Chapter 15
Kutitipkan kalian kepadanya sejak kecil, menyisihkan rasa rinduku dan kerinduan ibumu.
Hanya satu harapan kami bahwa kelak di tangan kalianlah masa depan tanah Tuban ini.
"Jangan berhenti menempa dirimu," berkata Adipati Ranggalawe kepada dua orang putranya itu yang baru dua hari itu kembali setelah sejak kecil dititipkan kepada seorang yang sangat berilmu tinggi yang bernama Ki Ajar Sasmita.
Sepertinya Adipati Ranggalawe berharap banyak dari kedua putranya itu.
Diam-diam Adipati Ranggalawe melihat ada perbedaan yang sangat jauh antara dua orang putranya ini dengan Kuda Anjampiani.
Mungkin karena sejak kecil Kuda Anjampiani hidup dalam kemanjaan dan serba berkecukupan, tidak seperti Siralawe dan Buntarlawe yang sejak kecil hidup prihatin di sebuah padepokan yang jauh dari keramaian kota.
Kuda Anjampiani dinilai oleh ayahnya itu sebagai seorang anak muda yang sangat manja dan keras kepala, sementara kedua putranya yang lain dilihat tumbuh sebagai dua orang pemuda yang mandiri dan punya rasa tanggung jawab yang tinggi.
Angan-angan Adipati Ranggalawe seketika terlepas manakala seorang tabib istana kadipaten yang memeriksa Kuda Anjampiani dan Ki Ajar Pelandongan bermaksud pamit diri.
"Hamba bermaksud pamit diri untuk mengambil beberapa bahan racikan obat agar keduanya dapat pulih secepatnya," berkata tabib itu berpamit diri.
Demikianlah, Kuda Anjampiani yang masih lemah itu terlihat dibantu oleh seorang abdi dalem masuk ke biliknya.
Demikian juga Ki Ajar Pelandongan telah berpamit diri untuk beristirahat.
Dan semua prajurit istana Kadipaten Tuban itu telah kembali ke tempatnya masing-masing.
Tinggallah di atas pendapa kadipaten itu Adipati Ranggalawe dan dua orang putranya, Siralawe dan Buntarlawe.
"Semula aku telah meminta Kuda Anjampiani untuk mengawal pesanan seribu tombak yang akan dibawa langsung ke Goa Ambar.
Tugas itu sekarang kualihkan kepada kalian," berkata Adipati Ranggalawe kepada kedua putranya itu.
"Mudah-mudahan kami berdua tidak mengecewakan Ayahanda," berkata Siralawe mewakili adiknya.
"Dua hari lagi barang pesanan itu akan selesai," berkata Adipati Ranggalawe kepada kedua putranya itu.
"Bila demikian, hari ini kami akan mendatangi tempat pandai besi itu, hanya untuk memastikan apakah barang pesanan itu sesuai dan siap dibawa dalam waktu dua hari ini," berkata Buntarlawe kepada ayahandanya.
Demikianlah, Siralawe dan Buntarlawe terlihat telah berpamit diri untuk melihat dan memeriksa barang pesanan seribu buah tombak itu kepada seorang pandai besi.
Adipati Ranggalawe masih melihat kedua putranya itu keluar dari regol pintu gerbang istana kadipaten dan menghilang terhalang dinding pagar yang tinggi.
Terlihat tatapan mata Adipati Ranggalawe masih tertuju ke arah pintu gerbang, namun pikirannya jauh melayang melintasi banyak tempat ketika dalam masa-masa perjuangan orang-orang muda yang punya tekad dan semangat luar biasa merebut kembali takhta Singasari, merebut kembali sebuah cita-cita mulia melanjutkan dan membangun sebuah kerajaan singgasana di atas lautan, cikal bakal Kerajaan Majapahit.
"Hari ini kalian pasti tengah mencercaku sebagai seorang yang ingin memisahkan diri dari cita-cita yang telah kita ikrarkan bersama.
Salahkah aku bila meminta sedikit dari kejayaan ini, membangun sepotong tanah kecil dari luasnya tanah kekuasaan Majapahit yang besar dengan sebuah tata cara sendiri dan masa depan sendiri yang lebih baik dan lebih mapan?" berkata Adipati Ranggalawe dalam hati seperti tengah berperang dengan perasaannya sendiri.
"Akulah yang telah membesarkan Raden Wijaya, melindunginya dari tangan-tangan musuhnya.
Bila kamu ingin menjadikan Tanah Tuban sebagai tanah merdeka, itu adalah hak dirimu sendiri meminta bagian dari semua yang telah kamu korbankan selama ini.
Sementara aku telah melupakan Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang akan memberikan setengah daerah kekuasaannya," berkata ayahandanya, Adipati Sunginep ketika berkunjung datang ke tempatnya beberapa bulan yang lalu.
"Pernahkah kamu lihat sebatang benalu yang tumbuh di batang utama, pohon benalu itu dapat lebih besar dari pokok pohon inangnya.
Seperti itulah Tuban yang ada di jalur utama perdagangan Majapahit, pasti akan lebih makmur dan jaya.
Ingatlah itu wahai putraku," berkata kembali Arya Wiraraja kepada Adipati Ranggalawe yang diam-diam mengakui kecerdasan ayahnya itu yang diakui seorang yang sangat mumpuni dalam membuat sebuah rencana siasat peperangan, seorang yang sangat dipercaya di zaman Kerajaan Singasari, tangan kanan pahlawan besar Singasari, Mahesa Agni, sang penasihat para raja Singasari, seorang ahli pikir yang hebat di zamannya.
"Bagaimana dengan persahabatan kami?" berkata Adipati Ranggalawe ragu pada saat itu.
"Itu adalah masalah hati, jangan campurbaurkan dengan tata cara kekuasaan, karena kekuasaan akan mandul manakala selalu menimbang-nimbang perasaan hati.
Buka matamu wahai putraku, garis keturunan leluhurmu sepanjang hidupnya terbelenggu oleh sebuah kesetiaan; apa yang kamu dan aku dapatkan hanyalah sedikit kehormatan sebagai pengumpul hasil panen para petani.
Buka matamu wahai putraku, sudah saatnya keturunan Arya Wiraraja memegang kendali, berada di atas singgasana kerajaannya sendiri," berkata Arya Wiraraja kepada putranya.
Perkataan ayahnya itu seperti terus berputar berulang-ulang memenuhi seluruh akal dan pikiran Adipati Ranggalawe.
"Aku sudah memilih jalanku, telah kutunjukkan diriku tidak menghadiri wisuda penobatan Raja Muda Jayanagara.
Dan aku tidak boleh kembali setelah setengah dari perjalanan ini," berkata Adipati Ranggalawe dalam hati mengeraskan semangat dan keteguhan pendiriannya itu.
"Sanggrama Wijaya telah dua kali memenangkan peperangan awal ini, memunculkan sosok ksatria seruling sakti dalam perebutan Mustika Batu Tuban.
Dan sekarang telah membuat malu keluargaku dengan mengalahkan Kuda Anjampiani dan Ki Ajar Pelandongan di pantai pasir Tuban," berkata Adipati Ranggalawe dalam hati.
"Tampaknya pihak Majapahit telah menerjunkan seorang ksatria.
Aku seperti merasa yakin bahwa ksatria seruling sakti dan anak muda yang mengalahkan putraku adalah orang yang sama," berkata Adipati Ranggalawe dalam hati.
"Anak muda itu masih berkeliaran di sekitarku," berkata kembali Adipati Ranggalawe dalam hati.
Ternyata perhitungan Adipati Ranggalawe sangat cermat, anak muda yang ada dalam ingatan dan pikirannya memang tidak jauh, masih berkeliaran di sekitarnya.
Dialah Gajahmada sang putra angkat Patih Mahesa Amping, dialah sang ksatria Seruling Sakti, dan dialah juga yang telah membuat geger istana Kadipaten Tuban tadi pagi dengan merobohkan dua orang kebanggaan warga Tuban, putra Adipati Ranggalawe, Kuda Anjampiani, dan gurunya, Ki Ajar Pelandongan.
Hari itu, Gajahmada memang tidak jauh dari istana Kadipaten Tuban, hanya berkisar beberapa ratus langkah, yaitu di pasar Kadipaten Tuban.
Terlihat Gajahmada telah masuk di kerumunan dan keramaian pasar Kadipaten Tuban.
Anak muda itu masih ingin menyelidiki ke mana para prajurit Kadipaten Tuban saat itu di mana semalam sudah dilihatnya sendiri bahwa barak prajurit Tuban ternyata kosong, hanya dihuni oleh dua atau tiga orang penjaga.
Ternyata otak Gajahmada sangat tajam, telah berpikir bahwa pihak penguasa Tuban pasti membutuhkan senjata perang.
Dengan pikiran seperti itulah yang telah meringankan langkah kakinya menuju ke tukang pandai besi yang berada di ujung pasar Kadipaten Tuban.
Langkah kakinya tertahan di muka rumah pandai besi itu, berhenti berpura-pura melihat-lihat beberapa alat kerja bertani yang tersusun rapi di muka rumah pandai besi itu.
Apa yang telah menghentikan langkah Gajahmada? Ternyata Gajahmada telah melihat ada dua orang anak muda sebaya dengannya tengah berbincang-bincang dengan seorang pandai besi pemilik rumah itu.
"Maaf Paman, kami berdua adalah putra Adipati Ranggalawe, bermaksud menanyakan kesiapan barang pesanan kami," berkata salah seorang yang lebih tua yang ternyata adalah Siralawe yang datang ke tempat pandai besi itu bersama adiknya, Buntarlawe.
"Pesanan seribu tombak sudah dapat kami selesaikan sepertiganya.
Namun tiba-tiba saja dua orang pembantu kami jatuh sakit bersamaan, mungkin terlalu lelah bekerja siang dan malam," berkata pandai besi itu kepada Siralawe.
"Paman harus mencari seorang pembantu pengganti, agar pesanan kami dapat selesai tepat pada waktunya," berkata Siralawe merasa kasihan kepada orang tua pandai besi itu.
Semua pembicaraan itu telah disimak sepenuhnya oleh Gajahmada.
Terlihat Gajahmada masih berpura-pura memilih sebuah parang yang baik manakala dua orang anak muda tengah keluar dari tempat kerja pandai besi itu dan melangkah menjauhinya menghilang di tengah keramaian pasar Kadipaten Tuban.
"Maaf Paman, tadi telingaku tidak sengaja mendengar pembicaraan Paman dan dua anak muda itu, apakah benar bahwa Paman membutuhkan seorang pembantu?" berkata Gajahmada kepada seorang tua di tempat kerjanya yang tengah sibuk menempa sebuah besi untuk dijadikannya sebuah mata tombak.
Terlihat orang tua itu menghentikan kerjanya, menilik tubuh Gajahmada dari ujung kaki sampai rambut kepalanya, berharap anak muda itu memang utusan dewa keberuntungan dari langit.
"Benar anak muda, aku memang tengah membutuhkan seorang pembantu," berkata orang tua pandai besi itu.
"Aku pernah ikut membantu bekerja di tempat seorang pandai besi," berkata Gajahmada.
"Kamu pernah bekerja di tempat pandai besi?" berkata orang tua itu penuh harap bahwa anak muda ini benar-benar utusan dewa keberuntungan.
"Aku pernah membuat sebuah keris, tapi keris buatanku tidak sehalus buatan seorang empu," berkata Gajahmada merendah.
"Bagus, membuat sebuah keris sangat rumit dibandingkan membuat sebuah mata tombak, hari ini aku hanya membutuhkan seorang pembantu untuk menyiapkan seribu mata tombak yang sudah selesai sepertiganya.
Apakah kamu mau bekerja sebagai pembantuku?" berkata orang tua pandai besi itu.