Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 110

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 110

"Kita akan membuat perangkap untuk mereka," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Tumenggung Mahesa Semu yang datang menghadap untuk melaporkan kegiatan para pasukan telik sandi yang membayangi Ra Kuti.

Demikianlah, hingga datangnya hari pertemuan agung, saat semua pejabat kerajaan dan perwakilan dari seluruh pelosok wilayah kekuasaan Majapahit berkumpul, Baginda Raja Sanggrama Wijaya tidak menyinggung masalah peristiwa Patih Mahesa Amping. Beliau hanya memberikan penilaian dan pandangannya tentang tugas serta kewajiban para pembantunya sebagaimana biasa disampaikan pada tahun-tahun sebelumnya.

"Para Rakryan Mantri ri Pakirakiran, para anggota Dharmadhyaksa yang baru, para anggota Dharmaputra, para perwakilan uparaja yang telah menempuh perjalanan dari berbagai pelosok negeri, para Arya, sahabatku para ksatria, pendeta, pujangga, dan para wipra, atas nama dewata agung, saya mengucapkan puja dan puji atas semua bakti yang telah kalian persembahkan demi menggerakkan roda laju kerajaan yang kita cintai ini. Semoga amal bakti kalian bermakna membawa kemuliaan dan kesempurnaan penitisan di hari penciptaan berikutnya. Semoga cita-cita kita bersama membangun kerajaan ini dapat terwujud, menciptakan kesetaraan, kesejahteraan, dan kedamaian umat manusia di muka bumi ini," demikian awal sambutan Baginda Raja Sanggrama Wijaya di pertemuan agung di pendapa agung puri pasanggrahannya.

Namun, di penghujung sambutannya, semua orang yang hadir di pendapa agung itu sontak terkejut seperti mendengar petir di siang hari saat Baginda Raja Sanggrama Wijaya menyatakan akan mengundurkan diri dan mengasingkan diri sebagai seorang pertapa.

"Hari ini, di pendapa agung ini, adalah hari terakhir kalian bertatap muka denganku karena aku akan menemui kehidupanku yang lain, penghidupan sebagai seorang pertapa. Kutitipkan kerajaan ini kepada kalian, kutitipkan juga putraku, Jayanagara, yang akan duduk di takhta singgasanaku hingga hari penobatannya tiba saat ajalku tiba. Aku masih tetap berada di sekitar kalian, aku masih akan mengawasi kerajaan Majapahit ini bersama kalian," ujar Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Suasana di pendapa agung seketika menjadi hening saat mendengar tutur penghujung perkataan Baginda Raja. Namun, mata Baginda Raja Sanggrama sekilas sempat menangkap sebaris senyum di bibir Ra Kuti.

"Bergembiralah kamu hari ini," ucap Baginda Raja Sanggrama dalam hati saat menangkap makna di balik senyuman Ra Kuti, salah seorang dari ketujuh anggota Dharmaputra.

Demikianlah, setelah menyampaikan beberapa doa, terlihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya berdiri dan berkenan meninggalkan pendapa agung. Segenap yang hadir ikut berdiri, menundukkan kepala sambil memberi penghormatan dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada. Itulah penghormatan terakhir mereka untuk seorang raja pendiri Kerajaan Majapahit yang sangat bersahaja, bijaksana, dekat dengan para kerabat, gemar bertukar pikiran dengan para pendeta dan brahmana, serta masih mau duduk bersama para kawula dan rakyat jelata.

Pada hari itu juga, terlihat empat prajurit berkuda keluar dari gapura gerbang batas kotaraja Majapahit sebelah barat. Ternyata, mereka adalah prajurit yang diutus langsung oleh Baginda Raja Sanggrama untuk menjemput putranya, sang Raja Muda Daha, putra mahkota Jayanagara.

Hingga hari menjelang malam, Gajah Mada dan Patih Amangkubumi duduk menemani Baginda Raja Sanggrama Wijaya di serambi puri pasanggrahannya. Banyak pesan yang disampaikan Baginda kepada kedua orang kepercayaannya itu.

"Di pertemuan agung tadi, aku menangkap sebaris senyum kegembiraan pada diri Ra Kuti. Semoga serigala itu akan terus mengikuti bau busuk bangkai umpan yang kita pasang," kata Baginda Raja Sanggrama kepada Patih Amangkubumi dan Gajah Mada.

"Serigala adalah binatang yang sangat peka dan selalu curiga mengamati keadaan sekitarnya. Sementara umpan kita adalah sang putra mahkota, Raja Muda Jayanagara, yang tidak pernah menyadari bahwa ada serigala berbulu domba di sekitarnya. Hamba merasa cemas permainan kita ini sangat berbahaya bagi seorang Jayanagara," kata Patih Amangkubumi.

"Putraku, Jayanagara, harus dapat belajar membedakan mana serigala dan mana domba. Biarkan cakaran seekor serigala mengajarkannya untuk menjadi seorang lelaki, menjadi seorang raja yang sebenarnya," sahut Baginda Raja Sanggrama Wijaya menanggapi kekhawatiran Patih Amangkubumi.

Sementara itu, Gajah Mada hanya berdiam diri, memahami kekhawatiran Patih Amangkubumi bahwa Baginda Raja telah menggelar permainan yang sangat berbahaya.

Hari itu, masih di awal kresnapaksa bulan Wesakha tahun Saka 1231, sepuluh penunggang kuda terlihat baru saja meninggalkan gapura batas kotaraja Majapahit. Semilir angin pagi menyapu wajah penunggang kuda yang berada di barisan terdepan. Rambutnya yang ikal panjang jatuh sebahu, terurai tertiup angin. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa lelaki itu adalah Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang telah berpakaian layaknya orang biasa, dikawal oleh sembilan perwira utama, di antaranya Tumenggung Mahesa Semu dan Rangga Adityawarman.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari setengah hari, rombongan Baginda Raja Sanggrama Wijaya berhenti di sebuah danau jernih yang dikelilingi rerimbunan pohon.

"Kuburkanlah pakaian kebesaranku ini di peti jenazah Patih Mahesa Amping," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Tumenggung Mahesa Semu sambil menyerahkan pakaiannya.

Tumenggung Mahesa Semu segera turun ke danau yang tidak terlalu dalam itu. Ia masih ingat di mana ia menenggelamkan peti jenazah Patih Mahesa Amping. Tidak lama berselang, Tumenggung Mahesa Semu menemukan peti tersebut dan memasukkan pakaian kebesaran Baginda Raja ke dalamnya.

"Dengarlah, sejak hari ini aku bukan lagi seorang raja yang dipuja; sejak hari ini aku adalah kawula rakyat jelata. Kutitipkan kerajaanku kepada kalian semua untuk menjaganya," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada kesembilan prajurit yang mengantarnya.

"Sejak hari ini pula, aku tidak membutuhkanmu lagi," ucap Baginda Raja sambil mengelus leher dan kepala kuda kesayangannya yang telah setia mengiringi setiap perjalanannya selama waktu yang sangat panjang.

Kesembilan prajurit itu terpaku dan terharu saat melihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya melangkahkan kakinya menjauhi mereka. Mata Tumenggung Mahesa Semu berkaca-kaca, terus memandang lelaki berpakaian orang biasa dengan rambut ikal hitam yang tergerai itu, hingga ia semakin jauh meninggalkannya.

"Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah mengambil arah yang sama dengan Patih Mahesa Amping," batin Tumenggung Mahesa Semu saat melihat Baginda terus berjalan hingga menghilang di balik kerimbunan hutan perbukitan.

Itulah hari pertama Raja Jayanagara memegang kekuasaan di bumi Majapahit. Mandat Raja Muda Jayanagara hanyalah sebagai wakil pemegang kuasa, bukan pemegang kuasa penuh. Hal inilah yang membuat Raja Jayanagara berprasangka buruk bahwa ayahandanya masih setengah hati menjadikannya putra mahkota. Menurut pikirannya, ayahandanya sebenarnya berharap putra mahkota lahir dari permaisuri Dyah Gayatri, putri keturunan Raja Kertanagara. Namun, ternyata Dyah Gayatri hanya melahirkan dua orang putri; seperti itulah prasangka Raja Jayanagara terhadap ayahandanya.

Di samping itu, sejak kecil ia banyak mendengar sindiran orang-orang istana yang mencibirnya sebagai anak darah campuran, bukan orang asli Jawa. Perasaan itulah yang membuat Raja Jayanagara tidak mudah bergaul, sering menyendiri, dan tidak mau diiringi oleh prajurit pengawal istana.

Hingga pada suatu waktu, Raja Jayanagara berkeliling istana seorang diri dari satu lorong ke lorong lain, hingga tanpa disadari langkahnya membawanya masuk ke dalam pura istana. Entah mengapa, setelah berada di dalam pura, ia menemukan ketenangan hati. Lama Raja Jayanagara duduk bersimpuh di dekat altar terbuka, diawasi mata patung Sang Buddha yang tersenyum penuh kasih dan sepasang mata patung Sang Siwa yang memancarkan cahaya kemurkaan.

Ia tidak menyadari bahwa sepasang mata serigala sudah lama mengamatinya seperti siap menerkam. Namun, serigala itu tidak menerkam, melainkan menyentuh pundaknya dengan tulus.

"Wahai Baginda Raja Jayanagara, janganlah Baginda tertidur di pura ini. Hari telah menjelang malam dan udara di sini sangat dingin," kata seorang tua pekerja pura istana mengingatkannya.

Raja Jayanagara terkejut dan menyadari bahwa hari memang sebentar lagi malam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment