Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 71

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 71

"Aku memang masih harus banyak belajar darimu," kata Mahesa Dharma yang sudah dapat berdiri tegak kembali di atas kedua kakinya.

"Dulu aku tidak pernah dapat mengalahkanmu, ternyata sekarang aku merasa tertinggal lebih jauh lagi darimu," ujar Adityawarman di sisi lain yang juga telah dapat berdiri.

"Sebuah pertunjukan yang hebat," sahut Mahesa Semu dari sudut tempatnya.

"Maaf, kami telah mengganggu istirahat kalian, orang tua," ucap Gajahmada sambil berpaling menghadap keempat orang tua yang sedari tadi menyaksikan pertempuran itu.

"Kamu telah mewarisi ilmu langkah rahasia Adityakundala," kata Ki Gede Bajra Seta kepada Gajahmada.

"Adityakundala?" Gajahmada terheran-heran kepada Ki Gede Bajra Seta.

"Dari mana kamu mewarisi ilmu rahasia itu, wahai putraku?" tanya Patih Mahesa Amping kepada Gajahmada penuh kekaguman.

"Aku mewarisinya dari ayah kandungku sendiri," jawab Gajahmada kepada Patih Mahesa Amping.

Terkejut Patih Mahesa Amping mendengar ucapan Gajahmada itu. Ia tampak tidak percaya dengan apa yang didengarnya, bahwa Gajahmada telah menyebut ayah kandungnya.

"Pendeta Dharmaraya?" tanya Patih Mahesa Amping dengan pandangan aneh kepada Gajahmada. "Kamu telah bertemu dengan ayah kandungmu?"

Dengan singkat, Gajahmada bercerita tentang pertemuannya dengan ayah kandungnya sendiri ketika dalam pengembaraannya di Tanah Pasundan.

"Ibumu pasti akan gembira mendengar ceritamu itu," kata Patih Mahesa Amping kepada Gajahmada.

"Benar, Ibu menangis gembira mendengar kisahku itu," sahut Gajahmada.

"Berbahagialah karena kamu telah mewarisi ilmu rahasia yang sangat langka itu," ujar Ki Gede Bajra Seta penuh kagum.

"Ayahku tidak pernah mengatakannya kepadaku bahwa gerak langkah itu bernama Adityakundala. Ternyata Ki Gede Bajra Seta punya pengetahuan yang sangat luas mengenai olah kanuragan," kata Gajahmada dengan suara penuh kerendahan hati.

"Ayahku, Mahendra, pernah bercerita bahwa gerak langkah rahasia itu adalah ciptaan seorang Empu sakti mandraguna di zamannya yang bernama Empu Tantular, kakak kandung dari Empu Brantas yang garis perguruannya telah mengalir kepada kita," jelas Ki Gede Bajra Seta kepada Gajahmada.

"Sungguh sebuah gerakan yang amat pelik, tidak mudah dibaca awal dan akhirnya," aku Patih Mahesa Amping. Sebagai seseorang yang sudah banyak mempelajari beraneka jenis aliran kanuragan, baru kali ini ia tidak mampu mencerna dasar langkah rahasia yang dimiliki oleh Gajahmada.

"Maafkan putramu ini, dengan penalaranku sendiri aku telah menggabungkan gerak aliran perguruan kita dengan gerak langkah yang diajarkan oleh ayah kandungku itu," tutur Gajahmada dengan jujur.

"Empu Tantular pasti akan bangga melihat karya ciptanya telah disempurnakan olehmu," kata Ki Gede Bajra Seta.

Sementara itu, tak terasa lengkung langit di atas mereka terlihat sudah memerah, terbias cahaya matahari yang mulai mengintip di ujung hutan perbukitan sebelah timur danau. Perlahan, sang surya mengukir altar kehidupan pagi dengan warna kuning emasnya.

"Hari yang baik untuk melanjutkan perjalanan," kata Patih Mahesa Amping sambil bangkit berdiri, menatap wajah penguasa langit pagi yang bersinar lembut penuh kehangatan.

Tidak lama berselang, derap suara langkah kaki kuda terdengar semakin menjauh, meninggalkan danau sepi itu. Tujuh ksatria berkuda telah berada di atas jalan tanah menuju arah Kotaraja Majapahit. Kepulan debu terlihat di belakang langkah kaki kuda mereka, meninggalkan jejak-jejak baru di atas tanah keras yang berdebu. Sang surya di timur selalu mengiringi perjalanan mereka, merayap perlahan menjelajahi cakrawala langit biru yang dipenuhi awan putih yang terus bergerak mengikuti arah angin.

Manakala wajah mentari sudah hampir menjangkau puncak cakrawala, ketujuh ksatria berkuda itu telah memasuki Kademangan Maja. Kehadiran para ksatria berkuda itu cukup menarik perhatian para penduduk yang berada di jalan utama. Pandangan mereka terus tertuju ke arah para ksatria yang terus berjalan perlahan hingga akhirnya menghilang di ujung tikungan jalan yang mendekati regol gerbang batas Kademangan Maja.

"Lama sekali aku tidak berkunjung ke tanah ini," kata Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta yang berkuda di sampingnya, ketika mereka melihat di kejauhan sebuah gapura besar berdiri megah seperti raksasa yang menjaga bumi sesembahannya.

"Gapura Majapahit," ujar Ki Gede Bajra Seta penuh kebanggaan hati memandang gapura gerbang batas Kotaraja Majapahit yang sudah semakin dekat itu.

"Lihatlah pura indah di atas puncak bukit, itulah istana tempat Baginda Raja Sanggrama Wijaya," kata Patih Mahesa Amping. Ia berbicara penuh kebanggaan, seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya hadir saat pembangunan awal, membabat hutan Maja untuk membangun sebuah hunian baru bagi dunia baru; sebuah kerajaan Siwa di bumi raya.

Demikianlah, ketujuh ksatria itu telah melewati gapura gerbang batas kotaraja dan terus berjalan menyusuri pemukiman yang masih dipenuhi pohon-pohon besar di kiri kanan jalan.

"Perancang pemukiman ini pastinya adalah seorang yang punya nilai seni tinggi dan berotak cemerlang," puji Ki Gede Bajra Seta melihat penataan jalan yang asri dengan membiarkan pohon-pohon besar hutan tetap tumbuh.

"Ki Sandikala yang merancang semua ini, juga pura istana tempat Baginda Raja Sanggrama Wijaya," jawab Patih Mahesa Amping.

Jalan yang teduh itu telah membawa ketujuh ksatria berkuda ke depan pintu gerbang istana Majapahit. Gajahmada langsung membawa rombongannya ke pasanggrahannya sendiri untuk beristirahat. Ia juga mengutus salah seorang bawahannya di pasukan Bhayangkara untuk menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya guna menyampaikan berita kedatangan mereka.

Bukan main gembiranya Baginda Raja Sanggrama Wijaya mendapat kabar tentang kedatangan Ki Gede Bajra Seta serta Patih Mahesa Amping.

"Katakan bahwa aku ingin segera bertemu dengan mereka," titah Baginda Raja kepada utusan itu.

Prajurit Bhayangkara itu pun segera berjalan menuju pura pasanggrahan Gajahmada untuk menyampaikan pesan Baginda Raja.

"Segera kami akan datang menghadap," jawab Gajahmada kepada prajurit itu.

Setelah beristirahat secukupnya, Gajahmada membawa Ki Gede Bajra Seta, Patih Mahesa Amping, dan rombongannya menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Saat memasuki halaman pasanggrahan, ternyata penguasa agung bumi Majapahit itu telah menunggu di Pendapa Agung. Dua orang prajurit pengawal mengernyitkan kening karena heran melihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya langsung berdiri menyambut kedatangan para tamunya. Nampaknya, kegembiraan hatinya melihat Ki Gede Bajra Seta beserta orang-orang dari Padepokan Bajra Seta membuat ia melupakan tata krama yang biasa berlaku bagi seorang raja agung saat menerima tamu.

"Sebuah karunia agung memenuhi istana ini dengan kedatangan Paman Guru," ujar Baginda Raja Sanggrama Wijaya penuh sukacita menyambut Ki Gede Bajra Seta.

"Lama kita tidak berjumpa, wahai saudaraku," sapa Baginda Raja kepada Patih Mahesa Amping, Mahesa Semu, dan Paman Muntilan.

"Pasti kalian sudah menjadi pemuda yang tangguh," sapa Baginda Raja kepada Adityawarman dan Mahesa Dharma.

Setelah duduk dan bercerita tentang keselamatan masing-masing, Baginda Raja Sanggrama Wijaya meminta Patih Mahesa Amping menceritakan peristiwa di Hutan Kemiri.

"Aku telah mendengar dari utusan Padepokan Bajra Seta tentang peristiwa di Hutan Kemiri, namun aku ingin mendengar langsung cerita itu darimu sendiri, wahai saudaraku," pinta Baginda Raja.

Maka berceritalah Patih Mahesa Amping dari awal peristiwa di Hutan Kemiri hingga diselamatkan oleh Ki Gede Bajra Seta.

"Kakang Mahesa Murti datang di saat yang tepat," ujar Patih Mahesa Amping.

"Gelang batu aji milikku itu hanyalah sebuah perantara. Nyawa kita adalah milik Gusti Yang Maha Agung," tambah Ki Gede Bajra Seta.

"Kejadian di Hutan Kemiri itu telah membukakan mata hatiku bahwa istana ini telah disusupi oleh musuh yang hendak menghancurkan cita-cita perjuangan kita," kata Baginda Raja sambil melirik ke arah Gajahmada, berharap anak muda itu tidak bercerita kepada Patih Mahesa Amping tentang rasa bersalahnya dalam mengambil kebijakan saat peristiwa tersebut.

Nampaknya Gajahmada dapat membaca arti pandangan mata Baginda Raja. Dengan sedikit senyum, Gajahmada menggelengkan kepalanya tanpa diketahui oleh siapa pun, seakan menyampaikan kepada Baginda Raja bahwa rahasia itu masih tertutup rapat.

"Salah satunya telah dapat kami tangkap, seorang kepercayaanku sendiri yang bernama Tumenggung Lembu Weleng," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya. "Hingga saat ini, aku belum dapat menemukan seseorang yang tepat untuk menggantikan kedudukannya membawahi pasukan khusus, para prajurit telik sandi."

"Perlu seseorang yang tepat untuk jabatan istimewa itu, seseorang yang dapat dipercaya kesetiaannya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment