Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 182

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 182

Patih Gajahmada benar-benar tengah murka; ia tidak dapat lagi mengendalikan kekuatan tenaga sakti sejatinya yang mampu meruntuhkan gunung dan menghancurkan batu cadas yang sangat keras sekalipun. Kali ini, tangan Patih Gajahmada yang telah dilambari tenaga sakti tingkat tinggi itu menghantam batok kepala Ra Tanca.

Prak!

Kepala Ra Tanca hancur remuk berdebu. Darah dari tubuh Ra Tanca berceceran memenuhi lantai kamar Baginda Raja Jayanagara. Sedikit keributan di dalam kamar memaksa Mahapatih Arya Tadah menerobos masuk.

"Apa yang telah terjadi?" tanya Mahapatih Arya Tadah dengan wajah termangu melihat suasana di dalam kamar.

Mendengar pertanyaan itu, kesadaran Patih Gajahmada kembali. Anak muda itu menarik napas dalam-dalam dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Ra Tanca telah meracuni Baginda Raja?" tanya Mahapatih Arya Tadah setelah mendengar penuturan Patih Gajahmada.

"Sisa air di mangkuk itu menjadi alat bukti yang kuat," ujar Patih Gajahmada sambil menunjuk ke arah mangkuk minuman yang masih tergeletak di lantai.

"Racun ular merah!" seru Mahapatih Arya Tadah setelah mencium air yang tersisa di dalam mangkuk tersebut.

Tanpa menunggu jawaban, Mahapatih Arya Tadah langsung memeriksa keadaan Raja Jayanagara yang terbaring di peraduannya. Ia menarik napas panjang. "Kematian satu Ra Tanca, dua Ra Tanca, atau sepuluh Ra Tanca, tidak akan mengembalikan jiwa Raja Jayanagara," ucapnya dengan bijak guna menyadarkan Patih Gajahmada.

"Paman benar, semua sudah ada dalam garis rencana Gusti Yang Maha Agung, pemilik kehidupan ini," jawab Patih Gajahmada yang telah mampu mengendalikan perasaannya.

Gemparlah seluruh warga kotaraja Majapahit saat mendengar berita duka tentang kematian raja mereka. Hampir semua orang mengecam Ra Tanca sebagai pembunuh keji. Pembicaraan mengenai kematian Raja Jayanagara selalu diiringi caci maki terhadap sosok tersebut. Kemalangan pun menimpa Nyi Ra Tanca ketika rahasia hubungan kekerabatannya dengan Ra Kuti terbongkar. Wanita malang itu terusir dari tempat tinggalnya dan menghindari amukan warga kotaraja yang penuh kebencian.

Sementara itu, sang penabur badai, Kuda Jenar, masih aman bersembunyi di balik kemalangan keluarga Ra Tanca. Berita kematian Raja Jayanagara yang tragis menyebar hingga ke pelosok negeri dan bandar pelabuhan. Bumi Majapahit berkabung. Semua orang menanti siapa yang akan naik takhta menggantikan raja yang tidak memiliki keturunan penyambung takhta tersebut.

Sepekan setelah hari berkabung, keluarga istana dan para priayi agung berkumpul di pendapa agung puri pasanggrahan Raja Jayanagara.

"Sembah bakti kami para panca Wilwatikta di hadapan Gusti Kanjeng Ratu, pemangku Bhatara Prabu. Sabda dan titah Gusti Kanjeng Ratu akan kami patuhi sebagaimana sabda dan titah paduka junjungan kami, Raja Jayanagara," kata Mahapatih Arya Tadah kepada ibunda Ratu Gayatri mewakili para priayi agung.

Ibunda Ratu Gayatri menarik napas dalam-dalam. Pandangannya lurus ke depan, sementara para priayi agung menunggu penuturan wanita yang anggun dan berwibawa itu.

"Kami keluarga istana telah sepakat mengantar putri sulungku, Juwaraja Tribuwana, naik takhta menggantikan Raja Jayanagara. Namun, ada beberapa pertimbangan pengukuhannya ditunda mengingat putri sulungku itu baru saja melahirkan anak pertamanya. Berdasarkan hal ini, aku sebagai pemangku Bhatara Prabu untuk sementara waktu mengambil alih kendali kerajaan ini," ujar ibunda Ratu Gayatri.

"Sabda dan titah Gusti Kanjeng Ratu akan kami junjung tinggi dengan penuh kesetiaan, kepatuhan, dan kesungguhan," jawab Mahapatih Arya Tadah.

Sejak saat itu, ibunda Ratu Gayatri mengambil alih kendali kerajaan dan melaksanakan tugas-tugas seorang raja tanpa takhta. Tidak ada gejolak apa pun saat Ratu Gayatri memimpin, dibantu oleh Mahapatih Arya Tadah yang cerdas dan tangkas. Ratu Gayatri ternyata memiliki pengetahuan luas tentang ketatanegaraan dan sangat memahami ajaran Nawasanga sebagai ajaran keseimbangan.

"Pemikiranku ini adalah warisan pemikiran yang dimiliki oleh ayahku, Raja Kertanagara, serta penyempurnaan apa yang telah dilakukan oleh suamiku, Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Singgasana agung adalah perwujudan sang dewa Siwa yang berada di pusat, dikelilingi delapan dewa di delapan penjuru mata angin. Di hari yang penuh kemuliaan ini, kutetapkan bahwa singgasana agung Majapahit bergeser ke arah lebih barat lagi, di sebuah tempat yang jauh terlindungi dari serangan musuh, yakni di tempat yang disucikan di hutan Sastrawulan," papar ibunda Ratu Gayatri.

"Dengan bergesernya pusat kerajaan Majapahit, bekas kotaraja ini akan menjadi perluasan kerajaan Kahuripan. Pusat kerajaan Majapahit adalah sang matahari, kerajaan Kahuripan adalah sang bulan di timurnya. Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu memberi perlindungan dan keselamatan kepada kita semua," pungkasnya di Bale Witana.

Tutur kata ibunda Ratu Gayatri terdengar jernih dan mudah dicerna. Semua orang merasa tercerahkan oleh pemikiran agung wanita yang konon memiliki kecantikan leluhurnya, Ken Dedes.

Itulah pasewakan agung ibunda Ratu Gayatri yang terakhir. Sebulan kemudian, beliau mengundurkan diri dan menyerahkan takhta kepada putri sulungnya, Tribuwana Tunggadewi, dengan gelar abhiseka Sri Tribuwanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

Sementara itu, pembangunan istana baru di hutan Sastrawulan terus berlangsung. Raden Kudamerta diberi tugas untuk mewujudkannya dan ia meminta bantuan Kuda Jenar, ahli perancang bangunan candi dari kerajaan Wengker. Kuda Jenar merasa gembira karena ini adalah kesempatannya memasuki wilayah istana Majapahit lebih jauh.

Di sisi lain, di kotaraja Kediri, seorang wanita berpakaian compang-camping berdiri di depan pintu sebuah kedai yang ramai.

"Kehadiranmu di sini akan membuat sial kedaiku," bentak pemilik kedai.

"Beri aku makan satu kali, aku akan bekerja di kedai ini seharian penuh," mohon wanita itu dengan memelas.

"Aku sudah punya pembantu. Carilah dermawan lain," tolak si pemilik kedai.

Wanita itu hampir berbalik pergi ketika seseorang di dekat mereka memotong pembicaraan. "Biarkan wanita ini masuk ke kedaimu, wahai Pak Tua. Aku yang akan membayarnya."

Pemilik kedai terkejut melihat Ki Rangga Gajah Biru, salah satu priayi agung di istana Daha. Dengan perasaan malu dan takut, ia langsung melayani mereka dengan ramah. Setelah selesai makan, Ki Rangga Gajah Biru berkata, "Kupastikan dirimu bukan orang Daha."

"Terima kasih atas kebaikan Tuan telah membayarkan makanan ini. Aku memang bukan orang Daha, aku berasal dari kotaraja Majapahit," jawab wanita itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment