Chapter 23
Tidak banyak kegiatan yang dilakukan para prajurit yang menempati lapangan bekas reruntuhan istana di Hutan Jatirogo itu. Beberapa orang terlihat masih merawat kawan-kawan mereka yang terluka, termasuk beberapa prajurit Sunginep yang juga luka parah. Sementara itu, beberapa prajurit telah ditugaskan untuk mengawasi para tawanan perang.
Keesokan harinya, saat matahari mulai memancar terang di ujung timur, sebuah pasukan besar diiringi bende dan suara genderang berjalan menjauhi Hutan Jatirogo. Tidak seperti waktu berangkat dari Kotaraja Majapahit, kali ini gerak pasukan agak terhambat karena mereka harus membawa banyak orang yang terluka dan para tawanan perang.
Namun, kehadiran pasukan Majapahit yang besar itu tetap membuat ciut hati orang yang melihatnya, terutama para prajurit kademangan yang selama ini telah dihasut untuk memberontak dan memisahkan diri dari kedaulatan Majapahit Raya. Pasukan berkuda terlihat begitu gagah berjalan di paling depan, diikuti para pasukan tombak yang selalu mengangkat tombaknya manakala suara bende berbunyi. Derap langkah kaki mereka bergemuruh menggetarkan bumi.
Patih Mahesa Amping terlihat tersenyum di atas kudanya. Unjuk kekuatan prajurit Majapahit nampaknya berhasil membuat gentar orang-orang di balik pagar rumah di beberapa padukuhan yang mereka lewati. Jika mereka terus berjalan, maka pada ujung malam mereka sudah dapat mencapai Kadipaten Tuban. Namun, Patih Mahesa Amping merasa kasihan kepada prajuritnya, terutama mereka yang terluka parah.
Maka di sebuah padukuhan yang masih dalam wilayah Kademangan Montong, Patih Mahesa Amping memerintahkan pasukannya untuk beristirahat saat hari mulai gelap di ujung senja itu.
"Tunjukkan keluhuran budi prajurit Majapahit, jangan sampai ada warga padukuhan ini yang terganggu dengan kehadiran kita. Jangan lengah, kita berada di lingkungan yang memiliki kesetiaan tinggi terhadap adipati mereka," pesan Patih Mahesa Amping kepada pasukannya.
Para prajurit merasa sangat gembira ketika diperintahkan untuk beristirahat dan bermalam di sebuah padukuhan setelah seharian berjalan tanpa henti. Terlihat beberapa orang prajurit langsung membangun dapur umum di sisi sebuah sungai kecil yang berair jernih. Beberapa prajurit lagi bersandar di batang pohon besar, sementara selebihnya menurunkan tandu-tandu orang yang terluka di sudut semak perdu agar terhindar dari angin malam. Mereka memang bermalam di tanah terbuka di ujung sebuah padukuhan.
Malam pun berlalu dalam sepi. Beberapa orang prajurit bergiliran berjaga sepanjang malam dengan penuh kewaspadaan. Mereka menyadari bahwa hal-hal yang tidak diinginkan bisa saja datang tiba-tiba. Namun, sepanjang malam itu tidak ada apa pun yang terjadi menimpa mereka. Hingga pagi datang, para prajurit terbangun dengan tubuh terasa lebih segar bersama ransum sarapan sederhana.
Di bawah awan putih yang berarak ditiup angin pagi yang cerah, iring-iringan pasukan besar Majapahit melanjutkan perjalanan kembali ke Kadipaten Tuban. Sebagaimana sebelumnya, iring-iringan itu membuat ciut dan gentar siapa pun yang melihatnya. Selama ini, orang-orang padukuhan sering melihat para prajurit pengawal kademangan berlatih di lapangan terbuka. Namun, manakala mereka melihat iring-iringan pasukan Majapahit yang besar itu melewati jalan padukuhan, mereka mulai membanding-bandingkan betapa kecilnya para prajurit pengawal kademangan jika dikumpulkan berhadap-hadapan dengan pasukan Majapahit tersebut.
Di awal senja yang bening, saat matahari masih memancarkan cahayanya yang teduh, pasukan Patih Mahesa Amping memasuki kota Kadipaten Tuban. Rakyan Kebo Arema menyambut langsung pasukan itu di pintu gerbang istana kadipaten.
"Selamat datang, Saudaraku," kata Rakyan Kebo Arema kepada Patih Mahesa Amping yang telah turun dari kudanya.
"Paman Kebo Arema, kulihat sangat cocok sebagai seorang Adipati," ujar Patih Mahesa Amping sambil tersenyum.
"Sayangnya aku tidak suka tinggal di suatu tempat untuk waktu yang lama," jawab Rakyan Kebo Arema ikut tertawa gembira menanggapi candaan Patih Mahesa Amping.
Rakyan Kebo Arema mengajak Patih Mahesa Amping menuju pendapa istana kadipaten. Manakala langkah kaki Patih Mahesa Amping menyentuh tangga pertama pendapa, wajahnya terlihat seperti tersiram warna duka. Bayangan sahabatnya, Adipati Ranggalawe, seolah datang menyambutnya dengan senyum di atas panggung pendapa. Rakyan Kebo Arema tidak memperhatikan perubahan wajah Patih Mahesa Amping yang sudah duduk bersamanya.
Patih Mahesa Amping mencoba melupakan bayangan sahabatnya, Adipati Ranggalawe, dengan langsung bercerita tentang perjalanannya bersama pasukan, serta peperangan mereka di Hutan Jatirogo. Bergantian, Rakyan Kebo Arema juga bercerita tentang peperangan pasukannya di Goa Abar.
