Chapter 154
Tidak seperti di siang hari, mereka mengamati situasi secara terbuka, menyamar sebagai para pedagang tikar. Sementara itu, di malam hari mereka harus menyusup dan menyelinap di kegelapan untuk mengamati seluruh penjagaan di Kotaraja Majapahit.
Akhirnya, manakala mereka merasa cukup menjelajahi hampir seluruh Kotaraja, mereka memutuskan untuk kembali ke kedai Ki Bancak.
"Bagaimana keadaan dan suasana penjagaan Kotaraja Majapahit di malam hari?" bertanya Ki Bancak kepada Gajah Mada dan kawan-kawannya yang baru kembali itu.
"Tidak banyak perbedaan dari tempat dan jumlah mereka," berkata Gajah Mada kepada Ki Bancak.
"Perlu beberapa hari untuk mengamati sebuah situasi agar kita yakin akan kepastiannya," berkata Ki Bancak.
"Benar, Ki Bancak, kami memang perlu dua hingga tiga hari sebelum memutuskan hasil pengamatan kami," berkata Gajah Mada.
"Aku akan membantu kalian mengamati keadaan pada siang hari, siapa yang peduli dengan wajah tuaku ini?" berkata Ki Bancak sambil tersenyum.
Demikianlah, tiga hari Gajah Mada dan kawan-kawannya melakukan pengamatan situasi Kotaraja Majapahit. Bahkan, Gajah Mada seorang diri masih sempat mengamati situasi Istana Majapahit, tentunya karena kemampuan ilmunya yang sudah sangat tinggi sehingga dapat begitu mudah menyelinap dan bergerak tanpa terlihat oleh siapa pun.
Sementara itu, Ki Lurah Sanakeling telah kembali ke benteng di Tanah Ujung Galuh dan meyakinkan para pejabat Rangga di sana bahwa Tumenggung Jala Yudha masih hidup, aman, dan tidak tengah di bawah tekanan siapa pun.
Sesuai dengan janjinya, Ki Lurah Sanakeling memang tidak membocorkan di mana letak pengasingan Tumenggung Jala Yudha itu.
Pagi itu, Gajah Mada bersama tiga orang kawannya tengah berpamit diri dengan Ki Bancak untuk kembali ke Kabuyutan Bebander.
"Kutitipkan semua barang dagangan kami kepadamu, wahai Ki Bancak," berkata Gajah Mada kepada Ki Bancak.
"Artinya, aku bebas menjual dengan harga yang lebih tinggi," berkata Ki Bancak sambil tersenyum. "Sampai bertemu lagi, wahai prajurit tua," berkata Gajah Mada sambil melambaikan tangannya setelah dua-tiga langkah berjalan meninggalkan kedai Ki Bancak.
"Jaga kepala kalian agar masih dapat menikmati nasi serundengku," berkata Ki Bancak membalas lambaian tangan Gajah Mada dan kawan-kawannya itu.
Terlihat Gajah Mada dan ketiga kawannya itu sudah semakin jauh meninggalkan pasar Kotaraja Majapahit.
Di jalan-jalan utama mereka masih melihat banyak prajurit yang tetap berjaga-jaga.
Sementara Kotaraja Majapahit yang ramai itu terlihat seperti sebuah kota tambang yang telah ditinggalkan para penambangnya. Kota itu menjadi begitu sepi karena para warganya merasa tidak nyaman berada di luar rumah mereka. Masih ada rasa takut melihat sikap para prajurit yang kurang bersahabat, bahkan ada beberapa prajurit yang memanfaatkan suasana dan keadaan, melakukan berbagai tindakan yang tidak manusiawi dan merugikan para warga Kotaraja Majapahit.
Namun, di sebuah sudut jalan, Gajah Mada dan ketiga kawannya, perasaan mereka berdebar-debar manakala salah seorang prajurit memanggil mereka untuk mendekat.
