Chapter 128
"Apa yang diinginkan oleh Mahapatih Dyah Halayuda dalam pertempuran ini?" tanya Panji Wiranagari kepada Empu Nambi.
"Mengosongkan istana Majapahit dari para ksatria penjaganya. Aku berharap semoga masih ada ksatria yang dapat melindungi Raja Jayanagara," jawab Empu Nambi sambil memandang jauh ke depan, memandang hamparan rumput di halaman luas yang masih basah oleh gerimis panjang semalaman.
Mendengar penuturan Empu Nambi membuat semua orang berpikir dan merenung. Diam-diam, mereka membenarkan pemikiran Empu Nambi tentang kecerdikan Mahapatih Dyah Halayuda untuk mencapai tujuan akhirnya, yakni menguasai istana Majapahit. Sementara itu, terlihat seekor elang jantan terbang melintas dari arah hutan Randu Agung menuju timur dan berputar-putar di padang ilalang Ledoktempuro.
"Kita akan menyongsong mereka di padang Ledoktempuro," ujar Empu Nambi di hadapan para pimpinan pasukan pendukungnya.
"Mengapa kita tidak menunggu mereka di benteng ini?" tanya Adipati Menak Koncar.
"Mungkin Ki Lurah Bancak dapat memberikan gambaran yang jelas kepada kalian," kata Empu Nambi kepada seorang lelaki tua di sampingnya yang masih terlihat tegar meski rambut putih sudah memenuhi seluruh kepalanya. Lelaki tua itu adalah Ki Bancak, seorang mantan prajurit Majapahit yang sengaja diutus langsung oleh Tumenggung Mahesa Semu sebagai penghubungnya.
"Ada dua kekuatan yang saat ini telah berada dalam kendali Ra Kuti, yaitu kesatuan pasukan Jala Pati dan sebuah pasukan tersembunyi. Dua kekuatan ini dipastikan akan segera menguasai istana Majapahit. Sementara itu, kesatuan pasukan Jala Yudha di benteng Tanah Ujung Galuh diam-diam telah diyakinkan oleh Tumenggung Mahesa Semu untuk berada di pihak kita. Harapan Tumenggung Mahesa Semu adalah agar pasukan Empu Nambi dapat memancing Mahapatih Dyah Halayuda menurunkan salah satu dari kekuatan mereka ke Tanah Lamajang, sehingga ada keseimbangan perlawanan bila Ra Kuti benar-benar melaksanakan rencana busuknya untuk menguasai istana Majapahit," papar Ki Bancak.
"Untuk memancing salah satu pasukan Ra Kuti keluar dari sarangnya, kita harus memenangkan pertempuran di padang Ledoktempuro, bukan bertahan di benteng Randu Agung ini," tambah Empu Nambi.
"Bilamana darahku tumpah di padang Ledoktempuro, atau tubuhku tercabik-cabik, seluruh keturunanku akan bangga bahwa leluhurnya mati di tanah kebenaran," seru Panji Wiranagari dengan penuh semangat.
"Aku akan mengobarkan semangat seluruh pasukanku, bahwa yang kita perangi adalah para pengkhianat yang ingin menjual bumi Majapahit ini," sahut Panji Anengah dengan suara lantang.
"Aku akan berada bersama pasukanku, tidak akan mundur sebelum memenangkan pertempuran ini," tambah Panji Samara tak kalah semangat.
"Aku bahagia mendengar semangat kalian. Mata dan hati kalian saat ini telah terbuka bahwa pertempuran ini bukan sekadar membela dan melindungi sepenggal kepalaku yang sudah tua dan tiada berarti ini. Pertempuran kita adalah pertempuran suci untuk membela dan melindungi bahtera Majapahit dari angin badai yang ditaburkan oleh para pengkhianat. Mereka adalah pendusta besar yang memiliki kulit dan mata sama seperti kita, lahir dan tumbuh di bumi tercinta ini, namun memiliki hati dan pikiran yang sangat kejam—lebih kejam dari prajurit bangsa Mongol yang pernah kita perangi dan kita usir dari tanah kita," tutur Empu Nambi.
Perkataan Empu Nambi bagaikan sirep yang membuat semua orang terdiam merenung. Sementara itu, pasukan Majapahit telah bergerak mendekati hutan Ledoktempuro. Iring-iringan besar itu bergerak layaknya seekor naga raksasa. Mahapatih Dyah Halayuda berada di dalam pasukan gabungan yang terdiri atas sisa pasukan Ki Jabung Terewes dan pasukan kuat dari kesatuan Jala Rananggana.
Hutan Ledoktempuro berada di sebelah timur Kademangan Randu Agung. Untuk mendatangi Kademangan Randu Agung, mereka harus melewati padang yang cukup luas. Setelah menempuh perjalanan jauh dari Kademangan Japan, pasukan besar prajurit Majapahit itu langsung membuat perkemahan di hutan Ledoktempuro.
"Pasukan yang sangat besar," ujar seorang prajurit Lamajang yang sudah cukup lama menunggu kedatangan pasukan Majapahit di balik semak belukar yang tersembunyi.
"Kita harus segera melaporkannya ke benteng Randu Agung," kata rekannya. Keduanya segera bergegas keluar dari tempat persembunyian menuju kuda mereka dan memacu kendaraan itu menuju benteng.
"Semua sesuai dengan rencana semula, kita akan menyongsong mereka di padang Ledoktempuro," ucap Empu Nambi kepada para pimpinan pasukannya sambil menyusun siasat dan gelar perang. Setelah para pimpinan pasukan berpamit diri untuk menyampaikan perintah kepada kelompok masing-masing, di pendapa benteng hanya tersisa Empu Nambi dan putranya, Adipati Menak Koncar.
"Apakah kamu siap menghadapi pertempuranmu, wahai putraku?" tanya Empu Nambi.
"Aku siap lahir dan batin, Ayahanda," jawab Adipati Menak Koncar.
"Juga bilamana dalam pertempuran besar itu engkau berhadapan muka dengan ayah mertuamu sendiri?" tanya Empu Nambi kembali.
"Bukankah Ayahanda selalu mengatakan bahwa seorang prajurit harus melupakan perasaannya dan mengutamakan kejernihan pikiran? Aku akan berdiri di medan pertempuran sebagai prajurit sejati, berdiri sebagai ksatria utama di balik kebenaran hakiki dan cita-cita agung Kerajaan Majapahit, meski yang kuhadapi adalah ayah mertuaku sendiri," tegas Adipati Menak Koncar. Empu Nambi tersenyum memandang wajah putranya dalam-dalam.
Malam itu, hujan turun sangat lebat mengguyur bumi Lamajang. Seperti biasa, hujan deras itu tidak berlangsung lama; awan hitam segera menipis dan menyisakan gerimis hingga penghujung malam. Perlahan langit kembali cerah dan bintang kejora muncul di ufuk timur. Meski hari masih gelap, kesibukan sudah terlihat di dapur umum benteng. Para petugas mulai menyiapkan ransum bagi para prajurit yang akan segera turun ke medan laga.
Cahaya obor di depan gubuk prajurit tampak pucat terkena sinar matahari pagi saat suara bende bergema, membentur dinding pagar batu benteng. Suara bende pertama menjadi panggilan bagi para prajurit untuk berkumpul di halaman muka benteng. Empu Nambi tampak duduk di atas punggung kudanya di barisan terdepan bersama putranya. Ayah dan anak itu terlihat gagah dengan senjata cakra di tangan kanan dan kuda berwarna hitam. Perbedaan di antara keduanya hanyalah warna rambut dan garis kerut di wajah mereka.
Melihat kesiapan pasukannya, Empu Nambi menganggukkan kepala ke arah Adipati Menak Koncar. Sang Adipati kemudian mengangkat tinggi-tinggi senjata cakranya sembari berteriak memberikan aba-aba. Suara bende kedua pun bergema, membuat para prajurit sigap meraba senjata dan perlengkapan mereka.
Melihat senjata cakra yang diangkat tinggi-tinggi, Panji Anengah, Panji Samara, dan Panji Wiranagari teringat kembali masa muda mereka saat berada di bawah kendali Empu Nambi, seorang pemimpin yang mereka hormati dan kagumi karena sifatnya yang bersahaja serta selalu melebur bersama dalam suka dan duka—bahkan ketika sang pemimpin tengah disingkirkan dan diburu sebagai pendosa.
Suara bende ketiga bergema, menggerakkan langkah kaki pasukan Empu Nambi. Derap langkah dan bunyi pangkal tombak kayu bersatu padu menghentak bumi, memenuhi jalan-jalan utama Kademangan Randu Agung. Pasukan itu berjalan berbaris panjang seperti ular sanca raksasa, melewati persawahan yang sepi ditinggalkan para petani. Kibar umbul-umbul, rontek, dan tunggul membangkitkan kebanggaan para prajurit yang berada di barisan Empu Nambi, sang pahlawan besar mereka.