"Ketika kami datang, istana kadipaten ini telah kosong. Adipati Ranggalawe nampaknya telah membawa pasukannya pergi mengungsi," cerita Rakyan Kebo Arema kepada Patih Mahesa Amping.
"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Adipati Ranggalawe. Apakah istana kadipaten yang indah ini masih dianggapnya belum cukup besar dan agung?" tanya Patih Mahesa Amping sambil mengamati keindahan taman di depan pendapa istana yang tertata asri.
"Keinginan seseorang memang tidak sama," kata Rakyan Kebo Arema sambil menarik napas panjang.
"Di mana Adipati Ranggalawe saat ini?" tanya Patih Mahesa Amping.
"Beberapa petugas telik sandiku telah menemukan jejaknya. Adipati Ranggalawe bersama pasukannya telah keluar dari Tuban menuju arah Lamongan," jawab Rakyan Kebo Arema.
"Arah untuk menyeberang ke Madura?" sahut Patih Mahesa Amping.
"Aku membacanya seperti itu. Adipati Ranggalawe akan bergabung dengan ayahnya di Sunginep," kata Rakyan Kebo Arema.
"Berapa kekuatan pasukan Adipati Ranggalawe saat ini?" tanya Patih Mahesa Amping.
"Sekitar lima ratus prajurit bersamanya," jawab Rakyan Kebo Arema.
"Kita masih dapat mencegat pasukan itu sebelum menyeberang dan bergabung dengan pasukan ayahnya," ujar Patih Mahesa Amping.
"Di Lamongan ada sebuah padepokan kecil tempat kedua putranya berguru. Ada kemungkinan rombongan itu akan singgah di sana sebelum menyeberang ke Madura," kata Rakyan Kebo Arema.
"Kita pecah kekuatan kita. Sebagian langsung ke padepokan itu, sementara sebagian lagi mencegatnya di ujung penyeberangan yang pasti akan dilalui oleh pasukan Adipati Ranggalawe," usul Patih Mahesa Amping.
Demikianlah, keesokan harinya pagi-pagi sekali, sekitar enam ratus pasukan berkuda keluar meninggalkan istana Kadipaten Tuban. Di batas gerbang kota, pasukan berkuda itu terlihat terpecah dua. Sebagian menyusuri jalur pesisir utara menuju arah penyeberangan Madura, sementara sebagian lagi menuju arah Tanah Jabung.
Patih Mahesa Amping terlihat gagah di atas kudanya memimpin sekitar dua ratus pasukan berkuda menuju arah Tanah Jabung, sebuah daerah yang sudah masuk ke dalam wilayah kekuasaan Kadipaten Lamongan saat itu. Ketika matahari bergeser sedikit, seorang penunjuk arah memperlambat laju kudanya.
"Padepokan Jabung sudah tidak jauh lagi dari sini," kata penunjuk arah itu sambil menunjuk sebuah padukuhan di hadapan mereka.
Padepokan Jabung berada di ujung sebuah padukuhan; sebuah padepokan kecil yang berada di luar padukuhan dan dikelilingi hamparan sawah serta ladang. Patih Mahesa Amping memberi isyarat kepada pasukannya untuk tidak melintasi persawahan yang baru saja ditanami bibit padi. Mereka merintis jalan di pematang sawah untuk menuju ke padepokan itu.
Padepokan Jabung adalah sebuah padepokan yang sangat sederhana, terdiri dari sebuah bangunan utama yang tidak terlalu besar dengan dinding bilik bambu dan tanpa pagar pembatas. Di sebelah kanan bangunan utama hanya ada barak panjang yang juga sangat sederhana untuk tempat tinggal para cantrik.
Patih Mahesa Amping bersama pasukannya telah berada di halaman depan Padepokan Jabung. Tidak terlihat tanda-tanda adanya pasukan Ranggalawe. Seorang lelaki tua menuruni anak tangga pendapa diiringi oleh tiga orang pemuda.
"Mudah-mudahan mata tuaku ini tidak salah mengenali orang. Angger sangat gagah memakai baju kebesaran prajurit Majapahit," kata lelaki tua itu dengan senyum tulus memandang ke arah Patih Mahesa Amping.
Bukan main terkejutnya Patih Mahesa Amping manakala mengenali siapa orang tua tersebut.
"Empu Pranata!" seru Patih Mahesa Amping sambil melangkah memeluk tubuh orang tua itu dengan penuh haru dan sukacita.
Patih Mahesa Amping sangat mengenal orang tua itu sebagai saudara kembar Empu Dangka. Mereka adalah dua orang sakti cucu dari Empu Brantas, pimpinan Padepokan Windu Sejati yang sangat terkenal pada zaman dahulu kala. Konon, hanya mereka bertiga yang selamat ketika bencana air bah Sungai Brantas berbalik arus dan menenggelamkan daratan sekitarnya. Saat itu, mereka kebetulan sedang mengunjungi salah seorang kerabat dekat di daerah Panawijen.
Terakhir kali Patih Mahesa Amping berpisah dengan Empu Pranata adalah manakala ia mendapat tugas dari Raja Kertanegara di Bali Dwipa, sementara Empu Pranata diangkat oleh Raja Kertanegara sebagai pendeta suci istana Singasari. Setelah sekian lama tidak bertemu, hari itu mereka dipertemukan kembali di halaman Padepokan Jabung.
"Mari kita bicara di atas pendapa," ajak Empu Pranata kepada Patih Mahesa Amping.