Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 104

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 104

Di tengah keraguan para prajurit menghadapi tantangan Tumenggung Mahesa Semu, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang berteriak memberikan semangat agar prajurit Majapahit tidak takut menghadapi Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman.

"Jumlah kita ribuan banyaknya. Dengan maju bersama, kita akan kuat. Cincang kedua orang itu yang telah membela Patih Mahesa Amping, pembunuh kawan-kawan kita!" teriak seseorang yang menghasut para prajurit untuk bergerak maju.

Sebagai seorang tumenggung yang belum lama dilantik, Tumenggung Mahesa Semu sudah mulai banyak mengenal beberapa pejabat istana Majapahit. Terlihat Tumenggung Mahesa Semu seperti mengenali siapa pemilik suara yang melengking itu. Namun, belum sempat ia berpikir lebih lanjut, para prajurit Majapahit telah bergerak kembali. Melihat bahaya yang akan dihadapi, Tumenggung langsung melepas pedangnya yang tajam berkilat. Nampaknya, kedua ksatria Majapahit itu sudah siap menghadapi ribuan prajurit dengan dada terbuka; tidak terlihat sedikit pun rasa gentar di sorot mata keduanya.

Tak terbayangkan suasana dan akibat yang pasti terjadi. Dua orang ksatria tangguh menghadapi ribuan prajurit, pastinya akan memakan banyak korban di pihak para prajurit. Tanah halaman di sekitar gerbang istana itu akan banjir darah yang anyir baunya baru akan hilang berpekan-pekan lamanya, sementara suasana di sekitarnya setiap malam akan menjadi semakin mencekam, dipenuhi banyak hantu penasaran yang bergentayangan.

Namun, semua bayangan mencekam itu tidak terjadi karena tiba-tiba saja terdengar suara bergema yang berputar-putar seperti datang dari berbagai penjuru mata angin. Hanya orang sakti yang telah menguasai ajian Gelap Ngampar yang dapat melakukannya.

"Mundur semuanya dan sarungkan kembali pedang kalian!" demikian suara itu bergema, menghentakkan dada setiap prajurit yang seperti tersihir. Mereka langsung mundur beberapa langkah dan secara serentak menyarungkan pedang masing-masing.

Siapa gerangan pemilik ajian Gelap Ngampar yang sudah amat langka itu? Belum reda debar di dada para prajurit, tiba-tiba saja terlihat angin puyuh berputar-putar di atas kepala mereka. Benar-benar sebuah pemandangan yang sangat menegangkan bagi siapa pun yang melihatnya saat itu. Seluruh mata masih tertuju kepada pusaran angin puyuh yang terus bergerak ke arah pusat kerumunan dan berhenti tepat di dekat Patih Mahesa Amping. Terperangah wajah seluruh prajurit manakala pusaran angin puyuh itu tiba-tiba menghilang, berganti dengan sesosok tubuh lelaki tua yang berdiri penuh wibawa.

"Tuan Patih Amangkubumi," desah perlahan dari bibir para prajurit Majapahit yang telah mengenal sosok lelaki tua itu.

"Aku Patih Amangkubumi. Hari ini aku memegang mandat Baginda Raja Sanggrama Wijaya; ucapanku adalah ucapannya," kata Patih Amangkubumi dengan suara yang lantang, terdengar hingga ke barisan kerumunan paling belakang.

Terlihat hampir semua prajurit Majapahit menundukkan wajahnya, mencoba menduga-duga keputusan apa yang akan keluar dari pemegang mandat Baginda Raja.

"Aku Patih Amangkubumi. Hari ini kuasa keadilan berada di tanganku, kitab hukum Kutara Wanara Dharmasastra ada di tanganku," ujar Patih Amangkubumi kembali dengan suara yang sangat lantang.

Berdebar-debar dada para prajurit mendengar perkataan Patih Amangkubumi yang menyebut kitab hukum kerajaan yang sangat tinggi itu. Kitab hukum keadilan yang tidak mengenal persaudaraan, tidak mengenal persahabatan, baik pejabat kerajaan, kaum jelata, maupun para pendeta akan tunduk patuh menjalaninya. Para prajurit merasa takut akan terjerat kesalahan karena telah mencelakai Patih Mahesa Amping yang masih terbaring tidak sadarkan diri.

"Serahkan keadilan kepadaku, kembalilah kalian ke barak kesatuan masing-masing," perintah Patih Amangkubumi.

Tanpa menunggu perintah kedua, ribuan prajurit itu segera membubarkan diri karena takut Patih Amangkubumi akan berubah pikiran dan tidak memaafkan perbuatan mereka. Tanpa menunggu para prajurit bubar seluruhnya, Patih Amangkubumi mengangkat tubuh Patih Mahesa Amping dengan ringan dan langsung berkelebat ke arah dalam istana menuju puri pasanggrahannya sendiri.

"Berikan mereka ramuan bubuk pengering luka," kata Patih Amangkubumi kepada seorang pelayan dalam yang menyongsong kedatangannya. Patih Amangkubumi segera duduk di sisi Patih Mahesa Amping yang telah dibaringkan di atas panggung pendapa.

"Bagaimana keadaan ayahku?" tanya Adityawarman dengan wajah penuh rasa cemas.

"Aku belum dapat memastikannya, baru menduga-duga sebagaimana laporan pertama yang kudapat dari seorang prajurit bahwa ayahmu menjadi gila dan membunuh para prajurit Majapahit," jawab Patih Amangkubumi sambil memeriksa beberapa jalan darah di tubuh Patih Mahesa Amping.

"Apakah ayahku masih dapat disembuhkan?" tanya Adityawarman kembali dengan penuh harap.

Pelayan dalam membawa dua kawannya untuk membantu, dan tanpa menunggu perintah, mereka mendekati Ki Rangga Gajah Biru serta Ki Demung Juru untuk membaluri luka-luka mereka dengan bubuk pengering luka.

"Bawakan kepadaku selembar daun keladi dan pisau pendekku," pinta Patih Amangkubumi.

"Aku masih menduga-duga. Untuk kepastiannya, aku harus melihat sendiri beberapa tetes darahnya," ujar Patih Amangkubumi yang merasa kasihan melihat kecemasan di wajah Adityawarman. Tidak lama berselang, pelayan dalam datang membawa daun keladi dan pisau pendek yang langsung diserahkan kepada Patih Amangkubumi. Patih Amangkubumi menorehkan pisau pendeknya di salah satu ujung jari Patih Mahesa Amping. Darah segar yang keluar ditadahkan ke atas lembaran daun keladi tersebut. Patih Amangkubumi menarik napas berat.

"Ayahmu terkena serangan racun hati celeng bunting," ucap Patih Amangkubumi dengan suara lirih.

"Racun hati celeng bunting?" seru Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu bersamaan, merasa baru kali ini mendengar jenis racun tersebut.

"Orang biasa akan mati dalam satu hari, sementara ayahmu masih dapat bertahan hingga saat ini. Nampaknya daya sakti hawa murninya telah bekerja sendiri melindungi tubuhnya, namun tidak mampu melindungi bagian isi kepalanya. Itulah yang menyebabkan ingatan ayahmu tak terkendalikan," jelas Patih Amangkubumi.

"Apakah ayahku masih dapat disembuhkan?" tanya Adityawarman lagi.

"Serahkan semuanya kepada Gusti Yang Maha Hidup. Dialah penguasa kehidupan ini; hidup dan mati kita ada di tangan-Nya. Sementara kita hanya dapat berupaya dengan syariat-Nya," jawab Patih Amangkubumi sambil berdiri dan memanggil pelayan dalam.

Setelah menyebutkan beberapa tanaman obat, Patih Amangkubumi berkata, "Kamu harus pergi cepat ke Hutan Maja."

"Hamba pamit diri," jawab pelayan dalam tersebut. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia melesat terbang dan menghilang di ujung gerbang gapura puri pasanggrahan. Tidak lama berselang, pelayan dalam itu kembali.

"Hamba telah mendapatkan tanaman obat yang Tuan cari," katanya sambil menyerahkan beberapa lembar daun dan kulit kayu kepada Patih Amangkubumi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment