Chapter 210
Kedua anak muda itu masih berada di sekitar Balidwipa, mempelajari beberapa jalan terbaik untuk membawa pasukan mereka dari berbagai arah.
Dalam penjelajahan mereka di Balidwipa itu, di hutan yang tak terjamah, di atas batu sungai yang mengalir jernih, di pegunungan yang sepi, atau di atas tanah pantai berpasir, keduanya masih tetap melaksanakan kewajiban layaknya seorang muslim sejati.
Semburat warna merah mewarnai cakrawala langit pagi.
Fajar pagi baru tumbuh merekah di tepi Danau Tamblingan yang berada di sebelah utara Balidwipa.
Terlihat Patih Gajah Mada dan Arya Damar baru saja menyelesaikan kewajiban sucinya.
"Wahai putra angkat ayahandaku, katakan kepadaku apa gerangan yang membuat dirimu menangis tersedu-sedu setelah selesai melaksanakan salat subuhmu?" tanya Arya Damar kepada Patih Gajah Mada.
Patih Gajah Mada tidak langsung menjawab, hanya senyum sedikit yang tergambar di wajahnya.
"Aku menangis bukan karena bersedih, melainkan karena merasakan kebahagiaan yang amat sangat," kata Patih Gajah Mada.
"Apa gerangan yang membuat dirimu begitu bahagia, wahai saudaraku?" tanya Arya Damar kembali.
"Aku merasa bahagia karena dalam usia hidupku ini telah menemukan kebenaran sejati. Rasanya aku ingin terbang menghadap ayah kandungku untuk mengabarkan apa yang kudapati ini. Saat ini aku juga berharap seandainya saja seluruh umat manusia mengetahui jalan yang kutemui ini," kata Patih Gajah Mada dengan wajah yang berbinar-binar.
"Ajari aku, wahai saudaraku, agar aku dapat merasakan apa yang kau dapatkan itu," kata Arya Damar kepada Patih Gajah Mada.
Patih Gajah Mada menatap Arya Damar sambil menarik napas panjang.
"Wahai saudaraku, ini adalah sebuah rahasia besar. Sebelum bertemu dengan Ki Sahdatun, aku telah melakukan olah laku diri yang sama sebagaimana yang diajarkan oleh Ki Sahdatun kepada kita tentang kewajiban seorang muslim setiap harinya. Jika Ki Sahdatun mengajarkan kepada kita lima waktu dalam sehari semalam, aku sebelumnya melakukannya sekali pada setiap malam. Ternyata Ki Sahdatun benar bahwa Islam menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya, dan hari ini aku telah merasakannya sendiri. Tuntunan Islam yang diajarkan oleh Ki Sahdatun telah menyempurnakan olah laku diri warisan ayah kandungku, seorang pendeta dan pertapa dari Gunung Wilis," kata Patih Gajah Mada dengan wajah yang masih berbinar-binar.
"Wahai putra tunggal Pendeta Dharmasraya, apakah yang kita bicarakan saat ini adalah mengenai enam simpul cakra di dalam diri?" tanya Arya Damar.
"Kamu benar, wahai saudaraku. Setiap perguruan punya cara olah laku diri rahasia yang berbeda-beda untuk membuka enam simpul cakra sebagai sumber memupuk hawa murni di dalam diri. Namun, tuntunan Islam telah mengajarkan kepada kita cara yang sangat mudah untuk memasuki simpul cakra ketujuh," kata Patih Gajah Mada.
"Apakah yang kamu maksudkan adalah cakra mahkota?" tanya Arya Damar dengan mata terbelalak.
"Cakra mahkota adalah rahasia di atas rahasia. Bertahun-tahun para pertapa berusaha untuk mengungkap rahasia itu, sementara tuntunan Islam telah begitu rinci membawa kita ke arah kesempurnaan itu tanpa tapa brata puluhan tahun lamanya," kata Patih Gajah Mada.
"Wahai saudaraku, tuntunlah aku menemukan rahasia di atas rahasia itu," kata Arya Damar dengan penuh pengharapan.
Demikianlah, di tepi Danau Tamblingan yang asri dan damai itu, Patih Gajah Mada mencoba menuntun Arya Damar tahap demi tahap, mulai dari cara berdiri secara kasat hingga makna berdiri secara hakikat sejatinya.
Gembira hati Patih Gajah Mada mendapati Arya Damar begitu mudah dan cepat menyerap serta memahami semua yang diajarkannya.
"Hari ini Gusti Allah telah menerimamu memasuki samudra kebesaran-Nya. Semakin ke dalam, semakin banyak keindahan yang akan kamu temui," kata Patih Gajah Mada kepada Arya Damar.
Sementara itu, matahari pagi di atas Danau Tamblingan terlihat mulai naik merayap, menaburkan cahaya perak di seluruh permukaan air danau yang jernih itu.
Semilir angin yang berembus membawa keharuman berbagai bunga segar.
Gunung Lesung yang biru dan rerimbunan pepohonan yang hijau di sekitar Danau Tamblingan benar-benar memanjakan mata yang melihatnya, layaknya memandang lukisan alam yang sangat indah, yang tiada membosankan untuk terus ditatap.
"Kita telah menjelajahi begitu banyak jalur menuju Kotaraja Bali. Kita juga telah menemukan beberapa jalur terbaik untuk membawa pasukan kita melakukan penyerangan. Tampaknya sudah saatnya kita kembali ke Kotaraja Majapahit," kata Patih Gajah Mada kepada Arya Damar.
"Mahapatih Arya Tadah pasti akan gembira mendengar semua yang kita dapatkan ini," kata Arya Damar dengan hati yang penuh kegembiraan.
Keduanya pun berkemas untuk melanjutkan perjalanan.
Jika mereka mau, tidak sukar bagi kedua anak muda itu untuk menerapkan ilmu meringankan tubuh mereka yang nyaris sempurna ke mana pun yang mereka inginkan. Namun, kedua anak muda itu terlihat berjalan biasa. Tampaknya mereka merasa nyaman menikmati perjalanan darat tersebut.
Geliat senja baru saja mengukir langit Pantai Buleleng. Sebuah perahu bercadik terlihat bergerak ke arah sang surya yang terpaku di ujung cakrawala lautan biru.
Tidak seorang pun mengetahui bahwa di atas perahu bercadik itu ada dua orang penting dari Kerajaan Majapahit, yang tidak lain adalah Patih Gajah Mada dan Arya Damar.
Seorang nelayan dengan senang hati mengantarkan mereka, bukan hanya sampai ke Pantai Gilimanuk, melainkan bersedia menyeberangkan keduanya hingga ke Bandar Pelabuhan Banyuwangi.
Di atas perahunya, nelayan tua itu tidak banyak bicara. Mungkin lima keping emas yang diberikan oleh Patih Gajah Mada telah membuatnya berkhayal ribuan kali tentang impian-impian yang bisa dibelinya.
Perlahan, mentari senja surut dan tenggelam, meninggalkan langit muram yang setia memayungi laut purba dalam kesunyiannya.
Lentera suar perahu terlihat bergoyang-goyang mengikuti gerak ombak laut. Dataran pesisir Balidwipa pun mulai terhalang oleh kegelapan malam.
Tepi ujung laut sudah tak terlihat lagi, perahu layar bercadik itu seolah-olah tidak bergerak maju.
Sunyi senyap tanpa kata-kata di atas perahu layar bercadik yang terapung di atas laut malam.
Namun, kesunyian itu tiba-tiba pecah ketika mata tajam Patih Gajah Mada melihat tangan nelayan tua itu bergerak cepat membentur dinding perahu.
"Pak Tua, apa yang kau lakukan?" tanya Patih Gajah Mada yang melihat air memancar melalui dinding perahu yang pecah akibat hantaman tangan nelayan tua itu.
Namun, nelayan tua itu tidak berkata apa pun. Ia melemparkan sebilah papan ke laut dan bersamaan dengan itu langsung melompat ke laut lepas.
Sebuah pertunjukan keseimbangan tubuh yang amat sempurna, nelayan tua itu terlihat berdiri dengan sangat nyaman di atas papan yang terapung.
"Aku ingin tahu, apakah para arya dari Kerajaan Majapahit dapat mengikutiku hingga ke pantai," kata nelayan tua itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Kegelapan malam membuat nelayan tua itu tampak seolah-olah berdiri di atas air. Setelah berkata demikian, nelayan tua itu tampak seperti bayangan yang bergerak terbawa angin lalu menghilang di kegelapan malam.
Sementara itu, air laut mulai memenuhi perahu yang bocor tersebut.
"Tampaknya perahu ini sudah tidak memerlukan tiang layar lagi," kata Patih Gajah Mada sambil menggerakkan tangannya dua kali untuk menghantam tiang layar. Tiang layar itu pun patah terbagi menjadi dua bagian.
"Mari kita bermain di atas air," kata Patih Gajah Mada sambil melemparkan potongan tiang layar ke arah Arya Damar yang langsung menangkapnya dengan sigap.
Perahu bercadik itu sudah oleng karena air hampir memenuhinya. Tanpa membuang waktu lagi, mereka melemparkan kayu tersebut ke laut, lalu secara bersamaan melompat dan mendaratkan kaki tepat di atas potongan tiang layar tadi.
Sungguh sebuah tindakan yang sangat berbahaya, berdiri di atas sebatang kayu di tengah laut. Namun, keduanya tampak sangat menikmati hal itu, terutama ketika ombak besar mengangkat dan membawa mereka meluncur ke arah pantai.
Jika ada orang yang menyaksikannya saat itu, mereka pasti akan menyangka bahwa ada dua dewa yang turun dari langit di tengah laut. Langit malam yang gelap membuat keduanya tampak seperti dua bayangan yang terbang di atas air.
Begitu bibir pantai terlihat semakin dekat, tiba-tiba saja keduanya melompat meninggalkan kayu pijakan mereka.
Sungguh sebuah pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna. Keduanya berlari di atas air dengan kaki yang seolah tidak menyentuh permukaan air sedikit pun, layaknya seekor burung camar yang terbang rendah di atas laut.
"Hebat, hebat, hebat! Ternyata penguasa Majapahit telah mengutus dua orang hebat ke tanah Bali ini," kata nelayan tua itu sambil bertolak pinggang, menyambut kedatangan kedua pemuda yang kini telah berdiri di atas pasir pantai.
Patih Gajah Mada menatap wajah nelayan tua itu dengan saksama. Raut wajah orang itu bukan lagi raut nelayan tua yang lugu, melainkan wajah seseorang yang angkuh dengan rasa percaya diri yang sangat kuat.
"Siapa gerangan dirimu, wahai Orang Tua?" tanya Patih Gajah Mada kepada orang itu.
Orang tua itu tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang lalu membusungkan dadanya.
"Orang Balidwipa mengenalku sebagai Ki Dalang Camok. Kematian muridku, Patih Kebo Iwa, membuatku sangat penasaran dan ingin mengukur sejauh mana kemampuan orang yang telah mengalahkannya," kata orang tua yang menyebut dirinya bernama Ki Dalang Camok itu.
"Ternyata aku berhadapan dengan Ki Dalang Camok, mantan Senapati Agung dari Kuturan," kata Patih Gajah Mada.