Chapter 120
Kecepatan gerak Empu Nambi benar-benar sukar diikuti oleh pandangan mata biasa. Mantan Patih Amangkubumi Majapahit itu membuat para prajurit Majapahit kebingungan karena bergerak sangat cepat dan berulang kali melemparkan musuh dengan sambaran senjata cakra yang datang dari tempat tak terduga.
Sebagaimana Empu Nambi, tandang Adipati Menak Koncar tidak jauh berbeda dengan ayahandanya. Cakra di tangan Adipati Menak Koncar menyapu bersih pasukan Majapahit, melemparkan tubuh para prajurit dengan luka berat hingga mereka terjengkang di pantai berpasir itu.
Kehadiran Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar sangat memengaruhi jalannya pertempuran. Dalam waktu singkat, jumlah prajurit Majapahit yang baru turun dari bahtera berkurang drastis.
Dalam waktu sekejap, jumlah prajurit Majapahit menyusut tajam. Sementara itu, pertempuran kian bergeser ke atas air laut dangkal, membuat pasukan Majapahit semakin terdesak mundur.
Namun, ketika pertempuran di air laut dangkal tengah berlangsung, tiba-tiba sebuah bahtera besar dengan pertanda khusus milik Kerajaan Majapahit mendekati bibir pantai. Perasaan prajurit Lamajang berdebar karena menduga ada bantuan bagi musuh. Kecemasan mereka memuncak saat melihat ratusan orang melompat dari atas bahtera dan terjun ke laut dangkal.
Namun, kecemasan itu segera berubah menjadi kegembiraan saat dari anjungan bahtera terdengar teriakan yang cukup keras, menandingi debur ombak malam.
"Wahai para prajurit Lamajang, aku, Panji Wiranagari, ingin turut menjamu tamu-tamu kalian!" teriak Panji Wiranagari.
Ternyata, pasukan Panji Wiranagari dan Panji Samara telah berhasil memenangkan pertempuran dan menguasai bahtera besar milik Kerajaan Majapahit tersebut. Kedatangan mereka benar-benar mengejutkan pasukan Majapahit yang kini terjepit dari dua sisi. Satu per satu prajurit Majapahit gugur dan hanyut dibawa ombak.
Dalam waktu singkat, jumlah pasukan Majapahit menyusut hingga separuhnya. Ketangguhan Empu Nambi dan putranya, serta kepiawaian pasukan Panji Wiranagari dan Panji Samara yang merupakan satuan khusus Kerajaan Majapahit, benar-benar memengaruhi hasil pertempuran. Perlahan tapi pasti, prajurit Majapahit yang terjepit semakin berkurang karena terus berguguran.
Senapati perang Majapahit, yang menyadari akhir pertempuran tersebut, tidak ingin prajuritnya habis sia-sia.
"Wahai para prajurit Majapahit, angkat tinggi-tinggi senjata kalian. Aku, Senapati Bantaran, memerintahkan kalian menyerah!" seru sang Senapati dengan lantang ke seluruh penjuru medan laga.
Mendengar perintah itu, serentak semua prajurit Majapahit mengangkat senjata tinggi-tinggi sebagai pertanda menyerah dan tidak akan melawan.
"Jaga jarak kalian! Mereka telah menyerah!" teriak Adipati Menak Koncar.
Prajurit Lamajang segera mengatur jarak dengan prajurit Majapahit yang masih memegang senjata sebagai tanda takluk.
"Lepaskan senjata kalian!" perintah Senapati Bantaran kepada pasukannya.
Bulan sabit di langit seolah tersenyum memandang iring-iringan pasukan Lamajang yang bergerak meninggalkan pantai Pasuruan. Langkah mereka tampak rancak menapaki jalan menuju pulang. Bersama mereka, prajurit Majapahit dengan tangan terikat berjalan menunduk lesu sebagai tawanan perang. Di belakang iring-iringan, tampak puluhan pedati yang sarat dengan perbekalan yang dijarah dari bahtera Majapahit.
Saat langit mulai bias dengan garis kemerahan, pasukan Lamajang telah mendekati batas kota Kadipaten Lamajang.
"Tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini, semua akan berujung," batin Empu Nambi sambil memandang langit yang berganti dari malam menuju pagi. "Adilkah diriku? Untuk mempertahankan kepala ini, aku harus mengorbankan begitu banyak orang," lanjutnya dalam hati, meratapi sikapnya yang enggan tunduk pada panggilan pengadilan Kerajaan Majapahit.
Iring-iringan pasukan telah memasuki jalan utama menuju istana Kadipaten Lamajang. Empu Nambi melihat rumah-rumah kosong ditinggalkan penghuninya dan hamparan sawah yang terbakar hitam.
"Mereka meninggalkan kampung halaman dan membakar sawah sendiri. Apakah ini mimpi buruk?" Empu Nambi mengucek matanya, berharap ini hanyalah bunga tidur. Namun, kenyataan tetap pahit. "Aku tidak sedang bermimpi. Aku berada di alam nyata, dalam suasana terburuk di kehidupanku," batinnya sambil menarik napas dalam, mencoba menerima kenyataan bahwa dirinya hanyalah sebutir debu yang terombang-ambing takdir Penguasa Alam Semesta.
"Kemarin aku berada di istana Majapahit, penuh sanjungan. Sekarang, aku berjalan sebagai pelarian yang terhina. Semoga aku tetap berada dalam kasih-Mu, tidak tertipu oleh warna-warni kehidupan. Izinkan diri ini selalu dekat dengan-Mu, jangan palingkan aku dalam perjuangan menegakkan kebenaran nurani," bisik Empu Nambi dalam hati.
Angin pagi membelai wajahnya. Empu Nambi sadar ia tidak bermimpi ketika seorang pengawal memegang tali kekang kudanya di depan gerbang istana.
Sementara itu di istana Majapahit, Tumenggung Mahesa Semu mencoba mendalami laporan bendahara kerajaan bahwa Mahapatih dan Ra Kuti bekerja sama membangun kekuatan baru di tempat tersembunyi dekat Kotaraja.
"Kita harus segera mengetahui di mana mereka menyembunyikan pasukan itu," ujar Tumenggung Mahesa Semu kepada Adityawarman.
"Mereka sangat licin dan berhati-hati. Petugas kita belum berhasil melacak lokasi persembunyian pasukan mereka," jawab Adityawarman.
"Mulai hari ini, kita akan menyisir orang-orang kepercayaan mereka yang sering berhubungan dengan mereka," tegas Tumenggung Mahesa Semu.
"Berdasarkan laporan telik sandi yang membayangi Ra Kuti, ada seorang lelaki tua yang tinggal bersamanya. Tidak banyak yang mengenal sosok itu, tetapi ia sering keluar rumah dalam waktu yang cukup lama," tutur Adityawarman.
"Aku yakin orang itulah yang digunakan Mahapatih dan Ra Kuti sebagai kepanjangan lidah untuk mengendalikan pasukan mereka," duga Tumenggung Mahesa Semu.
"Mulai hari ini, aku akan membayangi orang itu," sahut Adityawarman.
"Sebaiknya kamu meminta bantuan orang biasa yang bisa kita percaya. Aku khawatir dirimu dan para telik sandi Majapahit sudah mereka kenali," saran sang Tumenggung.
"Mungkin kita bisa meminta bantuan Supo Mandagri," usul Adityawarman.
"Aku percaya dengan anak muda itu," setuju Tumenggung Mahesa Semu.
Supo Mandagri adalah anak muda yang tinggal bersama Gajah Mada dan ibundanya di Puri Pasanggrahan milik Jayakatwang di Tanah Ujung Galuh. Atas izin Gajah Mada, pemuda itu membangun pondokan di belakang puri sebagai dapur pembuatan keris pusaka.
Di saat yang sama pada pagi itu, sebuah iring-iringan pasukan besar terlihat di Pasuruan, tidak jauh dari pantai Gadingrejo. Mereka segera membangun barak-barak darurat di sebuah tanah lapang yang cukup luas.