Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 10

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 10

"Usulku adalah terbalik dari caramu semula, jadi semua orang di sini akan mengeroyok dirimu, baru kemudian kami akan saling bertempur," kata Ki Seketi dengan wajah dingin.

Perkataan Ki Seketi dirasakan seperti sebuah serangan balik yang langsung menyudutkan Nyi Ajeng Nglirip.

Namun wanita itu dengan cepat menguasai perasaannya, seolah memiliki tameng berlapis-lapis menutupi wajah aslinya.

"Bila caramu memang lebih baik, aku siap untuk mengikutinya. Siap dikeroyok oleh semua yang hadir di air terjun ini. Biarlah semua orang menertawakan bahwa hari ini ada dua wanita dikeroyok bersama," kata Nyi Ajeng Nglirip sambil menilik perubahan di wajah Ki Seketi.

Terlihat Nyi Ajeng Nglirip tersenyum melihat Ki Seketi seperti terperangkap oleh perkataannya itu.

"Dan hari ini akan menjadi berita besar, bahwa seseorang seperti Ki Seketi ikut bersama sebagai seorang pengeroyok," kata wanita itu kembali dengan wajah datar tanpa sedikit pun terlihat kegentaran.

Lama Ki Seketi terdiam, perkataan wanita itu memang seperti sebuah senjata tajam yang langsung mengancam lehernya.

Sebagai seseorang yang sangat disegani dan dihormati di sepanjang pesisir pantai utara, ia memang terlihat sangat gelisah.

Namun bukan Ki Seketi jika tidak dapat keluar dari perangkap perang kata-kata itu.

Terlihat Ki Seketi tertawa bergema mengisi seluruh kawasan air terjun Nglirip, dada semua orang seperti bergetar.

"Dengarlah, wanita di hadapan kita telah menantang kita semua, habisi kedua wanita itu," kata Ki Seketi dengan suara lantang mengalahkan suara gemuruh air terjun.

Suara Ki Seketi memang seperti sebuah sihir yang menggerakkan semua orang yang ada di air terjun itu untuk mendekati tajuk.

Jantung Gajahmada berdebar melihat semua orang bersiap untuk menyerang kedua wanita yang ada di dalam tajuk itu.

Dan dada Gajahmada menjadi semakin berdebar ketika telinganya mendengar suara petikan kecapi tiba-tiba saja mengisi setiap relung dinding dan udara di sekitar air terjun itu.

"Tembang Hina Kelana?" kata Gajahmada dalam hati yang sangat mengenal petikan tembang kecapi itu.

Belum sempat berpikir apa pun, Gajahmada melihat beberapa orang memegang dada mereka, beberapa orang lagi langsung jatuh pingsan.

Ternyata pemetik kecapi itu telah melambarinya dengan kekuatan tenaga inti sejati tingkat tinggi, setara dengan ajian Gelap Ngampar yang sangat terkenal itu.

Untuk melindungi dirinya, Gajahmada telah melambari dirinya agar tidak terpengaruh goncangan suara kecapi itu.

"Siapakah gerangan pemetik kecapi itu?" tanya Gajahmada dalam hati sambil menyelinap menyeberang mendekati tajuk sederhana di mana dua wanita itu masih ada di sana.

Sementara itu suara kecapi masih terus bergema menghentak dan menggetarkan dada semua orang. Di antara sekian banyak orang yang ada di air terjun Nglirip itu, hanya tiga orang yang masih dapat bertahan tidak terpengaruh oleh petikan kecapi, mereka bertiga adalah Ki Seketi, Ki Welirang, dan Ki Sembogo.

Bukan main terperanjatnya Gajahmada ketika telah berada tidak jauh dari tajuk sederhana itu.

Apa yang membuat Gajahmada terperanjat? Ternyata Gajahmada dari tempatnya bersembunyi telah melihat jelas wajah kedua wanita yang berada di atas bale bambu tajuk itu.

Dan Gajahmada telah mengenal siapa kedua wanita itu.

Namun Gajahmada harus mengenyahkan rasa terperanjatnya ketika melihat dengan cepat kedua wanita itu melenting keluar dari dalam tajuk.

Gajahmada menahan napas ketika melihat tajuk sederhana itu hancur porak-poranda tak berbentuk lagi.

Ternyata Ki Seketi tidak sabar lagi ingin menghentikan suara getar kecapi dengan melepaskan pukulan andalan perguruannya yang terkenal itu, Pukulan Tanpa Bayangan.

Untung saja kedua wanita itu merasakan sebuah angin pukulan tak kasat mata akan mengancam diri mereka, maka sebelum prahara pukulan angin itu datang, keduanya meloncat menyelamatkan diri.

Terlihat Ki Seketi dengan penuh kebanggaan tertawa panjang.

Namun tawa Ki Seketi yang panjang itu tiba-tiba saja terhenti.

Ternyata pendengarannya yang tajam mendengar suara alunan seruling, namun dirinya sama sekali tidak mengetahui arah sumber suara itu karena suara itu seperti berputar dari segala penjuru.

Kecut hati Ki Seketi ketika merasakan getaran suara seruling itu lebih dahsyat dari getaran suara kecapi.

Meski telah melambari dirinya dengan kekuatan inti sejati miliknya, suara seruling itu masih saja terasa menghimpit rongga dadanya.

Sementara itu Ki Sembogo dan Ki Welirang terlihat duduk bersila memejamkan mata mereka menahan getaran suara seruling dengan kesaktian tenaga sejati mereka.

Namun suara seruling itu seperti tidak mampu dibendung, dada mereka seperti terhimpit batu gunung yang amat besar.

Bukan main terkejutnya Ki Seketi ketika melihat Ki Sembogo dan Ki Welirang yang diketahuinya memiliki tenaga sakti hanya setingkat di bawahnya tengah berusaha sekuat tenaga menahan getaran suara seruling itu.

Terlihat di ujung bibir kedua orang sakti itu masing-masing telah mengalir darah hitam.

Tampaknya tenaga sakti sejati mereka sendiri berbalik arah menghantam jantung mereka yang tidak kuat menahan tekanan getaran melalui suara seruling yang masih terus terdengar berputar-putar dari berbagai penjuru mata angin.

Sementara itu kedua wanita yang keluar dari tajuk tidak merasakan tekanan dari suara seruling itu, tampaknya peniup seruling itu dapat mengendalikan arah suara serulingnya.

"Hanya orang yang sangat mumpuni yang dapat mengendalikan ke mana arah serangan suara," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada wanita di dekatnya.

"Sepertinya aku mengenal siapa peniup seruling itu," kata wanita itu kepada Nyi Ajeng Nglirip.

"Kamu mengenal peniup seruling itu?" tanya Nyi Ajeng Nglirip kepada wanita itu.

Terlihat wanita itu menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala perlahan.

"Hanya ada satu orang yang dapat memainkan Seruling Hina Kelana," kata wanita itu sambil matanya mencari-cari arah sumber suara seruling.

Sebagaimana Ki Seketi, wanita itu juga tidak dapat menemukan arah sumber suara seruling itu yang masih terdengar berputar-putar dari segala penjuru mata angin.

"Tunjukkan dirimu, tunjukkan dirimu sebagai seorang ksatria sejati!" kata Ki Seketi lantang, merasa putus asa tidak juga menemukan arah sumber suara dari pemilik seruling itu.

Maka tiba-tiba saja suara seruling itu berhenti.

Tiba-tiba saja muncul seorang pemuda membawa sebuah seruling bambu dari balik sebuah gerumbul semak dan pohon perdu.

"Kakang Mahesa Muksa!" kata wanita di sebelah Nyi Ajeng Nglirip memandang tak percaya akan kehadiran pemuda itu.

"Ternyata anak nakal itu," kata Nyi Ajeng Nglirip sambil tersenyum memandang ke arah pemuda yang muncul tiba-tiba itu.

"Nyi Ajeng mengenalnya?" tanya wanita itu heran kepada Nyi Ajeng Nglirip.

"Sejak kecil anak muda itu bersama kami: di Balidwipa, di Tanah Wangi-wangi, dan terakhir di Tanah Ujung Galuh," kata Nyi Ajeng Nglirip yang tampaknya mengenal pemuda peniup seruling itu.

Namun pembicaraan kedua wanita itu terhenti ketika mendengar suara Ki Seketi yang mengguntur penuh kemarahan.

"Suara serulingmu memang dahsyat, tapi jangan berbangga hati sebelum merasakan pukulanku," kata Ki Seketi sambil membuat sebuah gerakan memukul angin.

Ternyata Ki Seketi tidak asal sesumbar, dari tangannya keluar angin pukulan tak kasat mata seperti sebuah prahara menerjang ke arah anak muda peniup seruling itu yang tak lain adalah Gajahmada.

Tampaknya Gajahmada seperti memiliki mata batin yang sangat tajam, mengetahui bahaya angin pukulan tak kasat mata itu tengah mengancam dirinya.

Maka terlihat Gajahmada bergeser cepat menghindari serangan Pukulan Tanpa Bayangan itu, sebuah ilmu andalan Ki Seketi yang sangat dibanggakannya hingga sangat disegani di sepanjang pesisir pantai utara Jawadwipa.

"Tikus busuk!" kata Ki Seketi geram melihat sasarannya dapat meloloskan diri.

Bukan main akibat serangan Pukulan Tanpa Bayangan dari Ki Seketi itu, terlihat sebuah batu besar hancur terbelah-belah terkena sasaran pukulan itu.

Kembali sebuah pukulan dari tangan Ki Seketi meluncur menerjang ke arah Gajahmada, namun seperti sebelumnya, kembali anak muda itu dengan mudah melenting ke tempat lain menghindari serangan tak kasat mata itu.

"Kadal buntung!" kembali sumpah serapah keluar dari mulut Ki Seketi melihat sasarannya melenting jauh.

Demikianlah, Ki Seketi terus menyerang dengan pukulan jarak jauhnya itu ke mana pun Gajahmada berpijak.

Sumpah serapah masih saja terdengar dari mulut Ki Seketi bersamaan dengan lolosnya sasaran tempurnya.

Suasana di kawasan air terjun itu tidak utuh lagi, pepohonan tumbang, batu-batu keras hancur terbelah, tanah merah dan semak belukar terbang berserakan terkena sasaran pukulan jarak jauh dari Ki Seketi yang sangat dahsyat itu seperti angin prahara terus mengejar ke mana pun Gajahmada menghindar.

"Anak setan!" kata Ki Seketi sambil menghentikan serangannya. Ternyata Ki Seketi melihat Gajahmada memecahkan dirinya menjadi sepuluh bayangan yang sama, terlihat berlari mengelilingi tubuh Ki Seketi.

Rupanya Gajahmada merasa bosan selalu menjadi sasaran serangan Ki Seketi.

Dengan gerakan yang sangat cepat menerapkan ilmu meringankan tubuhnya yang nyaris sempurna, ia berputar mengelilingi tubuh Ki Seketi.

"Aku dapat menyerangmu dari berbagai arah," kata Gajahmada kepada Ki Seketi dengan nada suara penuh ancaman.

Terlihat Ki Seketi berdiri terpaku dengan jantung berdebar keras, merasa perkataan Gajahmada bukan omong kosong belaka, benar-benar sebuah ancaman.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment