Chapter 70
"Namun, selama kamu berpegang teguh kepada raja hati nuranimu sendiri, di situlah kebenaran hakiki yang harus kamu yakini dan di mana seharusnya kamu berdiri," kata Ki Gede Bajra Seta kembali kepada putranya.
"Meski harus berdiri berseberangan arah dengan raja yang selama ini kita junjung?" tanya Mahesa Dharma.
"Seorang raja adalah titisan para dewa yang menjelma di kehidupan alam ini; dialah hati nuranimu," ujar Ki Gede Bajra Seta dengan suara halus dan penuh senyum menatap putranya.
Semua yang duduk di tepi danau itu seperti terlena, hanyut mendengarkan perkataan Ki Gede Bajra Seta kepada putranya. Semua tenggelam, mencoba menyelami makna kata-kata dari seorang guru yang sangat dihormati itu—seseorang yang sangat lembut, namun di balik kelembutannya tersembunyi kekuatan ilmu kesaktian yang sungguh tinggi tak tertandingi.
Sementara itu, langit malam sudah semakin larut. Hanya ada bulan sepotong di atas danau sepi menemani wajah malam.
"Hari sudah jauh malam," kata Ki Gede Bajra Seta sambil matanya memandang wajah bulan sepotong yang menggantung di langit.
"Biarkan kami, orang muda, menjadi peronda yang baik sepanjang malam ini," kata Gajahmada kepada Ki Gede Bajra Seta, mewakili Adityawarman dan Mahesa Dharma.
Demikianlah, ketiga anak muda itu menawarkan diri untuk berjaga-jaga di malam itu, sebagaimana kebiasaan para pengembara di mana pun mereka berada yang selalu siaga dan waspada terhadap hal yang mungkin saja dapat mengancam jiwa.
"Aku akan menyiapkan perapian," kata Mahesa Dharma sambil bangkit berdiri.
"Lama sekali kita berpisah sejak aku ikut ayahku ke Kediri," ujar Adityawarman kepada Gajahmada ketika melihat Mahesa Dharma berlalu pergi mencari ranting kering.
"Yang pasti, hutan Maja tempat kita bermain sudah semakin menyempit, dipenuhi banyak pemukiman baru," jawab Gajahmada kepada Adityawarman sambil tersenyum memandang sahabat lamanya itu.
Banyak hal tentang perkembangan lain di Kotaraja Majapahit yang diceritakan oleh Gajahmada kepada sahabatnya, termasuk perjalanannya bersama Jayanagara ke Tanah Pasundan.
"Ceritamu tentang Tanah Pasundan telah membuat diriku iri. Sayang sekali aku tidak ikut bersama kalian," kata Adityawarman kepada Gajahmada.
"Nampaknya aku telah kehilangan beberapa penggal cerita," sahut Mahesa Dharma kepada Gajahmada dan Adityawarman sambil meletakkan beberapa ranting kering.
"Jangan khawatir, aku akan menunggu sampai kamu dapat menyalakan perapian," kata Gajahmada kepada Mahesa Dharma.
Demikianlah, usai Mahesa Dharma menyalakan perapian, terlihat Gajahmada melanjutkan ceritanya tentang pengembaraan di Tanah Pasundan.
"Jadi, kamu pernah berkunjung hingga ke ujung barat Jawadwipa ini?" tanya Mahesa Dharma kagum mendengar cerita Gajahmada tentang sebuah kerajaan kecil di Tanah Rakata.
"Nampaknya kita kalah selangkah dengan kawan ini," ujar Adityawarman kepada Mahesa Dharma setelah mendengar cerita lain dari Gajahmada mengenai pengembaraannya di sekitar pesisir Tuban.
Sementara itu, perapian mereka nampaknya sudah semakin meredup.
"Aku akan mencari ranting kering. Siapa tahu dengan kobaran api yang lebih besar, aku bisa mendengar cerita lain yang lebih seru," kata Mahesa Dharma sambil bangkit dari duduknya.
Langit malam masih menyelimuti danau sepi yang berhias bulan belum bulat sempurna, yang tampak redup terkantuk-kantuk.
"Sekarang giliranmu bercerita tentang Kotaraja Kediri," kata Gajahmada kepada Adityawarman.
"Tidak ada yang sangat menarik untuk kuceritakan tentang Kotaraja Kediri. Sekali dua kali ayahku kadang mengajakku ikut berburu di hutan bersama Raja Jayanagara," kata Adityawarman.
"Ayahmu pasti banyak memberikan bimbingan kanuragan kepadamu," ujar Gajahmada.
"Di hari-hari tertentu, aku dan Raja Jayanagara selalu berlatih di sanggar istana di bawah bimbingan ayahku," jawab Adityawarman.
"Perapian sudah semakin dingin, bagaimana bila kita sedikit menghangatkan diri? Aku siap menghadapi kalian berdua," kata Gajahmada sambil bertolak pinggang penuh tantangan.
"Ternyata putra Patih Mahesa Amping dan putra Ki Gede Bajra Seta bukanlah pengecut," ujar Gajahmada sambil berjalan menuju tempat yang lebih terbuka.
"Aku ingin tahu sejauh mana kesaktian putra tunggal sang pertapa dari Gunung Wilis," sahut Mahesa Dharma kepada Gajahmada yang telah berada di hadapannya dengan sikap dada tegap terbuka.
"Ayunkan kepalanmu, maka kamu akan tahu sejauh mana kecepatanku menghindarinya," kata Gajahmada sambil tersenyum.
"Lihatlah kepalan tanganku ini dengan mata terbuka," seru Mahesa Dharma sambil bergerak cepat menerjang dengan kepalan tangannya ke arah Gajahmada.
"Masih belum dengan segenap hati," kata Gajahmada sambil sedikit bergeser ke samping. Bersamaan dengan itu, sebuah tendangan kakinya meluncur dengan tiba-tiba, mengejutkan Mahesa Dharma.
"Serangan balik yang luar biasa!" seru Mahesa Dharma sambil melenting cepat.
"Aku tidak ingin jadi penonton," kata Adityawarman sambil langsung menerjang ke arah pertempuran.
"Bagus, kuhadapi kalian berdua," kata Gajahmada dengan suara penuh kegembiraan.
Ternyata derap langkah ketiga anak muda di tepi danau itu mencuri perhatian keempat orang tua yang terbangun dan langsung menyaksikan pertempuran mereka.
"Langkah Adityakundala," bisik Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta dengan pandangan penuh kekaguman.
Ternyata Patih Mahesa Amping telah melihat gerak langkah kaki ajaib dari Gajahmada yang selalu dapat lolos dari serangan kedua kawannya. Gerak langkah kaki Gajahmada terlihat seperti menari-nari dalam satu lingkaran.
"Empu Dangka pernah bercerita tentang sebuah langkah ajaib yang dimiliki oleh kakek luarnya yang bernama Empu Tantular. Dari mana Gajahmada mendapatkan ilmu langkah ajaib itu?" bisik Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta.
"Ayahku, Mahendra, juga pernah bercerita tentang langkah sakti itu. Katanya, ilmu tersebut telah musnah bersama pemiliknya, kakak kandung Empu Brantas yang mempunyai kesaktian lebih tinggi dari adiknya," jawab Ki Gede Bajra Seta yang juga pernah mendengar tentang sebuah langkah rahasia bernama Adityakundala.
Kedua orang yang berpengalaman luas mengenai olah kanuragan itu seperti disuguhi tontonan yang mengasyikkan. Mata mereka tidak pernah berkedip sedikit pun, takut kehilangan alur gerak Gajahmada yang tengah memainkan jurus yang benar-benar mengagumkan—sangat unik, meliuk-liuk seperti lidah api yang mengikuti arah angin.
Sebagaimana Patih Mahesa Amping dan Ki Gede Bajra Seta, ternyata Mahesa Semu dan Paman Muntilan juga ikut menyaksikan pertempuran ketiga anak muda itu. Pertempuran tersebut adalah kelas tinggi, di mana ketiganya tampak seperti tiga bayangan yang berkelebat cepat.
"Jurus langkah yang sangat pelik," desah Patih Mahesa Amping penuh kekaguman melihat cara Gajahmada menghadapi serangan Adityawarman dan Mahesa Dharma.
Sesungguhnya, sebagai ahli kanuragan kelas tinggi, baru kali ini Patih Mahesa Amping menyaksikan cara bertempur yang sangat mengagumkan, keluar dari dasar-dasar ilmu olah kanuragan yang ia kenal selama ini.
"Adityawarman dan Mahesa Dharma tidak dapat memecahkan gerak langkah Gajahmada," kata Ki Gede Bajra Seta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tiba-tiba, keempat orang tua itu terkesima dengan apa yang mereka saksikan. Mereka melihat gerakan Gajahmada yang indah dan sangat pelik; hanya dengan satu kaki bertumpu di tanah, kedua tangan Gajahmada mengembang seperti seekor elang yang memulai terbangnya.
"Des, des!"
"Kalian telah berhutang satu pukulan," kata Gajahmada sambil tertawa melihat kedua kawannya terguling di tanah.