Chapter 16
Aku memang tengah mencari kerja, sangat senang sekali bekerja membantumu, Paman, berkata Gajahmada. Siapa namamu? bertanya orang tua itu. Gajahmada, berkata Gajahmada. Orang-orang memanggilku Rudita, berkata orang tua itu. Bukan main gembiranya orang tua itu merasa bahwa Gajahmada memang sengaja diturunkan dari langit oleh dewa keberuntungan.
Demikianlah, sejak hari itu Gajahmada telah bekerja membantu tukang pandai besi itu. Bukan main senangnya hati orang tua itu mendapatkan seorang pembantu yang sangat rajin seperti Gajahmada itu. Banyak yang harus dikerjakan oleh Gajahmada sebagai seorang pembantu pandai besi, mulai dari menjaga perapian, kadang membantu ikut menempa besi untuk dijadikan sebuah mata tombak.
Beristirahatlah, hari sudah malam, berkata pandai besi itu yang bernama Rudita di hari kedua. Sedikit lagi Paman Rudita, bukankah besok pesanan ini harus sudah selesai? berkata Gajahmada kepada orang tua pandai besi itu. Terlihat orang yang dipanggil Paman Rudita itu tidak jadi memaksa Gajahmada untuk berhenti bekerja, memang bahwa hanya tinggal satu hari ini saja janjinya menyelesaikan barang pesanan seribu mata tombak itu.
Sementara kerja Gajahmada pada malam itu hanya menghaluskan mata tombak, tidak perlu banyak tenaga, hanya sedikit kesabaran dan ketelatenan. Demikianlah, pada keesokan harinya terlihat sebuah pedati yang dikendarai oleh seorang prajurit Kadipaten. Bersamanya ikut dua anak muda yang dua hari yang lalu pernah datang ke tempat pandai besi itu, tidak lain dua anak muda itu adalah para putra Adipati Ranggalawe, Siralawe dan adiknya Buntarlawe.
Terlihat Gajahmada ikut membantu Paman Rudita memuat pedati dengan seribu mata tombak. Ketika memasukkan barang pesanan itu, Gajahmada melihat ada banyak ragam jenis senjata telah dimuat di dalam pedati itu, nampaknya barang pesanan lain di tempat pandai besi lainnya. Pedati itu ditarik oleh seekor kuda terlihat telah keluar dari pasar Kadipaten Tuban.
Diam-diam Gajahmada telah mengikutinya dari jarak yang cukup jauh. Namun Gajahmada merasa heran bahwa pedati itu tidak menuju ke arah luar Kadipaten Tuban, tapi berputar arah di sebuah jalan yang menurun. Bukan main terkejutnya Gajahmada ketika melihat dari jauh bahwa pedati itu berhenti di depan sebuah goa yang cukup besar yang terhalang banyak pohon Abar di sana.
Berendap-endap Gajahmada mencoba mendekati goa itu. Lama Gajahmada menunggu, melihat beberapa prajurit Tuban keluar dari dalam goa membantu membawa berbagai barang dari dalam pedati. Mungkinkah para prajurit Tuban saat ini telah berpindah ke goa ini? bertanya Gajahmada dalam hati.
Akhirnya Gajahmada telah melihat pedati itu bergerak kembali meninggalkan goa. Suasana di depan goa itu kembali menjadi sepi, tidak ada seorang pun prajurit yang berdiri berjaga di depan muka goa. Kembali Gajahmada berendap-endap muka goa yang tidak terjaga itu.
Bukan main terkejutnya Gajahmada manakala telah berada masuk sedikit dari muka goa itu, ternyata goa itu cukup luas. Ternyata para prajurit Tuban telah berpindah tinggal di goa ini, berkata Gajahmada dalam hati telah melihat sekitar dua ribu prajurit tengah berlatih di sebuah ruang goa yang cukup luas dan tersembunyi dari keramaian itu.
Demikianlah, Gajahmada kembali keluar goa yang tidak terjaga itu. Paman Adipati Ranggalawe ternyata seorang yang sangat cerdik, telah menyiapkan sebuah pasukan besar yang akan keluar di malam hari mengganyang siapapun yang datang menguasai istana Kadipaten yang sengaja dikosongkan itu, berkata Gajahmada dalam mencoba membaca siasat perang yang tengah disiapkan oleh Adipati Ranggalawe.
Langkah kaki Gajahmada akhirnya telah membawanya kembali ke tempat tukang pandai Besi. Kukira kamu tidak akan datang kembali, berkata Paman Rudita kepada Gajahmada. Tadi aku tidak sempat ijin, seorang kerabatku menarikku mengajak makan di kedai yang berada di ujung seberang pasar, berkata Gajahmada berbohong.
Hari ini kita beristirahat, belum ada pesanan lain yang harus kita kerjakan, berkata paman Rudita. Sepertinya Gajahmada sangat kebetulan sekali, berkata Gajahmada. Apanya yang sangat kebetulan? berkata paman Rudita sambil mengerutkan keningnya. Aku minta ijin dua hari ini untuk mengunjungi seorang kerabat di Kademangan Montong, berkata Gajahmada sambil tersenyum.
Aku curiga, jangan-jangan kerabatmu itu punya seorang kemenakan gadis manis, berkata Paman Rudita menggoda. Terlihat Gajahmada hanya tersenyum tidak menanggapi celoteh Paman Rudita yang sudah menjadi sangat akrab itu. Demikianlah, ketika matahari terlihat bergeser sedikit dari puncaknya, Gajahmada telah berjalan berputar-putar sekitar jalan Kadipaten Tuban, mencoba mengamati lebih seksama suasana sekitarnya.
Melihat-lihat beberapa tempat sekitar Kadipaten Tuban. Tempat yang indah, berkata Gajahmada dalam hati manakala telah mendaki sebuah perbukitan karang dan menatap lautan biru sejauh mata memandang. Kota seribu goa, berkata Gajahmada dalam hati menamai Kadipaten Tuban sebagai sebuah daerah yang memiliki begitu banyak goa di perbukitan yang dilaluinya.
Sementara itu matahari telah semakin rebah di cakrawala biru, cahayanya sudah menjadi teduh memayungi langkah kaki Gajahmada yang berjalan ke arah tenggelamnya sang surya, pemilik sumber kehidupan di bumi. Nampaknya Gajahmada tengah menyusuri jalan darimana dia datang, menyusuri perbukitan, pegunungan dan lembah hijau, menyusuri jalan perbincangan bathin di dalam dirinya di dalam kesepian dan kesunyian diri di perjalanan siang dan malamnya seorang diri.
Arah langkah kaki pemuda ini ternyata telah membawanya ke sebuah tempat yang selalu saja membayanginya seperti suara bisikan kerinduan yang selalu hadir dalam mimpi malamnya. Suara bisikan kerinduan dalam tembang petikan suara kecapi. Arah langkah kaki Gajahmada tengah menuju sebuah tempat yang jauh dari keramaian, sebuah tempat yang terpencil, sebuah Padepokan yang berada di bawah sebuah sungai yang berhulu dari sumber air terjun Nglirip.
Disanalah arah langkah kaki Gajahmada tengah menapakinya. Manakala sang fajar mulai terbangun menyingkap tirai kegelapan malam, terlihat Gajahmada sudah berada di tepian sebuah sungai bening berbatu. Suara deru gemuruh air terjun terdengar semakin jelas seperti suara genderang menabuh riuh mengisi dada dan suasana hati Gajahmada.
Selamat datang wahai ksatria Majapahit, berkata Nyi Ajeng Nglirip menyambut kedatangan Gajahmada di padepokannya. Terlihat seorang wanita bermata indah ikut menyambut kedatangan Gajahmada. Kukira Kakang Gajahmada tidak akan singgah di Padepokan ini, berkata wanita itu yang ternyata adalah Andini.
Aku rindu suara deru gemuruh air terjun Nglirip, berkata Gajahmada sambil tersenyum. Setelah menyampaikan berita keselamatan masing-masing, Gajahmada bercerita banyak tentang perjalanannya di Kadipaten Tuban. Ternyata Adipati Ranggalawe telah menyiapkan dirinya untuk memisahkan diri dari Majapahit, berkata Nyi Ajeng Nglirip setelah mendengar cerita Gajahmada.
Sementara itu Andini pamit diri untuk menyiapkan makanan ke belakang. Gajahmada, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada Gajahmada manakala Andini sudah masuk menghilang di balik pintu pringgitan. Adakah Gusti Kanjeng Ratu akan sampaikan? berkata Gajahmada memanggil Nyi Ajeng Nglirip sebagaimana panggilannya di istana.
Saat ini aku telah merasa telah menemukan tempat kediaman yang mapan, di Padepokan ini, berkata Nyi Ajeng Nglirip sambil menarik nafas panjang, nampaknya banyak kata-kata yang akan ditumpahkannya. Sudah saatnya aku menarik kembali Gajatri dan Wiyat kembali dalam bimbinganku sendiri, di Padepokan ini, berkata Nyi Ajeng Nglirip berhenti sebentar sambil menarik nafas panjang.
Tanyakanlah kepada Gajatri dan Wiyat, apakah mereka berkenan tinggal bersama ibundanya di Padepokan ini, berkata Nyi Ajeng Nglirip kepada Gajahmada dengan wajah penuh pengharapan seorang ibu yang merindukan dua orang putrinya yang hidup terpisah jauh. Pesan dan permintaan Gusti Kanjeng Ratu Gayatri akan hamba sampaikan, berkata Gajahmada dengan penuh penghormatan.
Aku berharap semoga kamu sendiri yang akan mengantar mereka berdua ke Padepokan ini, tentunya bilamana mereka berkenan menerima permintaan ibundanya ini, berkata kembali Nyi Ajeng Nglirip. Sementara itu pembicaraan mereka terhenti manakala pintu pringgitan terbuka lebar, ternyata Andini datang membawa makanan dan minuman untuk mereka.
Masakan bidadari dari air terjun Nglirip pasti sangat enak luar biasa, berkata Nyi Ajeng bercanda menawarkan Gajahmada memulai mengambil makanan yang telah disediakan itu. Demikianlah, mereka bertiga terlihat tengah menikmati hidangan di atas pendapa Padepokan diiringi deru gemuruh air terjun Nglirip dan kicau berbagai ragam burung di hutan hijau yang mengitari padepokan kecil itu.
Tidak ada kegiatan apapun dari Gajahmada di hari itu selain berjalan berkeliling padepokan melihat beberapa cantrik tengah merawat tanaman obat. Nampaknya Nyi Ajeng Nglirip telah mewarisi ilmu pengobatan yang didapat dari ayahandanya sendiri, Raja Kertanegara.
Malam bergayut sepi, bulan pudar tertutup awan gelap di atas padepokan kecil di tepi sebuah sungai dari aliran air terjun Nglirip. Dua hati di bawah atap yang sama, dua hati dipenuhi kerinduan yang sama. Gajahmada telah berada di biliknya menatap langit-langit berharap malam tertunda.
Sementara Andini di biliknya terlihat sudah tertidur dalam senyum rebah bersandar dua tangan, temaram pelita malam menerangi kuning wajah putihnya. Sementara malam terus berlalu menebar sepi, menjerat kegelisahan seekor anjing hutan jantan untuk melolong panjang memanggil sang betina yang jauh tengah mengais sisa sepotong tulang bangkai seekor anak kijang yang tersesat.
Sementara malam terus berlalu menebar sepi, menjerat dingin sekelompok anak burung manyar di sarangnya yang gelisah menunggu pagi datang membawa kehangatan.