Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 151

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 151

Ketiganya mencari tiga buah batu besar yang berdekatan untuk beristirahat setelah berjalan tanpa henti seharian. Langit senja perlahan berganti warna. Rembulan pucat di ujung senja tampak begitu cantik, melepas senyum sambil menatap tiga pemuda yang tengah bersandar di bebatuan di pinggir sungai yang airnya jernih dan mengalir deras.

"Sudah begitu lama kita tidak menikmati suasana malam seperti ini bersama-sama," ujar Gajah Mada kepada Adityawarman dan Raja Jayanagara.

Raja Jayanagara menarik napas dalam-dalam, seolah membenarkan perkataan Gajah Mada. "Ternyata aku harus banyak belajar dari kalian berdua. Seperti kamu, Adityawarman, kita sama-sama putra Jawa campuran, tetapi kulihat dirimu seperti melebur menjadi seorang Jawa asli. Terlebih lagi kepadamu, wahai Gajah Mada, wajah dan tulang tubuhmu nyata bukan orang Jawa asli, tetapi kamu dapat melebur serta bergaul dengan begitu banyak orang," ucap Raja Jayanagara.

"Ketika kita tinggal bersama di Kotaraja Majapahit, tidak banyak masalah dengan darah campuranku ini. Namun, ketika harus tinggal di Kotaraja Kediri, awalnya kupingku terasa panas karena kadang mendengar sendiri perkataan banyak orang yang menyebut aku bukan orang Jawa. Akan tetapi, ayahku selalu membisikkan kepadaku sebuah kepercayaan diri yang amat tinggi," sahut Adityawarman.

"Apa yang dikatakan oleh ayahmu itu?" tanya Raja Jayanagara tidak sabaran.

"Katakan kepada semua orang bahwa kamu memang bukan orang Jawa asli, tetapi katakan pula kepada mereka bahwa bila ada musuh yang akan menyerang orang Jawa, kamu akan berada di baris terdepan untuk berperang menghancurkan musuh itu. Itulah yang dikatakan ayahku," jawab Adityawarman.

"Bagaimana denganmu, wahai Gajah Mada?" tanya Raja Jayanagara.

"Hamba sudah terbiasa dengan setiap orang yang baru mengenal hamba; pasti mereka akan menatap hamba sebagai orang asing. Hamba tidak merasa risih dengan cara pandang mereka. Yang hamba ingat adalah perkataan pengasuh hamba, Pendeta Gunakara dari Tanah Tibet, yang mengatakan bahwa derajat manusia tidak dilihat dari asal-usulnya, melainkan dari baktinya untuk hidup dan kehidupan ini," tutur Gajah Mada sambil tersenyum.

"Terima kasih, hari ini aku mendapat pelajaran berharga dari kalian berdua."

"Orang itu nampaknya telah menemui karmanya sendiri; seekor celeng pun punya hutang dendam kepadanya," kata Adityawarman setelah mendengar penuturan Gajah Mada tentang kematian Mahapatih Dyah Halayuda.

"Ternyata kalian sudah lama mengetahui kebusukan Mahapatih itu," ujar Raja Jayanagara.

"Sejak peristiwa peracunan ayahku di Hutan Kemiri, beruntung masih dapat disembuhkan oleh Ki Gede Bajra Seta," jawab Adityawarman.

"Penyingkiran Patih Mahesa Amping dan Empu Nambi ternyata mereka yang mendalanginya," ucap Raja Jayanagara.

"Sudah begitu lama kami membayangi mereka," kata Gajah Mada.

"Hari ini aku menjadi seorang raja yang terbuang," keluh Raja Jayanagara.

"Ada banyak orang yang masih setia di sekeliling Tuanku," Gajah Mada memberikan harapan.

"Aku sepupumu, akan selalu berada bersamamu, wahai saudaraku," Adityawarman ikut menghibur.

"Apa yang dapat kukatakan kepada ayahandaku sendiri bila aku tidak dapat merebut singgasana yang dititipkannya kepadaku ini?" tanya Raja Jayanagara.

"Raja Erlangga menjadi matang di pengasingannya. Baginda Raja Sanggrama Wijaya juga berharap yang sama untuk diri Tuanku," jawab Gajah Mada.

"Dirimu sangat mengenal babad sejarah leluhur kami, dirimu juga lebih mengenal ayahandaku sendiri ketimbang diriku," kata Raja Jayanagara yang merasa iri dengan kedekatan ayahnya dengan Gajah Mada.

"Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah menitipkan putra-putrinya kepada hamba, menitipkan Keris Nagasasra untuk hamba jaga dan diberikan kepada pewarisnya," ujar Gajah Mada.

"Keris Nagasasra adalah wahyu keraton. Apakah itu berarti ayahandaku telah mempercayaimu untuk mewarisi kerajaan ini di tanganmu?" tanya Raja Jayanagara dengan suara penuh keraguan.

