Chapter 133
Itulah kehebohan yang tengah ditunggu oleh Rangga Pamandana. Sesaat tidak ada prajurit Majapahit yang memperhatikannya, saat itu dipergunakan Rangga Pamandana untuk melarikan diri, menghilang di kegelapan hutan.
Ternyata Rangga Pamandana tidak pergi jauh-jauh dari perkemahan itu, masih bersembunyi di dalam kegelapan hutan Ledoktempuro.
Apakah masih ada kehebohan lain yang ditunggu oleh Rangga Pamandana? Ternyata ketika para penjaga meninggalkan pos penjagaan mereka, manakala beberapa prajurit terbangun mendengar suara kentongan bahaya dan langsung keluar meninggalkan gubuk-gubuk mereka, saat itulah beberapa pasukan Rangga Pamandana telah mendekati gubuk-gubuk kosong yang telah ditinggalkan oleh penghuninya.
Dari tempat kejauhan, Rangga Pamandana melihat api mulai menjalar membakar beberapa buah gubuk di perkemahan pasukan Majapahit.
Laksana sebuah perapian besar di malam gelap yang dingin, lidah kobaran api begitu cepat membakar batang kayu gubuk bahkan telah merambat menjilat gerumbul dan semak-semak hutan di sekelilingnya.
Rangga Pamandana tersenyum melihat para prajurit Majapahit bahu membahu memadamkan api agar tidak merambat ke gubuk lainnya.
“Apakah ada orang kita yang tertinggal?” bertanya Rangga Pamandana kepada beberapa orang prajuritnya, memastikan bahwa jumlah mereka lengkap, tidak satu pun yang berkurang.
Akhirnya setelah merasa yakin tidak ada seorang pun yang tertinggal, Rangga Pamandana mengajak pasukannya kembali ke Kademangan Pronojiwo.
Beberapa prajurit merasa bangga atas kepedulian Rangga Pamandana itu, merasa dinaungi dan dilindungi oleh pimpinan mereka sendiri.
“Mari kita kembali ke Kademangan Pronojiwo,” ujar Rangga Pamandana kepada para prajuritnya.
Sebagaimana mereka berangkat, ketika kembali menuju arah Kademangan Pronojiwo mereka tidak melewati jalan utama, tetapi menyusuri persawahan yang kering ditumbuhi banyak semak dan rerumputan.
Di tengah perjalanan, Rangga Pamandana telah mengutus seorang prajuritnya ke benteng Randu Agung untuk menyampaikan berita kepada Empu Nambi tentang apa yang terjadi atas perkemahan pasukan Majapahit di hutan Ledoktempuro.
Sementara itu kebakaran di perkemahan pasukan Majapahit tidak bisa dipadamkan dan telah menjalar semakin membesar melahap habis perkemahan mereka.
Dan malam itu dengan sangat terpaksa para prajurit Majapahit beristirahat di bawah langit terbuka.
“Rangga Pamandana, dua kali orang itu membuat keonaran,” ujar Mahapatih Dyah Halayuda penuh kemarahan.
“Besok pagi, prajurit kita tidak siap menghadapi pertempuran.
“Apakah sebaiknya kita mundur kembali ke Kademangan Japan?” ujar Tumenggung Jala Rananggana kepada Mahapatih.
Namun ketinggian hati Mahapatih telah membuatnya tidak lagi dapat berpikir jernih, baginya peperangan ini adalah peperangan antara dua orang patih kerajaan Majapahit, dan dirinya telah berjanji kepada Raja Jayanagara untuk dengan segera membawa Empu Nambi, hidup atau mati.
“Besok kita tetap bertempur menghadapi musuh di padang Ledoktempuro. Katakan kepada prajurit bahwa bila mereka ingin makan, mereka harus mengalahkan musuh hari itu juga,” ujar Mahapatih dengan ketinggian hatinya, tidak mengindahkan usulan Tumenggung Jala Rananggana.
Seandainya Mahapatih Dyah Halayuda menerima usulan Tumenggung Jala Rananggana, seandainya membuang jauh-jauh rasa ketinggian hatinya, mau berpikir jernih memahami keadaan para prajuritnya, persediaan pangannya yang menipis serta istirahat yang sangat kurang, pastinya Mahapatih Dyah Halayuda akan memutuskan lain.
Dan seandainya malam itu Dyah Halayuda melihat apa yang tengah dilakukan oleh pasukan Empu Nambi di benteng Randu Agung, pastinya Dyah Halayuda akan berpikir lain.
Malam itu Dyah Halayuda tidak mengetahui bahwa pasukan Empu Nambi di benteng Randu Agung tengah bersiap diri untuk bergerak di dini hari, langsung menyerang pasukan Dyah Halayuda di hutan Ledoktempuro.
Berawal dari utusan Rangga Pamandana yang telah bertemu langsung dengan Empu Nambi, menyampaikan apa yang telah dilakukan oleh pasukan Rangga Pamandana di perkemahan pasukan Majapahit itu.
Maka malam itu juga Empu Nambi telah membangunkan prajuritnya yang bertugas di dapur umum untuk menyiapkan makanan untuk pasukannya yang sengaja belum dibangunkan agar dapat beristirahat dengan cukup.
Manakala ransum para prajurit sudah siap, malam sudah berada di tiga perempat malam, barulah Empu Nambi membangunkan para prajuritnya, mengisi perut mereka agar memberikan kekuatan baru.
Demikianlah, di penghujung malam yang masih gelap dan dingin, terlihat pasukan Empu Nambi telah keluar dari regol gerbang benteng Randu Agung.
Iring-iringan pasukan Empu Nambi yang berbaris panjang terlihat seperti seekor ular naga raksasa merayap di jalan utama Kademangan Randu Agung.
Cahaya obor di tangan setiap prajurit seperti sisik-sisik emas yang menyala-nyala bergerak di malam gelap itu.
Demikianlah, laksana seekor ular naga raksasa di malam gelap, pasukan besar itu telah merayap bergerak terus hingga akhirnya telah berada di ujung timur Kademangan Randu Agung.
“Buka mata kepalamu lebar-lebar, barisan hantu-kah yang kamu lihat bergerak di padang Ledoktempuro itu?” ujar seorang prajurit Majapahit yang ditugaskan mengamati keadaan di ujung hutan Ledoktempuro kepada kawannya sambil menunjuk ke arah padang Ledoktempuro.
“Mereka bukan barisan hantu, tetapi sebuah pasukan besar yang tengah bergerak,” ujar kawannya memastikan.
“Tampaknya mereka mengarah ke hutan ini, malapetaka besar akan menimpa pasukan kita,” ujar kembali petugas pengamat itu kepada kawannya.
Demikianlah, terlihat kedua petugas pengamat itu telah langsung berbalik badan berlari masuk ke dalam hutan.
Bukan main terkejutnya Dyah Halayuda mendengar berita dari dua orang petugas pengamatnya tentang sebuah pasukan besar yang tengah menuju ke hutan Ledoktempuro.
Tak ada dalam pikirannya sedikit pun bahwa Empu Nambi telah mengambil kesempatan menyerang pasukannya di malam itu juga.
“Ternyata Empu Nambi seorang manusia licik yang kukenal di dunia ini,” ujar Dyah Halayuda penuh amarah di hadapan Tumenggung Jala Rananggana dan Ikal-Ikalan Bang.
Bila saja ada cahaya yang menerangi wajah Tumenggung Jala Rananggana saat itu, pasti akan terlihat sedikit senyum nyinyir yang menertawakan diri Mahapatih Dyah Halayuda seakan berkata.
“Kaulah manusia terbodoh yang kukenal di dunia ini.”
Namun yang keluar dari bibir Tumenggung Jala Rananggana berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya. “Masih ada waktu untuk menyelamatkan pasukan kita, menyingkir keluar dari hutan ini,” ujar Tumenggung Jala Rananggana kepada Dyah Halayuda.
“Tidak, tidak, tidak! Kita bukan sekumpulan tikus sawah, tetapi sekumpulan pasukan Majapahit yang memiliki harga diri tinggi.
Kita tidak akan lari setapak pun, kita hadapi mereka,” ujar Dyah Halayuda kepada Tumenggung Jala Rananggana.
“Bila memang itu keputusan Mahapatih, aku pamit diri untuk menyiapkan pasukanku,” ujar Tumenggung Jala Rananggana berpamitan kepada Dyah Halayuda sebelum isi perutnya seperti ingin muntah, merasa sangat muak melihat sikap Dyah Halayuda yang sangat tinggi hati itu.
“Ikal-Ikalan Bang, apakah kamu juga memiliki pikiran yang sama seperti Tumenggung pengecut itu?” ujar Dyah Halayuda kepada Ikal-Ikalan Bang ketika Tumenggung Jala Rananggana telah jauh dari mereka berdua.
Terlihat Ikal-Ikalan Bang tidak langsung menjawab, hati dan pikirannya diam-diam membenarkan usulan Tumenggung Jala Rananggana.
“Menurutku, pasukan kita memang tidak memiliki kesiapan untuk menghadapi musuh,” ujar Ikal-Ikalan Bang.
“Enyahlah kamu dari hadapanku,” ujar Dyah Halayuda penuh kemarahan.
Tanpa berkata apa pun, terlihat Ikal-Ikalan Bang telah berbalik badan meninggalkan Dyah Halayuda seorang diri.
Ikal-Ikalan Bang dan Tumenggung Jala Rananggana memang seperti tengah digayuti kebimbangan hati, mengikuti kebenaran pikirannya atau mengikuti Senapati Agung mereka yang tinggi hati dan sangat keras kepala itu yang berujung kehancuran pasukannya sendiri, para prajurit Majapahit yang berada di bawah kendalinya selama ini, yang sebagian besar sudah menyatu dengan kehidupannya, yang dikenal juga secara kesehariannya, yang dikenal juga para keluarganya.
Sementara itu, demi kesetiaannya kepada perintah sang Mahapatih, mereka harus membiarkan prajuritnya masuk ke jurang kematian.
“Persiapkan prajurit kalian,” ujar Tumenggung Jala Rananggana kepada para perwira tingginya.
Ternyata para prajurit Majapahit dapat diandalkan, mereka tampaknya sudah terlatih untuk siap siaga menghadapi berbagai macam keadaan darurat, terlihat mereka dengan sigap telah bergabung dalam kesatuan masing-masing.
Terlihat semua obor di perkemahan itu sudah dimatikan, gelap pekat memenuhi suasana di perkemahan itu.
Dan ribuan mata dengan hati mencekam menanti dengan perasaan berdebar kehadiran musuh di kegelapan malam.
“Gila, mereka datang dengan jumlah dua kali lipat dari kemarin,” ujar Dyah Halayuda ketika melihat puluhan ribu obor telah muncul di kegelapan hutan malam.
Ternyata siasat Empu Nambi dapat mengelabui penglihatan musuhnya, menggetarkan perasaan musuhnya seakan-akan jumlah prajuritnya berlipat ganda.
Padahal yang bertambah adalah obor di tangan para prajurit Lamajang, di mana setiap orang membawa dua buah obor.
Suasana di tengah hutan Ledoktempuro itu menjadi semakin mencekam ketika obor di tangan prajurit Lamajang telah dimatikan.
Para prajurit Lamajang seperti menghilang di kegelapan malam.
Berdebar perasaan sebagian besar prajurit Majapahit, mereka seperti menghadapi prajurit hantu yang dapat seketika muncul di hadapan mereka, atau bahkan dapat muncul seketika dari arah belakang mereka sendiri.
Kegelisahan itulah yang tengah melanda sebagian para prajurit Majapahit di kegelapan malam menanti dengan hati dan perasaan cemas kemunculan musuh mereka.