Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 131

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 131

Jumlah prajurit Majapahit terlihat semakin menyusut tajam. Korban di pihak prajurit Majapahit seperti daun di musim kemarau panjang; telah terlihat berguguran, mati, atau terluka parah di ujung pedang pasukan Rangga Pamandana yang trengginas itu. Mereka adalah para prajurit dengan banyak pengalaman bertempur, prajurit-prajurit terbaik dari Tanah Blambangan yang sangat terkenal.

"Menyerahlah kalian!" kata Rangga Pamandana dengan suara penuh wibawa kepada sepuluh orang prajurit Majapahit yang tersisa, yang sudah terkepung dalam lingkaran yang amat kuat.

Suara keras Rangga Pamandana yang penuh kewibawaan itu seperti sebuah tangan kuat yang langsung merontokkan nyali dan taji keberanian sepuluh orang prajurit Majapahit tersebut. Seorang prajurit Majapahit dengan wajah yang sudah penuh rasa putus asa terlihat langsung melemparkan senjatanya.

Tampaknya lemparan senjata tanda penyerahan diri salah seorang prajurit Majapahit itu seperti sirep yang amat kuat. Kesembilan orang prajurit Majapahit lainnya langsung mengikutinya, melemparkan senjata mereka jauh-jauh dari jangkauan diri sendiri.

"Ikat mereka semua dan kosongkan gudang persediaan mereka!" perintah Rangga Pamandana kepada pasukannya.

Dalam waktu yang amat singkat, terlihat pasukan Rangga Pamandana telah membawa persediaan pangan yang ada di gudang perkemahan pasukan Majapahit tersebut. Kedatangan dan kepergian pasukan Rangga Pamandana itu benar-benar seperti hantu di siang hari bolong. Mereka hilang menyelinap di kerapatan hutan Ledoktempuro yang amat lebat, seolah hilang tertelan bumi.

Sementara itu, pertempuran di padang Ledoktempuro masih terus berlangsung dengan amat sengitnya. Sorak-sorai prajurit dari kedua belah pihak saling silih berganti manakala sebuah kemenangan berhasil mereka raih. Korban pun sudah terlihat begitu banyak bergelimpangan di tanah. Jerit dan teriakan terlontar seketika bersamaan dengan rasa sakit yang amat sangat manakala tebasan pedang melukai tubuh para prajurit dari kedua belah pihak.

Dari sorak-sorai yang pernah terdengar, kali ini suaranya terdengar begitu riuh dan jauh lebih bergemuruh dari sebelumnya. Suara itu berasal dari pasukan yang bertempur di sayap kiri, yang dipimpin langsung oleh Adipati Menak Koncar.

Ternyata suara riuh itu terdengar manakala cakra di tangan Adipati Menak Koncar membentur dada Ki Jabung Terewes. Ki Jabung Terewes langsung terlempar, berguling-guling di atas tanah, dan diam tak bergerak lagi. Sebenarnya Ki Jabung Terewes belum mati, ia hanya terluka parah. Namun, pasukan di pihak Empu Nambi telah berteriak penuh kegembiraan bahwa Ki Jabung Terewes telah terbunuh.

"Senopati musuh terbunuh! Senopati musuh terbunuh!" teriak para pasukan di sayap kiri pimpinan Adipati Menak Koncar, bergemuruh terdengar oleh semua orang yang tengah bertempur di padang Ledoktempuro itu.

Suara riuh kemenangan itu terdengar pula di telinga Mahapatih Dyah Halayuda yang tengah bertempur menghadapi Empu Nambi.

"Lembu Peteng, pimpinan kuserahkan kepadamu menggantikan Ki Jabung Terewes," kata Dyah Halayuda kepada Lembu Peteng yang tengah membantunya menghadapi Empu Nambi.

Terlihat Lembu Peteng langsung meloncat bergeser ke arah sayap kiri gelar mereka. Menghadapi berkurangnya penyerang membuat Empu Nambi merasa lebih ringan dan leluasa mengamati seluruh keadaan medan pertempuran serta memberikan perintah lewat jalur penghubungnya.

Empu Nambi dapat melihat keadaan pertempuran di sayap kanannya. Ternyata kepemimpinan Lembu Peteng tidak dapat mengubah keadaan, bahkan membuat situasi menjadi lebih parah. Para prajurit Lumajang di bawah kepemimpinan Adipati Menak Koncar semakin menusuk ke arah lambung pasukan induk mereka.

Berdebar perasaan hati Dyah Halayuda membayangkan lambung gelar Dirada Meta sampai robek karena tidak mampu menahan tekanan sayap kanan pasukan Empu Nambi. Terlihat Empu Nambi tersenyum dikulum manakala mendengar perintah Dyah Halayuda untuk memperkuat sayap kiri mereka.

Sementara itu, Empu Nambi masih melihat keseimbangan pertempuran di sayap kirinya. Tampaknya Tumenggung Jala Rananggana mampu mengimbangi kekuatan pasukan yang berada di bawah pimpinan Panji Wiranagari dan Panji Anengah. Mereka tampaknya berasal dari induk jalur tata gelar yang sama, sehingga dapat saling membaca setiap gerak lawan karena sama-sama merupakan prajurit Majapahit yang kini berada di pihak yang berseberangan.

"Sayang hawa murniku sudah terkuras hampir setengahnya oleh Gajah Mada," kata Dyah Halayuda dalam hati ketika menghindari setiap benturan senjata Empu Nambi, hanya mengandalkan kecepatan dan kegesitannya bergerak.

Namun, tiba-tiba saja suara sorak-sorai kembali terdengar di ujung kiri sayap pasukannya yang dipimpin oleh Lembu Peteng. Berdebar hati Dyah Halayuda manakala mendapat berita dari penghubungnya bahwa Lembu Peteng gugur terhantam cakra Adipati Menak Koncar di kepalanya.

"Orang-orang bodoh!" maki Dyah Halayuda kepada seorang penghubungnya.

"Masih ada kawanmu ini yang menggantikan orangmu yang gugur itu, sehingga kita bisa lebih leluasa berhadapan satu lawan satu," kata Empu Nambi dengan senyum menggoda.

"Kurobek mulutmu!" teriak Dyah Halayuda penuh kemarahan sambil menerjang Empu Nambi seperti badai gelombang yang bergulung-gulung.

Trang!

Cakra Empu Nambi seperti tameng yang amat kuat menahan serangan dahsyat itu. Akibatnya, Dyah Halayuda langsung mundur dua langkah dari tempatnya berdiri sambil merasakan kedua tangannya bergetar pedih.

"Lambung pasukanmu sebentar lagi akan robek," kata Empu Nambi mengingatkan musuhnya.

"Persetan dengan pasukanku! Yang kuinginkan hari ini adalah membunuhmu," kata Dyah Halayuda sambil memerintahkan sepuluh orang prajuritnya untuk membantu mengepung Empu Nambi.

Namun, Empu Nambi bersama orang-orang yang setia kepadanya tidak akan rela melihat Empu Nambi seorang diri menghadapi kecurangan itu. Beberapa orang setianya telah turun bersama menghadapi setiap musuh yang datang membantu Dyah Halayuda, termasuk mengambil alih pertempuran melawan Ikal-Ikalan Bang.

Akibatnya, Dyah Halayuda kembali harus menghadapi Empu Nambi seorang diri. Beruntung bagi Dyah Halayuda, hati dan pikiran Empu Nambi terbagi ke medan pertempuran untuk mengendalikan seluruh pasukannya lewat jalur para penghubung.

Empu Nambi dengan ringannya menghindari serangan lawannya, hanya beberapa kali memberikan tekanan yang menembus pertahanan lawan. Namun, perlawanan "setengah hati" dari Empu Nambi tersebut sudah cukup menguras habis tenaga Dyah Halayuda.

Melihat dirinya tidak akan mampu menghadapi Empu Nambi seorang diri, tiba-tiba saja Dyah Halayuda melompat jauh dan menyelinap di antara keriuhan suasana peperangan.

"Manusia licik," gumam Empu Nambi yang telah kehilangan jejak Dyah Halayuda.

Bersamaan dengan hilangnya Dyah Halayuda dari pandangan Empu Nambi, seluruh pasukan Majapahit terlihat bergerak mundur dengan gelar yang membentuk lingkaran cakra besar, terus bergerak mendekati arah hutan Ledoktempuro.

"Hari telah senja," kata Empu Nambi dalam hati sambil menatap mentari yang semakin surut di ujung barat bumi.

"Bila saja senja tidak datang, pasukan kita sudah berada di ujung kemenangan," kata Adipati Menak Koncar yang datang mendekati Empu Nambi.

"Masih ada waktu besok, wahai putraku," kata Empu Nambi dengan senyum penuh kebanggaan memandang putranya yang dinilainya sangat cekatan dan cerdas mengendalikan sayap kanan gelar perang pasukan.

Sementara itu, pasukan Majapahit sudah hampir seluruhnya masuk ke dalam hutan. Di padang Ledoktempuro kini hanya tertinggal pasukan Empu Nambi.

"Mari kita kembali ke Benteng Randu Agung," ajak Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

Demikianlah, wajah senja yang buram mengiringi pasukan Empu Nambi meninggalkan padang Ledoktempuro. Mereka meninggalkan mayat-mayat musuh dan membiarkan orang-orang yang terluka dari pihak lawan, yang sebentar lagi akan dievakuasi oleh rekan-rekan mereka sendiri.

Wajah bumi di ujung senja perlahan semakin redup. Iring-iringan pasukan Empu Nambi telah memasuki jalan utama Kademangan Randu Agung tanpa suara, tanpa derap langkah kaki yang keras menghentak bumi. Sesekali wajah mereka menyapu hamparan persawahan yang sepi di sisi perjalanan.

Sementara itu, pasukan Dyah Halayuda yang memasuki hutan Ledoktempuro sudah mendekati perkemahannya. Alangkah terkejutnya Dyah Halayuda manakala melihat para prajurit penjaganya sudah dalam keadaan terikat tangan dan kaki.

"Mereka telah merampok persediaan pangan kita," lapor salah seorang prajurit penjaga menceritakan apa yang terjadi di perkemahan tadi siang.

Wajah Dyah Halayuda tampak memerah seperti terbakar. Ia tidak berkata apa-apa, hanya giginya yang bergeletuk menahan amarah yang amat hebat sebelum langsung menuju ke arah gubuknya sendiri.

Akhirnya, dengan sangat terpaksa, beberapa orang prajurit Majapahit harus *nganglang* di malam hari untuk berburu di hutan guna mempersiapkan ransum para prajurit malam itu dan keesokan harinya. Kasihan memang keadaan para prajurit Majapahit itu; setelah seharian bertempur, mereka masih harus menunggu cukup lama demi keberuntungan teman-teman mereka yang berburu di hutan.

"Bukan Ki Sandikala bila tidak cerdik," kata Tumenggung Jala Rananggana dalam hati sambil berbaring di gubuknya, memuji kecerdikan Empu Nambi yang sudah lama dikenalnya sejak masa perjuangan menghadapi prajurit Raja Jayakatwang.

"Roda kehidupan memang sangat aneh. Dulu aku dan Empu Nambi berada dalam satu barisan, sementara saat ini kami berada di barisan yang terpisah dan berseberangan," gumam Tumenggung Jala Rananggana lagi dalam hati.

Namun, baru saja Tumenggung Jala Rananggana memejamkan matanya yang sudah amat lelah, tiba-tiba datang seorang prajurit yang memintanya untuk segera menghadap Mahapatih Dyah Halayuda.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment