Chapter 232
Beberapa pohon kelapa yang tinggi di jalan Kotaraja Bali terlihat bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti arah angin yang bertiup amat kencang.
Kotaraja Bali yang sudah sepi mencekam itu bertambah menjadi lebih mencekam lagi, tidak terlihat orang yang berlalu-lalang di jalan-jalan.
Kotaraja Bali telah menjadi sebuah kota yang mati tidak berpenghuni.
Tampaknya semua orang sudah pergi menjauhi Kotaraja Bali, pergi ke tempat yang menurut mereka aman dari dampak kekacauan sebuah peperangan yang akan terjadi.
Kotaraja Bali yang telah begitu sepi mencekam itu bertambah mencekam ketika hujan deras turun mengguyur bumi.
Hujan baru reda ketika malam menyelimuti.
Tidak terlihat pelita malam di setiap rumah di Kotaraja Bali, mungkin penghuninya sudah pergi mengungsi, atau penghuninya sendiri yang sengaja tidak menyalakan pelita malam di rumahnya untuk keselamatannya.
Malam yang gelap, malam yang sungguh mencekam menyelimuti hati dan perasaan setiap warga yang memilih untuk tetap bertahan di Kotaraja Bali.
Dan malam itu terasa lebih panjang dibandingkan malam-malam sebelumnya.
Hingga akhirnya, saat menjelang awal pagi yang senyap, terlihat sebuah kobaran api yang amat besar memenuhi langit bumi di ujung sebelah timur Kotaraja Bali Dwipa.
Itu adalah pertanda obor besar dari sebuah hutan kayu yang terbakar, sebuah pertanda perintah penyerangan Kotaraja Bali yang dinyalakan oleh Patih Gajah Mada.
Gemuruh suara ribuan prajurit Majapahit datang dari arah utara dan selatan Kotaraja Bali.
Tidak ada pilihan lain bagi para prajurit Bali selain mengangkat senjata mempertahankan bumi kelahiran mereka dari banjir bandang prajurit Majapahit yang datang bergelombang memenuhi seluruh jalan, memenuhi setiap lapangan terbuka.
Suara gemerincing peperangan telah benar-benar memenuhi hampir di setiap sisi Kotaraja Bali.
Dalam waktu yang begitu singkat, ribuan prajurit Bali seperti ribuan semut hitam yang tergilas air bah.
Pedang dan tombak prajurit Majapahit datang menggilas setiap prajurit Bali yang masih berdiri untuk bertahan.
Amuk ribuan prajurit Majapahit yang datang bergelombang dari arah utara dan selatan benar-benar seperti ribuan hantu yang datang dari alam gaib.
Rasa takut, gentar, dan keputusasaan memenuhi hampir seluruh jiwa dan perasaan para prajurit Bali yang ada.
Rasa gentar para prajurit Bali bertambah-tambah ketika dari arah timur Kotaraja Bali terlihat di kegelapan pagi yang masih senyap sebuah cahaya yang panjang berantai terus bergerak.
Ternyata itu adalah pasukan khusus Patih Gajah Mada yang tengah membawa obor di tangannya bergerak menuju arah Kotaraja Bali.
Patih Gajah Mada benar-benar seorang Senapati Agung yang ulung dengan naluri siasat seorang pemburu yang sungguh cekatan, mengatur waktu dan saat yang tepat merobohkan musuh dengan waktu dan tempo yang begitu singkat.
Pasukan khusus Patih Gajah Mada seperti seekor singa jantan yang perkasa datang untuk menerkam seekor banteng besar yang tengah limbung tepat di batang lehernya.
Pasukan Patih Gajah Mada telah langsung bergerak di tengah Kotaraja Bali, telah langsung memporakporandakan barak-barak induk pasukan, memaksa para Tumenggung dan pembesar pimpinan prajurit Bali menyerah tidak berdaya.
Para prajurit Bali yang masih menahan gelombang besar prajurit Majapahit yang datang dari arah utara dan selatan Kotaraja Bali seperti kehilangan jiwa tempurnya ketika mendengar para pemimpin besar mereka sudah berada dalam kekuasaan pihak musuh.
Hingga ketika mentari pagi terlihat sudah mulai terang tanah, gemuruh suara peperangan terdengar sudah semakin surut.
Gema sorak kemenangan silih berganti terdengar hanya dari pihak pasukan Majapahit yang berhasil melumpuhkan sekelompok prajurit Bali yang menyerah.
Terlihat Patih Gajah Mada dan pasukannya terus bergerak menuju istana Kerajaan Bali.
Sungguh kecewa hati dan perasaan anak muda perkasa itu ketika mendapatkan istana telah ditinggalkan oleh Raja dan keluarganya.
Ketika matahari berada di puncak cakrawala langit biru, pasukan Bali telah dilumpuhkan, Kotaraja Bali telah berhasil sepenuhnya dalam kekuasaan pasukan Majapahit.
Itu adalah sebuah hari yang tidak mudah dilupakan oleh orang Bali.
Sebuah hari yang juga tidak dapat dilupakan oleh orang Bali di masa silam sebelumnya ketika bendera Singasari berkibar di bumi Bali, dan hari itu untuk kedua kalinya sebuah bendera asing berkibar di istana Bali.
Kali ini adalah sebuah bendera besar berwarna merah putih, bendera kebesaran Kerajaan Majapahit Raya.
"Hari ini kita telah berhasil menguasai Kerajaan Bali, namun kita tidak berhasil membawa Raja Sri Astasura Ratna Bumi ke hadapan Sang Ratu di Istana Majapahit," berkata Patih Gajah Mada di hadapan para prajurit perwiranya.
"Baru hari ini aku melihat kekecewaan hati Patih Gajah Mada," berkata Tumenggung Adityawarman dalam hati.
Dan hari itu gerimis turun merata membasahi seluruh bumi Bali.
Pulau Dewata hari itu seperti tengah menangis meratapi para putra ksatria penjaga bumi mereka yang banyak gugur tidak bernyawa.
Pulau Dewata yang elok bagaikan para dewi yang gembira tengah menari telah kehilangan kejenakaannya.
Ternyata Patih Gajah Mada benar-benar seorang yang selalu menginginkan sebuah kesempurnaan dalam menyelesaikan setiap tugas yang diembannya, maka sehari setelah penaklukan Kotaraja Bali, ditugaskannya beberapa orang petugas telik sandi untuk mencari di mana keberadaan Raja Bali saat itu.
Hingga akhirnya dalam waktu yang begitu singkat, salah seorang petugas telik sandi telah menemukan di mana Raja Bali dan keluarganya itu pergi mengungsi, yaitu di sekitar Gunung Batur.
"Apakah kita perlu membawa bala prajurit segelar sepapan mengepung Gunung Batur?" berkata Tumenggung Adityawarman kepada Patih Gajah Mada.
Tampaknya Patih Gajah Mada memiliki pandangan tersendiri untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Raja Bali itu.
"Tugas utama kita di Bali Dwipa ini adalah membawa kembali Kerajaan Bali ini ke Bumi Pertiwi, mengikat kembali tali persaudaraan antara orang Bali dan orang Jawa sebagaimana yang terjadi di masa lampau.
Aku akan menawarkan kepada Raja Sri Astasura Ratna Bumi untuk kembali duduk di singgasananya," berkata Patih Gajah Mada kepada Tumenggung Adityawarman.
"Aku belum dapat mengerti apa yang kamu maksudkan dengan pemberian singgasana kembali kepada Raja Bali itu, wahai saudaraku," berkata Tumenggung Adityawarman kepada Patih Gajah Mada.