Dengan menguatkan hati, mereka berempat terlihat mendekati seorang prajurit yang memanggil mereka, di bawah tatapan mata beberapa prajurit yang tengah berkumpul.
"Bukankah kalian pedagang anyaman tikar?" berkata seorang prajurit ketika mereka berempat datang mendekat.
"Benar, kami pedagang anyaman tikar di Pasar Kotaraja," berkata Gajah Mada tanpa membuka caping lebarnya.
"Pasti kalian dapat untung besar, tampaknya barang dagangan kalian sudah habis terjual," berkata prajurit itu.
"Pasar Kotaraja tiga hari ini begitu sepi, tak satu pun barang kami yang terjual," berkata Gajah Mada dengan suara yang sangat memelas.
"Kami menjaminkan barang dagangan kami kepada seorang pemilik kedai untuk biaya makan dan tumpangan selama tiga hari," berkata kawan Gajah Mada menambahkan.
"Dari mana asal kalian?" bertanya prajurit itu, mulai merasa kasihan.
"Dari Padukuhan Pandan Pudak," berkata Gajah Mada mengambil alih jawaban, takut ketiga kawannya salah menyebut sebuah nama tempat.
"Lanjutkan perjalanan kalian, aku hanya ingin memastikan bahwa kalian benar dari Padukuhan Pandan Pudak, tempat asal kakak iparku. Aku tahu sebagian warganya adalah penganyam tikar," berkata prajurit itu, sikapnya berubah begitu ramah.
Mendengar ucapan prajurit itu, terlihat Gajah Mada menarik napas lega, merasa beruntung pernah menyambangi Padukuhan Pandan Pudak yang memang sebagian besar warganya adalah penganyam tikar, sebagaimana dikatakan oleh prajurit itu.
"Permisi, kami akan melanjutkan perjalanan kembali," berkata Gajah Mada sambil membungkuk penuh hormat kepada prajurit itu, juga kepada para prajurit lainnya.
Demikianlah, Gajah Mada dan ketiga kawannya telah melanjutkan perjalanan mereka kembali setelah tertahan oleh seorang prajurit yang hanya sekadar bertanya itu.
Hingga akhirnya Gajah Mada dan ketiga kawannya telah mendekati gerbang gapura sebelah barat Kotaraja Majapahit.
Ketika melewati gerbang gapura sebelah barat itu, terlihat mereka berhenti sebentar hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikuti perjalanan mereka.
Sementara itu, mentari pagi di belakang punggung mereka begitu hangat menyebarkan cahayanya, memberi warna keindahan alami untaian bunga ilalang yang tengah mekar. Beberapa juntai terlihat terbang seperti kapas tertiup angin, bertebaran mencari kehidupan baru.
"Baginda Raja Sanggrama Wijaya banyak belajar dari tanaman ilalang ini ketika awal membangun dasar kerajaannya. Sederhana, selalu bersama dan tumbuh menyebar di tanah kering dan basah," berkata Gajah Mada dalam hati.
"Orang-orang yang saat ini masih setia di Kabuyutan Bebander adalah ilalang kehidupan yang terus bertahan di tengah kekerasan alam, tiada yang dapat menghalangi untuk terus melanjutkan kehidupannya," berkata Gajah Mada kembali dalam hati, seperti tengah menikmati perjalanannya, memandang untaian bunga ilalang yang bertebaran terbang tertiup angin, mengiringi setiap jejak langkah kakinya.
Gajah Mada dan ketiga kawannya terlihat sudah berada di jalur menuju arah Kabuyutan Bebander, sebuah jalan berbatu yang sangat jarang dilintasi para pedagang.
Karena para pedagang saat itu lebih condong bergerak ke arah utara dan selatan Kotaraja Majapahit yang terus berkembang.
Sepanjang perjalanan mereka menuju Kabuyutan Bebander tidak menemui hambatan yang berarti. Namun, mereka tetap menjaga kewaspadaan, selalu memastikan bahwa perjalanan mereka itu tidak ada yang mengikuti.
Hingga ketika mereka menemui sebuah pertigaan jalan, mereka sengaja membuat kecohan dengan mengambil jalan yang salah.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, mereka pun mengambil arah melingkar, sehingga mereka datang ke Kabuyutan Bebander dari arah belakang.
Matahari terlihat sudah jauh condong ke barat. Gajah Mada dan ketiga kawannya itu telah tiba di Kabuyutan Bebander.
"Senang melihatmu kembali, wahai anak muda," berkata Raja Jayanagara menyambut kedatangan Gajah Mada di pendapa rumah Ki Buyut Bebander.
Setelah membersihkan diri di pakiwan, terlihat Gajah Mada telah langsung bergabung di panggung pendapa Ki Buyut Bebander, di mana saat itu terlihat beberapa orang memang tengah menunggunya.
Di atas panggung pendapa itu, terlihat Gajah Mada dengan sangat rinci menyampaikan hasil pengamatannya tentang situasi di Kotaraja Majapahit dan Istana.
"Kamu benar-benar telah melaksanakan tugasmu dengan sangat baik, wahai Gajah Mada," berkata Tumenggung Mahesa Semu setelah mendengar semua rincian pengamatan Gajah Mada dan kawan-kawannya itu.
"Mudah-mudahan tidak ada yang terlepas dari pengamatan kami," berkata Gajah Mada kepada Tumenggung Mahesa Semu yang telah mendapat restu dari Raja Jayanagara untuk menjadi pimpinan pergerakan merebut kembali Istana dan Kotaraja Majapahit itu.
"Pengamatan kalian sudah lebih dari mencukupi," berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Gajah Mada.
Demikianlah, di atas panggung pendapa itu, Tumenggung Mahesa Semu langsung menyusun rencana penyerangan mereka.
Ternyata, Tumenggung Mahesa Semu seorang penyusun siasat perang yang sangat hebat.
"Kita bergerak di malam hari. Pasukan gabungan yang terdiri dari para prajurit Srikandi, pasukan Bhayangkara, dan petugas telik sandi bertugas sebagai pasukan pembuka, mengamankan jalan-jalan Kotaraja, sebagai jembatan pembuka gerbang bagi kesatuan pasukan Jala Yudha memasuki Istana," berkata Tumenggung Mahesa Semu menyusun rencana penyerangan mereka di Kotaraja Majapahit.
Sambil berkata, Tumenggung Mahesa Semu menyapu pandangannya ke semua orang yang hadir di panggung pendapa Ki Buyut Bebander itu. Ternyata, tidak seorang pun menyanggah usulan rencana penyerangannya itu.
"Untuk pasukan pembuka, kupercayakan kepada Adityawarman yang akan menjadi pimpinannya. Sementara untuk pasukan utama, kupercayakan kepada Gajah Mada yang akan menjadi pimpinannya," berkata Tumenggung Mahesa Semu sambil menyapu pandangannya berkeliling ke semua orang yang hadir di panggung pendapa itu, terhenti sebentar ketika beradu pandang dengan Tumenggung Jala Yudha dan mencoba membaca apa yang ada dalam pikirannya.
"Pertempuran yang akan kita hadapi ini akan menjadi sebuah peristiwa sejarah yang amat penting bagi kelangsungan hidup dan matinya Kerajaan Majapahit yang kita cintai ini. Sudah saatnya kita, para orang tua, memberikan kesempatan kepada orang-orang muda untuk tampil dan maju ke depan, menumbuhkan rasa kepercayaan diri kepada mereka, membangun citra dan harapan-harapan baru melalui tangan dan karya mereka sendiri. Sementara masih ada tugas yang amat penting bagi kita, para orang tua, yang tidak kalah pentingnya, menjaga dan melindungi Raja Jayanagara di Kabuyutan Bebander ini," berkata Tumenggung Mahesa Semu kembali menyapu pandangannya kepada semua orang yang hadir di panggung pendapa rumah kediaman Ki Buyut Bebander itu.