Chapter 137
"Siapa bilang otak Ki Bancak sudah tua? Justru aku tidak terpikir hal itu sebagai kemungkinan yang paling mendekati kebenaran," kata Tumenggung Mahesa Semu kepada Ki Bancak.
"Aku hanya menduga-duga, tidak berpikir apa pun," ujar Ki Bancak merendahkan diri.
"Aku akan mengutus seorang penghubung kepada Empu Nambi untuk menyampaikan apa yang Ki Bancak temukan dalam perjalanan pulang ke Kotaraja Majapahit," kata Tumenggung Mahesa Semu kepada Ki Bancak.
"Mudah-mudahan Empu Nambi dapat berpikir lebih cermat lagi dalam membuat beberapa persiapan menghadapi serangan pasukan Majapahit yang lebih besar ini," lanjut Tumenggung Mahesa Semu kepada Ki Bancak.
Ragil dan ketiga sepupunya yang sebaya terlihat tengah bermain di ladang jagung ayahnya. Keempat anak itu berlari-lari, timbul tenggelam di antara batang tanaman jagung yang lebih tinggi dari tubuh mereka. Usia Ragil saat itu baru menginjak delapan tahun, belum dapat memahami apa yang dipikirkan kedua orang tuanya. Yang dia tahu, dua hari lagi tanaman jagung akan dipanen, dan setelah itu mereka harus kembali mengungsi ke lereng Gunung Semeru seperti beberapa waktu yang lalu.
Ragil tidak bertanya sama sekali kepada kedua orang tuanya mengapa mereka harus mengungsi. Kedua orang tua Ragil dan para tetangganya telah mendapat perintah dari para bebahu Kota Kadipaten Lamajang agar secepatnya pergi mengungsi ke tempat yang aman karena pasukan Majapahit akan segera datang kembali.
Berita tentang datangnya pasukan besar dari Kotaraja Majapahit telah sampai di Benteng Randu Agung. Siang itu, Empu Nambi telah mengumpulkan seluruh pimpinan pasukannya untuk membuat berbagai persiapan menghadapi serangan tersebut.
"Mereka nampaknya tidak langsung datang menggempur kita di Benteng Randu Agung ini, tetapi bergerak ke arah Kademangan Pronojiwo," kata Empu Nambi kepada para pemimpin pasukannya.
"Mengapa Ayahanda berpikir seperti itu?" tanya Adipati Menak Koncar yang belum dapat memahami jalan pikiran ayahnya.
"Panji Samara, jelaskan dengan naluri keprajuritanmu, bilamana dirimu adalah seorang senapati pasukan Majapahit yang telah menempatkan kantong-kantong lumbung persediaanmu dekat ke arah kaki Gunung Semeru, bukankah mereka mengetahui bahwa pasukan kita berada di Benteng Randu Agung?" tanya Empu Nambi kepada Panji Samara.
"Seandainya aku adalah seorang senapati Majapahit, aku akan membumihanguskan bumi Lamajang hingga tidak ada semak belukar yang dapat tumbuh, barulah aku akan mengepung Benteng Randu Agung tanpa rasa khawatir mendapatkan serangan dari arah belakang. Itulah sebabnya ada ladang jagung tersembunyi dan terjaga di dekat kaki Gunung Semeru, bukan di sekitar Benteng Randu Agung," papar Panji Samara sesuai permintaan Empu Nambi.
"Gangguan kecil pasukan Rangga Pamandana pasti tidak akan luput dari ingatan mereka," tambah Empu Nambi.
"Licik sekali jalan pikiran mereka itu, menyerang para pengungsi yang hanya dilindungi pasukan kecil Rangga Pamandana," kata Menak Koncar mulai mengerti.
"Bawalah pasukanmu ke Kademangan Pronojiwo agar kamu dapat membantu pasukan Rangga Pamandana melindungi para pengungsi di sana," perintah Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.
Terlihat kebimbangan di hati Adipati Menak Koncar menanggapi perintah ayahnya. Nampaknya Empu Nambi dapat membaca apa yang ada dalam pikiran dan perasaan hati putranya itu.
"Selembar nyawaku ini tidaklah berarti dibandingkan keselamatan ribuan pengungsi di lereng Gunung Semeru. Di sana banyak anak-anak kecil yang harus menikmati kehidupan yang panjang, di sana ada banyak wanita belia yang harus dijaga kehormatannya. Bila memang sebuah pedang merenggut nyawaku dalam peperangan ini, aku akan mati dengan tersenyum. Namun, pastikan untukku bahwa kamu telah melindungi warga Lamajang di pengungsian," kata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar dengan wajah penuh senyum, mencoba meredam kebimbangan hati putranya.
Suasana di atas pendapa seketika menjadi hening. Perkataan Empu Nambi membuat semua orang terenyuh mendengar keluhuran jiwa seorang pemimpin yang lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri.
"Adipati Menak Koncar, bawalah pasukanmu ke kaki Gunung Semeru. Aku akan menggantikanmu menjaga ayahandamu sebagaimana kamu menjaganya di benteng ini," kata Panji Wiranagari.
