Chapter 90
Sebagaimana yang dilihat oleh Adipati Menak Koncar, ternyata jurus permainan pedang Mahesa Semu sangat sempurna sehingga membuat Ki Gagakpati kesulitan untuk mendekati Mahesa Semu guna bertempur dalam jarak pendek. Hal itu terjadi karena senjata yang digunakan Ki Gagakpati adalah sebatang keris yang kalah panjang dibandingkan pedang di tangan Mahesa Semu.
Akibatnya, Ki Gagakpati lebih banyak menerima tekanan yang membahayakan jiwanya.
"Setan mana yang telah merasuki orang ini?" ucap Ki Gagakpati dalam hati. Ia merasa kewalahan menghadapi serangan Mahesa Semu yang datang bak guruh ombak yang bergulung-gulung tanpa henti.
Mahesa Semu tampak tersenyum melihat wajah orang tua di hadapannya itu yang seperti kehilangan akal; ke mana pun ia berkelit, pedang lawannya seolah terus mengikuti dan mengejarnya.
Trang!
Dalam sebuah serangan, Mahesa Semu sengaja membenturkan keris di tangan Ki Gagakpati dengan pedangnya untuk mengukur kekuatan tenaga inti sejati lawannya.
"Gila!" umpat Ki Gagakpati yang tidak sadar merasakan tangannya panas, sebuah pertanda bahwa tenaga lawannya jauh lebih kuat daripada miliknya.
"Aku belum gila, wahai orang tua," ujar Mahesa Semu sambil berdiri tegak, memberi kesempatan kepada lawannya untuk menyempurnakan keseimbangan.
"Tenagamu sangat kuat, jurus pedangmu juga sangat hebat. Aku ingin tahu siapa gurumu," kata Ki Gagakpati yang sudah mampu berdiri dengan sempurna.
"Aku hanya cantrik biasa dari Padepokan Bajra Seta," jawab Mahesa Semu dengan suara datar.
"Ternyata aku berhadapan dengan saudara seperguruan Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Aku merasa tersanjung mengenal jurus-jurus kalian," ucap Ki Gagakpati yang kini berbicara dengan penuh hormat kepada Mahesa Semu.
"Kita belum menyelesaikan pertempuran ini," sahut Mahesa Semu.
"Tidak perlu dilanjutkan, aku sudah mengakui keunggulanmu. Aku yakin kamu sengaja tidak mengungkapkan seluruh kemampuan dirimu. Dan aku masih ingin tetap hidup," kata Ki Gagakpati sambil melemparkan kerisnya ke tanah, jauh dari jangkauannya.
"Aku akan meminta Adipati Menak Koncar untuk meringankan hukumanmu," ujar Mahesa Semu kepada Ki Gagakpati yang telah menyerahkan diri dan pasrah saat diikat oleh prajurit Kadipaten Lamajang.
Berdiri seorang diri, tatapan Mahesa Semu beralih ke arah dua pertempuran terpisah yang masih berlangsung sengit, yaitu Gajahmada menghadapi Ki Banyak Ara dan Putu Risang yang sedang menghadapi seorang brahmana bernama Ki Jatiwangi.
"Pantas Baginda Raja Sanggrama Wijaya begitu memercayai anak muda itu," gumam Mahesa Semu dalam hati. Ia tertegun memperhatikan sepak terjang Gajahmada yang tampak sangat kuat dan tangguh dalam mengimbangi gempuran lawannya.
Sebagaimana yang disaksikan Mahesa Semu, Gajahmada memang masih mampu menghadapi gempuran serta terjangan trisula Ki Banyak Ara yang tajam dan berkilat-kilat.
Sementara itu, di tempat terpisah di halaman yang cukup luas, terlihat dua naga kanuragan lainnya, yaitu Putu Risang dan Ki Jatiwangi, sedang bertempur. Keduanya seperti sepakat untuk tidak menggunakan senjata, meski begitu pertempuran tersebut terlihat sangat mengerikan karena mereka saling melepaskan ajian kesaktian masing-masing.
Dari tubuh Ki Jatiwangi terlihat asap menguap sebagai pertanda kuatnya hawa panas yang membakar sekelilingnya ke mana pun ia bergerak. Namun, brahmana tua itu merasa sangat penasaran melihat lawannya yang masih muda tampak tidak merasakan apa pun. Biasanya, orang yang menghadapinya akan berusaha menghindar karena hawa panas yang dipancarkannya dapat merusak kulit dan daging, sementara Putu Risang tetap menghadapinya dalam jarak dekat tanpa merasakan panas sedikit pun.
Ki Jatiwangi tampaknya belum mengenal dengan siapa ia bertempur. Ia tidak tahu bahwa pemuda itu adalah Ketua Padepokan Pamecutan dari Balidwipa, tempat para pangeran dan raja Balidwipa menimba ilmu keluhuran budi dan kanuragan.
Tingkat ilmu Putu Risang saat itu memang sudah sangat tinggi, apalagi ia telah mendapatkan rahasia olah pernapasan dari seorang pertapa di Gunung Wilis yang membuatnya memiliki tenaga inti hawa murni berlipat-lipat layaknya orang yang telah bertapa ratusan tahun. Oleh karena itu, ketika menghadapi pancaran panas dari tubuh sang brahmana, Putu Risang tidak terpengaruh sedikit pun karena tenaga inti hawa murninya telah melindungi diri dan meredam hawa panas yang mengepungnya.
Angin pukulan Ki Jatiwangi yang luar biasa itu tidak berpengaruh pada Putu Risang. Sebaliknya, angin pukulan dari Putu Risang yang diam-diam telah meningkatkan tataran ilmunya mulai menyulitkan Ki Jatiwangi. Ternyata, Putu Risang melambari dirinya dengan tenaga pancaran hawa dingin yang amat kuat, hingga membuat Ki Jatiwangi harus bergerak mundur beberapa langkah.
Hingga akhirnya, dalam sebuah gebrakan dengan menerapkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, Putu Risang bergerak sangat cepat, tak tertandingi oleh mata dan gerakan sang brahmana tua.
Dess!
Sebuah pukulan tangan Putu Risang menghantam dada brahmana itu. Ki Jatiwangi merasa seolah tertumbuk batu cadas yang amat kuat; seketika napasnya seakan terputus. Brahmana itu terlempar sekitar sepuluh langkah dari tempatnya semula dan berguling di tanah berumput basah.
Sorak-sorai terdengar dari para prajurit Kadipaten Lamajang yang menyaksikan pertempuran itu. Mendengar suara tersebut, Ki Banyak Ara yang sedang menghadapi Gajahmada menjadi semakin murka. Ia melampiaskan kemarahannya dengan menghentakkan serangan dahsyat ke arah Gajahmada.
Trisula Ki Banyak Ara yang tajam berkilat bergerak amat cepat seperti lidah naga yang menyemburkan api ke arah Gajahmada. Gajahmada, yang menyadari bahaya angin serangan trisula tersebut, berkelit tidak kalah cepatnya. Meski telah melambari diri dengan ajian kekebalan setara Ajian Lembu Sekilan, Gajahmada tetap berhati-hati agar tidak tersentuh angin serangan yang sangat panas itu.
Sambil berkelit, Gajahmada langsung melakukan serangan balasan yang tidak kalah dahsyat melalui lecutan cambuk pendeknya yang menimbulkan kilatan cahaya halilintar yang menggelegar, menghimpit dada dan perasaan lawannya.
"Permainan cambuk anak muda itu ternyata sudah meningkat pesat," kata Adipati Menak Koncar kepada Putu Risang yang berdiri di dekatnya tanpa berkedip menyaksikan pertarungan Gajahmada dan Ki Banyak Ara.
Mendengar perkataan Adipati Menak Koncar, Putu Risang tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Sebagai seorang guru, Putu Risang mengenal tataran kemampuan Gajahmada. Suara menggelegar dari hentakan cambuk muridnya itu merupakan pertanda bahwa Gajahmada belum mengeluarkan puncak ilmunya yang sebenarnya.
Sebagaimana dipikirkan Putu Risang, dalam pertempuran itu Gajahmada memang belum melepaskan puncak tataran ilmunya; ia hanya sekadar mengimbangi kecepatan dan kekuatan lawannya. Namun, hal itu tetap menimbulkan kekaguman bagi siapa pun yang melihatnya. Tubuh Gajahmada berkelebat dan berkelit cepat menghindari setiap serangan trisula Ki Banyak Ara, sembari sesekali memberikan serangan balasan untuk mengurangi tekanan.
Ki Banyak Ara yang gusar melihat kekalahan anak buahnya semakin tersulut emosi saat menyadari ia tidak mampu melumpuhkan lawannya yang masih muda. Dengan rasa penasaran yang luar biasa, ia mengerahkan puncak kesaktiannya.
Semua mata tertegun melihat Ki Banyak Ara yang tiba-tiba berputar sangat cepat seperti gasing bambu. Gerakannya begitu cepat hingga tubuhnya menghilang, menyisakan kilatan cahaya trisulanya yang bergerak melingkar menyelimuti seluruh tubuhnya. Pusaran itu bergerak semakin luas hingga lingkaran kabut tersebut menutupi tubuh Gajahmada.
Perasaan Putu Risang berdebar penuh kecemasan melihat Gajahmada hilang di dalam lingkaran kabut kilatan trisula Ki Banyak Ara. Apa yang terjadi pada Gajahmada? Ilmu puncak Ki Banyak Ara yang dapat menciptakan kabut kilatan itu adalah ilmu yang sangat langka. Kedahsyatan ilmu tersebut bukan hanya dapat menutup pandangan musuh, tetapi juga mampu mencabik-cabik daging tubuh siapa pun yang terjebak di dalamnya.
Beruntung, Gajahmada telah berjaga-jaga dengan melambari dirinya menggunakan tameng kekebalan dari hawa murni tenaga inti sejatinya yang sudah berlipat-lipat—sebagaimana Putu Risang yang juga memiliki rahasia ilmu kitab sakti dari sang pertapa Gunung Wilis, yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri.
Daging tubuh Gajahmada masih utuh dan tidak tergores sedikit pun meski telah berada di dalam lingkaran kabut kilatan trisula ilmu sakti Ki Banyak Ara. Tak seorang pun tahu apa yang terjadi pada diri Gajahmada karena terhalang kabut tersebut, namun tidak bagi Ki Banyak Ara selaku pencipta ilmu langka itu. Ki Banyak Ara tampak tidak percaya dengan penglihatannya sendiri; ia melihat Gajahmada tidak bergeming sedikit pun meskipun diserang oleh ajian saktinya.