Chapter 227
Pertempuran antara prajurit Bali dan prajurit Majapahit hampir mereda. Hanya beberapa prajurit Bali yang masih bertahan dikepung jumlah prajurit Majapahit yang berlipat ganda. Prajurit Bali tidak berdaya menghadapi pengalaman dan jumlah prajurit Majapahit. Banyak yang tewas terbunuh atau terluka dan menjadi tawanan perang.
Pertempuran antara kedua pihak yang sebenarnya sedarah itu semakin surut. Prajurit Bali yang masih bertahan tidak mampu lagi menghadapi lawan. Beberapa prajurit Bali menyerah dengan melepaskan senjata, sementara yang lain mundur dan melarikan diri. Pertempuran akhirnya usai, menyisakan ribuan mayat bergelimpangan dan bau darah memenuhi medan perang. Suara rintihan orang terluka terdengar menyayat hati.
Beberapa prajurit Majapahit menatap padang pembantaian itu dengan muram. Sementara itu, sebagian lainnya mengalihkan pandangan pada pertempuran antara Ki Tambyak dan Kresna Kepakisan yang seolah tidak menghiraukan suasana medan perang yang telah usai.
"Biarkan mereka bertempur secara adil. Kita adalah orang-orang terhormat," ujar Arya Kenceng memerintahkan prajuritnya untuk tidak membantu Kresna Kepakisan. Mendengar perintah pemimpin tertinggi mereka, para prajurit membentuk lingkaran besar seperti panggung pertarungan, menyaksikan kedua raksasa kanuragan bertempur hidup mati.
Berkali-kali terdengar denting senjata mereka beradu dengan kuat dan keras. Tombak pendek Ki Tambyak bergerak cepat, sementara senjata cakra di tangan Kresna Kepakisan berdengung saat diputar. Keduanya terus meningkatkan kemampuan seakan berpacu menyelesaikan pertempuran. Namun, pertarungan tetap berimbang dan sulit menentukan siapa yang lebih unggul. Peluh membasahi seluruh tubuh mereka yang terus bergerak saling menerjang, menunggu kesempatan.
Akhirnya, Kresna Kepakisan yang sabar melihat kesempatan itu lebih dini. Dengan cerdik, ia memanfaatkan momen saat senjata mereka beradu dan muncul pijar cahaya menyilaukan akibat benturan dua tenaga raksasa yang kuat. Di saat itulah, Kresna Kepakisan tanpa melihat langsung melemparkan senjata cakranya ke dada lawan. Ki Tambyak tidak menyangka lawannya akan melakukan gerakan yang begitu tepat dan penuh perhitungan. Senjata cakra bergerigi tajam itu menghantam dada Ki Tambyak dengan keras, merobek kulit dan dagingnya, memuncratkan darah segar.
Seketika, Ki Tambyak merasakan dadanya sesak. Lelaki tua panglima perang perkasa itu terhuyung lemas dan roboh ke tanah. Gemuruh suara prajurit Majapahit terdengar penuh kegembiraan melihat pihak mereka memenangkan pertempuran dengan tak terduga. Kresna Kepakisan berdiri tegak memandang tubuh Ki Tambyak yang tak bernyawa.
"Satukan mayat panglima perkasa itu bersama seluruh prajuritnya. Mereka adalah pahlawan rakyat Bali yang mencintai buminya dengan segenap jiwa dan raga," ujar Arya Kenceng memerintahkan seorang prajurit untuk membawa tubuh Ki Tambyak.
"Terima kasih, kamu telah menyelamatkan kami dari serangan pasukan Ki Tambyak," ucap Arya Kenceng kepada Kresna Kepakisan.
"Gusti Yang Maha Agung telah melindungi jiwaku, juga jiwa kita semua," jawab Kresna Kepakisan sambil menarik napas dalam-dalam, seolah melepaskan kepenatannya dan debaran hati menemui lawan yang setanding.
Semilir angin pantai Jimbaran berhembus sejuk mengantar dua ratus pasukan berkuda yang meninggalkan perkemahan prajurit Majapahit. Mereka adalah pasukan berkuda yang dipimpin Kresna Kepakisan, akan kembali ke hutan persembunyian di timur Kotaraja Bali.
Sementara itu, di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari perkemahan prajurit Majapahit, tiga pasang mata menyaksikan seluruh peristiwa pertempuran sejak pagi. Ketiga orang itu adalah Ki Pasunggrigis, Ki Anupati, dan Putu Risang. Kedatangan mereka untuk memastikan kematangan perhitungan mereka.
"Ki Tambyak terlalu percaya diri, kurang memperhitungkan bahwa ada orang lain yang memiliki kemampuan dan kecerdikan lebih matang darinya," ujar Ki Anupati menyampaikan pandangannya.
"Aku hanya berharap Baginda Raja Bali tidak terpancing amarahnya mendengar kekalahan panglima perang kesayangannya, sehingga tidak menurunkan seluruh pasukan di Koraja Bali untuk menggempur pasukan Majapahit di selatan ini," kata Ki Pasunggrigis.
"Ratu Tribuwana Tunggadewi pasti meminta gurunya, Patih Gajahmada, untuk meredam pemberontakan Raja Bali. Namun, aku tidak pernah mendengar nama itu disebut-sebut, baik di pasukan Majapahit di utara maupun di selatan ini," ujar Putu Risang menyebut nama dan ciri-ciri senjata yang biasa digunakan.
"Anak muda bersenjata cambuk?" tanya Ki Pasunggrigis, bercerita tentang seorang anak muda yang berhasil mengalahkan Patih Kebo Iwa.
"Nampaknya kita berbicara tentang orang yang sama," sahut Putu Risang yakin anak muda itu adalah Patih Gajahmada.
"Anak muda itu kukenal bernama Majalangu bersama kawannya bernama Arya Damar, yang akhirnya diketahui sebagai petugas telik sandi Kerajaan Majapahit."
"Ceritakan kepadaku ciri-ciri khusus dari anak muda bernama Arya Damar itu," pinta Putu Risang kepada Ki Pasunggrigis. Ki Pasunggrigis pun bercerita tentang ciri-ciri Arya Damar yang dikenalnya.
"Arya Damar yang Ki Pasunggrigis sebutkan itu kuyakini sebagai Tumenggung Adityawarman, yang saat ini menjadi senapati pasukan Majapahit di utara," kata Putu Risang penuh keyakinan.
"Majalangu atau Gajahmada pasti sudah berada di Balidwipa ini, namun kita belum tahu di mana keberadaannya saat ini," ujar Ki Pasunggrigis.
"Jika kita dapat mengikuti ke mana dua ratus pasukan berkuda itu pergi, mungkin kita dapat mengetahui di mana pasukan lain yang tidak berada di selatan maupun di utara," pikir Ki Anupati.
"Kamu benar, dari arah yang mereka ambil sudah dapat dipastikan mereka tidak begitu jauh dari Kotaraja Bali," benarkan Ki Pasunggrigis pikiran adiknya.
"Bukankah kita bertiga adalah orang-orang yang tidak punya banyak pekerjaan?" ujar Ki Anupati sambil tersenyum, seolah membaca pikiran Ki Pasunggrigis dan Putu Risang. Tidak lama kemudian, ketiganya berjalan ke arah tujuan dua ratus pasukan berkuda. Dengan ilmu dan pengalaman tinggi, mereka tidak sulit mengikuti jejak kaki kuda.
Hubungan batin antara Putu Risang dan Patih Gajahmada yang begitu dekat dapat dipastikan rasa kerinduan dalam hati Putu Risang terhadap anak muda yang tumbuh dalam bimbingannya sejak kecil. Ketiganya terus berjalan mengikuti jejak kaki kuda yang masih jelas terlihat.
Namun, ketiganya tidak menyangka ada orang lain yang melakukan hal yang sama. Orang itu telah mendahului berada jauh di depan mereka. Siapa gerangan orang itu yang juga mengikuti arah perginya dua ratus pasukan berkuda? Dilihat dari usianya, ia sebaya dengan Ki Pasunggrigis, rambut dan janggutnya sudah putih seluruhnya. Meski tua, langkahnya masih gagah. Sebuah tombak pendek terselip di pinggangnya, mirip senjata Ki Tambyak saat bertempur melawan Kresna Kepakisan.
Hingga menjelang senja, orang itu telah sampai di tempat perhentian dua ratus pasukan berkuda, yaitu di sebuah hutan sunyi di timur Kotaraja Bali. Meski belum senja, suasana hutan itu telah gelap, cahaya matahari tidak mampu menembus pepohonan yang lebat. Orang tua itu berendap-endap di balik semak belukar.
"Ternyata mereka adalah pasukan Majapahit yang tengah bersembunyi," pikir orang itu dalam hati.