Terlihat Patih Gajah Mada tersenyum memandang Tumenggung Adityawarman, mengerti apa yang ada dalam pikiran saudara angkatnya yang merasa sangat berat hati memberikan kembali takhta singgasana kepada seorang raja yang baru saja dikalahkan itu.
"Raja Bali memiliki pengaruh yang amat kuat di Bali Dwipa ini, dengan pengaruhnya itu ia dapat menggerakkan banyak orang untuk melakukan berbagai pemberontakan di berbagai tempat, peperangan terus berlanjut dan tidak akan pernah berakhir.
Aku akan melakukan sebuah penawaran kepada Raja Bali untuk berbagi kekuasaan, memberikan kembali istananya namun tanpa kekuasaan memiliki sebuah pasukan perang," berkata Patih Gajah Mada menyampaikan maksud buah pikirannya itu kepada Tumenggung Adityawarman.
"Aku sangsi apakah Raja itu dapat mempercayai penawaran kita itu?" berkata Tumenggung Adityawarman merasa sangsi atas rencana Patih Gajah Mada.
"Kita perlu seseorang yang mampu meyakinkan Raja itu bahwa kita benar-benar ingin berdamai," berkata Patih Gajah Mada.
"Sangat sukar mencari seseorang yang dapat memengaruhi Raja Bali yang konon kudengar sangat keras kemauannya," berkata Tumenggung Adityawarman.
"Aku mengenal seseorang yang mungkin saja dapat mencairkan kekerasan hati Raja Bali itu, beliau adalah mantan Mahapatihnya sendiri yang juga adalah gurunya," berkata Patih Gajah Mada.
"Ki Pasunggrigis?" berkata Adityawarman menyebut sebuah nama.
Dan langit di atas Kotaraja Bali terlihat begitu cerah di awal senja, terlihat dua orang berkuda baru saja meninggalkan gapura batas Kotaraja Bali.
Ternyata kedua orang berkuda itu adalah Patih Gajah Mada dan Tumenggung Adityawarman, dua orang tokoh muda yang tengah menjulang namanya sebagai dua orang pemimpin pasukan Majapahit yang telah menaklukkan Kerajaan Bali.
Terlihat wajah kedua anak muda itu terhempas angin, debu beterbangan di belakang langkah-langkah kaki kuda mereka.
Hingga ketika keduanya telah mendekati sebuah regol padukuhan, terlihat keduanya memperlambat laju kuda mereka.
Ternyata hari itu kedua anak muda itu tengah bermaksud menemui Ki Pasunggrigis di padepokannya.
Sebuah padepokan kecil yang berada di sebuah Padukuhan Tengkulak, sebuah padukuhan yang berada di pinggiran Kotaraja Bali.
"Sungguh sebuah kehormatan untuk padepokan kami, dikunjungi dua orang tokoh muda pemimpin pasukan perang Majapahit," berkata Ki Pasunggrigis menyambut kedatangan kedua anak muda itu di padepokannya.
Ki Anupati dan Putu Risang yang berada di atas panggung pendapa Padepokan Ki Pasunggrigis terlihat ikut berdiri menyambut kedatangan kedua anak muda itu.
"Belum sempurna rasanya jika belum dapat melunasi janjiku untuk datang ke padepokan ini."
Patih Gajah Mada berkata dengan penuh kesahajaan dan kesederhanaannya, tidak berlaku layaknya seorang panglima besar yang ingin dihormati.
Terlihat Ki Pasunggrigis mempersilakan kedua tamunya itu duduk bersama di panggung pendapanya.
"Aku sudah mendengar tentang kemenangan pasukan kalian di Kotaraja Bali," berkata Putu Risang kepada kedua anak muda itu.
"Semua berkat iringan pertolongan Gusti Yang Maha Agung dan doa restu kalian bertiga di padepokan ini," berkata Patih Gajah Mada mengawali maksud kedatangannya menemui Ki Pasunggrigis di padepokannya.