Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 214

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 214

"Dari pengamatan kami berdua, tampaknya mereka bukan hanya tidak lagi mengakui kekuasaan Majapahit, bahkan ada rencana penggalangan kekuatan untuk melakukan penyerangan," kata Arya Damar.

"Bila memang demikian, kita harus mendahuluinya sebelum kekuatan mereka tumbuh," kata Mahapatih Arya Tadah.

"Apakah tidak ada jalan lain selain peperangan, wahai Pamanda?" tanya Patih Gajah Mada.

Mendengar pertanyaan Patih Gajah Mada, tampak Mahapatih Arya Tadah terdiam sejenak.

"Sebenarnya aku paling tidak setuju dengan peperangan. Namun, untuk menghadapi sikap pemberontakan Raja Bali, dengan sangat terpaksa kita mengambil jalan yang paling menyakitkan ini. Hal ini kita lakukan agar menjadi pelajaran bagi daerah lainnya di belahan bumi Majapahit ini," kata Mahapatih Arya Tadah mengutarakan pemikirannya.

"Pemikiran Pamanda dapat kami pahami," kata Patih Gajah Mada.

"Kupercayakan kalian berdua sebagai senopati. Berapa prajurit yang kalian butuhkan?" tanya Mahapatih Arya Tadah.

"Terima kasih atas kepercayaan Pamanda kepada kami berdua," kata Patih Gajah Mada.

"Kami berdua telah melakukan pengamatan dengan saksama. Kami berdua telah menemukan cara terbaik untuk menaklukkan Kerajaan Bali, yaitu menyerang secara serempak dari tiga arah: utara, selatan, dan timur. Untuk itu, kami membutuhkan sekitar tiga puluh ribu prajurit," kata Arya Damar menyampaikan rencana penaklukan Kerajaan Bali itu.

"Lebih cepat lebih baik. Kapan kalian siap membawa pasukan Majapahit ke Balidwipa?" tanya Mahapatih Arya Tadah kepada kedua pemuda itu.

"Dengan restu Pamanda, mulai besok kami akan menyiapkan pasukan itu. Bila tidak ada halangan, bulan depan kami sudah siap memberangkatkannya," kata Arya Damar.

"Aku percaya pada kemampuan kalian berdua, dan restuku mengiringi kalian," kata Mahapatih Arya Tadah.

Demikianlah, setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan oleh mereka bertiga, Patih Gajah Mada dan Arya Damar berpamitan di hadapan Mahapatih Arya Tadah.

Tidak lama berselang, tampak keduanya sudah keluar dari Bale Kepatihan.

"Nanti malam aku akan berkunjung ke pesanggrahanmu di Tanah Ujung Galuh," kata Arya Damar di persimpangan sebuah lorong di dalam istana.

"Mengapa tidak sekarang saja kita berdua ke Tanah Ujung Galuh?" tanya Patih Gajah Mada.

"Aku belum meminta izin kepada Mahapatih Arya Tadah. Aku takut orang tua itu bertanya-tanya mengapa aku tidak pulang ke puri pesanggrahan," kata Arya Damar, yang memang selama di Kotaraja Majapahit tinggal bersama Mahapatih Arya Tadah di puri pesanggrahan di dalam istana.

"Bila memang demikian, aku akan menunggumu di Tanah Ujung Galuh," kata Patih Gajah Mada.

Demikianlah, kedua pemuda itu tampak berpisah jalan di sebuah persimpangan lorong istana.

Tampak Patih Gajah Mada mengambil arah jalan keluar dari Istana Majapahit.

Tidak lama berselang, terlihat Patih Gajah Mada berjalan seorang diri keluar dari Istana Majapahit.

Senja yang sunyi mewarnai suasana jalan Kotaraja Majapahit.

Beberapa orang masih terlihat di jalan utama Kotaraja, meski tidak seramai siang hari tadi.

"Di mana kawan Tuan?" tanya tukang rakit kepada Patih Gajah Mada yang telah berada di tepian Sungai Kalimas.

"Nanti malam kawanku akan datang menyusul," kata Patih Gajah Mada kepada pemilik rakit itu.

"Bila memang demikian, aku tidak pulang sore ini. Kasihan jika kawan Tuan tidak mendapatkan rakit untuk menyeberangkannya," kata tukang rakit itu kepada Patih Gajah Mada.

"Aku akan sangat berterima kasih sekali. Tunggulah kawanku itu," kata Patih Gajah Mada.

Ternyata Arya Damar menepati janjinya untuk datang ke Tanah Ujung Galuh.

Tampak pemuda itu muncul menjelang *wayah sepi uwong*.

Tampak Ki Sahdatun ikut menemani kedua pemuda itu di pendapa Pesanggrahan Tanah Ujung Galuh.

Patih Gajah Mada dan Arya Damar benar-benar layaknya senopati agung yang tengah merancang sebuah penyerangan besar.

"Aku akan menjadi mata kalian yang datang dari arah utara dan selatan. Aku akan menunggu pasukan kalian mendekati Kotaraja Bali bersama pasukanku di sebelah timur Kotaraja Bali," kata Patih Gajah Mada kepada Arya Damar.

"Berapa jumlah pasukan yang kamu butuhkan?" tanya Arya Damar.

"Aku akan membawa pasukanku sendiri yang pernah membantuku ketika menaklukkan pasukan Ki Sadeng," kata Patih Gajah Mada.

"Orang-orang dari Padepokan Bajra Seta dan Perguruan Teratai Putih?" tanya Arya Damar kepada Patih Gajah Mada.

"Benar, aku tidak memerlukan pasukan besar. Yang kubutuhkan adalah tingkat kemampuan mereka yang berada di atas rata-rata orang biasa," kata Patih Gajah Mada menjawab pertanyaan Arya Damar.

"Mengapa kalian tidak bertanya kepadaku, apa yang akan kulakukan terhadap pasukan kalian seandainya aku ini seorang senopati dari Kerajaan Bali?" tanya Ki Sahdatun sambil tersenyum kepada kedua pemuda itu.

"Apa yang akan Ki Sahdatun lakukan?" tanya Patih Gajah Mada, sangat tertarik dengan perkataan Ki Sahdatun.

"Aku tidak akan menunggu pasukan kalian di Kotaraja Bali, melainkan mendatangi pasukan kalian di pantai utara dan selatan Balidwipa. Pasukan kami akan melakukan serangan-serangan tak terduga karena kami dapat membaur dengan orang biasa sebagai tameng hidup. Kami juga dapat menyergap pasukan kalian di hutan yang lebih kami kenali dibandingkan dengan kalian," kata Ki Sahdatun.

"Terima kasih, Ki Sahdatun telah membuka mata hati kami bahwa prajurit Bali bukanlah benda mati yang tidak memiliki akal dan muslihat. Kami akan lebih berhati-hati lagi," kata Arya Damar menanggapi perkataan Ki Sahdatun.

"Medan pertempuran yang akan kalian hadapi lebih luas dan sangat rumit dibandingkan dengan peperangan kalian menghadapi sekumpulan pemberontak sebagaimana kelompok Ki Sadeng. Sebab, yang kalian hadapi di Balidwipa bukan hanya prajurit Kerajaan Bali, melainkan rakyat Bali sendiri yang memiliki kecintaan dan kebanggaan pada tanah kelahirannya," kata Ki Sahdatun sambil memandang wajah kedua pemuda itu.

Mendengar perkataan Ki Sahdatun, kedua pemuda itu terpana dan terhanyut dalam bayangan perlawanan seluruh rakyat Bali yang mengangkat senjata.

"Kita akan menghadapi kekuatan dan perlawanan yang sangat besar," kata Patih Gajah Mada menyampaikan apa yang ada di dalam benak dan pikirannya.

"Tiga puluh ribu prajurit Majapahit, bahkan dua kali lipatnya, akan hancur binasa bila dihadapkan pada perlawanan seluruh rakyat Bali yang memiliki rasa cinta dan bela tanah air," tambah Arya Damar.

"Aku melihat kalian berdua seperti pelaut pemula yang baru melihat badai di tengah lautan. Sementara itu, seorang pelaut tua menghadapinya sebagai candaan alam; perlawanannya tidak akan surut menghadapi gelombang badai. Yang ada dalam pikirannya hanyalah membuat keputusan untuk bertahan atau mati tanpa berbuat apa-apa," kata Ki Sahdatun sambil memandang wajah kedua pemuda itu dengan tersenyum.

"Apa yang ada di dalam pikiran Ki Sahdatun untuk menghadapi perang kami ini?" tanya Patih Gajah Mada yang merasa yakin bahwa ada sebuah gagasan di kepala Ki Sahdatun.

"Peperangan tidak selalu menggunakan senjata tajam. Terkadang, kita harus berperang dengan pencitraan," kata Ki Sahdatun.

"Perang pencitraan?" tanya Arya Damar, belum dapat menangkap maksud dan arah perkataan Ki Sahdatun.

"Sebelum kita turun dengan pasukan besar ke bumi Balidwipa, kita harus sudah dapat meyakinkan rakyat Bali bahwa perang ini bukan perang mereka, melainkan hanya peperangan antara dua raja yang berselisih," kata Ki Sahdatun mencoba menyampaikan jalan pikirannya.

"Aku setuju dengan pemikiran Ki Sahdatun. Namun, siapa gerangan yang dapat meredam rakyat Bali dan menyampaikan buah pikiran bahwa peperangan ini bukanlah peperangan mereka?" tanya Patih Gajah Mada.

"Yang pasti adalah orang Bali sendiri, seseorang yang selalu didengar setiap perkataannya," kata Ki Sahdatun.

"Adakah seseorang yang begitu didengar semua perkataannya selain raja di Balidwipa?" tanya Arya Damar.

Tampak Ki Sahdatun tidak langsung menjawab perkataan Arya Damar, melainkan hanya mengulum senyum di bibirnya.

"Aku mengenal seorang pendeta suci di Balidwipa bernama Empu Batukaru. Beliau adalah salah satu anggota persekutuan Pura Padma Bhuwana di Balidwipa. Semoga Empu Batukaru dapat menerima dan mendengar perkataanku untuk meredam semua orang di Balidwipa agar tidak ikut berperang menghadapi pasukan Majapahit. Semoga saja Empu Batukaru dapat memengaruhi pikiran kedelapan pendeta suci lainnya," kata Ki Sahdatun.

"Aku sangat setuju dengan langkah yang Ki Sahdatun tempuh. Setidaknya, itu akan mengurangi jumlah orang dalam peperangan ini," kata Patih Gajah Mada menyetujui langkah yang diambil oleh Ki Sahdatun.

"Kapan Ki Sahdatun berangkat ke Balidwipa menemui Empu Batukaru?" tanya Arya Damar.

"Aku akan pergi ke Balidwipa mendahului pasukan kalian. Besok siang aku akan bersiap diri melakukan perjalanan ke Balidwipa. Bukankah lebih cepat, lebih baik?" kata Ki Sahdatun.

"Kami akan melakukan persiapan selama sebulan penuh. Semoga Ki Sahdatun dapat memengaruhi pikiran para pendeta suci di sana, para pimpinan Pura Padma Bhuwana di Balidwipa," kata Arya Damar.

"Aku berharap kesembilan pendeta suci anggota Pura Padma Bhuwana dapat bahu-membahu menyadarkan umatnya, menyelamatkan bumi Balidwipa dari sentuhan api peperangan yang akan terjadi," kata Ki Sahdatun.

"Semula aku ingin menemui orang-orang dari Padepokan Bajra Seta dan Perguruan Teratai Putih di tempat masing-masing..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment