Chapter 192
Patih Gajah Mada terus berjalan tanpa memedulikan pandangan orang-orang di sekitarnya. Pemuda itu berhenti di depan sebuah rumah yang cukup megah di Kotaraja Singasari.
"Permisi, apakah ini kediaman Tumenggung Mahesa Pukat?" tanya Patih Gajah Mada kepada seorang prajurit penjaga.
"Benar, ini rumah Tumenggung Mahesa Pukat. Apakah Tuan ada keperluan untuk menemuinya?" tanya prajurit itu.
"Aku hanya kerabatnya yang kebetulan singgah di Kotaraja ini," jawab Patih Gajah Mada.
Namun, sebelum prajurit itu bertanya lebih lanjut, tiba-tiba dua ekor kuda berhenti di depan mereka.
"Paman, kita kedatangan tamu yang luar biasa," seru seorang pemuda yang baru saja turun dari punggung kudanya.
Orang yang dipanggil Paman oleh pemuda itu segera turun dari kuda. Bersama pemuda tersebut, ia berjalan menemui Patih Gajah Mada dengan senyum gembira.
"Selamat datang di Kotaraja Singasari, wahai sahabatku," sapa pemuda yang tampak seusia dengan Patih Gajah Mada itu. Ia terlihat sangat akrab dan mengenal Patih Gajah Mada dengan baik.
"Selamat bertemu kembali, wahai sahabatku," balas Patih Gajah Mada kepada Mahesa Darma, putra tunggal pemimpin dan guru besar Padepokan Bajra Seta yang kesaktiannya sangat tersohor.
"Senang bertemu denganmu, anak muda," sapa seorang lelaki tua yang masih tampak gagah.
"Senang juga berjumpa dengan Paman," balas Patih Gajah Mada kepada Tumenggung Mahesa Pukat, lelaki yang masih tampak tegap dan gagah itu.
Kerajaan Singasari saat itu dipimpin oleh Raja Muda Kertawardana, suami Ratu Tribhuwana Tunggadewi, penguasa Kerajaan Majapahit. Sementara itu, kepemimpinan angkatan perang di Singasari dipercayakan kepada Tumenggung Mahesa Pukat bersama wakilnya, yaitu keponakannya sendiri bernama Rangga Darma. Rangga adalah putra tunggal dari Mahesa Murti, sosok yang sangat dihormati oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya atas jasa-jasanya dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit. Atas pengabdiannya, Mahesa Murti dianugerahi sebidang tanah perdikan.
Patih Gajah Mada kemudian diiringi oleh dua tokoh terhormat tersebut menuju pendapa rumah yang megah. Setelah berbincang mengenai keselamatan masing-masing, mereka bertukar cerita mengenai tugas di tempat kedinasan mereka. Akhirnya, percakapan beralih pada pembangunan kotaraja baru di hutan Sastrawulan.
"Lima bulan purnama lagi, diperkirakan istana dan pemukiman baru itu akan selesai. Kotaraja Majapahit akan pindah ke tempat itu, sementara Kerajaan Kahuripan akan diperluas hingga ke Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh," tutur Patih Gajah Mada mengenai perkembangan pembangunan tersebut.
"Bagaimana kabar Mahapatih Arya Tadah? Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya," tanya Tumenggung Mahesa Pukat perihal saudara angkatnya yang juga dikenal dengan nama Mahesa Semu itu.
Patih Gajah Mada menceritakan bahwa dirinya baru saja bertemu dengan Mahapatih Arya Tadah di Kotaraja Majapahit. Setelah itu, ia menjelaskan tugas yang tengah diembannya.
"Mahapatih Arya Tadah mengamanatkan kepadaku untuk menghentikan gerakan Ki Sadeng beserta kelompoknya di jalur antara Lamajang dan Blambangan," ungkap Patih Gajah Mada kepada Tumenggung Mahesa Pukat dan Rangga Mahesa Darma.
"Sebuah langkah yang tepat dari Mahapatih Arya Tadah; memadamkan api sebelum membesar," tanggap Tumenggung Mahesa Pukat. "Namun, aku tidak melihatmu datang bersama pasukan."
"Rencananya, aku akan meminta bantuan pasukan dari Adipati Menak Koncar di Lamajang," jawab Patih Gajah Mada.
"Berapa kekuatan Ki Sadeng saat ini?" tanya Tumenggung Mahesa Pukat.
"Mereka adalah para bajak laut yang ahli bertempur, jumlahnya sekitar enam ratus orang," jawab Patih Gajah Mada.
"Aku akan meminta Kakang Mahesa Murti mengirim para cantriknya untuk membantumu," tawar Tumenggung Mahesa Pukat.
"Aku sangat gembira menerima bantuan dari para cantrik Padepokan Bajra Seta yang tersohor itu," ucap Patih Gajah Mada dengan penuh rasa syukur.
"Kebetulan sekali, besok rencananya aku akan berangkat ke Tanah Perdikan Bajra Seta. Aku sendiri yang akan meminta kepada Ayah untuk mengirim para cantrik membantu tugasmu," timpal Rangga Mahesa Darma.
"Jika memang demikian, aku akan menunggu para cantrik dari Padepokan Bajra Seta di Lamajang," kata Patih Gajah Mada.
Demikianlah, ketiganya bercakap-cakap hingga jauh malam di pendapa kediaman Tumenggung Mahesa Pukat. Banyak masukan berharga dari sang Tumenggung yang berpengalaman untuk menyempurnakan rencana Patih Gajah Mada.
"Masukan dari Paman sangat aku hargai," ucap Patih Gajah Mada dengan penuh terima kasih.
Semilir angin malam yang dingin menyadarkan mereka bahwa hari sudah larut.
"Aku terlalu bersemangat hingga lupa menawarkan istirahat kepada tamuku," ujar Tumenggung Mahesa Pukat dengan senyum ramah.
Patih Gajah Mada dan Rangga Mahesa Darma saling berpandangan dan tersenyum.
"Kami memang kemenakan yang tidak tahu diri, mengajak bicara orang tua hingga larut malam," sahut Rangga Mahesa Darma.
Sementara itu, rembulan sepotong menggantung di langit malam yang sepi di atas kediaman Tumenggung Mahesa Pukat. Kerlap-kerlip pelita malam menghiasi bumi Singasari, menyerupai bintang-bintang yang bertaburan rendah di tanah perbukitan tersebut. Patih Gajah Mada sempat terpana memandang keindahan pemandangan dari pendapa yang berdiri di puncak bukit itu.
"Lain kali kamu bisa menikmati pemandangan ini lebih lama," kata Rangga Mahesa Darma. "Tentunya, kamu harus bermalam di sini lebih lama lagi."
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Patih Gajah Mada berpamitan untuk melanjutkan perjalanan menuju Kotaraja Lamajang.
"Aku selalu berdoa untuk keselamatanmu, wahai anak muda," kata Tumenggung Mahesa Pukat melepas kepergian Patih Gajah Mada.
"Nantikan aku di Lamajang!" seru Rangga Mahesa Darma sambil melambaikan tangan.
Di bawah regol gerbang rumah, Patih Gajah Mada berhenti sejenak untuk membalas lambaian tangan mereka.
"Anak muda yang memiliki semangat tinggi," ujar Tumenggung Mahesa Pukat kepada kemenakannya.
"Kemampuannya sangat tinggi, namun ia tidak sombong dan sangat rendah hati," sahut Rangga Mahesa Darma.
Sementara itu, Patih Gajah Mada sudah berada di jalan utama Kotaraja Singasari yang mulai ramai. "Di kotaraja inilah aku pertama kali belajar menjadi seorang prajurit pengawal raja," kenangnya dalam hati, saat ia ikut mengawal Baginda Raja Sanggrama Wijaya beserta keluarga berkunjung ke istana Singasari beberapa tahun silam, ketika ia masih dipersiapkan oleh Empu Nambi untuk menjadi kepala pasukan Bhayangkara.
Tak terasa, langkah kaki Patih Gajah Mada mendekati gapura batas kotaraja Singasari sebelah timur. Ia memandang kemegahan istana Singasari yang berada di puncak bukit. "Kotaraja yang indah," batinnya.
Semilir angin lembut mengusap wajahnya. Ia terus melangkah ke arah timur. Bunga ilalang yang tertiup angin mengiringi setiap jejak langkahnya. Meskipun ia berjalan layaknya orang biasa, kecepatannya luar biasa; ilmu meringankan tubuhnya nyaris mencapai kesempurnaan. Saat matahari berada di puncaknya, Patih Gajah Mada telah sampai di kaki pegunungan Bromo, Tengger, dan Semeru. Hutan lebat tidak menghalangi langkah pemuda perkasa itu.
Hingga akhirnya, langkahnya terhenti oleh keelokan sebuah danau yang sangat indah; Ranu Pane. Layaknya seorang pengembara yang dahaga, Patih Gajah Mada tidak jemu-jemu menyapu pemandangan alam di hadapannya. Siapa pun akan terpesona melihat lembah pinus hijau yang berlatar puncak Mahameru dengan asap putihnya, ditambah kejernihan air Ranu Pane yang menyerupai lukisan alam. Keindahan itu semakin lengkap dengan kawanan bangau putih yang terbang berputar-putar di atas danau.
Namun, pandangan Patih Gajah Mada yang amat tajam menangkap sebuah bayangan putih yang terbang di atas air.