Chapter 189
"Dan aku yakin kamu sangat dekat dengan para penguasa di kerajaan ini," kata Ki Sadeng dengan tatapan mata penuh kemenangan.
Terlihat Patih Gajah Mada menarik napas panjang, mencoba berpikir setenang-tenangnya, mencoba berpikir sejernih-jernihnya.
"Aku akan mengabulkan permintaanmu itu," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Sadeng setelah menemukan jalan dari pikirannya yang jernih.
"Sebelum kamu pergi, jawablah satu pertanyaanku dengan penuh kejujuran," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Sadeng.
"Aku akan menjawabnya sejujur-jujurnya," kata Ki Sadeng yang sudah merasa berada di atas angin.
"Apa yang kamu lakukan kepada tukang rakit di penyeberangan Sungai Kalimas?" tanya Patih Gajah Mada dengan tatapan mata yang amat tajam, seolah menembus langsung ke dada Ki Sadeng yang seketika merasa jantungnya berdebar-debar.
"Orang itu menolak permintaanku untuk menyeberang, terpaksa kulempar dirinya ke sungai," kata Ki Sadeng. "Percayalah, aku tidak membunuhnya. Aku masih melihatnya dapat berenang ke tepian," imbuhnya kepada Patih Gajah Mada.
"Nyawa seorang tukang rakit jauh lebih berharga daripada apa pun. Aku akan menarik kembali pengabulanku bila ternyata kamu berkata tidak jujur mengenai tukang rakit itu," ujar Patih Gajah Mada dengan tatapan mata yang sangat dingin dan menakutkan.
"Aku tahu bahwa kamu punya kemampuan yang amat tinggi, tapi aku begitu yakin bahwa kamu bukan orang yang mudah menjatuhkan tanganmu untuk membunuh," kata Ki Sadeng kepada Patih Gajah Mada dengan senyum kemenangan, lalu ia berbalik badan meninggalkan Patih Gajah Mada yang masih berdiri mematung.
Pandangan mata Patih Gajah Mada terus tertuju ke arah punggung Ki Sadeng yang berjalan menuju gerbang gapura puri pasanggrahan hingga akhirnya menghilang di kegelapan malam.
Terlihat Patih Gajah Mada berbalik badan ke arah pendapa; dilihatnya Ki Bareb masih duduk bersila di sana.
"Ibunda tidak boleh tahu apa yang terjadi di malam ini," batin Patih Gajah Mada sambil menarik napas lega karena Nyi Nariratih tidak ada di pendapa, masih tertidur.
Suasana pagi itu di puri pasanggrahan Tanah Ujung Galuh terlihat begitu cerah, secerah wajah Nyi Nariratih saat memandang putranya menikmati sarapan bersama di pendapa puri mereka.
"Kapan kamu kembali ke Kediri, wahai putraku?" tanya Nyi Nariratih kepada Patih Gajah Mada.
Patih Gajah Mada tidak segera menjawab, pikirannya terpaut kepada persoalan yang tengah dihadapinya; masalah Ki Sadeng yang ingin segera dituntaskannya.
"Hari ini aku akan kembali ke Kediri, tentunya setelah menghadap sebentar di kepatihan istana Majapahit," jawab Patih Gajah Mada kepada ibundanya.
"Tugas kerajaan lebih utama dari segalanya, meski ibundamu masih menginginkan kamu lebih lama lagi di Kotaraja Majapahit," kata Nyi Nariratih sambil mengumbar senyum.
"Beruntung aku tidak menjadi seorang pejabat kerajaan, sepanjang hari aku dapat tinggal di rumah," ujar Supo Mandagri yang ikut menemani mereka dengan penuh kegembiraan hati.
"Jalan garis hidup setiap manusia berbeda, seperti ketika kita berlayar di tengah lautan; terkadang perjalanan kita harus tertahan oleh badai prahara," ucap Nyi Nariratih memandang kedua anak muda itu dengan kelembutan wajah seorang ibu yang penuh kasih.
Demikianlah, setelah selesai sarapan pagi, Nyi Nariratih dan Patih Gajah Mada berangkat bersama menuju ke Kotaraja Majapahit. Manakala tiba di penyeberangan Sungai Kalimas, Patih Gajah Mada masih melihat tukang rakit sahabatnya itu. Patih Gajah Mada bernapas lega, tukang rakit itu tidak bercerita apa pun tentang kejadian yang menimpanya semalam. Patih Gajah Mada memang tidak ingin ibundanya mengetahui persoalan dirinya dengan Ki Sadeng.
Ketika tiba di Kotaraja Majapahit, ibu dan anak itu pun berpisah. Nyi Nariratih menuju barak pasukan khususnya, sementara Patih Gajah Mada langsung ke kepatihan menemui Mahapatih Arya Tadah.
"Senang melihatmu di kepatihan ini," sambut Mahapatih Arya Tadah.
Setelah menyampaikan berita keselamatan masing-masing, Patih Gajah Mada langsung bercerita tentang masalah yang tengah dihadapinya.
"Sadeng adalah sebuah pulau kecil di selatan Jawadwipa, tempat persembunyian para bajak laut menikmati hasil curian mereka," kata Mahapatih Arya Tadah setelah mendengar semua cerita Patih Gajah Mada.
"Apa yang dapat aku lakukan menghadapi permintaan mereka, wahai Pamanda?" tanya Patih Gajah Mada.
Mahapatih Arya Tadah tidak segera menjawab, ia menarik napas dalam-dalam seolah mengumpulkan kejernihan pikirannya. "Aku pernah ditugaskan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya menjadi seorang perusuh di berbagai tempat di daerah kekuasaan Raja Jayakatwang, tujuannya agar semua orang berpikir bahwa Raja Jayakatwang tidak dapat menjaga keamanan buminya," ujar Mahapatih Arya Tadah.
Ternyata Patih Gajah Mada seorang yang memiliki kecerdasan sangat tinggi, ia mampu memaknai perkataan Mahapatih Arya Tadah.
"Sebuah cara penyelesaian yang tepat. Aku akan membentuk kelompok tandingan di jalur Lamajang dan bandar pelabuhan Banyuwangi, membuat keresahan hingga terdengar di pusat kerajaan ini, sehingga kerajaan memutuskan untuk mengamankan jalur itu," kata Patih Gajah Mada yang dapat membaca arah pikiran Mahapatih Arya Tadah.
"Ternyata aku tengah berhadapan dengan anak muda yang sangat cerdas. Lakukanlah apa yang harus kamu lakukan, aku akan merestuinya," kata Mahapatih Arya Tadah sambil tersenyum penuh kebanggaan. "Dan kita tidak hanya menangkap seorang Ki Sadeng, tapi juga kelompok bajak lautnya yang memang sudah lama kudengar meresahkan para nelayan di sekitar Pulau Sadeng."
"Terima kasih untuk restu Pamanda," kata Patih Gajah Mada sambil menundukkan tubuh sebagai rasa hormat.
"Patih Gajah Mada," Mahapatih Arya Tadah menyebut nama Gajah Mada secara lengkap, tidak seperti biasanya. Patih Gajah Mada menatap mata Mahapatih yang selalu penuh dengan senyum kasih seorang ayah kepada putranya.
"Beberapa hari ini aku merasakan wadag (fisik) di tubuhku ini sudah sangat rapuh. Semakin hari banyak sekali yang kurasakan; aku sering merasa letih dan ngilu di beberapa bagian tubuhku," ungkap Mahapatih Arya Tadah.
Patih Gajah Mada terdiam, ia mengetahui ada sesuatu hal yang ingin disampaikan oleh orang tua yang sangat bijaksana itu.
"Tugas di kepatihan ini sungguh sangat berat, dibutuhkan seseorang yang kuat dan segar untuk dapat berpikir jernih dalam membuat berbagai kebijakan dan keputusan. Sementara kurasakan usiaku ini sudah tidak layak lagi menangani tugas-tugasku ini. Aku bermaksud mengundurkan diri dari istana," tutur Mahapatih Arya Tadah.
Tersentak Patih Gajah Mada mendengar penuturan itu. "Paman bermaksud mengundurkan diri?" tanya Patih Gajah Mada dengan wajah dan kening berkerut.
Melihat kesungguhan di wajah Mahapatih Arya Tadah, Patih Gajah Mada menarik napas panjang.
"Kutahu bahwa Baginda Raja Sanggrama Wijaya begitu sangat menyayangimu layaknya putranya sendiri. Keris Nagasasra yang dititipkan kepadamu bermakna bahwa beliau begitu percaya menitipkan kerajaan ini kepadamu. Aku sendiri telah melihat kecerdasan dan kemampuanmu. Sebagaimana Baginda Raja Sanggrama Wijaya, aku begitu yakin bahwa kamu memang terlahir untuk berdiri di atas singgasana Kerajaan Majapahit ini, sebagai seorang pengendali yang dapat membawanya jauh mencapai impian kami; mengarungi samudra raya, membangun nusa damai di tiap dermaga yang kamu singgahi. Itulah impian leluhur kita di bumi ini, Raja perkasa Erlangga," kata Mahapatih Arya Tadah dengan suara penuh kesungguhan.
"Aku merasa belum punya pengalaman yang cukup untuk menjadi seorang Mahapatih di istana Majapahit ini," ujar Patih Gajah Mada merasa ragu.
"Di awal aku juga merasakan hal yang sama sebagaimana dirimu, ragu atas kemampuan diri sendiri. Namun, tekad yang kuat telah menghilangkan segala keraguan itu," jawab Mahapatih Arya Tadah.
"Terima kasih atas segala kepercayaan Pamanda kepadaku, namun izinkan aku untuk menyelesaikan masalahku dengan Ki Sadeng agar tidak ada lagi ganjalan di dalam hati ini," kata Patih Gajah Mada.
"Menuntaskan kelompok Sadeng akan mengangkat pencitraanmu, laksanakanlah dengan sebaik-baiknya," ujar Mahapatih Arya Tadah.
"Terima kasih untuk restu Pamanda, aku selalu berdoa untuk kesehatan Pamanda," ucap Patih Gajah Mada sambil berpamit diri.
"Aku juga selalu berdoa untuk keselamatanmu, wahai kemenakanku," sahut Mahapatih Arya Tadah melepas kepergian Patih Gajah Mada.
Demikianlah, Patih Gajah Mada keluar dari istana Majapahit menuju arah barak prajurit khusus, bermaksud menjumpai ibundanya untuk berpamit diri.
"Aku akan selalu merindukanmu, wahai putraku," kata Nyi Nariratih kepada Patih Gajah Mada yang hendak kembali ke Kotaraja Kediri.
Siang itu, tiga orang penunggang kuda meninggalkan Kotaraja Majapahit; mereka adalah Patih Gajah Mada bersama dua orang prajurit pengawalnya.
"Maaf, aku telah menahan kalian cukup lama di Kotaraja Majapahit," kata Patih Gajah Mada kepada kedua prajurit pengawalnya.
"Kami prajurit, siap melayani Tuan," jawab salah seorang prajurit pengawal.
Tidak ada kendala apa pun dalam perjalanan Patih Gajah Mada. Seperti dalam keberangkatannya, mereka singgah di barak prajurit khusus yang ada di Kademangan Simpang untuk bermalam di sana. Pagi harinya, mereka melanjutkan perjalanan kembali.
"Terima kasih untuk semua pelayanan kalian," kata Patih Gajah Mada kepada Lurah Prajurit di barak pasukan khusus Kademangan Simpang.