Chapter 165
Di belakang kereta kencana yang berjalan perlahan itu, terlihat seorang wanita cantik jelita dengan bibir yang indah, seolah diciptakan untuk selalu menyunggingkan senyum yang begitu menawan.
Gadis jelita itu mengenakan pakaian seorang biksuni, duduk di atas punggung kudanya yang berjalan perlahan mengikuti laju gerak kereta kencana. Di samping gadis jelita itu, berkuda seorang pemuda berbadan tegap dengan rambut terurai tanpa ikat kepala. Gadis jelita dan pemuda tampan rupawan di atas kuda mereka memang menimbulkan rasa iri bagi siapa pun yang memandangnya, layaknya sepasang dewa dan dewi dari kahyangan yang turun menyambangi bumi.
"Kakang Gajah Mada belum menjawab pertanyaanku," ujar gadis jelita itu dengan kerling dan senyum di bibirnya yang diarahkan kepada pemuda berwajah rupawan di sampingnya.
"Pertanyaan yang mana?" balik bertanya pemuda rupawan yang tidak lain adalah Gajah Mada.
"Di pulau sepi, diantar oleh sedikit orang yang masih setia kepadamu," jawab gadis jelita itu yang tidak lain adalah Biksuni Andini.
"Lupakanlah, karena lamunanku sudah berubah menjadi sebuah pulau sepi dan sunyi, hanya ada dua orang manusia yang saling mencintai, yang saling menjaga," kata Gajah Mada sambil tersenyum memandang ke arah Gunung Penanggungan yang tersembul biru di balik awan putih, jauh di ujung langkah kaki kuda mereka.
"Apakah aku harus bertapa terlebih dahulu di Gunung Penanggungan untuk dapat menemui pulau impian itu?" tanya Biksuni Andini dengan suara berbisik, perlahan mengembuskan napas yang begitu harum.
"Aku akan menemanimu bertapa di sana, sebagaimana Raja Erlangga ditemani sahabatnya, Empu Narotama," sahut Gajah Mada dengan suara perlahan yang tidak terdengar oleh para prajurit berkuda di belakang mereka.
Kotaraja Kahuripan berada di sebelah selatan Kotaraja Majapahit, segaris lurus dengan arah Gunung Penanggungan dan berada di antara pertengahannya. Kotaraja Kahuripan adalah sebuah kota tua peninggalan Raja Erlangga. Keberadaan Kerajaan Kahuripan dihidupkan kembali oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya sebagai garis pertahanan pusat kerajaannya bila terjadi serangan dari orang-orang pedalaman. Tampaknya, Baginda Raja Sanggrama Wijaya belajar dari kehancuran Kerajaan Singasari ketika mendapatkan serangan dari Raja Jayakatwang beberapa tahun silam.
Sebagai seorang istri Baginda Raja Sanggrama Wijaya sekaligus putri bungsu raja terakhir Kerajaan Singasari, Ibunda Ratu Gayatri tampak sangat paham betul kedudukan Kerajaan Kahuripan bagi kelangsungan pusat Kerajaan Majapahit. Itulah sebabnya Ibunda Ratu Gayatri membutuhkan seorang patih yang cakap untuk membangun sebuah pasukan yang kuat. Pilihan Ibunda Ratu Gayatri jatuh kepada seorang pemuda yang diketahui memiliki kesaktian yang sangat tinggi di zamannya, seorang anak muda yang juga sudah cukup lama pernah tinggal bersamanya dan dikenal memiliki kesetiaan yang sangat tinggi.
"Di depan kita itu adalah Candi Darma," kata Biksuni Andini kepada Gajah Mada sambil menunjuk ke arah sebuah gapura candi yang tinggi menjulang di hadapan mereka.
"Kami membangun candi itu sebagai perlambang awal pendarmaan Raja Erlangga sebagai seorang manusia titisan Dewa Siwa yang turun ke bumi untuk memberikan cahaya kehidupan," lanjut Biksuni Andini kepada Gajah Mada.
Pandangan mata Gajah Mada telah melihat patung Dewa Siwa di atas gapura, namun Gajah Mada tidak menanyakan kepada Biksuni Andini mengapa ada sebuah patung Buddha di atas pintu masuk gapura itu. Tidak lama berselang, iring-iringan itu telah memasuki Kotaraja Kahuripan.
"Besok aku akan memerintahkan Ki Arya Kanuruhan untuk menyiapkan kekancingan dirimu sebagai seorang patih di Kerajaan Kahuripan ini. Sementara hari ini, Biksuni Andini akan mengantarmu mengenal beberapa tempat di istana ini, juga ke tempat tinggalmu," ujar Ibunda Ratu Gayatri kepada Gajah Mada di pendapa agung Istana Kahuripan.
Demikianlah, pada hari itu juga Biksuni Andini mengantar Gajah Mada ke beberapa tempat di Istana Kahuripan.
"Ini adalah puri pasanggrahan tempat para tamu agung kami, silakan beristirahat, wahai Tuan Patih," kata Biksuni Andini penuh senyum manis kepada Gajah Mada.
"Di manakah seorang Patih Kerajaan Kahuripan dapat bertemu seorang biksuni di istana ini?" tanya Gajah Mada menyambut senyum gadis jelita itu.
"Tidak setiap saat, hanya dalam setiap hari keagamaan di kuil milik keluarga istana," jawab Biksuni Andini.
Ternyata Ibunda Ratu Gayatri tidak salah memilih Gajah Mada sebagai patih di Kerajaan Kahuripan. Anak muda itu ternyata memiliki bakat sebagai pemimpin yang cakap; dalam waktu yang amat singkat, ia telah mampu merangkul seluruh pejabat istana Kahuripan. Tampaknya, kerendahan hati dan kesederhanaannya telah mencuri hati seluruh warga istana, mulai dari para pejabat tinggi istana hingga para pekatik; semua menyukai dan menyenanginya. Patih Gajah Mada, sebuah nama yang telah melekat di diri anak muda itu sejak berada di Kerajaan Kahuripan.
Ibunda Ratu Gayatri merasa gembira melihat bagaimana cara Patih Gajah Mada membangun sebuah pasukan yang kuat dan tangguh di Kerajaan Kahuripan. Ternyata Patih Gajah Mada tidak menambah jumlah pasukan yang sudah ada, melainkan meningkatkan tataran kemampuan yang dimiliki oleh setiap prajuritnya. Ia memulainya dari sepuluh orang prajurit perwira dari kesatuan masing-masing.
"Lepaskan pedang kalian, aku akan menghadapi kalian seorang diri," perintah Patih Gajah Mada kepada sepuluh perwira tinggi di sebuah sanggar tertutup di Istana Kahuripan.
Mendengar tantangan Patih Gajah Mada, kesepuluh prajurit perwira itu segera meloloskan pedangnya dan mengepung Patih Gajah Mada yang berdiri tegak dengan penuh percaya diri. Kesepuluh prajurit perwira itu adalah orang-orang terbaik di kesatuan masing-masing. Tantangan Patih Gajah Mada memberi kesempatan kepada mereka untuk mengukur sejauh mana tingkat kemampuan anak muda itu. Tanpa ragu-ragu lagi, para prajurit perwira itu segera menyerang Patih Gajah Mada.
Bukan main terkesimanya wajah para prajurit perwira itu karena tiada satu pun serangan mereka yang dapat melukai tubuh Patih Gajah Mada yang bertangan kosong. Mereka melihat Patih Gajah Mada begitu gesit bergerak dan selalu dapat meloloskan diri dari setiap kepungan. Dalam gerakan selanjutnya, Patih Gajah Mada tidak sekadar berkelit, tetapi sudah mulai melakukan serangan balasan. Satu dua orang terlihat terkena tendangan dan tinju Patih Gajah Mada yang langsung terlempar keluar dari arena pertempuran.
Ternyata Patih Gajah Mada hanya mengeluarkan sedikit tenaga saktinya; beberapa prajurit perwira yang terlempar itu segera bangkit dan kembali bergabung menyerang. Kembali Patih Gajah Mada dapat keluar dari kepungan, dan kembali dua-tiga orang terlempar terkena tinju dan tendangan. Tampaknya para prajurit perwira itu telah mengerahkan segenap kemampuannya, namun tetap saja tidak dapat melumpuhkan anak muda yang hanya bertangan kosong itu.
Peluh terlihat mengucur deras membasahi tubuh mereka; satu dua orang tenaganya sudah mulai surut. Namun, tidak setitik pun peluh terlihat di wajah Patih Gajah Mada. Anak muda itu tampak masih segar bugar, gesit berkelit kian kemari dengan lincah menghindari serangan pedang tajam. Hingga dalam sebuah sergapan bersama, sepuluh pedang tajam bergerak ke satu titik yang sama: tubuh Patih Gajah Mada.
Namun, kesepuluh prajurit perwira itu menjadi begitu terkejut. Entah dengan cara apa, gerakan Patih Gajah Mada tak terbaca oleh penglihatan mata mereka. Tiba-tiba saja, kesepuluh prajurit perwira itu merasakan pedang mereka beradu dengan batu karang yang amat kuat, menggetarkan pedang mereka hingga rasa perih di telapak tangan membuat pedang tersebut terlepas begitu saja.
Plak! Plak! Plok!
Belum reda rasa keterkejutan mereka, tiba-tiba saja tamparan tangan Gajah Mada bersarang di wajah mereka. Kesepuluh prajurit perwira itu terlempar hingga lima langkah dari tempat berdiri, merasakan perih di wajah masing-masing.
"Kemampuan kalian sudah cukup tinggi, aku hanya sedikit menyempurnakannya, mengarahkan kalian bagaimana mengendalikan napas agar tenaga kalian tidak cepat surut dalam pertempuran," ujar Patih Gajah Mada sambil berdiri tegak dengan wajah yang tetap segar bugar, seolah tidak melakukan apa pun.
Sejak saat itu, Patih Gajah Mada dengan penuh kesungguhan hati menggembleng para prajurit perwira itu. Mereka seolah menemukan seorang guru yang sebenarnya. Para prajurit perwira itu terus berlatih dengan tekun; terkadang Patih Gajah Mada membawa mereka ke alam terbuka, berlatih di udara pagi yang segar, atau di bawah teriknya sinar matahari yang menyengat tubuh.
Dalam kesempatan tertentu, Patih Gajah Mada juga menyempurnakan tataran kemampuan kanuragan mereka, melatih mereka mengenal berbagai macam jenis senjata, kelemahan, serta keunggulan masing-masing hingga mereka sangat mahir menggunakannya. Ia juga menempa mereka untuk mengenal cara berperang secara berkelompok serta memahami berbagai ragam gelar peperangan. Tiga bulan Patih Gajah Mada menempa mereka, tidak terasa tataran kemampuan para prajurit perwira itu sudah melompat lima kali lipat dari kemampuan semula.