"Adipati Menak Koncar, aku, Panji Anengah, mencintai ayahandamu sebagaimana dirimu. Percayakanlah beliau kepada diriku," kata Panji Anengah.
"Adipati Menak Koncar, aku, Panji Samara, telah rela berseberangan dengan Kerajaan Majapahit karena aku terlahir sebagai prajurit dari tangan dan didikan ayahandamu. Percayalah kepadaku, aku akan menjaganya sebagaimana seorang putranya menjaganya," ucap Panji Samara dengan suara penuh ketulusan yang didengar semua orang di pendapa Benteng Randu Agung.
"Wahai Ayahanda, berbahagialah dirimu dikelilingi oleh kesetiaan. Ringan dan tunai kewajibanku sebagai seorang putra. Kutinggalkan dirimu untuk memenuhi kewajibanku yang lain, melindungi wargaku sebagai seorang Adipati," kata Menak Koncar di hadapan ayahnya.
"Berangkatlah wahai putraku, penuhi kewajibanmu sebagai seorang Adipati. Lindungilah wargamu sebagaimana kamu melindungi diriku," balas Empu Nambi dengan senyum penuh kecintaan.
"Aku pamit diri, mohon doa restu Ayahanda," kata Adipati Menak Koncar lalu beranjak menuju tangga pendapa.
Empu Nambi menarik napas panjang, terus mengikuti langkah putranya hingga mencapai anak tangga terakhir. "Aku bangga mempunyai seorang putra sepertimu, wahai Menak Koncar," ucap Empu Nambi dalam hati melepas kepergian putranya.
Matahari sore masih memancarkan cahayanya di atas pantai Pasuruan. Tiga orang lelaki memperbaiki perahu, sementara tiga bocah telanjang asyik berlari di atas pasir.
"Ada sekumpulan prajurit Majapahit di Kademangan Japan, kabarnya mereka akan menyerang bumi Lamajang," kata seorang lelaki kepada kawannya.
"Beruntunglah kita terlahir sebagai orang laut yang hanya menghadapi badai di lautan, bukan pedang dan lembing sebagaimana perang orang-orang darat itu," tanggap kawannya.
"Kita bakal kena imbasnya, harga beras dan jagung orang darat pasti menjadi langka karena telah direbut setengahnya oleh pasukan Majapahit itu," ujar lelaki ketiga.
Demikianlah, meski Kademangan Japan jauh dari garis pantai Pasuruan, kehadiran pasukan Majapahit berdampak bagi kehidupan para nelayan yang kesulitan mendapatkan beras dan jagung, karena setengah dari lumbung petani telah diserahkan kepada pasukan Majapahit guna kebutuhan peperangan.
Baru sepekan pasukan Majapahit tiba di Kademangan Japan di bawah pimpinan Mahapatih Dyah Halayuda, namun bagi warga setempat, kehadiran mereka terasa sangat lama dan menyengsarakan. Bahkan, beberapa prajurit sudah mulai mengganggu anak-anak gadis mereka. Namun, hari itu warga mulai bernapas lega karena pagi tadi pasukan besar itu bergerak meninggalkan Kademangan Japan. Ternyata mereka bergerak menyimpang dari jalur semestinya, tidak menuju bumi Lamajang lewat Kademangan Randu Agung, melainkan menyimpang ke arah kaki Gunung Semeru.
"Kita harus secepatnya memberitahukan Empu Nambi di Benteng Randu Agung," kata seorang petugas pengamat kepada kawannya di tempat persembunyian.
Keduanya bergegas mendekati kuda mereka yang terikat di tempat tersembunyi. Tanpa terlihat siapa pun, mereka melarikan kuda ke arah Kademangan Randu Agung, sementara pasukan Majapahit terus bergerak menyimpang ke arah kaki Gunung Semeru.
Hari sudah mulai gelap ketika para petugas pengamat itu tiba di Benteng Randu Agung. Mendengar berita tersebut, Empu Nambi segera memerintahkan orangnya untuk meneruskan kabar itu ke Kademangan Pronojiwo.
"Pasukan Lamajang lebih mengenal daerah di sekitar kaki Gunung Semeru itu dibandingkan pasukan Majapahit yang baru datang," kata Empu Nambi kepada para pemimpin pasukannya. "Tugas kita dalam permainan ini adalah memancing keluarnya kesatuan pasukan Jala Pati dari Kotaraja Majapahit, sehingga peta kekuatan di Kotaraja saat ini berimbang antara kekuatan yang tengah digalang oleh Tumenggung Mahesa Semu menghadapi kekuatan bayangan yang telah lama dibangun oleh Ra Kuti untuk menguasai istana. Apa yang kita lakukan saat ini adalah menyumbangkan kemenangan dalam permainan besar ini. Bukankah kesatuan pasukan Jala Pati sudah berada di Bumi Lamajang saat ini?" lanjut Empu Nambi.