Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 93

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 93

"Selamat datang, wahai putra Patih Mahesa Amping," sapa Adipati Menak Jingga kepada pemuda itu. Ia adalah Adityawarman, putra Patih Mahesa Amping dari Kerajaan Kediri.

Tampaknya, utusan Mahesa Semu sudah tiba di Banyuwangi untuk menyampaikan kabar kepada Adityawarman yang menjabat sebagai pimpinan seratus prajurit Majapahit yang mengamankan jalur perdagangan di bandar pelabuhan Banyuwangi.

"Sangat licik, mereka melakukan penyerangan bertepatan pada hari raya Nyepi," ujar Adipati Menak Jingga kepada Adityawarman.

"Kakang Mahesa Semu meminta kita menjebak mereka, membiarkan pihak lawan masuk ke Kadipaten Blambangan ini," kata Adityawarman. Ia juga menyampaikan pesan lain dari Mahesa Semu, yakni kedatangan empat ratus pasukan gabungan prajurit Majapahit dan prajurit dari Lamajang yang akan menjepit pasukan musuh, serta beberapa pertanda dan kata sandi yang akan digunakan para prajurit gabungan untuk menjaga keseragaman saat menghadapi musuh di hari raya Nyepi.

"Aku setuju dengan siasat Kakang Mahesa Semu itu. Akan lebih sempurna jika kita mengadakan upacara yang meriah di Kota Kadipaten Blambangan sebelum hari raya Nyepi, agar pihak musuh mengira bahwa kita belum mengetahui rencana penyerangan mereka," ujar Adipati Menak Jingga sembari menjabarkan langkah persiapan menghadapi musuh.

"Secara bertahap, aku akan menyusupkan seratus prajurit Majapahit untuk bergabung di Kota Kadipaten Blambangan ini," ujar Adityawarman.

"Warga Kota Kadipaten Blambangan memang tidak perlu mengetahui apa yang akan terjadi di hari raya Nyepi. Biarlah mereka tetap tenang melakukan Nyepi dan bersemedi di rumah masing-masing. Sementara itu, para prajurit telah bersiaga di tempat-tempat tertentu untuk memberikan kejutan bagi pihak musuh," kata Adipati Menak Jingga.

"Besok kita akan bertemu kembali di Pantai Banyuwangi. Aku dan semua warga Kadipaten Blambangan akan melakukan upacara Melasti, menyucikan segala sarana persembahyangan pura di laut pantai Banyuwangi," ujar Adipati Menak Jingga kepada Adityawarman yang mengantarnya hingga ke pendapa agung istana.

"Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah menyiapkan benih-benih muda, para ksatria penjaga Majapahit di masa depan," batin Adipati Menak Jingga sambil memandang Adityawarman yang telah menuruni tangga pendapa dan terus melangkah di keremangan malam menuju gerbang istana.

Pagi itu, tiga hari menjelang hari raya Nyepi, terlihat seluruh warga Kadipaten Blambangan, baik yang berada di kota maupun di dusun-dusun terpencil, berduyun-duyun keluar dari rumahnya dan bergabung di jalan utama menuju arah Pantai Banyuwangi. Mereka sedang melaksanakan upacara Melasti, yakni penyucian alat dan sarana persembahyangan dari pura masing-masing. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, mereka menyucikan sarana tersebut di Pantai Banyuwangi. Iring-iringan warga itu terlihat panjang, dengan mengenakan pakaian serba putih sebagai perlambang kesucian hati.

"Para warga Kadipaten Blambangan nampaknya tidak menyadari bahwa itulah upacara Melasti terakhir dalam hidup mereka," ujar Ki Secang penuh kegembiraan kepada orang kepercayaannya yang telah mengamati keadaan di sekitar Kadipaten Blambangan sepanjang hari.

Keesokan harinya, orang kepercayaan Ki Secang kembali mengamati situasi dan mendapati kenyataan bahwa tidak ada satu pun warga yang mengungsi. Hal itu menjadi pertanda bahwa warga memang belum mengetahui adanya rencana penyerangan di kota mereka. Orang kepercayaan Ki Secang hanya melihat setiap keluarga tengah melakukan upacara Buta Yadnya dengan pencaruan di rumah masing-masing, sebuah selamatan agar seluruh anggota keluarga terlindungi dari pengaruh sang Buta Kala.

Hingga keesokan harinya lagi, orang kepercayaan Ki Secang tidak melihat gelombang pengungsian. Yang terlihat justru suasana hiruk pikuk warga yang sedang melakukan upacara pengerupukan, yakni ritual pengusiran sang Buta Kala dengan cara menyebarkan nasi tawur di berbagai tempat di rumah serta pekarangan, dibarengi dengan memukul tetabuhan dan kentongan.

Sore harinya, orang kepercayaan Ki Secang masih berada di Kadipaten Blambangan dan melihat setiap orang di kademangan masing-masing telah menyiapkan ogoh-ogoh untuk diarak berkeliling. Atas perintah Adipati Menak Jingga, pawai ogoh-ogoh itu berakhir di ujung barat perbatasan Kadipaten Blambangan untuk dibakar bersama. Asap tebal mengepul tinggi ke udara dari ogoh-ogoh yang terbakar. Para warga tampak gembira menikmati suasana tersebut sebagai ungkapan rasa lepas dari pengaruh sang Buta Kala.

Perintah pembakaran di batas barat Kadipaten Blambangan merupakan kecerdikan Adipati Menak Jingga yang telah mengetahui bahwa pasukan Ki Secang berada di sekitar lokasi dan mengawasi jalannya pembakaran.

"Hari ini mereka merasa terbebas dari prahara sang Buta Kala, namun besok mereka pastinya tidak akan dapat membendung prahara Ki Secang," ujar Ki Secang sambil terbahak-bahak, merasa senang melihat warga yang tampak tidak menyadari bencana besar yang mengintai. Padahal, sebenarnya pasukan Ki Secang sendirilah yang telah masuk ke dalam perangkap jebakan Adipati Menak Jingga.

"Mereka pasti tidak akan berani melawan matahari terbit. Mereka pasti datang setelah matahari tergelincir di atas kepala," kata Adipati Menak Jingga kepada Adityawarman yang menemaninya hingga larut malam di serambi istana.

Meski telah dipastikan pasukan Ki Secang akan menyerang keesokan harinya, Adipati Menak Jingga tetap menempatkan beberapa prajuritnya di tempat tersembunyi untuk mengamati pihak lawan yang sudah berada di sekitar hutan belukar di batas barat kota.

"Beristirahatlah, biar aku yang berjaga," kata seorang prajurit Blambangan kepada kawannya.

"Aku tidak bisa tidur, selalu membayangkan hari raya Nyepi besok saat aku tidak berkumpul bersama anak dan istri di rumah," jawab kawannya.

"Jika besok kita tidak ikut laku Nyepi, tahun depan masih ada hari raya Nyepi lagi," hibur prajurit itu.

"Kamu benar, tapi aku memang benar-benar tidak bisa memejamkan mata," sahut kawannya.

"Kalau begitu, aku yang akan tidur lebih dulu. Bangunkan aku jika saatnya tiba," kata prajurit itu sambil menyandarkan diri di sebuah batu besar. Tidak lama kemudian, ia tertidur pulas seolah tanpa beban. Sementara itu, kawannya dengan penuh tanggung jawab terus berjaga mengamati keadaan di batas kota sebelah barat.

Perlahan, warna langit malam mulai memudar kemerahan. Bumi terlihat begitu bening, lengang, dan sepi. Sayup-sayup terdengar suara ayam jantan dari kejauhan. Perlahan, surya bangkit mengintip di ujung timur Pantai Banyuwangi, menebarkan cahaya kuning keemasan di atas tanah persawahan serta jalan tanah yang masih berembun, lengang, dan sepi.

Hari itu bertepatan dengan hari raya Nyepi. Hampir semua tempat menjadi sepi dan sunyi. Kota Kadipaten Blambangan seperti kota mati; semua warga mengurung diri di rumah tanpa menyalakan api, tidak melakukan pekerjaan apa pun selain menjalankan laku Nyepi dengan tapa, brata, yoga, dan semedi.

Adipati Menak Jingga memang merahasiakan rencana penyerangan pasukan dari padepokan Ki Secang di hutan lereng timur Gunung Raung kepada warganya. Ia ingin warganya dapat memasuki hari raya Nyepi dengan penuh kedamaian hati sebagai momen tahun baru dalam memperbaharui jiwa dan kesucian diri.

Kelengangan di Kota Kadipaten Blambangan terus berlanjut hingga matahari menerangi tanah persawahan, jalan tanah, dan pekarangan rumah. Akhirnya, ketika matahari telah tepat berada di atas kepala, kelengangan itu mulai berubah. Hal itu ditandai dengan bergeraknya pasukan besar yang dipimpin langsung oleh Ki Secang yang tampak tengah menuruni hutan di dekat perbatasan barat Kadipaten Blambangan.

"Aku datang sebagai sang Buta Kala," ujar Ki Secang sambil menatap gapura kota yang berdiri menjulang tinggi seperti raksasa bisu yang sedang memandang semesta.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment