Chapter 66
"Lama aku tidak bertandang ke Kotaraja Majapahit," kata Patih Mahesa Amping kepada Gajahmada karena ingin mendengar langsung darinya mengenai keadaan Kotaraja Majapahit saat itu.
Gajahmada dengan senang hati bercerita tentang perkembangan Kotaraja Majapahit yang didengar oleh semua orang di atas pendapa Padepokan Bajra Seta. Namun, Gajahmada tidak bercerita sedikit pun tentang tertangkapnya Tumenggung Lembu Weleng karena akan berujung pada terbongkarnya rahasia kesalahan Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk menghalangi penyergapan di Hutan Kemiri itu.
"Sampai kapan rahasia ini dapat kujaga?" kata Gajahmada dalam hatinya.
Perasaan Gajahmada berdebar-debar manakala mendengar perkataan Mahesa Semu yang ikut hadir di atas pendapa Padepokan Bajra Seta, yang menyangsikan pihak istana Majapahit atas peristiwa di Hutan Kemiri.
"Hutan Kemiri tidak begitu jauh dari Kotaraja Majapahit, ke mana para petugas telik sandi istana hingga tidak mengetahui ada sebuah gerakan di hutan Kemiri itu?" ujar Mahesa Semu menyampaikan rasa kesangsiannya.
Mendengar pertanyaan Mahesa Semu, semua mata di atas pendapa langsung bergerak ke arah Gajahmada. Tampaknya semua orang ingin mendengar bagaimana langkah istana menanggapi peristiwa di Hutan Kemiri itu. Terlihat Gajahmada tidak langsung memberikan jawaban; ia masih berusaha meredam debar perasaannya sendiri. Akhirnya, Gajahmada dapat menguasai dirinya serta apa yang akan disampaikannya kepada semua orang yang berada di pendapa itu.
"Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah menghukum pemimpin tertinggi prajurit telik sandinya sendiri atas kelalaian tersebut," kata Gajahmada sambil menarik napas panjang.
"Tampaknya Baginda Raja belum mendapatkan seorang pemimpin prajurit telik sandi yang dapat diandalkan," sahut Patih Mahesa Amping. "Bila bertemu dengan Baginda Raja, aku akan mengusulkan salah seorang di antara penghuni Padepokan Bajra Seta ini, dan kuyakini bahwa Baginda Raja Sanggrama Wijaya pasti setuju dengan usulanku."
Semua orang sepertinya telah sepakat dan mengetahui siapa gerangan salah seorang penghuni Padepokan Bajra Seta yang dimaksudkan oleh Patih Mahesa Amping. Terlihat hampir semua mata tertuju ke arah Mahesa Semu. Melihat semua orang memandang ke arahnya, Mahesa Semu pun tersenyum.
"Kurasa Paman Muntilan yang lebih patut ketimbang diriku ini," kata Mahesa Semu sambil menepuk pundak orang di sebelahnya, seseorang yang sudah lebih tua dari Ki Gede Bajra Seta, yang tidak lain adalah Paman Muntilan.
"Baginda Raja Sanggrama Wijaya sangat menghargai keikutsertaan para penghuni padepokan ini dalam perjuangannya merebut dan membangun kembali kerajaan leluhurnya ini. Usia Paman Muntilan sudah sangat tua dan Kakang Mahesa Murti sudah pasti tidak mengizinkannya. Menurutku, Kakang Mahesa Semu dapat diandalkan sekaligus dapat dipercaya kesetiaannya," kata Patih Mahesa Amping menyampaikan usul rencananya yang akan disampaikan langsung kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Sebuah usul yang baik, aku merestuinya," kata Ki Gede Bajra Seta dengan wajah berseri-seri.
Sementara itu, malam di atas Padepokan Bajra Seta terus berlalu bersama suara kesenyapan yang menyapa semua orang untuk masuk ke peraduannya. Hingga ketika pagi datang menjelang, wajah Nyi Gede Bajra Seta tampak menerawang jauh, menatap tujuh orang berkuda yang berjalan perlahan keluar melewati regol gerbang. Tampaknya perjalanan mereka kali ini menempuh jalur umum yang biasa dilewati oleh para pedagang.
Di jalan sepi yang lengang, ketujuh ksatria itu memacu kuda mereka. Debu jalan beterbangan di belakang kaki kuda, dipayungi lengkung langit pagi yang cerah. Tanah Perdikan Bajra Seta sudah jauh tak terlihat lagi di belakang langkah kaki kuda mereka, terhalang perbukitan hijau yang telah mereka lewati.
"Hendak ke mana gerangan para ksatria berkuda itu?" tanya seorang pedagang kepada kawannya di atas gerobak yang ditarik oleh seekor sapi besar saat mereka dilewati oleh Gajahmada dan rombongannya.
"Di depan sana ada jalan simpang menuju Kotaraja Kediri dan Kotaraja Singasari, kita tidak tahu arah mana yang akan mereka lewati," jawab kawannya.
"Aku mengenal beberapa pertanda keprajuritan, salah seorang di antara mereka kulihat memakai pertanda keprajuritan Majapahit," kata pedagang itu.
"Orang bilang Kotaraja Majapahit lebih ramai dibandingkan Kotaraja Singasari," sahut kawannya.
"Dua tahun yang lalu, aku pernah diajak oleh ayahku berdagang batu aji di Kotaraja Majapahit dan bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh," ujar pedagang itu.
"Berapa lama perjalanan menuju Kotaraja Majapahit?" tanya kawannya yang merasa ingin tahu.
"Bila kita mengambil arah ke timur dari jalan simpang di depan sana, biasanya dengan berkuda menjelang senja kita baru sampai di Kademangan Simpang. Selanjutnya kita mengambil arah ke utara. Biasanya dengan berkuda perlu waktu dua hari satu malam baru kita akan sampai di Kotaraja Majapahit," jelas pedagang itu.
Sementara itu, ketujuh ksatria berkuda telah jauh tak terlihat lagi. Mereka terus melarikan kuda di atas jalan tanah yang lengang. Hingga ketika hari menjelang siang dan matahari terasa terik, mereka berhenti di sebuah sungai kecil yang teduh dinaungi beberapa pohon besar yang rindang. Setelah beristirahat cukup dan kuda-kuda mereka terlihat segar kembali, ketujuh ksatria itu melanjutkan perjalanan mereka.
"Mereka adalah anak-anak muda para ksatria penjaga Majapahit di masa yang akan datang," kata Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta.
"Di pundak mereka kejayaan Majapahit ini akan terus terjaga dalam kemapanannya," jawab Ki Gede Bajra Seta.
Di bawah langit yang mulai teduh, para ksatria Majapahit dari dua generasi terus melarikan kuda mereka. Angin berhembus menyapu wajah dan rambut mereka, juga pakaian yang berkibar membelah angin.
"Hutan Kemiri," ujar Mahesa Amping sambil menunjuk ke sebuah hutan yang cukup lebat di depan mereka.
Matahari masih menggantung di barat ketika ketujuh ksatria itu mulai memasukinya. Mereka mulai memperlambat laju kuda masing-masing.
"Di tikungan itulah wanita jahat itu muncul berlari," kata Adityawarman sambil menunjuk ke arah sebuah tikungan di dalam Hutan Kemiri.
"Beri kami kesempatan waktu untuk melihat di beberapa tempat di hutan ini, siapa tahu masih ada satu dua orang yang belum meninggalkan tempat ini," kata Gajahmada yang langsung turun dari kudanya, diikuti oleh Mahesa Dharma.
Tidak lama berselang, Gajahmada dan Mahesa Dharma menghilang di antara semak dan belukar. Keduanya sepakat untuk menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sempurna, melesat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Namun, yang mereka cari seperti sudah tertelan bumi; tidak satu pun penghuni Hutan Kemiri yang dapat mereka temukan.
"Mereka sudah tidak ada lagi di hutan ini," kata Mahesa Dharma yang datang bersama Gajahmada.
"Mari kita melanjutkan perjalanan ini, kita akan menemukan mereka di tempat lain," kata Patih Mahesa Amping saat melihat Gajahmada dan Mahesa Dharma kembali ke punggung kuda masing-masing.
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri Hutan Kemiri yang semakin redup karena cahaya matahari tak lagi mampu menembus ranting dan daun yang lebat. Hingga ketika matahari hampir terbenam, ketujuh ksatria itu muncul di ujung hutan.
"Kita singgah dan bermalam di Kademangan Simpang," kata Ki Gede Bajra Seta ketika di hadapan mereka berdiri sebuah gapura gerbang batas Kademangan Simpang.
Manakala mereka memasuki jalan utama Kademangan Simpang, beberapa pedagang terlihat tengah menurunkan muatan barang. Kademangan Simpang memang tempat persinggahan para pedagang dari berbagai daerah.
"Bukankah aku berhadapan dengan Ki Gede Bajra Seta?" sapa seorang prajurit pengawal Kademangan Simpang di muka regol pintu masuk halaman Ki Demang.
"Ternyata matamu masih sangat awas, Pak Tua," jawab Ki Gede Bajra Seta sambil turun dari kudanya.
Sambil menuntun kuda masing-masing, ketujuh ksatria Majapahit itu berjalan mengikuti prajurit tua tersebut masuk melalui pintu samping menuju serambi rumah Ki Demang.