Mendengar perkataan itu, Gajah Mada tersenyum lebar. "Wahai sahabatku, Raja Jayanagara," ujar Gajah Mada dengan nada seorang sahabat lama, tidak lagi sebagai hamba. "Ayahandamu telah mempercayaiku sebagaimana dirinya mempercayai Patih Mahesa Amping dan Empu Nambi. Aku tidak akan menciderai kepercayaan ayahandamu itu; aku akan menjaga Kerajaan Majapahit sepanjang usiaku, mendampingi putra-putrinya."

"Bagus, aku percaya padamu. Kamu adalah sahabatku yang pernah hilang. Mulai hari ini, aku akan mengangkat saudara kepadamu," kata Raja Jayanagara penuh kesungguhan.

"Bagaimana dengan diriku ini, wahai sepupuku?" goda Adityawarman.

"Apakah aku harus mengangkatmu menjadi saudara?" tanya Raja Jayanagara.

"Betul, betul, betul. Hari ini kita bertambah seorang saudara," sahut Adityawarman.

"Tiga orang saudara yang sama-sama berdarah campuran," Raja Jayanagara tertawa lepas.

Demikianlah, ketiga anak muda itu sejenak melupakan rasa dingin di tempat terbuka di pinggir sungai itu, melupakan batas derajat mereka antara seorang raja, sepupu, dan manusia biasa. Di bawah cahaya rembulan, dalam embusan angin malam yang dingin serta suara deru arus sungai, mereka beristirahat.

"Aku akan menjagamu, wahai putra Sanggrama Wijaya," kata Gajah Mada dalam hati sambil memandang Raja Jayanagara yang terlihat sudah tertidur pulas; wajahnya tampak damai dengan napas yang halus.

Pagi pun datang menjelang, ditandai dengan warna udara yang bening, cahaya matahari yang hangat, dan kicau burung-burung kecil yang riang beterbangan.

"Mudah-mudahan kita dapat menemui jalur menuju arah Kabuyutan Bebander," ujar Gajah Mada kepada kedua sahabatnya saat bersiap melanjutkan perjalanan.

Ketiga anak muda itu melangkah menjauhi pinggir sungai. Hingga akhirnya, mereka menemukan jalan utama yang biasa digunakan oleh para pedagang untuk menuju Kabuyutan Bebander.

"Mari kita menghangatkan diri di pagi ini," ajak Adityawarman untuk berlari.

"Saudaraku itu nampaknya tengah menguji kemampuan kita," kata Raja Jayanagara kepada Gajah Mada sambil langsung mengejar Adityawarman yang sudah mendahului mereka.

Ketiganya tampak seperti tiga ekor burung camar yang melesat di padang belantara luas, begitu riang dan saling mendahului. Mereka melihat Gajah Mada melangkah seperti berjalan biasa, namun meski Adityawarman dan Jayanagara mengerahkan kekuatan penuh, mereka tetap tidak mampu melewati Gajah Mada.

Hingga ketika mereka menemui beberapa ladang jagung yang baru tumbuh, ketiganya kembali berjalan santai.

"Masih ada tiga padukuhan lagi yang harus kalian lewati," kata seorang petani yang ditanya oleh Gajah Mada tentang arah menuju rumah Ki Buyut Bebander.

Mereka pun berjalan menyusuri jalan yang ditunjuk petani tadi, melewati sawah, ladang, bulakan panjang, kerimbunan hutan bambu, dan tiga padukuhan yang masih sepi, dipenuhi beberapa rumah sederhana yang letaknya berjauhan.

"Kitalah tamu agung yang mereka tunggu," kata Gajah Mada sambil menunjuk ke arah beberapa barak darurat yang di tengahnya berdiri sebuah rumah panggung yang cukup besar.

Ternyata barak-barak darurat itu dibuat oleh pasukan gabungan yang tiba sehari sebelum kehadiran mereka bertiga. Sementara rumah panggung besar itu adalah milik Ki Buyut Bebander, tempat Tumenggung Mahesa Semu dan Nyi Nariratih berada.

"Sungguh para dewa hari ini telah memberi kemuliaan kepada orang-orang Bebander, mengantar putra Raja Sanggrama Wijaya menginjak tanah kami," kata Ki Buyut Bebander penuh kebanggaan setelah diperkenalkan kepada Raja Jayanagara.

"Atas nama Raja Majapahit, aku menghaturkan banyak terima kasih. Penerimaan warga Kabuyutan Bebander adalah karya bakti titian sejarah Kerajaan Majapahit yang akan menjadi cerita anugerah di masa-masa yang akan datang. Semoga keberkahan selalu tumbuh di atas tanah subur ini," ujar Raja Jayanagara kepada Ki Buyut Bebander.

"Sabda seorang raja adalah sabda para dewa, anugerah seorang raja adalah anugerah para dewa," balas Ki Buyut Bebander.

Di pendapa rumah Ki Buyut, perjamuan besar pun digelar. Warga berduyun-duyun membawa hidangan untuk pasukan gabungan, Raja Majapahit, dan orang-orang yang setia bersamanya.

"Terima kasih tak terhingga kuucapkan kepada seluruh pasukan gabungan yang telah membawa aku dan para pejabat istana ke Kabuyutan Bebander ini. Berkat kalian, napas kehidupan panji kepemimpinan kekuasaan yang sah masih tetap hidup."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment