Chapter 152
"Atas restuku, aku mempercayakan sepenuhnya kepada Paman Tumenggung Mahesa Semu untuk menjadi senapati di tanah pengasingan ini, menyiapkan sebuah gerakan merebut kembali istana dan Kotaraja Majapahit dari pihak musuh," kata Raja Jayanagara di hadapan semua orang yang duduk di atas panggung pendapa rumah kediaman Ki Buyut Bebander.
"Terima kasih atas restu dan kepercayaan Tuanku Baginda," ujar Tumenggung Mahesa Semu penuh penghormatan.
Para pejabat utama istana dan Tumenggung Jala Yudha terlihat sangat setuju dengan pilihan Raja Jayanagara untuk menjadikan Tumenggung Mahesa Semu sebagai senapati perang kerajaan di tanah pengasingan. Dalam hati mereka terbit rasa terima kasih dan penghargaan atas kecepatan Tumenggung Mahesa Semu yang menggerakkan pasukan gabungannya hingga dapat menyelamatkan jiwa mereka dari pihak musuh.
Pagi itu, di ujung barat gerbang gapura Kotaraja, terlihat lima orang pedagang anyaman tikar sedang memanggul barang dagangan mereka. Langkah kaki mereka tampak seperti kebanyakan orang pedusunan yang sudah terbiasa menempuh perjalanan jauh. Para pedagang itu seolah tidak mengetahui suasana Kotaraja Majapahit saat itu; mereka tidak memedulikan hampir di setiap sudut jalan utama kota yang telah ditempati prajurit siap siaga, yang bertugas menghentikan siapa pun yang dianggap mencurigakan. Namun, kelima pedagang anyaman tikar itu luput dari kecurigaan para prajurit yang berjaga.
Suasana Kotaraja setelah dikuasai oleh pengikut Ra Kuti memang tidak seramai hari-hari sebelumnya. Banyak pedagang yang sudah telanjur bersandar di pelabuhan Tanah Ujung Galuh mengurungkan niatnya memasuki Kotaraja. Sementara itu, pedagang yang sudah berada di dalam kota berangsur-angsur pergi mencari tempat yang aman. Sebagian besar warga tidak berani keluar rumah kecuali karena kepentingan yang amat mendesak. Jalan-jalan utama menuju pasar Kotaraja terlihat lengang dan sepi, hanya tampak prajurit yang berpatroli dengan berjalan kaki atau berkuda.
Langkah kelima pedagang tikar itu akhirnya mendekati pasar Kotaraja. "Naluri kelima pedagang itu sungguh sangat peka. Kotaraja ini memang masih perlu tikar yang cukup untuk membungkus mayat," celoteh seorang prajurit di sudut kota kepada kawan-kawannya. Entah mendengar atau pura-pura tidak mendengar, kelima pedagang itu tetap melangkah menuju pasar.
Sesampainya di sana, suasana tidak terlihat seperti hari-hari pasaran sebelumnya. Hanya beberapa kedai yang tetap buka karena pemiliknya tinggal di dalam kedai tersebut. Kelima pedagang itu mendekati sebuah kedai, menyusun tikar di pinggir pagar dinding, lalu masuk bersama-sama.
"Naga muda mencari jalan pulang," kata pemilik kedai sambil tersenyum.
Siapakah sebenarnya kelima pedagang itu? Ternyata mereka adalah utusan dari Kabuyutan Bebander yang ditugaskan mengamati keadaan di sekitar Kotaraja Majapahit. Orang paling muda di antara mereka adalah Gajah Mada, pemimpin pasukan Bhayangkara.
"Hari ini pelangganmu sepi sekali, wahai Ki Bancak," sapa Gajah Mada kepada pemilik kedai yang ternyata adalah Ki Bancak.
"Hari ini aku hanya menunggu lima orang pedagang tikar. Silakan duduk, aku akan mengambilkan minuman," jawab Ki Bancak sambil masuk ke bagian dalam. Tak lama kemudian, ia kembali membawa kendi berisi air putih dan lima buah cangkir.
"Bagaimana kabar sang Naga di persembunyiannya?" tanya Ki Bancak sambil ikut duduk.
"Tengah mencari saat yang paling tepat untuk merebut kembali sarangnya," jawab Gajah Mada.
"Mudah-mudahan mataku masih dapat diandalkan. Ada sepuluh kepala di tujuh perempat jalan, seratus kepala menyebar mengawasi keadaan, dan seratus kepala berkaki kuda tiap sepinangan sirih terus berputar," ucap Ki Bancak menggunakan bahasa sandi.
"Ternyata mata tuamu masih mampu berhitung dengan tepat. Kami di sepanjang jalan juga berhitung, hanya saja tidak menemui seratus kepala berkaki kuda," balas Gajah Mada.
Ki Bancak tersenyum hingga memperlihatkan giginya yang masih utuh. "Kutinggalkan keempat kawanku ini di kedaimu, sementara aku harus segera ke Tanah Ujung Galuh," kata Gajah Mada.
"Kebetulan sekali, ikan gurame bakar di kedai ini memang tinggal lima ekor," sahut Ki Bancak.
Tidak lama berselang, Gajah Mada keluar dari kedai. Dengan pakaian lusuh dan caping bambu yang kusam, ia tidak mudah dikenali oleh siapa pun. Namun, seorang tukang rakit di sungai Kalimas tampak ragu-ragu saat menatap wajahnya. Gajah Mada tersenyum karena tahu ia telah dikenali.
"Kubayar empat kali lipat ongkos penyeberangan, dengan syarat kamu tidak bercerita kepada siapa pun bahwa melihatku di sini," pinta Gajah Mada.
"Kapan Tuan akan mengenakan pakaian seperti ini lagi?" tanya tukang rakit itu saat mereka tiba di seberang. "Agar aku dapat bercerita kepada istriku kapan aku bisa mendapat upah empat kali lipat lagi," candanya.
Gajah Mada memang punya banyak kawan dari berbagai kalangan. Keduanya saling melambaikan tangan saat Gajah Mada melangkah menjauhi dermaga menuju benteng prajurit di Tanah Ujung Galuh. Pada hari biasa, gerbang benteng selalu terbuka untuk menerima utusan perdagangan, namun hari itu pintu tertutup rapat.
"Nampaknya mereka sangat berhati-hati, tidak ingin mendapat serangan dadakan," batin Gajah Mada.
Di depan gerbang, seorang prajurit dari atas panggungan bertanya, "Ada apa gerangan kamu datang ke benteng ini?"
Gajah Mada melepas capingnya. "Aku, Ki Lurah Sanakeling."
"Sebentar, kubukakan sendiri pintunya," jawab prajurit itu yang akhirnya mengenali wajah Gajah Mada. Setelah masuk, prajurit itu memuji penyamaran Gajah Mada. "Nampaknya ada hal yang amat penting sehingga Tuan datang ke sini," lanjutnya.
"Siapa yang berwenang penuh dari kelima Rangga di benteng ini?" tanya Gajah Mada.
"Sejak hilangnya Tumenggung Jala Yudha, kami belum memutuskan siapa pucuk pimpinan. Namun, tadi malam alur perintah sandi kami terima dari Ki Rangga Pitu Jegong," jawab prajurit itu.
"Jika demikian, antarkan aku untuk menemuinya. Ada hal yang amat sangat penting yang akan kusampaikan," tegas Gajah Mada. Ki Lurah Sanakeling pun segera memanggil dua prajurit untuk mengantar mereka.