, sampai bertemu di Kotaraja Majapahit," kata Gajah Mada sambil melambaikan tangan dari atas punggung kudanya.
Kuda Gajah Mada melewati regol gerbang padepokan, diikuti tatapan mata Ki Bajra Seta, Mahesa Darma, Ki Muntilan, dan Mahesa Semu. Angin semilir mengurai rambut hitam Gajah Mada. Setengah berlari, ia memacu kudanya di atas tanah bulakan panjang menuju perbukitan hijau.
Hari telah mendekati senja saat Gajah Mada menuruni perbukitan hijau menuju arah Hutan Kemiri. Terkadang, Gajah Mada berjalan di bawah kerindangan pohon besar yang menghalangi cahaya matahari masuk ke jalan tanah keras yang tampaknya sering dilalui pedagang. Namun, setelah selentingan berita mengenai perampokan di Hutan Kemiri, beberapa pedagang terpaksa mencari jalan lain yang lebih aman.
Anak muda yang telah mewarisi berbagai ilmu kesaktian itu tampak tenang menuruni perbukitan hijau. Ketika ia telah berada di kaki bukit, matahari terlihat sudah tipis mengintip di cakrawala barat. Batang-batang ilalang yang tinggi seolah menenggelamkan tubuh Gajah Mada yang berjalan perlahan. Tampaknya, anak muda itu memiliki maksud dan rencana tersendiri dengan sengaja memperlambat laju kudanya.