Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 111

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 111

"Aku merasa tenang di tempat ini," kata Raja Jayanagara kepada orang tua itu.

Terlihat orang tua itu tersenyum sangat tulus, seperti seorang ayah memandang anak yang tengah asyik bermain di halaman.

"Nampaknya Baginda Raja tengah memandang banyak hal yang tidak mengenakkan hati," ujar orang tua itu dengan perkataan yang lembut dan penuh ketulusan.

Mungkin karena sedari kecil Raja Jayanagara kurang mendapatkan perhatian penuh dari ayahandanya, hal itu membuat Raja Jayanagara begitu haus akan kasih sayang.

Raja Jayanagara mulai menyukai orang tua itu.

"Bila Baginda Raja punya ganjalan di hati, katakanlah kepadaku," ucap orang tua itu dengan wajah yang lembut.

Namun, Raja Jayanagara menatap tajam ke arah orang tua itu, seakan bertanya, "Apakah kamu dapat dipercaya?" Ternyata, orang tua itu seolah dapat membaca pikiran Raja Jayanagara.

"Di Kotaraja ini hamba tidak punya kerabat, saudara, atau seorang sahabat pun. Apapun yang Baginda Raja sampaikan tidak akan aku katakan kepada siapapun." Mendengar perkataan orang tua itu yang mengaku tidak punya kerabat, saudara, dan sahabat, membuat Raja Jayanagara merasa sepenanggungan dengannya.

"Orang tua tidak punya siapa-siapa di Kotaraja ini?" tanya Baginda Raja Jayanagara.

"Panggil hamba Ki Secang, itulah nama hamba," jawab orang tua itu yang ternyata adalah Ki Secang, seseorang yang dipekerjakan sebagai pengurus pura istana.

Entah mengapa Raja Jayanagara mulai percaya kepada Ki Secang. Tanpa disadari, ia telah bercerita tentang kegundahan hatinya, rasa kecewa kepada ayahandanya sendiri, dan rasa kecewa mengapa terlahir berdarah campuran, bukan sebagai orang Jawa asli.

Ternyata, Ki Secang adalah seorang pendengar yang baik; ia mendengarkan semua kegundahan hati Raja Jayanagara. Demikianlah, sejak saat itu hampir setiap malam Raja Jayanagara menyempatkan waktunya berkunjung ke pura istana. Ki Secang selalu menjadi pendengar yang setia.

Kedekatan Raja Jayanagara semakin meningkat menjadi sebuah kekaguman manakala Ki Secang menunjukkan beberapa ilmu kesaktiannya yang memang sudah amat langka.

"Apakah Baginda Raja ingin mempelajarinya?" tanya Ki Secang kepada Baginda Raja.

"Senang sekali seandainya aku memahaminya," jawab Raja Jayanagara.

"Mulailah Baginda Raja dengan mengenal senjata trisula kembar ini," ujar Ki Secang sambil menyerahkan kedua buah trisula kembarnya kepada Raja Jayanagara.

Demikianlah, pada malam itu dan malam-malam selanjutnya, Raja Jayanagara mulai mendalami aliran perguruan yang sangat berbeda dasar geraknya dari aliran yang sudah dipelajarinya selama ini. Namun, karena dasar kanuragan Raja Jayanagara sudah amat tinggi, tidak sukar baginya mempelajari aliran yang bersumber dari perguruan Ki Secang.

Ki Secang mulai membangun jeratan-jeratan permainan baru. Celakanya, Raja Jayanagara dengan begitu mudahnya menerima semua pemikiran dan pemahaman Ki Secang—pemikiran dan pemahaman dari aliran agama yang lain, bukan aliran agama sembahan keluarganya.

Dalam pandangan Raja Jayanagara, Ki Secang adalah orang yang sangat tulus, penuh kasih sayang, memiliki pemahaman tinggi tentang ilmu kejiwaan, sekaligus seseorang yang bersembunyi di balik kesaktiannya. Lebih celaka lagi, diam-diam Raja Jayanagara telah mengangkat Ki Secang sebagai guru rohaninya dan secara sadar serta sukarela memanggilnya dengan sebutan Empu Halayuda. Nama asli Ki Secang tersebut terungkap setelah ia berterus terang tentang jati dirinya sebagai seorang bangsawan, keturunan keenam dari Raja Wurawari, raja sakti perkasa yang hanya dapat ditandingi oleh kesaktian guru Raja Erlangga pada zamannya.

Sementara itu, Ra Kuti yang melihat kedekatan Ki Secang dengan Raja Jayanagara mulai menjaga jarak dan membiarkan Ki Secang dengan permainannya, meski diam-diam mereka kadang melakukan pertemuan rahasia.

Hubungan Raja Jayanagara dan Ki Secang akhirnya bukan rahasia umum lagi manakala Raja Jayanagara mengangkatnya menjadi salah satu anggota Dharmayaksa. Semua orang kemudian memanggil Ki Secang sebagai Dang Acarca Empu Halayuda. Perlahan tapi pasti, Empu Halayuda mulai meniup api permusuhan antara Raja Jayanagara dengan Patih Amangkubumi. Hal itu dimulai dengan pembicaraan Empu Halayuda tentang perlunya seorang permaisuri bagi Raja Jayanagara.

"Baginda Raja sudah seharusnya mempunyai seorang permaisuri," kata Empu Halayuda pada suatu malam kepada Baginda Raja Jayanagara.

"Siapa menurut Guru wanita yang pantas menjadi pendampingku?" tanya Baginda Raja.

"Dyah Wiyat, putri Kanjeng Ratu Gayatri dari Kahuripan," jawab Empu Halayuda.

"Dyah Wiyat?" tanya Raja Jayanagara. "Dia adalah adik tiriku sendiri."

"Tidak masalah. Bukankah ayahanda Baginda Raja sendiri mengawini putri Gayatri yang masih sedarah dekat dengannya?" sahut Empu Halayuda. "Dengan menyunting putri Dyah Wiyat, Baginda dapat memperkuat kedudukan saat ini. Kedudukan Baginda tidak akan tergoyahkan karena telah merangkul keturunan pemilik wahyu keraton di tanah Jawa ini, yaitu Ratu Kendedes, leluhur Raja Kertanagara," lanjut Empu Halayuda meyakinkan.

"Bila memang wanita itu dapat mengokohkan kedudukanku, aku bersedia mempersuntingnya," ujar Raja Jayanagara menyetujui.

Rencana Raja Jayanagara untuk mempersunting Dyah Wiyat dikecam keras oleh Patih Amangkubumi. Namun, hal ini justru menjadi bumerang bagi Patih Amangkubumi karena ia semakin dijauhkan dari hubungan dengan Raja Jayanagara. Empu Halayuda memengaruhi Raja Jayanagara dengan mengatakan bahwa Patih Amangkubumi sengaja tidak ingin melihat kedudukan Raja Jayanagara menjadi kuat dan tak tergoyahkan.

"Empu Nambi tidak ingin melihat kedudukan Baginda Raja menjadi kuat. Jangan-jangan ada maksud tersendiri dari Empu Nambi untuk mencari kesempatan merangkul keluarga Kanjeng Ratu Gayatri guna menyingkirkan takhta Baginda Raja," hasut Empu Halayuda.

"Empu Nambi tidak mau menjadi utusanku ke Tanah Kahuripan," keluh Raja Jayanagara.

"Hamba bersedia menjadi utusan Baginda Raja, membawa nama Baginda Raja untuk datang melamar sendiri ke Tanah Kahuripan," tawar Empu Halayuda.

"Terima kasih. Kapan Empu Halayuda akan berangkat melamar untukku?" tanya Raja Jayanagara penuh kegembiraan.

"Besok hamba akan berangkat ke Tanah Kahuripan," jawab Empu Halayuda.

Pagi-pagi sekali, Empu Halayuda berangkat menuju Tanah Kahuripan. Matahari baru saja bergeser dari puncaknya saat kuda yang ditungganginya memasuki gapura batas Kotaraja Kahuripan.

"Kota tua milik Raja Erlangga, musuh leluhurku," batin Empu Halayuda ketika memasuki jalan utama menuju pusat kotaraja Kahuripan.

Bumi Kahuripan adalah tanah datar dengan hasil bumi berupa padi yang menjadi sumber penghidupan utama sekaligus komoditas dagang paling unggul di zaman itu. Suasana kemakmuran dan kesejahteraan warganya kian meningkat saat Ratu Tribuana Wijaya Tunggadewi menjadi raja muda di sana.

"Siapakah Tuan, dan ada keperluan apa gerangan?" tanya seorang prajurit penjaga istana Kahuripan kepada pendeta tua yang tak lain adalah Empu Halayuda.

"Aku utusan dari Kerajaan Majapahit, bermaksud bertemu langsung dengan Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri," jawab Empu Halayuda sambil menunjukkan peneng emas bergambar Cakra Nawa Sanga.

Dua prajurit penjaga terkejut. Mereka tahu peneng emas itu adalah tanda resmi penguasa tunggal Bumi Majapahit, yang menandakan pembawanya bukan orang sembarangan.

"Kami akan mengantar Tuan," ujar prajurit itu dengan penuh hormat.

Setelah dipertemukan dengan Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri, Empu Halayuda memperkenalkan diri, "Hamba adalah Dang Acarca Empu Halayuda, diutus sebagai utusan Baginda Raja Jayanagara."

"Pastinya ada sesuatu yang amat penting sehingga Raja Jayanagara harus mengutus seorang pendeta datang menghadapku," kata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri.

"Dugaan Kanjeng Ratu sangat tepat, tidak tergelincir sedikit pun," jawab Empu Halayuda.

"Katakanlah segera agar aku tidak banyak menduga-duga," sahut Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang mulai tidak suka dengan sikap orang di hadapannya itu—yang sekilas menangkap pandangan lelaki kebanyakan ketika melihat kaum wanita.

"Sesungguhnya maksud kedatangan hamba adalah untuk meminang putri Dyah Wiyat," ucap Empu Halayuda.

Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri terkejut; ia tidak menyangka utusan Raja Jayanagara bermaksud meminang putri Dyah Wiyat.

"Raja Jayanagara benar-benar Raja Kalagemet," ucap Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri, menyebut Raja Jayanagara dengan sebutan "Raja Kalagemet", sebuah cemoohan bagi seseorang yang sudah tidak waras pikirannya di zaman itu.

"Bagaimana Kanjeng Ratu, apakah pinangan Raja Jayanagara dapat diterima?" tanya Empu Halayuda.

"Katakan kepada Raja Kalagemet itu bahwa dirinya telah terlambat satu hari dari Adipati Menak Jingga yang telah lebih dulu datang melamar putriku," jawab Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri sambil menahan amarah yang hampir meluap.

"Adipati Menak Jingga dari Balambangan?" tanya Empu Halayuda, seolah ingin penegasan dari Ibu Suri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment