Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 162

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 162

"Sebagai putra Empu Nambi, pasti Paman Adipati Menak Jingga mengetahui bahwa keris ini adalah pertanda wahyu keraton. Siapa pun yang memilikinya berhak menjadi raja di tanah Jawa ini. Namun, Empu Nambi dengan tulus menyerahkan keris ini kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Ini adalah pertanda bahwa Empu Nambi adalah raja abadi di atas singgasana hatinya sendiri; telah menaklukkan amuk amarah, dendam, dan segala hasrat keinginan hatinya. Aku yakin seorang putra Empu Nambi dapat melakukan hal yang sama, yakni melepas amuk amarahnya untuk menerima permintaan maaf seorang putra sahabat ayahandanya dengan tulus ikhlas," ujar Gajah Mada kepada Adipati Menak Jingga dengan suara yang lembut dan kalimat yang tersusun rapi.

"Terima kasih, kamu telah membuka kembali tutur wejangan yang kuwarisi dari ayahandaku tentang raja di atas singgasana hati. Dengan segala ketulusan, kuterima maaf keluarga istana Majapahit. Aku yakin ayahandaku masih hidup dan menyaksikan keputusanku ini," sahut Adipati Menak Jingga dengan wajah cerah yang menambah ketampanan lelaki yang tak lagi muda itu.

Mendengar perkataan tersebut, Gajah Mada menarik napas panjang setelah lama menahan ketegangan, merasa ragu dapat melunakkan hati penguasa tunggal di bumi Blambangan itu.

"Tinggallah beberapa hari di Blambangan ini. Aku ingin mendengar banyak cerita darimu tentang bagaimana Baginda Raja Sanggrama Wijaya memercayakan keris pusaka itu kepadamu," pinta Adipati Menak Jingga.

"Apakah itu sebuah ancaman dari seorang penguasa tunggal di Blambangan ini?" tanya Gajah Mada sambil tersenyum ke arah Adipati Menak Jingga.

"Siapa gerangan yang berani mengancam putra Patih Mahesa Amping yang dapat meruntuhkan gunung dan menyurutkan air lautan?" balas Adipati Menak Jingga.

Demikianlah, selama beberapa hari Gajah Mada tinggal di istana Kadipaten Blambangan memenuhi permintaan Adipati Menak Jingga. Gajah Mada tidak hanya bercerita tentang keris Nagasasra yang saat itu dibawanya, tetapi juga tentang amanat Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan Empu Nambi.

"Sungguh besar harapan yang dititipkan Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepadanya," batin Adipati Menak Jingga setelah mendengar penuturan Gajah Mada mengenai masa-masa muda saat ia bergaul dengan Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan Patih Amangkubumi Empu Nambi di istana Majapahit.

Setelah tiga hari berada di Kadipaten Blambangan, pada pagi hari keempat, Gajah Mada memutuskan untuk pergi. Tiga orang penunggang kuda memacu kudanya melewati gapura perbatasan kota di arah barat. Mereka adalah Gajah Mada dan dua orang prajurit Majapahit yang akan melakukan perjalanan menuju Kadipaten Lamajang.

Perjalanan menuju Kota Kadipaten Lamajang tidak menemui banyak hambatan. Setelah bermalam di beberapa tempat, mendaki bukit, dan menembus hutan lebat, pada hari ketiga mereka tiba di sekitar Kadipaten Lamajang, sebuah dataran luas yang dilatari tiga gunung berapi: Semeru, Bromo, dan Tengger.

"Mengapa Tuan berhenti di sini?" tanya salah seorang prajurit saat Gajah Mada menghentikan kudanya di sebuah padang ilalang yang luas.

"Karena kita akan memasuki kota tua, kota yang diberkati oleh para dewata," jawab Gajah Mada sambil memandang tiga pegunungan yang membentang biru di hadapan mereka.

"Ada apa dengan kota tua itu?" tanya seorang prajurit yang terlahir sebagai putra Banyuwangi.

"Ada kepercayaan, barang siapa datang ke Kota Lamajang dari arah timur Gunung Semeru, berhentilah sebentar dan pintalah keinginan dalam hatimu; niscaya para dewa akan mengabulkannya," jelas Gajah Mada.

"Aku meminta untuk naik pangkat," kata salah seorang prajurit. "Aku ingin diangkat sebagai lurah prajurit," tambahnya lagi. Kedua prajurit itu memandang heran ke arah Gajah Mada yang tidak mengatakan apa-apa.

"Tuan tidak meminta apa pun?" tanya salah satu prajurit.

"Sudah kuucapkan dalam hati," jawab Gajah Mada sambil tersenyum.

"Boleh kami tahu apa yang Tuan minta?"

"Aku hanya meminta agar tugasku di Kadipaten Lamajang berjalan mulus tanpa hambatan."

"Tidak meminta naik pangkat?"

"Lain kali saja, karena hanya berlaku untuk satu permintaan," jawab Gajah Mada penuh senyum. Keduanya tertawa bersama.

Matahari pagi belum begitu tinggi saat Gajah Mada dan kedua prajuritnya memasuki Kadipaten Lamajang. Mereka melihat kesibukan para petani di sawah; musim tanam telah tiba, hujan turun dengan teratur, dan air melimpah mengalir di parit-parit. Di sebuah tempat, terlihat beberapa lelaki sedang memperbaiki jalan air.

"Bukankah kalian prajurit Majapahit?" tanya Gajah Mada sembari turun dari kuda, menghampiri para lelaki yang masih mengenakan peneng ikat pinggang prajurit Majapahit itu.

Para lelaki itu menghentikan pekerjaannya. "Matamu sungguh teliti. Benar, kami prajurit Majapahit dari kesatuan Jala Rananggana," jawab salah satu dari mereka. Gajah Mada segera memahami latar belakang mereka; mereka adalah prajurit yang setia di belakang Empu Nambi, yang menyeberang dan bergabung untuk menghadapi pasukan Majapahit yang datang memerangi Lamajang.

"Bangga hatiku melihat prajurit Majapahit telah membaur bersama petani Lamajang. Apakah kalian tidak rindu dengan Kotaraja Majapahit?" tanya Gajah Mada. Para prajurit itu hanya saling berpandangan. Gajah Mada memahami apa yang mereka pendam dan tidak memaksa mereka menjawab.

"Kami datang dari istana Majapahit. Tugas kami adalah membawa kembali prajurit Majapahit untuk bergabung ke dalam kesatuannya seperti dahulu kala," ujar Gajah Mada.

"Perkataanmu kami dengar seperti angin surga," sahut salah seorang prajurit.

"Berdoalah. Kalian berada di kota suci di bawah kaki Gunung Semeru tempat para dewata," kata Gajah Mada sembari berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke istana Kadipaten Lamajang. Para prajurit itu terus menatap langkah kaki kuda Gajah Mada; di punggung anak muda itu, mereka seolah menggantungkan harapan untuk kembali ke Kotaraja Majapahit.

Gajah Mada dan kedua pengawalnya akhirnya sampai di gerbang istana. Kedua prajurit Majapahit itu terkejut karena Gajah Mada dikenal baik oleh para pengawal Kadipaten Lamajang dan diperlakukan layaknya tamu agung. Mereka bertiga digiring menuju pendapa agung istana. Mereka merasa sangat tersanjung ketika diajak duduk di pendapa bersama para pahlawan dan panglima perang hebat seperti Tumenggung Jala Rananggana, Panji Wiranagari, Panji Samara, dan Panji Anengah.

"Kawan-kawanku pasti tidak akan percaya bahwa aku duduk bersama orang-orang hebat ini," batin prajurit putra Banyuwangi itu.

Angan-angan kedua prajurit itu buyar saat terdengar suara lantang dan penuh wibawa dari Adipati Menak Koncar.

"Kami telah mendengar hukuman atas Ra Kuti, otak dari segala kekeruhan di bumi Majapahit. Kami juga mendengar bahwa istana Majapahit kini diisi oleh pejabat muda yang setia dan bersih. Inilah kemenangan kita bersama. Tidak sia-sia pengorbanan ayahandaku selama ini, yang keluar dari istana demi memerangi angkara," ujar Adipati Menak Koncar membuka pertemuan.

"Hari ini kita kedatangan duta istana Majapahit, perwakilan Raja Jayanagara. Kita menanti kebijakan dan sikap pihak istana atas keluarga Empu Nambi dan ribuan prajurit di bumi Lamajang ini," lanjutnya.

Pandangan semua orang tertuju pada Gajah Mada. Gajah Mada menarik napas panjang. Dalam pikirannya, Adipati Menak Koncar jauh lebih bijaksana dibandingkan adiknya di Blambangan, serta lebih memahami perjuangan Empu Nambi beserta segala pengorbanan yang telah dilakukannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment