Chapter 208
Ternyata Patih Kebo Iwa tidak sekadar sesumbar kosong. Serangannya kali ini memang benar-benar lebih dahsyat dari sebelumnya.
Terlihat pedang besar itu berkelebat ke sana ke mari, berdesing membelah udara.
Melihat serangan yang sangat dahsyat itu, Majalangu terpaksa meningkatkan tataran kemampuannya.
Pertempuran pun menjadi semakin seru dan dahsyat dari sebelumnya.
Debu terlihat beterbangan mengganggu jarak pandang penglihatan. Terlihat beberapa orang berlarian menjauhi tali batas arena perang tanding manakala patok-patok tempat ikatan tali roboh beterbangan.
Ternyata pertempuran dua naga kanuragan itu begitu dahsyat sehingga arena perang tanding tidak cukup bagi mereka.
Yang terjadi di alun-alun itu adalah patok-patok hidup yang melingkar luas, terdiri dari orang-orang yang masih punya nyali besar untuk tetap menyaksikan jalannya pertempuran.
Panas hati Patih Kebo Iwa untuk secepatnya menyelesaikan pertempuran itu.
Namun, semakin dirinya meningkatkan tataran ilmunya, anak muda yang menjadi lawannya itu tetap saja masih dapat mengimbanginya.
Pertempuran keduanya menjadi semakin dahsyat. Tanah dan batu beterbangan terkena pijakan langkah kaki mereka.
Sementara itu, gerakan keduanya menjadi semakin cepat hingga terlihat seperti dua bayangan hitam yang saling mengejar.
Kembali Patih Kebo Iwa menghentakkan ilmu andalannya setingkat lebih tinggi lagi. Angin panas seperti merobek-robek udara.
Namun, Majalangu diam-diam ikut meningkatkan tataran kemampuannya, membuat Patih Kebo Iwa menjadi semakin putus asa melihat angin panas yang berkobar lewat senjatanya itu tidak berarti apa pun pada diri lawannya.
Dalam keputusasaannya itu, Patih Kebo Iwa tidak menyadari telah mengeluarkan ajian Samber Geni yang sangat jarang dipergunakan.
Sebuah ajian ilmu yang dapat mengeluarkan petir lewat senjata pedang pusakanya.
Dahsyat sekali ajian Samber Geni yang dilontarkan oleh Patih Kebo Iwa itu. Terlihat lidah petir keluar dari pedang pusakanya.
Melihat bahaya tengah mengancam dirinya, tidak ada jalan lain bagi Majalangu selain menghentakkan seluruh kemampuan tenaga sakti yang dimilikinya, lalu dihempaskannya lewat cambuk pendek miliknya.
*Deg!*
Terdengar sentakan pancing cambuk dari tangan Majalangu. Bunyinya memang tidak seperti suara halilintar, bahkan nyaris tidak terdengar.
Itulah pertanda suara cambuk yang dihentakkan oleh seorang ahli yang memiliki tenaga sakti berlipat ganda kedahsyatannya.
Kedua tenaga sakti dari dua raksasa kanuragan itu saling membentur.
Ternyata, hentakan tenaga sakti sejati yang dilontarkan oleh Majalangu berlipat ganda kekuatannya, melebihi hantaman gunung cadas yang amat keras.
Semua orang yang masih berdiri di alun-alun itu seperti mematung dengan mata terbelalak.
Semua orang di alun-alun itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri lidah petir yang keluar dari pedang pusaka milik Patih Kebo Iwa tiba-tiba saja berbalik arah menyambar pemiliknya sendiri.
Hanya dalam hitungan dua hingga tiga kedipan mata saja, tubuh Patih Kebo Iwa terlempar dengan kondisi menghitam terbakar ajian ilmunya sendiri.
Majalangu masih berdiri termangu, tidak menyangka akhir dari pertempurannya telah menewaskan lawannya dengan keadaan yang begitu mengerikan.
"Perang tanding ini telah selesai, wahai saudaraku," kata Arya Damar sambil menyentuh bahu Majalangu yang masih menggenggam pangkal cambuk pendeknya.
"Aku tidak menginginkan akhir dari pertempuran ini. Aku telah melayangkan selembar nyawa manusia," kata Majalangu perlahan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
"Takdir dan keinginan kita kadang berlawanan. Namun, apa yang kamu lakukan hanyalah sebatas menyelamatkan dirimu sendiri," kata Arya Damar mencoba menenangkan perasaan Majalangu.
"Kamu benar, wahai saudaraku," kata Majalangu sambil melilitkan cambuk pendek di pinggangnya.
Semua mata di alun-alun itu menatap Majalangu dan Arya Damar yang tengah melangkah meninggalkan arena perang tanding.
"Dua anak muda yang perkasa," desis seorang lelaki tua yang tidak lain adalah Mahapatih Pasunggrigis.
Orang tua itu berada di alun-alun bersama putrinya, Manik Danda, menyaksikan sejak awal perang tanding dimulai.
Mereka menyaksikan kekalahan Raden Makambika yang sombong, serta tewasnya Patih Kebo Iwa yang berilmu sangat tinggi di tangan seorang pemuda biasa yang menyebut dirinya Majalangu.
"Mari kita tinggalkan tempat ini, wahai Manik Danda," kata Mahapatih Pasunggrigis kepada putrinya.
Di tengah perjalanan pulang ke rumahnya, tidak henti-hentinya Manik Danda memuji kehebatan Arya Damar dan Majalangu dalam perang tanding itu.
"Raden Makambika pasti akan memengaruhi ayahnya untuk mencelakai kedua anak muda itu," kata Mahapatih Pasunggrigis kepada Manik Danda ketika mereka telah melewati regol pintu gerbang rumahnya.
"Itu artinya Raden Makambika telah menodai kesucian perang tandingnya sendiri," kata Manik Danda dengan perasaan kurang senang.
"Apa artinya kesucian bagi seorang Raden Makambika? Kekalahan dalam perang tanding telah meruntuhkan keangkuhannya. Orang seperti Raden Makambika pasti tidak dapat menerimanya dengan hati lapang," kata Mahapatih Pasunggrigis.
Perlahan, sang surya menepi di ujung cakrawala sebelah barat.
Berangsur-angsur warna malam merangkul senja yang terpasung di kesepian, bernyanyi tentang suara angin.
Tampak rembulan sabit mengambang di atas Kotaraja Bali yang diselimuti awan hitam.
Semua orang tampaknya telah rapat-rapat menutup pintu dan jendela rumah, lalu naik ke peraduannya.
Suasana Kotaraja Bali terlihat sudah begitu sepi.
Hanya suara angin yang sesekali menderu, menambah kesunyian malam.
Namun, di keremangan malam itu, tampak seseorang mengendap-endap mendekati rumah seorang perajin perak.
Ketika pelita malam yang tergantung di atas tangga pendopo menerangi wajahnya yang tertutup kain hitam, tampak jelas rona merah di kedua pipinya, menandakan bahwa sosok itu adalah seorang wanita.
Wanita itu mendekati pintu pringgitan dan mencoba mengetuknya perlahan.
Beruntung, pemilik rumah perajin perak itu ternyata belum tidur dan mendengar jelas ketukan pintu meskipun sangat perlahan.
"Apakah aku berhadapan dengan Nimas Ayu Manik Danda?" tanya Ki Wayan, pemilik rumah itu, dengan penuh keheranan saat membuka pintu dan melihat seorang wanita di hadapannya.
"Benar, Ki Wayan. Ada hal sangat penting yang harus kusampaikan," kata Manik Danda.
"Masuklah ke dalam agar Nimas Ayu dapat berbicara lebih leluasa," kata Ki Wayan mempersilakan Manik Danda masuk.
"Terima kasih, Ki Wayan. Sebenarnya aku hanya ingin bertemu dengan kedua pekerjamu yang bernama Arya Damar dan Majalangu," ujar Manik Danda.
"Masuklah ke dalam, aku akan segera membangunkan mereka," kata Ki Wayan kepada Manik Danda yang masih berdiri di depan pintu pringgitan.
Manik Danda tidak ragu lagi untuk langsung masuk ke dalam rumah dan duduk di atas bale-bale.
Tidak lama berselang, Ki Wayan datang bersama kedua pemuda yang ingin ditemui oleh Manik Danda.
"Apakah Nimas Ayu Manik Danda ada keperluan dengan kami berdua?" tanya Arya Damar dengan penuh kehati-hatian.
"Aku datang hanya untuk menyampaikan pesan dari ayahku. Beliau meminta kalian malam ini juga harus pergi jauh dari Kotaraja Bali," kata Manik Danda menyampaikan maksud kedatangannya.
Arya Damar dan Majalangu saling berpandangan.
"Mengapa kami harus pergi jauh dari Kotaraja Bali?" tanya Majalangu kepada Manik Danda.
"Raden Makambika telah memerintahkan para prajurit untuk menangkap kalian berdua," jawab Manik Danda.
"Ternyata Raden Makambika tidak menerima kekalahannya," kata Arya Damar menyimpulkan permasalahan yang tengah mereka hadapi.
"Bukankah kita telah melakukan perang tanding dengan jujur?" tanya Majalangu, tidak habis pikir dengan sikap Raden Makambika.
Suasana di rumah Ki Wayan seketika menjadi hening. Semua orang tampaknya tengah berpikir.
Namun, tiba-tiba saja pendengaran Majalangu yang sangat terlatih menangkap suara mencurigakan di halaman rumah.
Majalangu memberi isyarat agar semua orang diam, sementara ia mendekati pintu pringgitan dan membukanya sedikit untuk mengintip keadaan di halaman pendopo.
"Para prajurit itu telah datang," kata Majalangu sambil menarik napas panjang dengan tenang.
"Ki Wayan, sembunyikan putri Ki Pasunggrigis ini. Kami akan menghadapi mereka," kata Arya Damar kepada Ki Wayan.
"Ki Wayan, terima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini," sambung Majalangu sambil melambaikan tangan ke arah Ki Wayan.
Ki Wayan dan Manik Danda hanya bisa memandang kedua pemuda yang melangkah keluar dari pintu pringgitan dengan penuh rasa percaya diri.
Ternyata, di halaman pendopo sudah berkumpul sekitar seratus prajurit Kerajaan Bali.
"Apakah kalian mencari kami berdua?" tanya Majalangu kepada para prajurit yang sudah berada di halaman, sembari menuruni anak tangga pendopo.
"Benar, kami memang datang untuk menangkap kalian berdua," jawab salah seorang prajurit yang tampaknya memimpin pasukan tersebut.
"Apa kesalahan kami?" tanya Majalangu kepada pemimpin prajurit itu.
"Kalian berdua adalah mata-mata Majapahit," jawab pemimpin prajurit itu.
"Oh, begitu?" ujar Majalangu sambil tersenyum.
"Tangkap kedua orang ini!" teriak pemimpin prajurit itu memberi perintah.
Seketika itu juga, Majalangu dan Arya Damar telah terkepung.
Seandainya saja para prajurit itu mengetahui siapa gerangan kedua anak muda tersebut, mereka pasti tidak akan berani mengarahkan ujung tombak begitu dekat ke tubuh keduanya.